Oleh: maulanusantara | Agustus 4, 2011

Wiji Thukul; Penyair Kampung

I

WIJI THUKUL, orang yang menulis kumpulan puisi ini, benar-benar tidak punya potongan seorang penyair. Wajahnya dan sosok tubuhnya lebih merupakan seorang pedagang asongan yang berkali-kali kena gusur. Atau buruh pabrik yang sering di-pehaka, yang hidupnya selalu rawan pangan.
Memang, Wiji anak seorang tukang becak yang lahir di kampung Sorogenen, Solo pada tahun 1963. Hidupnya berlumuran kemiskinan. Sampai sekarang, bapaknya masih tetap membecak, menelusuri jalan-jalan di kota antik ini. Beberapa sajaknya melukiskan penderitaan sang bapak.

aku sudah keliling kota
aku sudah kerja keras
tapi kalah dengan bis kota
hari ini aku cuma dapat uang setoran

(balada pak bejo)

Tapi, dia tidak pernah merasa malu punya bapak yang seperti ini. Bahkan, kepada kekasihnya, dia berpesan:

jangan lupa kekasihku
jika kau ditanya siapa mertuamu
jawablah: yang menarik becak itu
itu bapakmu kekasihku

(jangan lupa kekasihku)

Bersama dua adiknya, dia terus berjoang mencoba mengangkat nasibnya ke luar dari lembah kemiskinan. Wiji berhasil menamatkan SMP-nya pada tahun 1979, kemudian masuk Sekolah Menengah Karawitan Indonesia jurusan tari. Tetapi kesulitan hidup terus meraihnya. Dia terpaksa berhenti sekolah, dan melanjutkan hidupnya dengan berdagang koran. Dia juga pernah jadi calo karcis bioskop. (“Ketika film Rhoma Irama sedang laku-lakunya di kampung, aku jadi kaya,” kata Wiji sambil tersenyum, sehingga gigi-giginya yang besar tampak makin menonjol.) Kemudian nasibnya jadi bertambah ‘baik’, ketika seorang tetangganya mengajaknya bekerja menjadi tukang pelitur untuk sebuah perusahaan mebel.
Sambil terus berjoang untuk menyambung hidup, Wiji tampaknya memiliki darah seni, entah dari mana datangnya. Sejak SD dia sering menulis puisi. Ketika di SMP, dia mulai tertarik pada kegiatan teater. Kelompok ini sering ngamen keliling kota, bahkan sampai ke luar kota Solo dan ke desa-desa. Maka, Wiji pun berkeliling ke luar masuk kampung bersama kelompok teater ini dengan membawa beberapa instrumen musik seperti rebana, gong, suling, kentongan, gitar, dan sebagainya. Di samping lagu-lagu, mereka juga membacakan puisi.
Bahkan, menurut ceritanya, dia pernah ngamen seorang diri. Dia datangi restoran-restoran, atau tempat-tempat orang berkumpul. Lalu, dia nekat membacakan puisinya. Tentu saja banyak orang menjadi terkejut, dan menyingkir melihat ulah seorang pemuda kecil kurus kering yang mulai ngoceh. Saya kira, ada banyak orang yang berpikir pembaca puisi ini mustinya orang yang sakit ingatan.
Lama, Wiji berpikir untuk memperbaiki unjuk kerjanya. Akhirnya dia mendapatkan jalan. Dia tidak langsung membacakan puisinya, tapi ngamen nyanyi dulu, dengan instrumen musik yang sederhana, orang-orang di sekelilingnya mulai memperhatikannya. Baru kemudian, setelah para penontonnya menjadi lebih akrab dan yakin bahwa yang dihadapinya bukan orang yang terganggu jiwanya, dia mulai membacakan puisi-puisinya. Dan ternyata orang-orang mendengarkan, dengan penuh perhatian.
Karena tertarik pada puisi, maka dia juga berusaha untuk mengerti apa yang disebut sebagai puisi yang baik. Dia mulai berkenalan dengan majalah Horison. Dia mulai membaca puisi, antara lain puisi Sutarji Calsoum Bhari yang pernah memproklamirkan diri sebagai presiden penyair Indonesia. Akibatnya, dia merasa bahwa puisi yang baik adalah puisi yang aneh, yang menggunakan kata-kata yang sulit dipahami. Dia pun mulai menganehkan puisi-puisinya, supaya bisa dianggap sebagai penyair nasional.
Ketika bekerja sebagai tukang pelitur, dia suka mengajak kawan-kawannya para buruh pelitur untuk nonton orang baca puisi. Biasanya mereka senang. Melihat orang membacakan kalimat-kalimat asing dengan akting yang aneh, para buruh pelitur ini paling sedikit bisa melupakan kebosanan mereka terhadap kerja yang harus dijalankan setiap hari. Tapi, kalau Wiji kemudian mencoba mendiskusikan puisi yang dibacakan, teman-temannya ini cuma bisa ternganga tanpa suara.
Dalam diri Wiji timbul pertanyaan, siapa yang salah? Teman-teman buruhnya yang bodoh, atau puisinya yang bisu (paling sedikit bagi para buruh tersebut). Karena itu, dia mulai bercakap-cakap dengan teman-temannya tentang apa yang menjadi perhatiannya. Sudah dapat diduga, yang menarik perhatian mereka adalah masalah kemiskinan, ketidak-adilan, ketidak-berdayaan, dan mimpi-mimpi untuk pada suatu hari nanti hidup mereka akan bertambah baik. Bukan kata-kata abstrak yang meski sangat dalam maknanya, tapi terlalu jauh dari perjoangan memperoleh sepiring nasi.
Karena itu, Wiji kemudian kembali ke penulisan puisi seperti yang dilakukannya dulu: bercerita tentang kehidupannya sendiri. Meskipun ini artinya, dia harus melepaskan ambisinya untuk diakui (paling sedikit oleh majalah Horison) sebagai penyair besar. Keinginannya sekarang adalah supaya kawan-kawannya jadi tergugah dan mulai bicara, tidak lagi ternganga bak orang bodoh yang terperangah tanpa bunyi. Dia ingin, kalau dia menulis puisi, dia bisa membicarakannya dengan para tukang pelitur, teman yang paling akrab dalam hidupnya, yang dijumpainya setiap hari, setiap jam, setiap menit.
Maka, Wiji pun mulai menulis tentang sebuah kuburan di kampungnya:

di sini terbaring
mbok cip yang mati di rumah
karena ke rumah sakit
tak ada biaya

di sini terbaring
pak pin
yang mati terkejut
karena rumahnya digusur

(kuburan purwoloyo)

Ternyata, hasilnya lumayan. Para tukang pelitur teman-temannya, serta tetangga-tetangga, mulai bisa tertawa mendengarkan puisi-puisi Wiji. Mereka merasa akrab dengan puisi-puisi Wiji. Dan Wiji pun senang.
Wiji menikah dengan mbak Sipon, buruh pabrik moto, anak tukang jual barang-barang bekas. Mbak Sipon tidak tamat SD. Bersama Wiji, dia kemudian membuka usaha jahit (Wiji membantu menggunting pola pakaian) dan sablon. “Kami cukup laris,” kata Wiji nyengir. “Mungkin karena kami penjahit paling murah di kampung itu.”
Sambil terus berjoang dalam hidupnya, sekarang bersama mbak Sipon dan seorang anak perempuan bernama Nganti Wani, dia terus menulis puisi. Puisinya sudah dimuat di pelbagai media massa. Bahkan kumpulan puisinya sudah diterbitkan oleh Taman Budaya Solo, dalam bentuk dua kumpulan puisi yang berjudul Puisi Pelo dan Darman dan Lain-Lain.
Kemudian, puisinya makin dikenal di kalangan aktivis mahasiswa dan para aktivis organisasi non-pemerintah alias Lembaga Swadaya Masyarakat yang memperjoangkan orang-orang miskin yang menjadi kurban pembangunan. Pada saat para aktivis ini menghadap pejabat tinggi untuk memperjoangkan orang-orang yang tergusur dari tanahnya, sementara para petugas keamanan yang berseragam dan bersenjata siap menangkap mereka dengan tuduhan melakukan kegiatan subversif dan mengganggu stabilitas politik, maka bait-bait yang ditulis oleh Wiji Thukul tiba-tiba jadi sangat bermakna:

kalau rakyat bersembunyi
dan berbisik-bisik
ketika membicarakan masalahnya sendiri
penguasa harus waspada dan belajar mendengar
……………………..
apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
maka hanya ada satu kata: lawan!

(peringatan)

Puisinya, tanpa terasa, sudah menjadi duri bagi selera makan para pejabat. Beberapa kali, pembacaan puisi Wiji dilarang. Juga, menghadapi penderitaan kawan-kawannya, Wiji bukan saja hanya menulis puisi. Dia, mau tidak mau, terlibat juga dalam gerakan aksi. Pada tahun 1992, dia melakukan demonstrasi bersama tetangga-tetangga di kampungnya, memprotes pencemaran pabrik tekstil yang ada di sana. Hasilnya, dia kena gebukan polisi. Sebagai rakyat yang cuma penjahit kampung, memang tidak banyak yang bisa diperbuatnya untuk membela hak-hak asasinya. Wiji cuma bisa menulis puisi. Itulah bentuk perlawanannya terhadap para penguasa, terhadap nasibnya.
Demikianlah, Wiji Thukul masih tetap seperti Wiji Thukul yang dulu. Wajahnya dan potongan badannya yang kecil dan kurus, masih tetap seperti para pedagang asongan yang ada di emper-emper jalan besar kota Solo. Bapaknya masih membecak. Ibunya masih marah-marah karena uang belanja yang kurang. Dan dia masih terus menulis puisi.

II

Sengaja saya tuliskan riwayat hidup Wiji Thukul sebelum berbicara tentang puisinya. Alasannya kiranya jelas: Ada hubungan sangat erat antara hidup Wiji dengan apa yang ditulisnya.
Wiji bukan menulis puisi untuk jadi penyair. Baginya, menulis puisi adalah seperti orang yang sedang menceritakan pengalaman hidupnya. Bagi Wiji, hidup yang dijalaninya berlangsung secara intens. Dia jadi ingin bercerita, berteriak, supaya didengar. Lalu dia menulis puisi. Dia menulis puisi bukan untuk menjadi penyair, tapi dia menjadi penyair karena menulis puisi.
Akibatnya, ada dua hal. Pertama, apa yang ditulisnya merupakan segala hal yang akrab dengan dirinya. Dia menulis tentang bapaknya yang tukang becak, teman-temannya yang buruh pelitur, orang-orang yang tergusur tanahnya, masa kanak-kanaknya yang miskin, dan pengalaman-pengalaman lain yang dijalaninya dengan intensitas yang tinggi.
Kedua, dia ingin puisi-puisinya didengarkan orang, terutama oleh teman-teman di sekitarnya. Dia ingin orang berteriak ketika mendengarkan puisinya dibacakan, karena merasa ketidak-adilan yang menimpa Wiji juga merupakan ketidak-adilan yang dialami para pendengarnya. Dia ingin orang berlinang ketika membaca puisinya pada malam hari, karena merasa nasibnya dibicarakan dalam puisi Wiji. Dia berbahagia, kalau orang lain bisa merasakan apa yang dia rasakan, atau kalau yang dirasakan oleh orang lain dapat ia rasakan. Karena itu artinya, dalam menghidupi hidup yang serba susah ini, dia merasa tidak sendirian. Dia ada bersama mereka, dan mereka ada bersama dia. Maka, tidak ayal lagi, puisi Wiji jadi puisi milik bersama, puisi dari pengalaman hidup yang dialami bersama. Puisi Wiji Thukul sebagian besar berbicara tentang dunia orang-orang susah yang ada di sekitarnya. Tapi, memang ada juga puisi yang berbicara tentang hal-hal lain, meski jumlahnya tidak banyak. Misalnya, puisi tentang ibunya: seorang manusia yang dianggapnya sangat welas asih:

ibu menangis ketika aku mendapat susah
ibu menangis ketika aku bahagia
ibu menangis ketika adikku mencuri sepeda
ibu menangis ketika adikku ke luar dari penjara
……………………
ibu mengenalkan aku kepada tuhan

(sajak ibu)

Dari puisinya yang bicara tentang kemiskinan, dapat kita bedakan dua jenis puisi. Pertama, puisi yang bernada marah dan kerena itu memprotes. Protesnya bersifat terbuka. Katanya:

tidurlah kata-kata
kita bangkit nanti
menghimpun tuntutan-tuntutan
yang miskin papa dan dihancurkan

nanti kita akan mengucapkan
bersama tindakan
bikin perhitungan
tak bisa lagi ditahan-tahan

(istirahatlah kata-kata)

Tapi, kadang-kadang protes ini dinyatakan secara simbolik:

tikar plastik tikar pandan
kita duduk berhadapan
tikar plastik tikar pandan
lambang dua kekuatan
……………………
kalian duduk di mana?

(sajak tikar plastik – tikar pandan)

Kadang-kadang, protesnya hanya tersirat. Wiji cuma menggambarkan saja hidup orang-orang yang menderita ini. Tapi dapat kita rasakan adanya kemarahan disertai sikap yang sinis terhadap keadaan yang dilukiskannya. Misalnya, ketika Wiji menceritakan anak orang kaya yang dilarang main dengan anak-anak kampung yang miskin:

pulanglah nang
nanti kamu menangis lagi
jangan dolanan sama anaknya pak kerto
bejo memang mbeling
kukunya hitam panjang-panjang
kalau makan tidak cuci tangan
nanti kamu ketularan cacingan

(pulanglah nang)

Atau, ketika dia menjadi sinis mendengarkan radio yang selalu menyuarakan pidato-pidato politik yang hanya bicara tentang hal-hal yang bagus, berlainan dengan kenyataan yang ada:

di radio aku mendengarkan berita-berita
tapi aku jadi muak karena isinya
kebohongan yang tak menyatakan kenyataan
untunglah warta berita segera bubar
acara yang kutunggu-tunggu datang: dagelan!

(aku lebih suka dagelan)

Kedua, puisi yang menunjukkan ketidak-berdayaan dan keputusasaan. Dia merasa tidak berdaya untuk mengubah nasibnya, tanpa ada yang dapat dilakukannya.

saban malam
mencoba bertahan menghadapi kebosanan
menegakkan diri dengan harapan-harapan
dan senyum rawan

saban malam
rencana-rencana menumpuk jadi kuburan

(catatan 88)

Kadang-kadang, Wiji jadi bertanya, apa gunanya berseni? Apa gunanya dia menulis puisi, kalau orang-orang terus menderita?

apa yang berharga dari puisiku
kalau adikku tak berangkat sekolah
karena bulum membayar SPP
kalau becak bapakku tiba-tiba rusak
jika nasi harus dibeli dengan uang
jika kami harus makan
dan jika yang dimakan tidak ada?

(apa yang berharga dari puisiku)

Wiji menjadi ragu, apakah dia bisa mempertanggung-jawabkan hidupnya kepada keluarganya, kalau dia cuma menulis puisi saja? Apakah dia bisa?

III

Membaca puisi Wiji Thukul adalah membaca otobiografi kejiwaan si penyair. Dia sedang menceritakan pengalaman hidupnya. Tapi, sekaligus juga, dia menceritakan nasib jutaan rakyat Indonesia yang dimiskinkan oleh proses pembangunan yang terlalu menguntungkan kaum elitnya. Bahkan, dia sebenarnya juga sedang menceritakan kehidupan ratusan juta orang-orang miskin yang berserakan di banyak pelosok dunia, yang nasibnya tergusur oleh kekuatan modal dan kekuatan senjata. Pada titik inilah puisi Wiji Thukul menjadi universal, karena manusia yang menderita merupakan sebuah pengalaman global yang dialami banyak penduduk dunia pada saat ini.
Semua ini terjadi tanpa pretensi dari pihak Wiji. Dia bukan mau menjadi seorang tokoh yang berbicara tentang persoalan-persoalan nasional. Dia bukan mau menjadi pahlawan kaum miskin di dunia ini. Dia cuma mau bercerita tentang nasibnya yang tidak kunjung bertambah baik. Dia mau bercerita tentang kesedihannya, ketidak-berdayaannya, ketidak-pahamannya, dan mimpi-mimpinya ketika dia tertidur kelelahan. Dia juga ingin supaya teman-temannya bisa memahami dan merasakan apa yang dikatakannya, bisa menangis dan marah, serta bisa bermimpi tentang sebuah dunia lain nun jauh di sana, yang lebih indah. Dia mau supaya dalam penderitaan, mereka bisa merasa bersama.
Wiji Thukul menuliskan semuanya ini dalam puisi-puisinya. Kata orang, karena itu dia disebut penyair. Sebagai penyair, dia hanya ingin menjadi penyair lokal di kampungnya. Baginya, lebih penting puisinya dihayati oleh tetangga-tetangganya di kampung Jagalan Tengah, Solo, ketimbang dipuji oleh para kritikus sastra di kota metropolitan Jakarta atau fakultas-fakultas sastra mancanegara.
Mungkin karena keinginannya yang sangat sederhana ini, yang diungkapkannya dengan kejujuran dan kepolosan, tiba-tiba Wiji Thukul menjadi penyair nasional. Dan mungkin, pada suatu waktu, juga internasional. Padahal Wiji Thukul cuma ingin menulis puisi kampung.

Salatiga, Januari 1994
Pengantar dalam: mencari tanah lapang, puisi wiji thukul

Sumber

About these ads

Responses

  1. di radio aku mendengarkan berita-berita
    tapi aku jadi muak karena isinya
    kebohongan yang tak menyatakan kenyataan
    untunglah warta berita segera bubar
    acara yang kutunggu-tunggu datang: dagelan!

    sekarang, syairnya berubah, ada beberapa penyesuaian mungkin,
    di televisi aku melihat berita-berita
    tapi aku jadi muak karena isinya
    kebohongan yang tak menyatakan kenyataan
    untunglah kabar berita segera bubar
    acara yang kutunggu-tunggu datang: opera van java!

    salam perubahan

  2. aku salut mas sama perjuangan sampean, aku sendiri orang solo kelahiran 1959. tapi maaf aku baru tahu kemarin di internet. aku meninggalkan kota solo th.82. Selamat !


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 98 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: