Oleh: MAULA | Agustus 21, 2011

Bunuh Diri Negara dalam Kapitalisme

Setelah runtuhnya Komunisme Sovyet, tampaknya tidak ada lagi musuh strategis Ideologi Kapitalisme yang cukup mumpuni, sehingga Ideologi ini praktis melenggang pada panggung kekuasaan sendirian. Teman taktis nya selama ini para diktator pun satu per satu ditumbangkan. Setelah Komunisme lumpuh maka Ideologi ini yang bertumpu pada demokrasi liberal dan pasar bebas melumpuhkan juga negara-2 Otoritarian dalam pandangannya. Satu persatu pun dilucuti seperti Taliban, Saddam Hussein.

Sehingga praktis sebagai pintu masuk meliberalkan pasar, pintu demokratisasi pun menjadi jalan bagi AS sebagai dalam menawarkan pasar bebas bagi negara yang masih tampak menjalankan kapitalisme setengah-setengah yaitu disatu sisi telah menerima pasar bebas tetapi masih alergi membuka pasar untuk komoditas politik seperti beras, minyak bumi dlsb, telekomunikasi, dlsb pengokoh kekuasaan penguasa diktator.

Para penggiat demokrasi baik itu penganut liberal dan penolak pasar bebas yang terdiri dari kaum intelektual bersama massa rakyat pun diadu vis a vis dengan negara sehingga pada berbagai negara termasuk Indonesia ini efektif menciptakan diktator sebagai musuh bersama civil society. Yang tanpa disadari harus kita akui kelompok kiri baru yang percaya dengan jalan sosialisme dan demokrasi setelah jatuhnya rejim diktator berakhir dengan kemenangan kaum Liberal dan terperangkap dalam laju kapitalisme yang lebih dalam.

Untuk kasus Indonesia, Suharto dalam posisi yang terjepit dalam krisis ekonomi dan prestasi buruknya dalam melayani rakyatnya (despotis, pelanggaran hak yang paling azazi), ini tentu saja dimanfaatkan oleh pemikir liberal dan kapitalis global untuk meliberalkan Indonesia melalui resep2 Paket Reformasi Ekonomi IMF sebagai bentuk barter bantuan keuangan untuk mengatasi Ekonomi yang sudah bangkrut tahun 98.

Nilai-nilai Demokrasi Liberal dan pasar bebas menurut penganut faham ini adalah transfer nilai tentang kebebasan individu dan Kepemilikan.

Tapi baiknya kita bedah thesis tersebut dengan cerita dibawah ini.

Walau tampak kelihatan alamiah, Integrasi Indonesia dalam pasar bebas mungkin dapat kita bedah seperti yang dijelaskan oleh David Harvey sangat terencana dan sistematis. David Harvey Menjelaskan Redistribusi asset negara menuju Global Private Sector melalui empat cara, yaitu:

1. Privatisasi dan Komodifikasi

Dalam model yang pertama negara diarahkan untuk membuka jalan bagi privatisasi yang selama ini menjadi miik publik menjadi milik swasta/korporatisasi yaitu fasilitas umum( air, transportasi dan telekomunikasi), Kemudian Jaminan Kesejahteraan Sosial (Pendidikan, Perumahan dan Pelayanan Kesehatan), dan Institusi Publik (Sekolah, Universitas, Pusat Penelitian, dan Penjara).

Hal ini berjalan dengan tampak seperti alamiah, dimana peran negara diamputasi atas hak-hak publik rakyatnya yang selanjutnya diserahkan kepada swasta untuk dikorporatkan dan dipatenkan. Ruang-ruang publik dan jaminan sosial publik tanpa terasa seiring berjalannya waktu semakin hilang dan kemudian harus diganti dengan harga yang mahal, tentu saja semua hal kemudian telah menjadi komoditas atau barang/jasa dagangan. Yang kemudian Produk penemuan yang vital bagi manusia pun dapat diambil oleh perusahaan dengan paten sehingga bahkan nyawa manusia orang sakit pun telah menjadi barang yang mahal untuk dijual, misalnya vaksin. Semua bidang kehidupan pun kemudian dijadikan komodifikasi baik itu, pikiran, budaya, agama,sejarah, seni, rasa, imajinasi, tangisan, senyum, gaya hidup, wisata, ruang publik diserobot menjadi milik korporat walaupun berhadap-hadapan dan bertentangan dengan kehendak umum, segala sesuatu kemudian harus dibayar dengan uang. Tentu saja pemindahan asset dan hak publik kepada tangan2 kapitalis untuk dijadikan bagi penumpukan uang dan pemindahan kepemilikan asset kepada kapitalis.

2. Finansialisasi berkaitan dengan deregulasi

Uang dari fungsi tradisionalnya sebagai alat tukar kemudian menjelma komoditas itu sendiri. Seiring dengan Institusionalisasi Pasar uang dan modal maka peran negara dalam mengatur assetnya diserahkan kepada sektor swasta.

Uang dan modal tidak lagi mencerminkan bagaimana hasil ekonomi dihasilkan dari perdagangan barang dan jasa dari sektor riil, tapi telah menjadi komoditas itu sendiri di pasar uang dan pasar modal.

Apalagi pasar uang dan pasar modal sama sekali tidak ada regulasi yang dapat mengatur perpindahannya saat ini. Dunia ketiga yang membutuhkan dana dalam melakukan gerak ekonominya sering kali jadi ajang spekulasi untuk merontokkan ekonomi suatu bangsa kemudian merampoknya secara brutal.

Belum lagi pasar modal dan pasar uang tempat berkumpulnya para spekulan yang penghasilannya diperoleh dari per transaksi uang dan modal. Tak peduli apakah rugi atau untuk spekulan tetap mendapatkan komisinya.

3. The Management and Manipulation Of Crisis

Ini adalah proses pemindahan kekayaan negara ketiga ke negara2 maju dengan memanfaatkan krisis hutang.

Negara ketiga adalah langganan bagi krisis akibat hutang. Krisis hutang yang terjadi berlanjut dengan krisis ekonomi yang lebih dalam sehingga sektor2 produksi lumpuh yang juga diikuti dengan krisis politik dan pergantian rejim. Seperti di Amerika Latin, Phillpina dan Indonesia. Tsunami ekonomi ini adalah pintu masuk bagi institusi keuangan pasar bebas dalam membarter bantuan likuiditas dengan resep2 pengalihan asset sektor publik kepada kapitalis dengan melelang asset2 yang selama ini menjadi milik publik untuk dilelang dengan harga murah melalui privatisasi. Melihat contoh Indonesia, Asset2 nasional yang dianggap tidak profitable dibekukan kemudian asset nasional strategis kemudian berpindah instant ketangan asing dengan cara obral dan brutal. Bahkan dalam catatan sejak tahun 1980 US$ 4,6 triliun asset negara dunia ketiga telah berpindah kepada negara negara maju.

4. Pengalihan Asset Nasional Dunia Ke Tiga Dilakukan Oleh Pemerintah Sendiri.

Pemindahan asset nasional dunia ketiga kepada Perusahaan asing ketika melakukan liberalisasi negara menjadi agen utama dalam kebijakannya bagi perpindahan asset nasional ke negara maju. Dengan cara Privatisasi sektor publik dan memangkas habis anggaran belanja untuk rakyat.

Negara memindahkan pendapatan dari masyarakat ke orang kaya dengan sistem perpajakan yaitu dengan memprioritaskan pajak pendapatan atas pajak investasi dan melakukan berbagai macam subsidi dan potongan pajak bagi perusahaan.

Kebijakan perkebunan besar juga menjadi sebab bagi meningkatnya pengangguran dan urbanisasi. Pengangguran dan Urbanisasi tampaknya bukan akibat ketidakpunyaan skill seperti yang di kampanyekan oleh kelompok liberal tapi lebih pada perselingkuhan yang dilakukan oleh negara dengan investor asing, akibatnya tentu saja petani kehililangan pekerjaannya, kehilangan tanah, identitasnya dan kebudayaannya yang selama turun-temurun menjadi keahliannya dicerabut dari akarnya.

Selain itu juga penyeragaman pertanian melalui revolusi hijau dimana negara menjadi agen kapitalisme dalam bidang pertanian yang mengakibatkan ketidakberdayaan petani dengan penyeragaman pertanian sehingga pengambilan kekuasaan pertanian. Petani kemudian kehilangan kemandirian yang selama turun- temurun dimilikinya, dimana teknik produksi, pupuk, bibit, pengendalian hama yang selama ini dapat ditanggulangi sendiri oleh masyarakat petani akhirnya bergantung pada Industri pupuk, bibit, pembasmian hama asing.

Di sektor telekomunikasi, Televisi, Radio, Surat Kabar telah menjadi sektor privat yang juga sangat menguntungkan sekaligus menundukkan dan melumpuhkan.

Dari Penjelasan Harvey ini setidaknya kita mendapati bahwa Neo-Liberalisme atau Kapitalisme Global berjalan sepertinya tampak alamiah namun ini adalah gerak sistematis yang dilakukan oleh Negara Maju dan Kapitalisnya dalam meliberalisasi dan memindahkan asset nasional negara dunia ketiga ke Negara-2 Maju melalui tangan negara.

Kapitalisme menjadikan segala sesuatu kemudian menjadi komoditas dalam upaya memindahkan asset masyarakat, pribadi, menjadi milik korporat asing dengan segala instrumen yang telah dilakukannya.

Neo Liberalisme yang bersandarkan pada Teori Neo Klasik yang menginginkan pasar bergerak alamiah tanpa campur tangan negara, sehingga efek lanjutannya dengan tangan yang tak terlihat menjadikan pasar menjadi efisien pada akhirnya menurut teori ini akan memberikan manfaat kepada semua orang. Kenyataannya adalah suatu proses yang sistematis adalah proyek pemindahan asset negara2 berkembang untuk dimiliki oleh negara2 maju.

Contoh yang paling aktual adalah bagaimana krisis finansial yang terjadi di Amerika Serikat yang terjadi saat ini. IMF, Bank Dunia dan Ekonom Liberal lainnya dalam memulihkan ekonomi AS yang berimbas keseluruh dunia saat ini, sebagai dokternya IMF tidak meresepkan apa yang telah diresepkannya kepada negara2 berkembang. Paling tidak resep IMF kepada Indonesia pada tahun ’98 atas paksaan IMF, melakukan Likuidasi Bank, menaikkan tingkat suku bunga, meliberalisasi komoditas publik yang justru mengakibatkan Indonesia masuk dalam jurang krisis yang lebih dalam. Sampai Indonesia harus menanggung biaya sosial krisis tersebut yang sangat tinggi bahkan sampai sekarang pun belum beranjak pulih seperti sedia kala.

Yang terjadi di Amerika Justru melakukan proteksi dengan mensubsidi kerugian asset kapitalis mencapai 1000 miliar dollar, melakukan penurunan tingkat suku bunga. Proteksi yang luar biasa ini justru membelakangi apa yang dikoar-koarkannya selama ini tentang Liberalisasi Pasar dan Minimisasi peran negara.

Bila uang sebanyak itu digunakan untuk proyek pengentasan kemiskinan, kebodohan dan kesehatan mungkin dalam waktu tidak terlalu lama setengah jumlah kemiskinan seluruh dunia dapat tertanggulangi dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama.

AS bila tidak mau dikatakan telah menjelma menjadi negara sosialis paling tidak telah telah menjadi negara korporasi nomor wahid, memegang kendali perekonomian dan asset nasionalnya.

Pada akhirnya saya ingin mengatakan bahwa Kapitalisme yang membawa Issue demokrasi, kebebasan individu, kepemilikan hanya tipuan bahkan Kapitalisme adalah Rejim Otorianisme dan Despotisme dan berwajah malaikat yang merenggut paksa kepemilikan yang kita miliki kepada korporasi asing negara maju yaitu Monsanto, Exxon Mobil, Conoco Phillips, Wal-Mart, Freeport, Fani Mae,AIG, dan Segala icon MNC dan TNC lainnya.

Source


Responses

  1. Menarik sekali untuk dibahas dalam forum yang lebih luas, formal, dan ilmiah. Untuk menangkal kapitalisme – kalau benar ini terjadi di Indonesia – sosialisme bukan satu2 nya jalan. Apapun filosofi dasar suatu faham bukan sesuatu yang sempurna pasti ada sisi yang lemah. Demikian juga tentang filosofi yang menadsri kapitalisme. Empat argumen yang membawa pemikiran kita untuk menyimpulkan Indonesia akan jatuh dalam cengkraman kapitalisme, masih kurang meyakinkan, tapi patut menjadi perhatian kita sebagai bahan dalam mengkritisi langkah2 pembangunan ekonomi kita agar tidak kebablasan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: