Oleh: MAULA | Agustus 23, 2011

I’tikaf

Oleh: KH. Dr. A. Mustofa Bisri

Salah satu ibadat yang tak begitu berat, yang sangat dianjurkan dan besar sekali pahalanya adalah I’tikaf, orang hanya perlu masuk dan berdiam diri di mesjid- menurut ulama fiqih, sebentar pun jadi- dengan niat mendekatkan diri kepada Tuhan.

Beri’tikaf di mesjid, bertafakur mendekatkan diri kepada Allah merupakan mendekatkan diri kepada Allah merupakan salah satu kelanggengan Nabi dan para Mukmin pendahulu kita, umumnya di bulan Ramadhan. Mereka bahkan nabi yang begitu dekat dengan Allah, memerlukan beri’tikaf disela-sela kegiatan keseharian yang rata-rata masih dalam lingkup ibadat. Seringkali bahkan mereka menetap beberapa lama di mesjid, sehingga harus dikirimi makanan oleh keluarga mereka. Terutama di sepuluh hari terakhir Ramadhan, Nabi saw. mengkhususkan waktu untuk beri’tikaf dimesjid.

Boleh jadi di zaman sibuk dan modern ini, beri;tikaf terasa tidak popular. Bagaimana di dunia yang bersemboyan waktu adalah uang’ begini, orang sudi meluangkan waktu untuk berdiam di mesjid seperti pengangguran? Bahkan menganjurkannya saja mubaliq pun kayanya sungkan.

Namun, bukankah justru di zaman dimana aktifitas kejasadan dan kebendaan mendominasi kehidupan seperti sekarang, kita sangat memerlukan paling tidak sesekali meliburkan diri dari kerutinan pemanjaan jasad. Memberi bagian rohani kita untuk berkomunikasi sendiri dengan Al-Khaliq, menyerap cahaya dari Nur-Nya yang agung bagi kepentingan janji pertemuan kita kelak dengan-Nya.

Ya, sejenak dalam kehidupan keseharian-disela-sela kesibukan memakmurkan bumi- berdiam diri dirumah Tuhan, bertakafur dan bersendiri dengan Tuhan, agaknya sangat kita perlukan. Sungguh tidak masuk akal bila untuk perjalanan
singkat, rencana cermat kita buat, segala daya, pikiran dan waktu kita kerahkan untuk membekalinya; sementara untuk perjalanan panjang mengahadap-Nya, kita tidak mengambil kesempatan apa saja yang kita harapkan dapat membantu mempermudah dan memperlancarnya.

Bukankah kita perlu pengenalan, syukur keakraban, yang cukup terhadap. Siapa kita kelak menghadapnya? Ataukah kita tak peduli kita tak dianggap atau diabaikan-Nya.[]

KH. Dr. A. Mustofa Bisri, Pengajar di Pondok Pesantren Taman Pelajar
Raudlatut Thalibin, Rembang, Jawa Tengah.
Source


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: