Oleh: MAULA | Agustus 27, 2011

Cinta Yang Rasional

Bagaimana memahami cinta?

Bagaimana memahami cinta?

Bagi kebanyakan orang cinta adalah lambang dari tergugahnya perasaan, indah karena sering tak bisa diterangkan dengan logika, bahkan kadang-kadang malah menentang logika. Jadi,ganjil juga klo dikaitkan dengan kata ‘rasional’.

Istilah rasional di sini bukanlah sesuatu yang ‘kering’ atau ‘tandus’, membuat cinta jadi tidak indah..:). Pengertiannya bukanlah cinta yang penuh perhitungan untung-rugi, cinta dengan banyak pertimbangan, atau cinta yang mengandung vested interest. Cinta rasional adalah cinta yang disadari sepenuhnya, dikehendaki, dan yang terpenting cinta yang ingin menggapai tujuan kemanusiaan yang luhur.

Pengertian ini diharapkan menjadi kontras dengan pengertian cinta sebagai tergugahnya emosi saja, atau cinta emosional.

Selama cinta diartikan sebagai perasaan saja, biasanya kita cenderung untuk menekankan dan mempertahankannya sebagai pengalaman yang sangant pribadi. ”Hanya aku sendiri yang dapat merasakannya. Kau anggap tidak rasional, terserah. Cinta atau perasaan itu tidak bisa diwakilkan kepada orang lain“. Inilah sifat subyektif cinta emosional. Sisi baiknya, cinta jadi indah karena sering timbul secara spontan, tidak dipikir-pikirkan sebelumnya, atau dicari-carikan alasannya. Namun sisi buruknya juga menonjol, karena subyektif, kita menganggap perwujudan cinta itu semata-mata tergantung pada keinginan kita sendiri, pada selera kita, pada apa yang menyenangkan diri kita.

Contohnya, ada orangtua yang mengatakan ia tak sampai hati membiarkan anaknya hidup sendiri, selalu khawatir tentang kemungkinan-kemungkinan celaka. Jelas orangtua ini membelenggu anaknya dengan rantai yang tak kelihatan. Namun kepada orang lain ia mengatakan “ini karena cintaku pada anakku“. Demikian juga misalnya, seorang pria yang sikapnya penuh kecemburuan, sehingga menghambat perkembangan diri wanita yang dikasihinya, mengatakan “aku terlalu cinta padanya“.

Banyak contoh lain yang menunjukkan betapa cinta dapat menjadi suatu sikap yang sangat subyektif ; memanjakan, membuat tak berdaya, memberi toleransi tanpa batas pada perbuatan yang tidak layak, sekedar menjamin sandang-pangan – semuanya ini seringkali diberi merek cinta. ”Perasaankulah yang menetukan apakah ini cinta atau bukan, pokoknya yang kurasakan cinta”, walaupun sebagai akibatnya orang kita ‘cintai’ itu ternyata menderita.

Mari kita coba menyentuh cinta sebagai sesuatu yang rasional dan obyektif. Rasional dan obyektif artinya melihat, memperhatikan, dan mencerminkan tujuan cinta itu sendiri, bukan tujuan pribadi. Tujuan yang universal, ada maksud yang luhur atau penuh kemanusiaan yang ingin dicapai.

Lalu bagaimana perasaan-perasaan cinta yang indah itu, apakah akan ditinggalkan? Sama sekali tidak. Entah itu bernama kemesraan, kehangatan, atau kemanisan cinta, kita semua akan tetap mendambakannya. Namun, sebagai cetusan emosi, kita semua mengalami bahwa kehangatan itu pendek usianya. Malahan kadang-kadang bisa menjelma menjadi kebekuan.

Dengan menyelami dasar-dasar rasional dari cinta, maka yang kita arah adalah ‘kemuliaan’ cinta. Kalo kita biasanya menyoroti cinta dari segi-segi romantisnya, maka buku ini akan juga menampilkan segi-segi yang tidak romantis, namun tetap manusiawi, seperti misalnya: kemanusiaan, tanggungjawab, keadilan, disiplin.

Arah yang sepatutnya ditempuh untuk menggapai tujuan cinta rasional itu kira-kira dapat dirumuskan sebagai berikut:
” Kalau aku mencintaimu, aku tidak boleh sekedar memenuhi seleramu saja, menggembirakan engkau untuk sesaat saja, atau membuatmu senang secara dangkal. Aku akan menganugerahkan usahaku untuk membuatmu antusias, bargairah dengan segala apa yang kau miliki. Tidak ada yang lebih menggembirakan aku daripada melihat sinar mata penuh harapan yang kau pancarkan. Seolah-olah kau telah menemukan jalan hidupmu dan kau sanggup menghadapi berbagai rintangan dengan penuh kemantapan”

Seringkali dalam kegandrungan cinta yang emosional, muncul pertanyaan, bagaimana dapat membahagiakan orang yang kita cintai? Mungkin berpuluh-puluh hadiah dikirimkan, beratus-ratus kata pujaan dituliskan, namun masih saja ada kebingungan dengan janji kebahagiaan.

Membahagiakan harus ditafsirkan sebagai : memungkinkan hidup secara penuh. Jadi orang yang dicintai tidak menjadi lemah, tergantung, dan pasif, melainkan menjadi kuat dan produktif.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: