Oleh: MAULA | Agustus 27, 2011

Mudik; Budaya Konsumerisme Idul Fitri

Bahkan Superman pun rindu dengan kampung halamannyaSalah satu aktivitas yang paling banyak menyedot pikiran dan tenaga semua pihak ketika hari raya Idul Fitri, adalah mudik—aktivitas pergerakan jutaan manusia dari satu tempat ke tempat lainnya. Pergerakan manusia yang sangat besar ini tentu diikuti pula dengan pergerakan ekonomi yang sangat besar. Siapa yang sangka jumlah pemudik Indonesia setiap tahunnya sangat besar?

Pemerintah memperkirakan 18,5 juta orang, jumlah itu sudah termasuk 2,2 juta orang yang mudik dengan menggunakan sepeda motor. Luar biasanya angka mudik ini naik 5 persen setiap tahunnya. Dengan jumlah angka ini kapitalisasi mudik diperkirakan akan mencapai Rp 52,17 triliun, angka yang luar biasa untuk sebuah momen yang singkat.

Pertanyaannya ke mana konsumsi ini mengalir? Siapa saja yang menikmati kue mudik ini? Jasa angkutan umum termasuk jasa angkutan informal seperti ojek dan becak diperkirakan mengeruk kue mudik sebesar Rp 11 triliun. Sedangkan untuk konsumsi uang saku bagi para pemudik bisa mencapai Rp 18,5 triliun. Sisanya dana mudik ini yang terbesar dipakai untuk konsumsi baju dan makanan Lebaran, biaya komunikasi dan biaya zakat serta sedekah.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Dompet Dhuafa, besaran moneter ekonomi mudik pada tahun 2010 sebesar Rp 84,9 trilun. Jumlah ini didapatkan dari total biaya yang dikeluarkan oleh pemudik, baik untuk biaya transportasi, konsumsi di perjalanan, akomodasi, kedermawanan (filantropi) hingga wisata dan investasi. Angka ini akan bertambah menjadi Rp 104,8 triliun jika dimasukkan remitensi TKI ke Indonesia sebesar Rp 20 triliun.

Menurut penelitian ini pula diketahui bahwa dari total biaya yang dikeluarkan oleh pemudik yang berjumlah Rp 84, 9 triliun itu, sebanyak 56 persen beredar di daerah melalui komponen biaya akomodasi, wisata (leisure), kedermawanan (filantropi) dan zakat. Ekonomi Mudik. Adapun 44 persen sisanya tercecer selama di perjalanan, yaitu untuk biaya tansportasi, konsumsi dan oleh-oleh yang dibawa dari kota.

Penelitian yang dilakukan pada H-3 hingga S+3 lebaran ini juga menemukan, bahwa alokasi terbesar biaya yang dikeluarkan oleh pemudik ialah untuk biaya transportasi (22,7 persen) baik bagi pengguna sepeda motor, mobil, kapal, pesawat, maupun kereta api. Sebagian besar pemudik mengaku harus merogoh kocek cukup dalam untuk biaya transportasi ini.

Selain itu, pengeluaran yang tak kalah besarnya adalah dana untuk kedermawanan (filantropi) sebesar 20,7 persen. Sebagaimana lazimnya hari raya, keluarga yang datang dari kota akan menyediakan uang tunai yang dibagi-bagikan kepada keluarga.

Temuan lain dari survei ini adalah keseluruhan biaya mudik di atas mengalir ke tiga komponen besar yaitu korporat besar baik negara maupun swasta melalui tiket kendaraan, BBM dan wisata (34,8 persen), Usaha Kecil dan Menengah dalam bentuk konsumsi, oleh-oleh dan akomodasi (36,47 persen), dan masyarakat dalam bentuk kedermawanan karitatif (29,35 persen).

Temuan yang menarik lainnya adalah potensi zakat yang tersalurkan ke daerah adalah Rp 7,35 trilun (9 persen) dari total biaya mudik responden. Hal ini diketahui dari presentasi responden yang mengaku akan menyalurkan zakatnya di daerah (52 persen).

Selain itu, temuan lainnya adalah sebagian besar responden mengaku alokasi dana yang dikeluarkan untuk mudik melebih dari penghasilan yang mereka terima. Untuk menutupi over cost itu, responden mengaku harus merogoh kocek lain seperti THR, tabungan atau bahkan pinjaman. Berdasarkan perhitungan, rata-rata devisit responden adalah 11 persen. Ini berarti, jika penghasilan seorang pemudik itu Rp 2 juta per bulan, maka biaya yang dikeluarkan saat mudik adalah sebesar Rp 2.220.000.

Mudik menjadi semacam upacara budaya yang berbiaya mahal. Ini adalah pergelaran kolosal yang melibatkan belasan juta pemain Ekonomi Mudik dan menghabiskan puluhan triliun rupiah. Apakah ini menjadi suatu pertunjukan penuh makna, atau hanya pesta hura-hura yang segera kehilangan arti. Tentu saja ini tergantung siapa yang memainkan perannya.

Syukur bila mudik menjadi keberkahan tersendiri buat sebagian usaha kecil milik masyarakat banyak. Sayangnya produsen bermodal besar selalu menang. Maka kue mudik sebagian besar masih diraih oleh penyedia jasa dan produk dengan modal besar. Artinya ini bisa jadi keuntungan mudik menjadi milik sebagian kecil orang saja.

Perlu rekayasa sosial yang serius untuk memanfaatkan mudik menjadi Lebaran sesungguhnya bagi usaha kecil. Kata kuncinya adalah pemihakan. Mulai dari komposisi kekayaan desa dan kota yang perlu dibenahi, lapangan kerja dan pola konsumsi menjadi PR besar kita semua.

Source


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: