Oleh: MAULA | September 4, 2011

Parcel Lebaran Khusus

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mungkin sedikit kecewa di Hari Idul Fitri ini. Dua pekan telah berlalu sejak dia menyampaikan Nota Keuangan dan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional Tahun Anggaran 2012 di Senayan, tapi tak seorang pun dari orang dekatnya yang datang melapor kalau ada warga yang tergerak menjadikan dokumen itu sebagai parcel istimewa Hari Idul Fitri.

Parcel? Ya, ya parcel lebaran. Jika kabar yang sampai ke stasiun-stasiun penerima di langit harus dipercaya, Nota Keuangan 2012 adalah intan penggembira hati handai taulan dan sanak keluarga. Tebalnya saja sudah mencengangkan: 600 halaman lebih. Ia dicetak di kertas halus, tinta warna-warni ciamik. Penyusunannya bukan sembarang orang: kalangan doktor, profesor, konsultan dan ahli lintas sektoral, londo maupun pribumi. Total ongkos penyusunan dan percetakannya: Rp 1,9 miliar, menjadikannya yang termahal dari parcel manapun yang tersedia di Jakarta dalam sebulan terakhir.
Dan itu belum seberapa: di dalam Nota Keuangan ada foto presiden dalam pose resmi terbaiknya, plus sederet angka dan tabel, proyeksi dan harapan, kata-kata asing (“input”, “output”, “outcome” termasuk yang paling sering) dan konsep-konsep abstrak yang bisa memberi ‘aura  kejeniusan’ bagi mereka yang mendapat kehormatan besar mengoleksinya.
Tapi dari semua itu, isi dokumen lah yang menjadikannya super layak jadi parcel lebaran tahun ini. Di dalamnya, ada beratus-ratus kata dan kalimat yang menegaskan kalau Indonesia di tahun 2012 dan seterusnya bakal lebih baik. Makmur, merata dan berkeadilan. Pendeknya begini: pemerintah meyakini kita, semua kita, berjuta-juta rakyat di seluruh negeri, bakal lebih kaya di tahun depan. Kita bakal menyetor pajak lebih banyak dan persoalan kita nantinya bukan lagi pada harga minyak, bensin, solar, pupuk, benih yang lebih mahal karena penyusutan subsidi, tapi pada masalah-masalah yang selama ini kita anggap ‘remeh’, semisal peredaran narkotika.
Tahun depan, anggaran pemberantasan narkotika lebih besar ketimbang anggaran riset Kementrian Riset dan Teknologi, tak peduli yang terakhir punya potensi untuk mencipta berjuta lapangan kerja, kemandian dan harga diri bangsa via meramu dan memproduksi sendiri semua jenis barang yang hingga detik ini masih harus kita beli dari pihak asing, dari yang ringan seperti peniti dan telepon genggam, hingga yang berderak kencang seperti mobil-mobil Jepang.
Ini angka persisnya: Rp 970,8 miliar untuk Badan Narkotika Nasional dan Rp 672 miliar untuk Kementrian Riset dan Teknologi.
Anggaran Badan Narkotika juga mengalahkan pos-pos pembangunan yang mencakup hajat hidup lebih banyak warga negara, semisal anggaran pengelolaan transportasi laut (Rp 530 miliar), anggaran kawasan transmigrasi (Rp 576 miliar), anggaran percepatan pembangunan daerah tertinggal (Rp 530 miliar), anggaran perbaikan industri manufaktur (Rp 410 miliar), anggaran penguatan industri kecil dan menengah (Rp 362 miliar), anggaran peningkatan industri pertanian (Rp 361 miliar).
Daftar keunggulan anggaran Badan Narkotika masih panjang, sebenarnya. Ia masih lebih besar ketimbang alokasi anggaran perluasan kesempatan kerja (Rp 700 miliar), anggaran pelayanan dan perlindungan buruh dan pembantu di luar negeri (Rp 382 miliar), anggaran penanggulangan kemiskinan (Rp 755 miliar), anggaran peningkatan daya saing sektor perikanan ( Rp 600 miliar), anggaran program penelitian dan pengembangan kelautan dan perikanan (Rp 537 miliar), anggaran pengembangan ekspor (Rp 357 miliar), anggaran perlindungan konsumen (Rp 215 miliar).
Di luar itu, keunggulan khas  Nota Keuangan 2012 adalah besarnya semangat pemerintah untuk membuat bangsa-bangsa lain kaya dari belanja rutin warga negara yang, sekali lagi, mereka perkirakan bakal lebih kaya.
Ambil contoh dalam soal bensin dan solar bersubsidi. Tahun depan, pemerintah merasa belum perlu ada langkah segera dalam menekan atau bahkan menghentikan ketergantungan pada bensin dan solar impor dari Singapura, seperti dalam beberapa dekade terakhir. Tahun depan, pemerintah justru menyemangati kita untuk membeli bensin impor lebih banyak – tentu saja dengan harga yang kemungkinan lebih mahal. Nota Keuangan bilang: pemerintah menyiapkan Rp 168 triliun uang pajak untuk membangun dan memperbaiki beribu-ribu kilometer jalan dan jembatan, bandar udara, pelabuhan dan rel kereta api dan banyak “proyek pembangunan infrastruktur” lainnya yang semuanya memestikan konsumsi bensin dan solar impor yang lebih banyak.
Kenapa pemerintah tak menggunakan ‘belanja modal’ Rp 168 triliun itu untuk membangun kilang pengolahan minyak yang lebih besar dan modern di dalam negeri sehingga harga jual bensin dan solar bisa lebih murah – pun dengan segala sesuatu yang harganya bergantung pada harga bensin dan solar, semisal pembangkit listrik? Kenapa pula, misalnya, pemerintah tak menggunakan sebagian dari belanja modal itu untuk mendorong lahirnya mobil nasional sehingga yang menggelinding di jalan-jalan mulus negara tahun depan nanti tak lagi produk Jepang, Korea, Eropa dan Amerika?
Jawaban pertanyaan ‘sepele’ macam ini terselip di antara 600 halaman lebih Nota Keuangan, atau begitulah yang diyakini pejabat negara. Tapi, sampai di sini, Anda mungkin sudah bisa menebak kenapa tak seorang pun dari 240 juta penduduk negeri ini yang tergerak menjadikan Nota Keuangan 2012 sebagai parcel istimewa Hari Idul Fitri, bukan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: