Oleh: MAULA | Januari 5, 2012

Mengenal Manusia; Elaborasi Kemanusia

Banyak hal yang harus diketahui manusia, Syahid Murtadha Muthahhari – seorang filosof muslim kontemporer – mengatakan bahwa salah satu objek pengetahuan yang harus dikenali adalah manusia itu sendiri.
Manusia merupakan sebangsa binatang, banyak kesamaannya dengan binatang. Pada saat yang sama manusia memiliki banyak ciri yang membedakannya dari binatang. Ciri ini menempatkannya lebih unggul, yakni kemampuan mengenal diri dan dunia sekitarnya.
Makhluk pasti memiliki kecenderungan untuk mengenal dan mengetahui komunitasnya sendiri, maka ketertarikan awal manusia pasti untuk mengenal komunitas manusia. Setelah itu, lantas ia akan mencoba untuk mengenal komunitas lain di sekitarnya.

Allah Swt, Zat Yang Maha Agung, menciptakan manusia atas berbagai bangsa dan suku. Karena Dia terlepas dari sifat kesia-siaan, maka penciptaan itu pasti bermakna. Melalui lisan suci Nabi Mulia saw, Allah Swt berfirman di dalam Al Qur’an surat Al Hujurat [49]: 13 sebagai berikut:

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakanmu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al Hujurat [49]: 13)
Allah Tuhan Semesta Alam menciptakan manusia terdiri atas berbagai bangsa dan suku dengan maksud agar manusia saling mengenal. Jalan agar manusia saling mengenal adalah dengan terlebih dahulu membuka diri (inklusif). Bagaimana mungkin manusia dapat saling kenal jika ia masih mengeksklusifkan dirinya – menutup dialog dan komunikasi dengan yang lain, menolak berbagai kemungkinan lain yang yang bisa saja lahir dan menganggap bahwa keyakinan yang telah dimiliki sebagai kebenaran murni yang mutlak padahal belum sekalipun kebenaran yang diyakininya itu diuji?
Semakin banyak yang kita kenali, maka bertambah pula pengetahuan kita. Semakin bertambah pengetahuan yang dimiliki, semakin kuat pula kadar keimanan kita. Semakin kuat iman, semakin bertakwalah kita. Karena pengetahuan adalah pondasi manusia untuk mengenal realitas mutlak yang menjadi sebab kehadiran kita di bumi ini.
Kita menemukan banyak fenomena konflik dan pertikaian yang lahir dari eksklusifisme tersebut. Ketika suatu kelompok menyerang kelompok lain tanpa sekalipun memberikan kesempatan pada kelompok yang diserang itu untuk menyampaikan argumentasi. Padahal hanya masyarakat primitif saja yang menghindar dari dialog dan mengandalkan kekuatan fisik. Hal ini tentu berlawanan dengan masyarakat yang ingin diciptakan oleh Nabi Mulia saw selama 23 tahun masa dakwahnya yang mulia.
Masyarakat egaliter (baca: madani, sejajar) yang diinginkan oleh Nabi Suci saw adalah masyarakat yang terbuka dalam pemikiran, dialogis dan terus-menerus melakukan pencarian kebenaran. Nabi Muhammad saw sendiri memberikan teladan kepada kita agar membuka komunikasi seluas-luasnya dengan berbagai kalangan.
Tidak ia perangi kelompok yang berbeda dengan beliau, jika hujjah belum disampaikan. Bahkan terhadap kelompok yang telah beliau dakwahkan namun tetap tak bergeming, tidak pula diperangi, kecuali mereka terlebih dulu menyatakan perang.
Manusia berasal dari tanah – sebuah simbol betapa manusia berasal dari kehinaan. Allah Swt yang mengangkat derajat manusia dengan kenabian (nubuwwah) serta menganugerahkan akal untuk berpikir. Tanpa itu, manusia akan tetap berada dalam lumpur ke-jahiliyah-an. Dengan Keadilan-Nya, Dia ciptakan pasangan bagi manusia, sehingga manusia dapat memiliki keturunan yang dengannya akan bertambahlah penyeru kebenaran di bumi Allah ini. Lantas Dia tanamkan rasa cinta di dalam sanubari manusia, sehingga manusia dapat mengetahui betapa besar cinta Tuhan kepada makhluk-Nya.
Bukan kebencian yang Tuhan tanamkan dalam hati manusia, melainkan rasa cinta. Justru dengan cinta kebencian itu lahir. Jika kita mencintai Allah Swt, maka kita pasti membenci musuh-musuh Allah Swt. Jika kita mencintai hamba-hamba Allah yang saleh, maka kita pasti membenci siapapun yang membenci mereka. Dalam Ar Ruum [30]: 20-21. Allah Swt berfirman:
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan diantaramu rasa
 kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (QS. Ar Ruum [30]: 20-21)
Orang yang menggunakan akalnya pasti berbeda dengan orang yang tak menggunakan akal. Orang yang berakal pasti memberikan kesempatan yang sangat luas untuk menerima pengetahuan. Dalam suatu kesempatan, Imaamul Muttaqiin, Sayyidina Ali bin Abi Thalib karamallaahu wajhah berkata kepada putranya, “Wahai anakku, sesungguhnya adalah suatu keharusan bagi orang yang berakal untuk memperhatikan keadaannya, menjaga lisannya, dan mengenal orang yang sezaman dengannya.”
Dalam redaksi yang hampir sama, Sayyidina Ali berkata, “Tiga hal yang menjadi keharusan bagi orang yang berakal, yakni: memperhatikan keadaannya, menjaga lisannya, dan mengenal orang yang sezaman dengannya.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: