Oleh: MAULA | Januari 7, 2012

Etika Protestan; Deviasi Moral Kapitalis

“Capitalism means that a few people will do very well, and the rest will serve the few.”
(Kapitalisme berarti segelintir orang sangat berhasil, dan yang lain akan melayani yang segelintir itu)

Michael F Moore

 

Kita sering dengar istilah kapitalisme, sebuah ideologi yang menindas kelas buruh dan menjauhkan buruh dari alat produksinya. Namun, lebih dari sekadar teori ekonomi, kapitalisme mengendap dalam diri setiap orang sebagai salah satu bentuk aktualisasi diri dengan cara mencari kemapanan ekonomi menuju legitimasi sosial dan kekuasaan politik. Dalam hal ini eksploitasi hasrat dalam diri seseorang mengarahkannya kepada kecenderungan kapitalis daripada sisi sosialisnya. Inilah yang membuat kapitralisme mampu bertahan dan malah menjadi hegemoni peradaban global.

Kapitalisme sebagai modus eksistensi secara tidak langsung mendapat pembenaran dari Max Weber dalam “The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism” (Die protestantische Ethik und der ‘Geist’ des Kapitalismus) yang awalnya berupa tulisan berseri pada tahun 1904 dan 1905 dan kemudian terkenal sebagai “Tesis Weber”. Ia menyatakan bahwa gagasan keagamaan (etika Protestan) adalah sebuah kekuatan bawah sadar dalam pengembangan kapitalisme.

Dalam perspektif ini, Tuhan telah memberikan pembagian yang tegas antara urusan akhirat dan duniawi. Manusia sebagai mandataris Tuhan di dunia bertanggung jawab penuh atas nasibnya tanpa bantuan sakramen dan otoritas gereja. Akibatnya, manusia mencari jalan terbaik untuk bertahan hidup (survival of the fittest). Ia sendiri yang harus memberikan pelayanan terbaik dalam setiap aktivitas kehidupan yang dikenal sebagai “kesuksesan”. Ukuran paling rasionalnya adalah berlimpahnya materi dan kedudukan. Sukses dunia adalah sebuah ukuran keselamatan sedangkan kemiskinan adalah salah satu bentuk hukuman dari Tuhan.

Tentu saja aktivitas mengejar keuntungan ekonomi ini bukan dominasi budaya Barat melainkan karakter umum dalam perspektif keagamaan puritan dimana keberimanan adalah “kehadiran Tuhan”. Konsep “tangan yang diatas lebih mulia dari tangan yang dibawah” membangun pondasi aksi bahwa kemapanan adalah sebuah kemestian dan jalan hidup yang terpuji karena dapat membantu banyak orang dalam hal peneguhan iman, lapangan pekerjaan, dan pemenuhan kebutuhan hidup banyak orang. Konsep kehendak bebas (free-will) bersanding dengan pembenaran teologis, menghadirkan makna spiritual dan moral yang positif. Dalam kata lain, gerakan keagamaan memperkuat prinsip utama kapitalisme dalam usaha pengejaran kekayaan. Kapitalisme bisa dipraktikkan oleh siapa saja, termasuk kalangan yang kita kenal sebagai orang yang taat beribadah.[andito/wikipedia]

Source


Responses

  1. Saudara Maulana ini seperti berlagak tidak tahu hukum alam semesta… Pohon Tinggi besar saja mematikan tanaman yang lebih kecil…Hewan yang kuat saja pasti membunuh hewan kecil… itu sudah hukum alam semesta…
    Anda ini berlagak juru bicara rakyat

    • mental penindas ya kayak anda inilah orangnya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: