Oleh: MAULA | Januari 7, 2012

Merajut Mimpi Mobil Nasional

Oleh A Syalaby Ichsan

Tampangnya mirip Honda CRV. Buritannya mirip Ford Everest. Mobil bertampang gado-gado namun tetap gagah itulah yang baru-baru ini dipinang Wali Kota Solo Joko Widodo (Jokowi) sebagai mobil dinas menggantikan sedan Toyota Camry.

Awalnya diberi nama Kiat Esemka, mengambil ejaan dari SMK (Sekolah Menengah Kejuruan). Mobil itu memang dibangun oleh para siswa SMK dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jakarta yang dibimbing oleh Bengkel Kiat Motor yang terletak di Desa Ngaran, Kecamatan Ceper, Klaten, Jawa Tengah.

Proyek Kiat Esemka memang bukan mobil pertama yang dibuat oleh anak-anak SMK. Dua tahun lalu SMKN 1 Singosari, Malang, Jawa Timur, juga sudah membangun mobil pick up kabin ganda bernama Esemka Digdaya dengan mengambil komponen dari Isuzu Panther, Mitsubishi L-300, dan mesin sedan Timor.

Namun, langkah Jokowi menjadikan mobil buatan anak-anak SMK sebagai mobil dinas itulah yang telah melambungkan nama mobil Esemka. Mobil Kiat Esemka memanfaatkan 80 persen komponen lokal. Dapur pacunya berkapasitas 1.500 cc yang blok mesinnya dibangun di pabrik cor di Ceper, Klaten.

Adalah Haji Sukiyat, lelaki di balik produk Esemka. Pemilik Bengkel Kiat Motor itulah yang menggagas kerja sama belajar membuat mobil dengan SMKN Trucuk, Klaten, sejak 2009. Ide kolaborasi itu ternyata sukses dan banyak diminati sekolah-sekolah lain. Direktorat Pendidikan Sekolah Kejuruan Kementerian Pendidikan Nasional pun menyebarkan virus belajar membuat mobil ke berbagai SMK.

Hasilnya, siswa dari 13 SMK di Jawa Tengah dan Jawa Timur ikut belajar membuat mobil di Kiat Motor. Lalu, SMKN 2 Solo dan SMK Warga Solo yang berkesempatan mempersembahkan mobil hasil kerja bareng berbagai sekolah itu kepada Jokowi.

Guru Pembimbing SMKN 2 Solo Budi Martono memastikan, hampir 100 persen komponen badan mobil merupakan hasil karya anak bangsa, demikian pula dengan mesin. Dari keseluruhan komponen, hanya tiga jenis yang masih harus diimpor, yakni cincin torak, katup, dan sistem injeksi.

Mobil Kiat Esemka yang nama resminya Esemka Rajawali dibanderol Rp 95 juta. Jokowi yang sudah melakukan test drive mengaku tingkat kenyamanannya tak kalah dari mobil buatan pabrikan asing. ”Mobil ini cukup nyaman dikendarai. Suara mesin halus, nyaris tak berisik, jok dan interior dalam juga bagus. Remnya saya coba juga pakem, mantap,” komentar Jokowi seusai mengendarai mobil berkelir hitam ini.

Bila Kementerian Pendidikan menularkan virus belajar membuat mobil dari Klaten ke berbagai SMK lain, Jokowi menyebar virus penggunaan mobil buatan anak-anak SMK itu. Salah satu yang tertular adalah Ketua DPR Marzuki Alie. Seusai meninjau langsung mobil itu di halaman parkir kantor Wali Kota Surakarta, Marzuki langsung menyatakan minat membeli satu mobil. ”Iya, saya beli satu unit, yang tipe double cabin,” kata Marzuki, Rabu, (4/1).

Marzuki menegaskan perlunya apresiasi dan dukungan terhadap buah karya siswa SMK tersebut. Hadirnya mobil itu semakin menguatkan fakta bahwa bangsa ini mempunyai potensi yang sangat besar. Lebih jauh, politikus Partai Demokrat itu berharap keberhasilan siswa SMK ini sebagai salah satu jalan untuk mewujudkan program mobil nasional bangsa ini.

Menurut Marzuki, hingga saat ini Indonesia belum mempunyai mobil hasil produksi lokal setelah tak diteruskannya proyek mobil nasional Timor pada masa Orde Baru. Dia pun mengingatkan agar pemerintah segera membantu mewujudkan lahirnya mobil nasional.

”Persoalan apakah sudah layak dan sebagainya tentunya ada standar industri yang harus dipenuhi. Nah, tentu nanti kita arahkan. Kalau memang ini memenuhi standar, ya kita dukung untuk dikomersialkan. Kita dukung juga siapa pun yang punya dana untuk membantu mengembangkan industri kebanggaan ini,” kata Marzuki.

Marzuki memang tak bisa menjamin pemerintah berminat menghidupkan lagi mimpi proyek mobil nasional yang mandek setelah krisis moneter 1998 atau tidak. Dibukanya liberalisasi berbagai sektor ekonomi termasuk otomotif setelah tahun 2000-an, proyek mobil nasional lebih banyak dilakukan oleh perusahaan kecil, bahkan perorangan tanpa dukungan pemerintah dan industri besar.

Padahal pada masa Orde Baru kebijakan menuju negara yang industri otomotifnya mandiri sudah dijalankan secara bertahap. Puncaknya pada era 1990-an dengan dikeluarkannya Paket Kebijakan Otomotif tahun 1993 yang memberi insentif pengurangan dan pembebasan bea masuk komponen bagi kendaraan yang kandungan komponen lokalnya tinggi. Kebijakan itu dijawab oleh Toyota dengan menaikkan komponen Kijang sampai 47 persen dan juga Mazda dengan proyek Mobil Rakyat (MR) 90 atau Vantrend.

Pemerintah kemudian menerbitkan Inpres Nomor 2 Tahun 1996 tentang Pembangunan Industri Mobil Nasional yang membuat berbagai perusahaan besar berlomba-lomba membuat proyek mobil nasional, seperti Bakrie, Texmaco, IPTN, PT Timor Putra Nasional (TPN), dan PT Bimantara. Mobil Timor (Teknologi Industri Mobil Rakyat) yang merupakan buah kerja sama TPN dengan Kia Korea Selatan menjadi ikon utama proyek mobil nasional.

Pada Juni 1996 pemerintah kembali mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 42 yang memperkuat posisi Timor dengan mengizinkan impor mobil utuh dari Korea Selatan tanpa bea masuk. Syaratnya, mobil itu dikerjakan tenaga Indonesia dan dalam tiga tahun memenuhi 60 persen kandungan lokal.

Kebijakan itu diprotes negara-negara pemilik industri otomotif besar, seperti Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa yang menggugat lewat forum Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Akhirnya, di forum WTO Timor pun kalah. Robohnya Timor memuncak ketika krisis moneter melanda dan rezim Soeharto jatuh pada Mei 1998. Akhirnya, semua proyek mobil nasional pun mati.

Dalam soal kebijakan mobil nasional, pengamat transportasi Djoko Setijowarno meminta pemerintah belajar dari negara lain. Program mobil nasional di Jepang, India, dan Malaysia mendapat dukungan penuh negara, dimulai dari contoh tindakan pemimpin dan para pejabat negaranya. ”Yaitu, dengan menjadikan mobil nasional sebagai mobil dinas pejabat negara,” kata DJoko.

Jepang punya Toyota, India dengan Ambassador, dan Malaysia dengan Proton. Hasilnya, saat ini produk mobil nasional mereka sudah diekspor. Karena itu, Djoko memuji keberanian Jokowi memberi contoh penggunaan mobil buatan anak-anak SMK yang bisa disebut sebagai momentum kebangkitan mobil nasional. Selanjutnya, Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perhubungan harus langsung datang ke Solo untuk menyertifikasi mobil Esemka. ”Tak perlu menanti diminta,” ujarnya.palupi annisa auliani ed: rahmad budi harto


Mimpi Mobil Nasional

Keinginan mempunyai industri otomotif nasional sempat membara pada masa Orde Baru. Saat itu muncul kebijakan insentif perakitan dalam negeri dan penggunaan kandungan lokal hingga proyek mobil nasional sebelum akhirnya kandas dilanda krisis moneter 1998. Pada era perdagangan global saat ini, liberalisasi pasar melemahkan harapan munculnya industri mobil nasional karena pemerintah lebih terfokus pada perakitan dalam negeri dan peningkatan komponen lokal dari pabrikan mobil asing.

1969
Menteri Perindustrian dan Menteri Perdagangan mengeluarkan SKB mengatur impor kendaraan bermotor dalam kondisi CBU dan CKD, pendirian pabrik perakitan, dan agen tunggal pemegang merek (ATPM).

1974
Untuk membangun industri otomotif nasional, pemerintah melarang impor kendaraan CBU. Hanya ATPM yang boleh mengimpor kendaraan dalam bentuk CKD.

1976
Muncul kebijakan Program Penanggalan. Pabrikan yang tak memakai stamping parts dalam negeri dikenakan bea masuk tinggi. Ada 35 merek mobil beredar di Indonesia.

1977
Toyota memproduksi pick up Toyota Kijang. PT Garmak Motor milik Probosutedjo memproduksi pick up Morina bermesin Vauxhall dengan komponen lokal 40 persen guna menyaingi Kijang.

15 Januari 1987
Deregulasi industri kendaraan bermotor, mesin industri, mesin listrik, dan tarif bea masuk dengan kemudahan perakitan kendaraan, pembuatan, serta perakitan bagian kendaraan bermotor.

10 Juni 1993
Program Penanggalan diganti Program Insentif. Dimulai dengan deregulasi bidang otomotif, memangkas sejumlah bea masuk guna menggenjot kandungan komponen lokal. Pabrik mesin dan komponen otomotif tumbuh dan mampu menembus pasar ekspor. Sekitar 24-an merek mobil beredar.

* Bea masuk nol persen diberikan untuk:
– Sedan kandungan lokal sampai 60 persen
– Pick up, minibus kandungan lokal sampai 40 persen
– Truk dan bus kandungan lokal sampai 30 persen
– Sepeda motor kandungan lokal sampai 40 persen.

* Toyota Kijang generasi ketiga dan Mazda MR 90 (Vantren) mampu memenuhi syarat kandungan lokal sehingga bebas bea masuk komponen.

* Kebijakan impor mobil:
– Impor utuh bea masuk 300 persen.
– Dirakit di dalam negeri bea masuk 200 persen.

1995-1996
Pemerintah mempercepat Program Insentif dengan memperkenalkan Program Mobil Nasional.
– Terbit Keppres No 42/1996 mengizinkan PT Timor Putra Nasional (TPN) mengimpor mobil utuh dari Korea Selatan tanpa bea masuk. Syaratnya, mobil itu dibangun tenaga kerja Indonesia di pabrik KIA dan dalam tiga tahun memenuhi kandungan lokal 60 persen. TPN mengimpor KIA Sephia (Timor S515) dan menyiapkan mobil Timor 2 desain Italia dan sepeda motor Timori bekerja sama dengan Cagiva. Keppres 42 diprotes negara-negara anggota WTO. TPN digugat di WTO dan kalah.
– PT Bimantara menggandeng Hyundai untuk proyek mobil nasional.
– IPTN mengembangkan sedan Maleo.
– Texmaco mengembangkan MPV bekerja sama dengan Mercedes Benz dan truk Perkasa.
– Grup Bakrie mengembangkan MPV Beta 97 desain Inggris.

1997-1998
Krisis moneter menghantam. Penjualan mobil pada 1998 anjlok sampai 58 ribu saja dibanding 392 ribu unit pada 1996. Semua proyek mobil nasional mandek.

1999
Mulai era liberalisasi pasar otomotif dengan Paket Kebijakan Deregulasi Otomotif. Dimulai dengan dibukanya keran impor mobil CBU sehingga mobil mewah, seperti Ferrari, Jaguar, Lexus, mulai masuk. Sepeda motor Cina mulai membanjir. Kompetisi semakin ketat, namun penjualan mobil mulai pulih.

Era 2000
Kemunculan proyek mobil nasional partikelir yang tak ditunjang pemerintah dan industri besar.
– PT KANCIL memproduksi mobil kecil Kancil pengganti bajaj dan bemo
– Karyawan PTDI mengembangkan mobil kecil Gang Car
– Mahasiswa Unes Semarang mengembangkan mobil kecil Arina
– PT Gasindo memproduksi mobil kecil Tawon
– BPPT dan PT Inka membuat mobil kecil GEA
– LIPI mengembangkan mobil kecil listrik Marlip
– PT Fin Technology mengembangkan mobil kecil penjelajah (off-road)
– Berbagai SMK mengembangkan mobil komersial dimulai dari SMK Singosari Malang dengan SUV Digdaya diikuti SMK 2 Solo dan SMK Warga Solo dengan SUV Rajawali.

Sumber: Pusat Data Republika
Pengolah: Rahmad Budi Harto

Source

Iklan

Responses

  1. sebetulnya kalau indonesia mau membangun mobnas dengan harga 5o juta rupiah,, gampang… kerja-sama dengan pihak luar,, dimana bmw, mercy, fiat stock lama di daur ulang di -indonesia.. hanya bangsa ini harga dirinya selangit,, tidak-pintar dagang…

    • lu pinternya komentar doank

  2. Mudah-2an, menjadikan INDONESIA-Banget, amin.

  3. Orang macem ambarita itu nggak pernah menghargai karya orang lain. Apalagi ini karya anak anak kecil yang masih SMK, Mestinya mengapresisi bukan malah ngolok olok bangsa sendiri. atau ambarita memang orang asing yang geseng alias sok kebule bulean tapi kulit sawo matang? Biasanya orang macam dia itumalah goblok gak bisa apa apa.
    SALUT BUAT ANAK ANAK SMK ……………SEMANGAT AND MAJU TERUS


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: