Month: Januari 2012

Keberadaan Tuhan

Oleh: Mohammad Adlany

Dasar-dasar Argumen Imkan dan Wujub

Argumen yang dipergunakan di sini untuk menelaah realitas eksistensi dan wujud eksternal dalam menegaskan eksistensi hakiki Tuhan adalah argumen imkan (contingent) dan wujub (necessity).

Argumen ini merupakan salah satu argumen rasional yang paling kuat dalam membuktikan eksistensi Tuhan, karena tak satupun manusia berakal menolak dan memungkiri eksistensi dirinya dan realitas wujud-wujud di alam ini, sementara argumen ini secara prinsipil berpijak pada penerimaan realitas eksistensi dan wujud hakiki.

Sebenarnya, Tuhan tidak gaib, yang gaib justru diri kita sendiri, Tuhan bahkan lebih berwujud dari wujud-wujud lain dan lebih bercahaya dari cahaya-cahaya lain. Jadi, kalau kita mempergunakan argumen-argumen untuk “pembuktian” wujud Tuhan, maka itu hanyalah berdimensi “mengingatkan” kita akan realitas hakiki itu. (lebih…)

Meraih Kesempurnaan Insani

Kesempurnaan setiap maujud mempunyai batasan tertentu yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta. Karena karakteristik masing-masing maujud, mulai dari tumbuh-tumbuhan, hewan, dan manusia, adalah berbeda satu sama lain, maka kesempurnaannya pun menjadi berbeda dan bertingkat-tingkat. Setiap maujud dikatakan sempurna ketika potensi-potensi khusus yang ada pada dirinya telah aktual.

Kesempurnaan setiap maujud harus ditemukan dalam sistem alam penciptaan. Untuk melakukan hal ini, harus dilakukan pengenalan terhadap hakikat suatu maujud untuk kemudia menempatkan kedudukannya di alam penciptaan, setelah itu dibutuhkan spesialisasi yang untuk mengetahui, memperkirakan, dan terakhir memberikan kesimpulan yang layak. Tentunya, penentuan kesempurnaan suatu maujud tidak bisa merujuk pada pendapat masyarakat umum, adat istiadat, dan peradaban.

  (lebih…)

Mengenal Manusia; Elaborasi Kemanusia

Banyak hal yang harus diketahui manusia, Syahid Murtadha Muthahhari – seorang filosof muslim kontemporer – mengatakan bahwa salah satu objek pengetahuan yang harus dikenali adalah manusia itu sendiri.
Manusia merupakan sebangsa binatang, banyak kesamaannya dengan binatang. Pada saat yang sama manusia memiliki banyak ciri yang membedakannya dari binatang. Ciri ini menempatkannya lebih unggul, yakni kemampuan mengenal diri dan dunia sekitarnya.
Makhluk pasti memiliki kecenderungan untuk mengenal dan mengetahui komunitasnya sendiri, maka ketertarikan awal manusia pasti untuk mengenal komunitas manusia. Setelah itu, lantas ia akan mencoba untuk mengenal komunitas lain di sekitarnya.

Allah Swt, Zat Yang Maha Agung, menciptakan manusia atas berbagai bangsa dan suku. Karena Dia terlepas dari sifat kesia-siaan, maka penciptaan itu pasti bermakna. Melalui lisan suci Nabi Mulia saw, Allah Swt berfirman di dalam Al Qur’an surat Al Hujurat [49]: 13 sebagai berikut:

Analisa “Fatwa” MUI tentang Syiah

Kutipan Fatwa MUI tentang Syi'ah

Kutipan Fatwa MUI tentang Syi'ah

Dalam pertemuannya dengan para pelajar Indonesia yang berada di Qom (28/4), Ketua MUI Pusat Prof. DR. Umar Shihab menyebutkan bahwa sampai saat ini MUI sama sekali tidak pernah mengeluarkan fatwa mengenai kesesatan Syiah. Namun saat ini beberapa media dan situs yang memiliki tendensi negatif terhadap Syiah mempublikasikan selebaran fatwa MUI yang disebutkan menyatakan kesesatan Syiah dan bukan bagian dari Islam. Manakah yang benar dari keduanya?

Mana yang benar, pernyataan Prof. Umar Shihab yang notabene adalah Ketua MUI yang menyebutkan MUI tidak pernah mengeluarkan fatwa mengenai kesesatan Syiah atau media-media anti Syiah yang menyebutkan MUI pernah mengeluarkan fatwa kesesatan Syiah dan belum dianulir sampai saat ini?

Berikut kami menyertakan sebuah analisa sederhana: (lebih…)

Mengenal Macam-macam Hujan

Hujan

Hujan

HUJAN memang kadang ditunggu-tunggu tetapi tidak jarang pula diharapkan tidak turun sesering mungkin. Sebenarnya, kenapa air dari langit itu bisa turun ke bumi? Diketahui, hujan terjadi karena air laut mengalami evaporasi ke atmosfer karena panas sinar matahari. Evaporasi adalah proses penguapan dari tubuh-tubuh perairan. Angin yang bertiup membawa uap air laut ke arah daratan.

Pada ketinggian tertentu, uap air yang berasal dari evaporasi air laut, sungai, dan danau terkumpul makin banyak di udara. Pada saat tertentu uap air menjadi jenuh dan mengalami kondensasi hingga menciptakan hujan. Air hujan yang jatuh di daratan selanjutnya mengalir ke parit, selokan, sungai, danau, dan menuju ke laut lagi.

Namun, tidak semua air hujan sampai ke permukaan bumi karena sebagian menguap ketika jatuh melalui udara kering. Hujan jenis ini disebut sebagai virga.
(lebih…)