Bulan: Juli 2013

Empat Pilar Berkebangsaan dan Bernegara

PENGANTAR

Dalam berbagai wacana selalu terungkap bahwa telah menjadi kesepakatan bangsa adanya empat pilar penyangga kehidupan berbangsa dan bernegara bagi negara-bangsa Indonesia. Bahkan beberapa partai politik dan organisasi kemasyarakatan telah bersepakat dan bertekad untuk berpegang teguh serta mempertahankan empat pilar kehidupan bangsa tersebut. Empat pilar dimaksud dimanfaatkan sebagai landasan perjuangan dalam menyusun program kerja dan dalam melaksanakan kegiatannya. Hal ini diungkapkan lagi oleh Presiden RI Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, pada kesempatan berbuka puasa dengan para pejuang kemerdekaan pada tanggal 13 Agustus 2010 di istana Negara.

Empat pilar tersebut adalah (1) Pancasila, (2) Undang-Undang Dasar 1945, (3) Negara Kesatuan Republik Indonesia dan (4) Bhinneka Tunggal Ika. Meskipun hal ini telah menjadi kesepakatan bersama, atau tepatnya sebagian besar rakyat Indonesia, masih ada yang beranggapan bahwa empat pilar tersebut adalah sekedar berupa slogan-slogan, sekedar suatu ungkapan indah, yang kurang atau tidak bermakna dalam menghadapi era globalisasi. Bahkan ada yang beranggapan bahwa empat pilar tersebut sekedar sebagai jargon politik. Yang diperlukan adalah landasan riil dan konkrit yang dapat dimanfaatkan dalam persaingan menghadapi globalisasi.
(lebih…)

Iklan

Tragedi Syiah Sampang dan Problem Pluralisme Internal

Aksi Menolak Pengusiran Warga Syiah Sampang

Oleh Mamang M. Haerudin

Akeh kang apal Qur’an hadise, seneng ngafirke marang liyane, kafire dewek ndak digetekke, yen isih kotor ati akale”—Syiir Tanpo Waton Gus Dur

 

Sebagai seorang yang sejak lahir, tumbuh kembang dan dibesarkan dalam tradisi Ahl Sunnah wa al-Jama’ah (Sunni, NU), saya sungguh amat sedih tatkala menyaksikan tindak kekerasan dan intoleransi—dalam konteks ini—yang melibatkan seteru Sunni-Syiah, sepekan ke belakang di Sampang, Madura. Selain hal ini merugikan keduanya, juga telah mencederai nilai luhur Islam itu sendiri, sebagai agama yang cinta damai. Ini satu bukti bahwa kita telah gagal memaknai hak kebebasan beragama dan berkeyakinan, sebagai hak yang paling asasi dalam kehidupan manusia. Lepas dari disengaja atau tidak, kita seakan telah melupakan bahwa perbedaan di antara umat adalah rahmat. Rahmat sebagai anugerah dan keniscayaan dari Tuhan yang senantiasa wajib kita syukuri dan songsong, keberadaannya. (lebih…)

JFK hingga FREEPORT

“Masa lalu adalah Prolog” (Tertulis di Arsip Nasional, Washington, DC)
Dalam Bagian Satu dari artikel ini (Probe, Maret-April, 1996) kami telah bicarakan tentang Freeport melalui tahun-tahun awal pengambil-alihan tambang mereka oleh pemerintah Kuba yang berpotensi menguntungkan di Teluk Moa Bay, sebagaimana pelarian mereka bersama Presiden Kennedy mengenai masalah penimbunan ini. Namun konflik terbesar yang akan dihadapi Freeport Sulphur adalah mengenai perumahan di satu negara menghasil cadangan emas terbesar di dunia dan cadangan tembaga:ketiga terbesar, yaitu: Indonesia. Untuk memahami kerusuhan terakhir di pabrik Perusahaan Freeport (Maret, 1996), kita perlu melihat kepada akar dari perusahaan ini, untuk menunjukkan bagaimana hal-hal yang mungkin sangat berbeda harus Kennedy jalani untuk melaksanakan rencananya bagi Indonesia.