Oleh: MAULA | Juli 18, 2013

Tragedi Syiah Sampang dan Problem Pluralisme Internal

Aksi Menolak Pengusiran Warga Syiah Sampang

Oleh Mamang M. Haerudin

Akeh kang apal Qur’an hadise, seneng ngafirke marang liyane, kafire dewek ndak digetekke, yen isih kotor ati akale”—Syiir Tanpo Waton Gus Dur

 

Sebagai seorang yang sejak lahir, tumbuh kembang dan dibesarkan dalam tradisi Ahl Sunnah wa al-Jama’ah (Sunni, NU), saya sungguh amat sedih tatkala menyaksikan tindak kekerasan dan intoleransi—dalam konteks ini—yang melibatkan seteru Sunni-Syiah, sepekan ke belakang di Sampang, Madura. Selain hal ini merugikan keduanya, juga telah mencederai nilai luhur Islam itu sendiri, sebagai agama yang cinta damai. Ini satu bukti bahwa kita telah gagal memaknai hak kebebasan beragama dan berkeyakinan, sebagai hak yang paling asasi dalam kehidupan manusia. Lepas dari disengaja atau tidak, kita seakan telah melupakan bahwa perbedaan di antara umat adalah rahmat. Rahmat sebagai anugerah dan keniscayaan dari Tuhan yang senantiasa wajib kita syukuri dan songsong, keberadaannya.

Padahal juga, Islam melalui Nabi Muhammad Saw sedari awal adanya telah mendeklarasikan diri sebagai agama yang Rahmatan Lil’alamin, sebagai agama inspiratif yang punya kepedulian besar terhadap kasih sayang, bukan hanya kepada sesama Muslim melainkan pula ke seluruh penghuni jagat raya ini, tanpa diskriminasi apalagi kekerasan. Lalu pertanyaannya adalah; mengapa Sunni-Syiah yang notabene sesama Muslim berlaku keras dan intoleran? Mana bukti klaim Islam Rahmatan Lil’alamin itu? Bagaimana sikap kita untuk merehab dan merekonstruksi tragedi memilukan ini, sehingga tak akan terulang?.

 

Memahami Syiah Sampang

Jalaluddin Rakhmat—salah seorang cendekiawan dan tokoh terkemuka Syiah Indonesia—dalam salah satu kesempatan pernah menyatakan bahwa pelbagai tuduhan yang kerap disematkan banyak pihak tentang “kesesatan” Syiah Sampang, itu tak lebih sebagai fitnah belaka. Kang Jalal—sapaan akrab Kang Jalal—kemudian menegaskan, bahwa tak ada beda yang signifikan antara Syiah Sampang dengan Syiah yang umum kita kenal. Sumber hukum; al-Qur’an dan hadits, ritual ibadah, ritual muamalah, dan lain sebagainya sama, bahkan banyak sama dengan Sunni.

Oleh karena itu, wawasan dan pandangan kita mengenai Syiah harus komprehensip-universal dan tak boleh paradoks-parsial. Syiah sebagai salah satu sekte dalam Islam—sebagaimana halnya Sunni—adalah mesti kita akui bahwa ia warisan otentik (sejarah) Islam. Sebab itu, tatkala ada pihak yang menyesatkan Syiah adalah sebuah ironi tersendiri. Saya sendiri menganggap bahwa labelisasi sesat itu satu grit di bawah kafir, atau minimalnya dekat. Dalam Syiir Tanpo Waton Gus Dur di atas, kiranya dapat merefleksikan betapa; “Banyak orang yang hafal al-Qur’an dan hadits akan tetapi dia senang mengkafirkan (menyesatkan) orang lain. Orang kafirnya sendiri malah tidak diperhatikan. Hal itu terjadi karena hati dan akal masih kotor”.

Dan ini terbukti, belum lama ini dalam salah satu kesempatan Din Syamsuddin—Ketua PP Muhammadiyah yang juga Wakil Ketua MUI Pusat—berkomentar: “Sampai kapan pun dan di mana pun, saya menentang keras sikap ulama yang menyesatkan aliran lainnya. Terlepas setuju atau tidak dengan paham yang diyakini aliran lain, tetapi tidak boleh menyebut sesat,” (Okezone.com, 29/10/2012).

Imam Syafii , salah seorang Mahaguru kalangan Sunni pernah berseloroh; “Ra’yuna sawabun yahtamilu al-khata’ wa ra’yu ghairina khata’un yahtamilu al-shawab”. (Pendapat kami benar tetapi ada kemungkinan salah, sedangkan pendapat kalian salah tetapi ada kemugkinan benar). Jika saja umat Muslim bisa meneladanidawuh Imam Syafii ini, rasa-rasanya sulit untuk kemudian menyesatkan dan menyalahkan Syiah.

Meskipun juga, banyak yang menyatakan bahwa tragedi Syiah Sampang merupakan persoalan internal keluarga maupun kriminal murni, dampaknya tetap tak terelak menjalar ke persoalan ideologi dan teologi. Mengurai benang kusut ini memang menjadi tidak mudah, dibutuhkan kerendahan hati dan wawasan yang menyeluruh. Akan tetapi untuk sekedar memahami hal ini untuk menuju pemahaman yang menyeluruh adalah bahwa, memang ada titik beda antara Sunni-Syiah, akan tetapi jangan menghilangkan titik samanya. Dan juga, memang di antara sekian banyak sekte Syiah yang ada, terdapat salah satu Syiah ekstrem yang ajarannya begitu irasional, akan tetapi juga ini tidak bisa dijadikan representasi untuk melabelkan sesat terhadap Syiah.

 

Mengokohkan Kembali Pluralisme Internal

Ya, tragedi Syiah Sampang mau tak mau kembali mengoyak keniscayaan pluralisme. Dalam diskursus pluralisme, sekurangnya terdapat dua kategori, yakni pluralisme internal dan pluralisme eksternal. Secara sederhana, pluralisme internal dapat dipahami sebagai pluralisme yang bergumul dalam lingkup internal umat Muslim; antar madzhab atau antar sekte. Sedangkan pluralisme eksternal merupakan pluralisme yang bergumul dalam lingkup eksternal; antara umat Muslim dengan non-Muslim dan lainnya. Dengan begitu, ketegangan Sunni-Syiah masuk dalam kategori ketegangan yang melingkup dalam pluralisme internal.

Pluralisme sendiri, meminjam pendapat Diana L. Eck (2001) bahwa bukanlah sesuatu yang terberi (given) tetapi sebuah pencapaian (achievement). Karenya, pluralisme juga tidak hanya bermakna toleransi, melainkan juga pula inklusif dan partisipasi aktif. Sehingga, pluralisme hanya bisa tegak hanya jika adanya kesadaran tulus dan penerimaan terbuka kepada yang lain (the others) untuk hidup berdampingan dan koeksisten, dengan perspektif kesetaraan. Dengan begitu, pluralisme dengan sendirinya memberi makna bahwa ia bukan relativisme atau sinkretisme. Pluralisme justru merupakan jembatan yang punya upaya untuk menghubungkan titik temu (bukan titik tengkar) di antara perbedaan dan keragaman yang ada.

Mendapati persoalan pelik, yang seakan tak pernah berkesudahan ini, nampaknya Indonesia mesti bercermin kepada Mesir dalam urusan mengelola pluralisme internal, agar tak berujung problem serius untuk yang ke sekian kalinya. Dimana sejak tahun 1951 Mesir telah meresmikan sebuah lembaga Pusat Rekonsiliasi Madzhab-madzhab, yang anggotanya terdiri dari banyak ulama-ulama berlainan madzhab atau sekte; terutama Sunni-Syiah. Sebut saja di antaranya Syaikh Muhammad Husain Imam Aqa Husain al-Barujardi, Syaikh Muhammad Taqi al-Qummy, dan lain-lain dari Syiah. Dan ulama dari Universitas al-Azhar; Syaikh Mahmoud Syaltout, Syaikh Mustafa Abd al-Majid Salim, dan lain-lain.

Maka dengan demikian, kembali mengokohkan bangunan pluralisme internal kita mutlak, menjadi seyogia dibutuhkan. Dibutuhkan efektivitasnya sebagaimana di saat yang sama umat Muslim mampu merajut pluralisme ekternal dengan baik.

Sebagai langkah konkrit dan upaya memutus mata rantai kekerasan dan intoleransi, terutama dalam kasus Syiah Sampang adalah sebagai berikut, saya rekomendasikan. Pertama, melakukan dialog dan pertemuan dengan segera dan berkelanjutan. Banyak pihak yang harus terlibat dalam upaya ini; Suni-Syiah itu sendiri, Pemerintah; kementerian agama, MUI, kepolisian, dan lain-lain. Kedua, MUI atau siapapun untuk tidak secara gegabah melabelkan palu sesat kepada pihak yang berbeda, apalagi kepada Syiah. Begitu pun mesti disterilkan jika labelisasi sesat telah menjangkit ke lapisan masyarakat awam. Ketiga, kepolisian mesti berinstrospeksi dan mengevaluasi kinerjanya terutama dalam hal keberpihakan untuk dinetralisir dan kelengahan keamanan untuk lebih antisipasif dan diintensifkan. Keempat, merekonstruksi segala sesuatunya terutama kerusakan tempat tinggal penganut Syiah Sampang yang dibakar, bukan malah merelokasikannya.

Akhirnya, mari kita menyudahi tragedi amuk seperti ini, dengan merekatkan kembali komitmen pluralisme internal untuk membangun perdamaian dan peradaban adiluhung, sehingga Islam Indonesia yang dikenal—meminjam istilah Komaruddin Hidayat—“the largest and the most democratic muslim country”, sebagai Islam Indonesia yang bisa memberikan kontribusi pada dunia Islam dan masyarakat dunia bahwa Islam itu pembawa rahmat, bukan fitnah dan laknat. Sehingga itu, kiranya tak berlebihan jika langkah awal untuk membangun cita-cita uhur itu adalah dengan merekatkan utas tali persaudaraan di internal umat Muslim; Sunni-Syiah. Demikian.Wallahu’alam bi al-Shawab.

Sumber: http://sosbud.kompasiana.com/2012/09/01/tragedi-syiah-sampang-dan-problem-pluralisme-internal-490222.html


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: