Bulan: Agustus 2013

Mengenang Pembaruan-Islam Indonesia; Sewindu Kepergian Cak Nur

Sewindu Kepergian Nurcholish Madjid

Oleh Ismatillah A. Nu’ad *

Inna lillahi wa inna ilaihi raajiun. Nurcholish Madjid (Cak Nur) kemarin (29 Agustus 2005) berpulang ke rahmatullah. Bapak pembaruan pemikiran Islam itu meninggal dunia pada usia 66 tahun.

Mengenang sosok almarhum tidak bisa dipisahkan dari munculnya gerakan pembaruan pemikiran Islam pada 35 tahun silam. Mengenang gerakan itu kurang pas jika tak menyebut nama besar Cak Nur. Mengabaikan Cak Nur sama seperti garam tanpa asin.

Dia dinisbatkan sebagai gerbong pembaruan karena pada awal dekade 70-an menggelontorkan gagasan rasionalisasi-agama sebagai jargon dari gerakan pembaruan-Islam. Pada acara halalbihalal organisasi muda Islam, Cak Nur memberikan ceramah berjudul Keharusan Pembaruan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat di Jalan menteng Raya No 58, Jakarta Pusat. Gagasan yang ditebarkan cukup menggetarkan karena tak lazim. Dia bicara soal rasionalisasi, sekulerisasi, desakralisasi, modernisasi-Islam, dll. (lebih…)

Iklan

Pahlawan Yang Dikriminalisasi

Sultan Hamid II dari Kerajaan Kadriah Pontianak

Sultan Hamid II merupakan sosok Pahlawan Nasional  namun telah diabaikan oleh negara bahkan dalam beberapa media sering disebutkan sebagai pemberontak termasuk Catatan Wikipedia (http://id.wikipedia.org/wiki/Sultan_Hamid_II) perlu kita benahi, mari kita simak kembali penuturan yang lebih jelas seperti catatan dibawah ini:

Biografi:

Sultan Hamid II adalah Pencipta Lambang Negara Indonesia, yaitu Garuda Pancasila (Elang Rajawali Garuda Pancasila). Namun, nama bekas Menteri Negara RIS (Republik Indonesia Serikat) ini ditenggelamkan pemerintah Sukarno karena dikaitkan dengan pemberontakan Westerling yang sampai dengan sekarang tidak pernah terbukti secara yuridis, pun dengan paham politik yang berseberangan. Di hari peringatan ke-60 Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2005 yang lalu pihak keluarga Sultan Hamid II sempat meminta pemerintah tidak melupakan jasa Tokoh Politik asal Kalimantan Barat tersebut, akan tetapi sampai sekarang sejarah itu tetap disembunyikan pemerintah saat ini. (lebih…)

Sultan Hamid II; Perancang Garuda Pancasila Yang Terlupakan

Berikut ini, Maulanusantara menyajikan prolog buku monumental buah karya Anshari Dimyati, Nur Iskandar, dan Turiman Fachturrahman Nur yang berjudul: Biografi Politik Sultan Hamid II: Sang perancang lambang negara “Elang Rajawali – Garuda Pancasila”

Judul : Biografi Politik Sultan Hamid II: Sang perancang lambang negara “Elang Rajawali – Garuda Pancasila”
Pengarang : Anshari Dimyati, Nur Iskandar, Turiman Fachturrahman Nur
Penerbit : Top Indonesia, bekerja sama dengan Yayasan Sultan Hamid II dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat
Tahun Terbit : 2013
Deskripsi Fisik : xxvi, 562 halaman; 17 x 25 cm
ISBN : 978-602-17664-6-0

(lebih…)

Sang Penyelamat Bendera Pusaka; Muhammad Husain Muthahar

Bendera pusaka untuk pertama kali berkibar pada Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945, di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta, begitulah secara resmi bendera kebangsaan merah putih dikibarkan.

Pada tanggal 4 Januari 1946, karena aksi teror yang dilakukan Belanda semakin meningkat, presiden dan wakil presiden Republik Indonesia dengan menggunakan kereta api meninggalkan Jakarta menuju Yogyakarta. Bendera pusaka dibawa ke Yogyakarta dan dimasukkan dalam koper pribadi Soekarno. Selanjutnya, ibukota dipindahkan ke Yogyakarta.

Tanggal 19 Desember 1948, Belanda melancarkan agresinya yang kedua. Presiden, wakil presiden dan beberapa pejabat tinggi Indonesia akhirnya ditawan Belanda. Namun, pada saat-saat genting dimana Istana Presiden Gedung Agung Yogyakarta dikepung oleh Belanda, Soe­karno sempat memanggil salah satu ajudannya, Mayor M. Husein Mutahar. Sang ajudan lalu ditugaskan untuk untuk menyelamatkan bendera pusaka. Penyelamatan bendera pusaka ini merupakan salah satu bagian “heroik” dari sejarah tetap berkibarnya Sang Merah putih di persada bumi Indonesia. Saat itu, Soe­karno berucap kepada Mutahar: (lebih…)

(Haruskah) Lebaran Boros?

Oleh: Arief Budisusilo

Warung Sate Pak Kembar, juragan sate kambing di Baturetno, daerah asal saya, yang brand superlokal-nya begitu terkenal di pasar lokal pula, menjadi sangat sibuk sepekan Lebaran ini.Bila hari-hari biasa hanya menghabiskan satu atau dua ekor kambing, beberapa hari ini harus menyediakan paling tidak 5 ekor kambing untuk melayani para pemudik yang doyan kuliner.

Padahal, di daerah saya, Sate Pak Kembar bukan satu-satunya warung sate yg terkenal. Cabang Pak Kembar sendiri sudah ada tiga, selain barangkali ada lebih dari 10 warung sate sejenis. Selain sate, menu yang banyak dicari adalah tongseng dan gule yang ‘khas Baturetno’. Rasanya? Jangan tanya, umumnya “maknyus”. (lebih…)

Pesan Al Quds 2013 Sayyid Hasan Nashrallah; Al Quds Menyatukan Kita

Ini adalah petikan Khutbah Sayyid Hasan Nashrallah, Sekretaris Jenderal Hizbullah, pada Peringatan Hari Al Quds Se Dunia, yang merupakan aksi rutin setiap Jum’at terakhir Ramadhan sebagai sebuah bentuk solidaritas dan dukungan umat beragama – tidak hanya kaum Muslimin – seluruh dunia bagi kemerdekaan bangsa Palestina dari penjajahan rezim Zionis yang terkutuk, yang telah melakukan kezaliman dan kerusakan luar biasa, selama berpuluh-puluh tahun, di Tanah Para Nabi itu.

Aku berlindung kepada Allah dari godaan Setan yang terkutuk.

dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Segala puji bagi Allah Tuhan alam semesta, Shalawat dan salam untuk kekasih hati kita, Nabi Muhammad berserta keluarga dan sahabatnya yang setia. (lebih…)