Oleh: MAULA | Agustus 17, 2013

Sultan Hamid II; Perancang Garuda Pancasila Yang Terlupakan

Berikut ini, Maulanusantara menyajikan prolog buku monumental buah karya Anshari Dimyati, Nur Iskandar, dan Turiman Fachturrahman Nur yang berjudul: Biografi Politik Sultan Hamid II: Sang perancang lambang negara “Elang Rajawali – Garuda Pancasila”

Judul : Biografi Politik Sultan Hamid II: Sang perancang lambang negara “Elang Rajawali – Garuda Pancasila”
Pengarang : Anshari Dimyati, Nur Iskandar, Turiman Fachturrahman Nur
Penerbit : Top Indonesia, bekerja sama dengan Yayasan Sultan Hamid II dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat
Tahun Terbit : 2013
Deskripsi Fisik : xxvi, 562 halaman; 17 x 25 cm
ISBN : 978-602-17664-6-0

DI seluruh Indonesia di setiap ruang kelas, mulai dari Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi—Kantor-kantor Sipil, Militer, semua memajang potret atau gambar Lambang Negara Garuda Pancasila (selengkapnya berbunyi Elang Rajawali – Garuda Pancasila). Lambang supremasi kebangsaan Indonesia Raya. Posisinya tertinggi. Terhormat. Duduk lebih tinggi di tengah antara potret Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia.

Elang Rajawali Garuda Pancasila itu menatap tajam, seolah menarik perhatian untuk mengatakan lihatlah tubuhku semua syarat makna dan pesan. Sayap kiri-kanan mengembang seimbang dengan kaki mencengkeram pita bertuliskan fatwa Bhinneka Tunggal Ika. Pesan Sanskerta yang bermakna sangat dalam, jauh lebih dalam dari lautan Pasifik dan Atlantik hingga kedalaman hati nurani. Artinya berbeda-beda, namun tetap satu jua. Itulah Indonesia.

Sayap yang mengembang terdiri dari 17 lembar bulu yang berarti tanggal 17. Delapan lembar bulu pada ekor yang menjurai ke bawah perlambang bulan Agustus atau bulan kedelapan. Sementara 45 helai bulu halus di leher penanda tahun ’45. Genaplah 17 Agustus 1945 tanggal, bulan, dan tahun kelahiran Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diproklamirkan oleh Bung Karno dan Bung Hatta di Pegangsaan Timur 56 Jakarta. Proklamasi itu menutup lara-nestapa penjajahan di bawah rezim Belanda sekira tiga setengah abad lamanya, maupun Dai Nippon Jepang selama lebih kurang tiga tahun.

Di dada Sang Rajawali Garuda bergantung sebuah perisai. Di dalamnya ada cahaya bintang bersudut lima tanda Ketuhanan Yang Maha Esa. Ada rantai yang saling sambung dan tidak putus melambangkan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Ada simbol pohon beringin tanda Persatuan Indonesia. Terdapat gambar kepala banteng pertanda Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat/Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan. Ada pula potret padi dan kapas sebagai makna Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Semua pelajar, mahasiswa, guru, pejabat, atau Warga Negara Indonesia pada umumnya tahu apa lambang negaranya. Tau siapa Presidennya. Tahu siapa penggali nilai-nilai luhur Pancasila. Tapi tak banyak yang tau bahwa Perancang Lambang Negara Indonesia, Garuda Pancasila adalah Sultan Hamid II. Siapakah dia?

Sultan Hamid II adalah nama populernya di dalam sejarah Indonesia. Nama lengkapnya adalah Sultan Syarif Hamid Al-Qadrie. la adalah Sultan Ketujuh (VII), Kesultanan Pontianak. Lahir pada tanggal 12 Juli 1913 dari ayahnya Sultan Syarif Muhammad Al-Qadrie (Sultan Keenam/VI) dan ibunya Syecha Jamilah Syarwani.

Di kalangan generasi muda nama Sultan Hamid II samar-samar terdengar, khususnya di pentas politik nasional. la pernah menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio di masa Presiden Soekarno (RIS/Republik Indonesia Serikat) dan Ketua BFO (Bijeenkomst voor Federaal Overleg) atau Permusyawaratan Negara-negara Federal dalam Konferensi Meja Bundar (KMB).

Figur Sultan Hamid II yang samar perlu diperjelas melalui riset sejarah. Hal ini terkait dengan keterlibatannya di Negara Republik Indonesia Serikat (RIS), tuduhan ‘keterlibatannya pada Peristiwa Westerling, maupun karya fenomenalnya dalam merancang Lambang Negara Elang Rajawali Garuda Pancasila.

Perlu dicatat bahwa Lambang Negara Elang Rajawali Garuda Pancasila terus menghiasi perjalanan hidup kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Berkat karya besarnya itu pula nama Sultan Hamid II dilekatkan sebagai nama salah satu ruas jalan yang menghubungkan Sungai Kapuas dan Sungai Landak, Pontianak -Kalimantan Barat. Jalan ini menghubungkan dua jembatan tol di jantung Kota Pontianak. la sekaligus mengoneksikan Pontianak Timur dan Utara.

Nama Sultan Hamid II samar-samar terdengar karena “black campign” mendera dirinya. la dinisbatkan sebagai “antek-antek” Belanda. Padahal tidak hanya Sultan Hamid II yang berpendidikan Belanda pada saat yang sama, namun banyak sekali tokoh-tokoh pergerakan nasional adalah alumni pendidikan Belanda.

Sultan Hamid II diklaim pula sebagai “pengkhianat” negara terkait peristiwa Westerling dalam Angkatan Perang Ratu Adil (APRA).

Namun pledooi dan putusan pengadilan membuktikan bahwa Sultan Hamid II tidak bersalah. Kendati demikian dia tetap dijatuhi vonis 10 tahun penjara dipotong masa tahanan. Putusan itu dijalaninya dengan hati ikhlas, sekaligus sekeluarnya dari penjara tetap menjaga hubungan silaturrahim kepada segenap tokoh nasional lainnya. Tak pelak ketika Bung Karno sakit dan menjelang ajalnya, Sultan Hamid II datang membesuk dan bersua sebagai dua sahabat. Sultan Hamid II adalah Negarawan. Jauh tutur katanya dari fitnah dan dendam.

Seiring waktu terus berjalan sejak masa proklamasi hingga Orde Reformasi satu persatu bukti otentik sejarah kemudian terkuak. Dimulai dengan terbitnya sejumlah buku seperti pengakuan Mohammad Hatta bahwa Sultan Hamid II adalah pencipta Lambang Negara Elang Rajawali Garuda Pancasila, kemudian Ide Anak Agung Gde Agung, sampai pada suatu hari dilakukan riset tesis oleh Turiman Fachturrahman Nur di Universitas Indonesia.

Turiman melakukan riset tesis ini beranjak dari laporan tabloid Mimbar Untan (Universitas Tanjungpura) yang berhasil menguak misteri sejarah yang terputus laksana “missing link”. Lantaran Mimbar Untan memuat gambar karya Sultan Hamid II dan didisposisi oleh Presiden Soekarno.

Riset tesis Turiman tentang Sultan Hamid II kemudian hari disempurnakan dengan riset tesis Anshari Dimyati di Universitas Indonesia. Jika Turiman meneliti soal validitas Perancang Lambang Negara, maka Anshari meneliti sejauh mana Sultan Hamid II terlibat kasus Westerling—apakah dia terlibat pidana?

Kedua tesis itu diramu dengan liputan jurnalistik Nur Iskandar yang intens menghimpun data sejak menjadi reporter Mimbar Untan bersama Syafaruddin Usman maupun Sri Nur Aeni melalui upaya “investigative reporting”. Bertempat di kediaman kolektor benda antik serta purbakala, Ustadz H Asfiyah Mahyus yang berdomisili tak jauh dari Istana Kesultanan Qadriyah Pontianak ditemukan naskah penyambung “missing link” tersebut.

Gayung pun bersambut. Kata pun berjawab. Sejak terbitnya laporan Mimbar Untan, tesis Turiman dan Anshari, maka berdiri pula Yayasan Sultan Hamid II (Sultan Hamid II Foundation) yang secara sadar menggali pemikiran-pemikiran sosok cerdas dan bersahaja itu.

Buku ini salah satu langkah awal publikasi sehingga nama Sultan Hamid II tidak perlu harus ditutup atau samar-samar dalam parade sejarah Negara Indonesia. Figur Sultan Hamid II harus dibuka selebar-lebarnya dan seterang-terangnya. Digali pikiran-pikirannya. Sebab, ternyata isu Federalism perlahan telah pula diterapkan sekarang dalam konteks otonomi daerah di Indonesia.

Lepas dari plus-minus sosok Sultan Hamid II, generasi muda perlu mengetahui melalui buku dan mengambil pelajaran berharga demi meneruskan pembangunan di Kalimantan Barat pada khususnya dan Indonesia pada umumnya. Kesemua itu dalam konteks peran Kalimantan Barat di level lokal, nasional dan internasional.

Lebih jauh daripada itu, dengan membaca buku ini diharapkan warga Kalimantan Barat dan atau Indonesia tidak lagi memiliki stigma negatif ketika nama Sultan Hamid II disebutkan. Dia bukanlah pengkhianat negara seperti “black campign” pada masa kehidupannya, namun Sultan Hamid II adalah Pahlawan Negara yang karya ciptanya menduduki peringkat tertinggi di dalam struktur negara, yakni Lambang Negara Elang Rajawali Garuda Pancasila.

Buku ini diterbitkan dalam rangka memperingati sekaligus memaknai 1 Abad (100 Tahun) kelahiran Sultan Hamid II (12 Juli 1913-12 Juli 2013). Selain itu melalui terbitnya buku ini juga diharapkan, Negara dapat memberikan penghargaan terhadap Sultan Hamid II sebagai Bapak Perancang Lambang Negara; Elang Rajawali – Garuda Pancasila. Namanya parut diakui dan dihargai oleh Konstitusi Indonesia yaitu Undang-undang Dasar 1945, sebagaimana nama WR. Supratman selaku pencipta Lagu Kebangsaan Indonesia Raya.

Bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang pandai menghargai jasa para pahlawannya.

Sumber: http://www.kalbariana.net/sang-perancang-lambang-negara-garuda-pancasila


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: