Month: Oktober 2013

Teologi Kurban dan Etika Pejabat Publik

Syahrul Kirom

Tanggal 15 Oktober 2013, seluruh umat Islam merayakan hari raya Idul Adha 1434 H. Sudah seharusnya umat Islam mampu merefleksikan secara filosofis dan komprehensif tentang makna kurban. Ibadah kurban yang dilakukan umat Islam mempunyai nilai berarti (meaningful) dalam dirinya. Dalam bahasa Arab, kurban atau “udhhiyah” atau “dhahiyyah” secara harfiah berarti hewan sembelihan. Ritual kurban merupakan salah satu ritual ibadah pemeluk agama Islam, ketika dilakukan penyembelihan binatang ternak, seperti kambing, sapi, unta, kerbau untuk dipersembahkan kepada Allah.

Secara historis, Ibadah kurban ini dilakukan ketika Nabi Ibrahim, melalui mimpinya yang diturunkan dari Allah SWT, untuk menyembelih anaknya, Ismail. Perintah itu berarti ujian bagi Nabi Ibrahim untuk merelakan putranya demi mencapai ketaqwaan dan ridha dari Allah SWT. Pada akhirnya, penyembelihan anaknya itu diganti Allah dengan seekor kambing. (lebih…)

Asupan Gizi Ibu terhadap Anak

asi_ekslusif

ASI mempengaruhi kejiwaan anak

Setelah lahir ke dunia, bayi memasuki lingkungan baru yang asing baginya dan hal ini dapat diketahui lewat tangisannya. Bayi merasa tidak aman seketika terlahir ke dunia dan untuk itu ia membutuhkan kasing sayang dan belaian. Ibu biasanya langsung mengambilnya dan menariknya dalam pelukannya, sekaligus mengalihkan sifat kemanusian tertinggi kepada bayi. Ibu berusaha mengisi hati sang bayi dengan cinta akan kehidupan. Minum susu ibu bagi bayi merupakan aktivitas paling nikmat baginya. Karena ia memulai pengalaman pertama hidupnya dari minum susu ibu. Bayi mulai mengenal dunia dan fenomenanya lewat ibunya dan itu berkat air susu ibunya.

Anak yang melewati periode 9 bulan janin dan dua tahun pertama kehidupannya mendapatkan asupan gizi dari susu ibunya. Selama itu pula anak tidak terlepas dari ibunya. Sedemikian eratnya hubungan ini sampai dapat dikatakan mereka dua badan dengan satu ruh. Anak saat minum susu ibunya mendengarkan suara detakan jantungnya dan dari sana ia merasakan ketenangan. Itulah mengapa anak-anak yang tidak mendapatkan asupan susu ibu secara langsung tidak memiliki ketenangan ini. (lebih…)

Menggugat Arsip Nasional

Oleh: AB Kusuma

Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) adalah lembaga non-kementerian yang sangat penting. Sayangnya, sejak pemimpinnya sibuk membuat proyek yang berada di luar tugas utamanya, yaitu “Diorama Sejarah Perjalanan Bangsa”, lembaga itu dikelola dengan buruk dan kurang profesional. Informasi di “Diorama” yang seharusnya berdasar arsip otentik, ternyata didasarkan pada data yang tidak kredibel dan menyesatkan.

Penjelasan ANRI bahwa “diorama” dan “mural” (pahatan di dinding) yang terpampang sudah didasarkan pada keterangan beberapa Guru Besar Sejarah perlu diragukan. Benarkah para pakar sejarah yang melakukan kecerobohan tersebut? Oleh karena itu, seyogianya, para pakar yang menjadi konsultan ANRI perlu memberi keterangan tentang kesalahan di diorama tersebut. Beberapa kesalahan tercatat sebagai berikut:
(lebih…)

Laksamana Cheng Ho Penemu Amerika?

Ini yang tertulis dalam sejarah: pedagang asal Genoa, Italia, Christopher Columbus memimpin armada kapal menyeberangi Samudera Atlantik. Ia tiba di ‘dunia baru’ pada tanggal 12 Oktober 1492.
‘Dunia baru’ itu yang kemudian disebut Benua Amerika. Meski hingga kematiannya, Columbus yakin benar, ia menemukan rute baru dan berhasil telah mendarat di Asia — di tanah yang digambarkan Marco Polo.\

Namun, sebuah salinan peta berusia 600 tahun yang ditemukan di sebuah toko buku loak mengancam status Columbus sebagai penemu Amerika. Juga menjadi kunci untuk membuktikan bahwa orang dari Negeri China yang pertama menemukan benua itu.

Dokumen tersebut konon berasal dari suatu ketika di Abad ke-18, yang merupakan salinan peta 1418 yang dibuat Laksamana Cheng Ho, yang menunjukkan detil ‘dunia baru’ dalam beberapa sisi. (lebih…)

Zakat, Korupsi dan Kemiskinan

Oleh: Maksun

Harta yang diperoleh dari praktik korupsi selamanya tidak akan pernah tersucikan dengan zakat.

Sudah menjadi semacam konvensi di setiap bulan Ramadan umat Islam diserukan untuk membayar zakat (fitrah dan mal) yang diperuntukkan bagi mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Secara normatif-teologis, Islam memang mewajibkan kepada kalangan yang mampu (aghniya-muzakki) untuk peduli dan membantu sesamanya yang kekurangan (fuqara-mustahiq), melalui kosep zakat. Ini sekaligus menunjukkan keseriusan doktrin Islam terhadap upaya penciptaan keadilan sosial melalui ritual zakat.

Secara aktual, keadilan sosial (social justice) dapat diwujudkan dengan menciptakan tatanan sosial yang bebas dari praktik korupsi dan jauh dari penyakit kemiskinan. Lalu, sejauh mana relevansi dan signifikansi zakat jika dikaitkan dengan upaya pemberantasan korupsi dan pengentasan kemiskinan?

(lebih…)

Kebangkitan atau Kebangkrutan Politik

Oleh: Syahrul Kirom

Politik di Indonesia sudah tidak lagi berjuang untuk rakyat.

Menjelang Pemilihan Presiden 2014, suhu perpolitikan kian memanas. Sistem perpolitikan di Indonesia saat ini kian mengalami carut-marut. Oleh karena itu, politik di Indonesia harus bangkit dari keterpurukan.

Kebangkitan politik yang dicetuskan founding fathers dalam rangka perjuangan kemerdekaan Indonesia, yakni oleh Soetomo, Ir Soekarno, Dr Tjipto Mangunkusumo, Ki Hajar Dewantara, dr Douwes Dekker harus selalu diimplementasikan dalam kehidupan berdemokrasi di Indonesia saat ini.

Dalam konteks perpolitikan bangsa Indonesia saat ini, pertanyaan secara filosofis yang perlu diajukan adalah apakah benar partai politik di Indonesia sekarang ini benar-benar berjuang untuk kepentingan bangsa Indonesia dan nasib rakyat Indonesia ? Apakah benar kebangkitan nasional saat ini sudahmenunjukkan kebangkitan politik di Indonesia? Hal inilah sejatinya yang perlu dijawab elite partai politik di Indonesia.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa bangsa Indonesia sekarang ini mengalami kebangkrutan politik. (lebih…)

Haji: Peristiwa Agama dan Peristiwa Budaya

Oleh: Emha Ainun Nadjib

Haji Beneran dan Rasa Haji

Ini adalah tulisan tentang haji dari seorang yang belum pernah naik haji, bahkan belum pernah sekedar mendapat oleh-oleh air zamzam. Oleh karenanya, penulis memohon maaf atas kelemahan mendasar dari tulisan ini.

Taraf saya masih semacam Haji Bawakaraeng. Gunung Bawakaraeng ada di Sulawesi. Pada musim haji, sejumlah orang Islam mendatanginya dan melakukan sejumlah ritus seolah-olah mereka sedang benar-benar menjalankan ibadah haji.

Tentu saja secara ‘syar’i, yuridis formal’, mereka tak bisa dianggap telah berhaji. Tapi sekurang-kurangnya mereka memperoleh kemungkinan ekonomi untuk sungguh-sungguh berangkat ke Tanah Suci yang asli. (lebih…)

Sekali Berarti Sudah Itu Mati

Oleh: Mohamad Sobary*

Maju
Bagimu Negeri

Menyediakan api

-Chairil Anwar

Seluruh Nusantara pernah bergolak. Daerah demi daerah melawan penjajah. Pahlawan demi pahlawan gugur. Terlalu banyak pahlawan kita. Pangeran Diponegoro salah satu yang paling gigih; paling militan. Beliau—dalam puisi Chairil—“berselempang semangat yang tak bisa mati”. Semangat jihad sejati, membela Tanah Air, membela bangsa, yang terinjak-injak kaum penjajah bangsa asing, yang serakah, dan durjana. (lebih…)

Mohammad Roem; Perunding-Pejuang

 

Oleh: Nuim Hidayat  

Mohammad Roem, tokoh Masyumi ini bukan hanya pintar menulis, ia juga ahli diplomasi. Bila ia bicara, tokoh-tokoh Belanda mendengarkannya dengan takjub. Berulangkali ia terlibat dalam perjanjian Indonesia dan Belanda, ia dan kawan-kawannya memenangkannya.

Gaya menulis Roem, berbeda dengan Natsir atau HAMKA. Bila Natsir banyak menulis tentang konsep dan HAMKA banyak mengutip ayat/hadits, maka Roem lebih banyak cerita tentang realitas. Ia senang menulis dengan gaya bercerita. Bisa dikatakan ia termasuk ‘penulis terbaik’ yang dimiliki Indonesia. Tulisan-tulisannya mempunyai ‘ruh Islam’.

Misalnya ketika menceritakan tentang Haji Agus Salim, Roem bercerita bahwa suatu hari di tahun 1925, ia diajak’ ngaji’ oleh Kasman Singodimedjo dan Soeparno ke rumah Haji Agus Salim di Gang Tanah Tinggi, Jakarta.  Ringkas cerita, jalan ke rumah Agus Salim itu becek bila kena hujan dan saat Kasman datang, Agus Salim Salim berkomentar: ”Hari ini anda datang secara biasa. Kemarin peranan manusia dan sepeda terbalik.” Kasman menjelaskan ke Roem bahwa kemarin ia datang ke rumah Agus Salim, ia ditunggangi sepeda bukan ia menunggangi sepeda. Maka Kasman menjawab ke Agus Salim : ”Een leidersweg  is een lijdensweg, Leiden is lijden.”  (Jalan pemimpin bukan jalan yang mudah, memimpin adalah menderita).  (Lihat tulisan lengkap tentang Haji Agus Salim dalam Bunga Rampai Dalam Sejarah 3, Mohammad Roem, hlm. 29-59). (lebih…)

Merenungkan (Kembali) Nasionalisme Kita

Abdul Hadi WM

Nasionalisme adalah sebuah tuntutan politik. Setiap bangsa berhak menuntut kedaulatan atas negeri tempatnya tinggal selama berabad-abad berdasarkan alas an-alasan budaya, ekonomi dan kemasyarakatan. Sebagai dasar dan tujuan berdirinya negara republik Indonesia, asas nasionalisme  tercantum dalam Pancasila sebagai sila ketiga, yaitu Persatuan. Sebagai dasar ideology Negara Pancasila sepatutnya menjadi acuan kerangka kita dalam membangun kehidupan berbangsa. Sebbab selain dipandang sebagai dasar ideology Negara, Pancasila telh ditetapkan sebagai sumber hukum oleh MPR dan juga senantiasa dipandang sebagai paradigma budaya dalam melaksanakan semboyan Negara “Bhinneka Tunggal Ika”.

Pada mulanya kelima sila atau asas yang tercantum di dalamnya itu merupakan usulan Bung Karno pada Sidang Badan Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPKI) pada bulan Juni 1945. Lima asas itu ialah nasionalisme, internasionalisme atau kemanusiaan, demokrasi, keadilan social, dan last but not least – terakhir tetapi bukan tidak penting – ialah kepercayaan kepada Tuhan yang Maha Esa. Dari segi politik Pancasila sering dipandang sebagai bentuk rekonsiliasi dan sintesa dari tiga arus politik utama di Indonesia, yaitu nasionalisme, Islam dan sosialisme (Ruslan Abdulgani 1976) (lebih…)