Oleh: MAULA | Oktober 23, 2014

Manusia Indonesia yang Ber-Sumber Daya (Bagian Kedua)

Oleh Jusman Syafii Djamal

Ada teman fb yang minta agar istilah sumber daya manusia jang diubah ke manusia bersumber daya. Bikin tambah rancu, sebab istilah ini sudah baku digunakan. Sudah banyak kantor baik swasta maupun peerintah gunakan istilah ini. Sebetulnya saya hanya ingin menggunakan istilah manusia bersumber daya untuk ikuti kaidah Bahasa Indonesia menganut hukum DM, diterangkan menerangkan. Misal, kata Bandara Internasional merujuk dari fungsi Bandara, yakni terminal pesawat terbang untuk rute Internasional.

Kata Sumberdaya Manusia , dapat bermakna Manusia merupakan hanya salah satu sumber daya. Ia menjadi objek bukan subjek. Sebab yang diterangkan adalah Sumber Daya, yang menerangkan adalah kata Manusia. Sama seperti kata Sumber Daya Mineral, Sumber Daya Alam, Sumber Daya Air dan Sumber Daya yang lain. Ada kehawtiran Prof Mardi Hartanto, penggunaan istilah sumber daya manusia sebagai terjemahan kata Human Capital atau Human Resources menyebabkan manusia atau tenaga kerja dipandang sebagai komoditi yang sama seperti air, mineral atau pepohonan. Bukan subjek melainkan objek eksplorasi dan ekpoitasi.Tidak ada keharusan untuk menempatkan manusia sebagai fokus perhatian.

Dalam perkataan Sumber Daya Mineral, fokusnya adalah Mineral, manusia tidak masuk kategori yang menjadi pusat perhatian. Demikian juga pada kata Sumber Daya Air, hanya air yang menjadi pusat unggulan. Begitu seterusnya.

Dengan pendekatan Manusia Bersumber Daya, terkandung harapan agar  manusia  Indonesia berkeahlian tinggi dalam proses eksplorasi dan eksploitasi sumber daya mineral dapat ditonjolkan berkelas dunia. Sebab banya ahli perminyakan Indonesia yang menonjol dan berkelas internasional yang saya tau tersimpan dalam ruang sempit tanpa peran berarti, karena pertamina sudah berusia lebih  50 tahun. Yang merisaukan hingga kini, kita masih saja selalu mendengar penjelasan resmi, Indonesia ke kurangan ahli perminyakan. SDM nya masih perlu dilatih dan ditraining lagi, jika kita inginkan adanya kemampuan Bangsa Indonesia untuk mengolah sendiri secara mandiri semua potensi sumber daya mineralnya.

Akibatnya tekad Bangsa Indonesia untuk memiliki kemandirian selalu terbentur dalam dua hal : Capital dan SDM.Apa benar begitu wallahu alam. Sebab dalam bidang Manusia bersumber daya iptek perminyakan dan geologist saya lihat dan temui banyak teman yang memiliki keahlian luar biasa dan bekerja diladang ladang minyak di luar negeri. Di negara lain diapesiasi, didalam negeri sendiri tidak punya “playing field”

Dalam dunia perminyakan dan pertambangan, banyak sekali manusia Indonesia berkeahlian tinggi, kurang mendapatkan “spot light” atau titik utama perhatian pengambil kebijakan. Yang utama hanyalah bagaimana menggali dan menggali minyak sebagai komoditi yang makin hari makin langka dan harganya meningkat sehingga subsidinya menjadi persoalan. Akan tetapi yang menarik dalam tivi dan radio serta koran majalah yang mebahas soal minyak Indonesia adalahkalangan ahli ekonomi atau ahli ilmu sosial dan pengamat. Tetapi ahli perminyakan sendiri, tidak diberi ruang untuk bicara. What really happen we still do not know yet ?

Bung Karno sebetulnya pernah mengajukan konsepsi agar  Bangsa Indonesia berorientasi pada peningkatan keahlian dan kapasitas yang muncul dari dalam negeri, untuk tampil dalam arena internasional. Bung Karno seorang insinyur lulusan ITB. Ketika suatu pagi berjalan di bumi Parahyangan yang indah permai, ia bertemu seorang petani yang sejak subuh setelah shalat mencangkul tak kenal henti. Karena tertarik Bung Karno menyapa, apa yang engkau kerjakan. Mencangkul jawab petani. Apa ini sawahmu, kata Bung Karno, ya. Berapa luasnya tanya Bung karno, kurang dari 0,3 hektar jawab petani. Apa itu cangkul mu ? ya saya pemiliki cangkul ini. Gubukitu, tunjuk bung Karno apa juga punya kamu, ya jawab petani. Kamu makan tiap hari ? Tidak kata petani, jika tidak panen aku sehari makan, sehari puasa.

Bung Karno kaget, lantas bertanya siapa namamu. Marhaen jawab petani sambil menatap matanya ke Bung Karno. Sejak itu Bung Karno mengenalkan istilah Marhaen sebagai ganti orang desa, petani dan nelayan. Bung Karno bilang Marhaen adalah Manusia Indonesia yang memiliki sumber daya terbatas. Ladang terbatas, sawah terbatas, cangkul satu gubuk satu. Jumlah kekayaan sumber daya yang dikuasainya tidak memiliki skala ekonomi untuk mencukupi kebutuhan hariannya. Ia tidak mampu berdiri diatas kakinya sendiri.

Dengan mengenalkan istilah Marhaen, sebagai pemilik kapital sangat kecil sehingga tak mampu berdiri diatas kakinya sendiri. Bung Karno merujuk pada para Petani yang hanya memiliki cangkul satu buah dan lahan kurang 0,3 hektare, jadi tak punya sumber daya untuk mengangkat harkat hidupnya dengan kekayaan yang dimilikinya. Demikian juga para Guru, para Pegawai Negeri dst, yang semuanya hanya  memiliki sumber daya yang dikuasainya sendiri tapi jumlahnya terlalu kecil untuk mampu di”leverage” menjadi kekuatan ekonomi mandiri yang menjadi sumber pemberi nafkah kehidupan pada anak isterinya. Karena itu mereka selalu kalah bersaing dengan pemiliki sumber daya yang lebih besar.

Sejak itu, Bung Karno kemudian tenggelam dalam perjuangan untuk membangun persatuan dan kesatuan Bangsa. Hanya dengan persatuan Bangsa kita bisa tegak sama tinggi dan duduk sama rendah dengan bangsa bangsa lain didunia. Kemudian Bung Karno ketemu Hatta, Sutan Syahrir, Ki Hadjar Dewantara, Wachid Hasyim, Sudirman dan semua tokoh founding father Republik Indonesia. Bung Hatta dan Bung Karno kemudian mengenalkan istilah sosio demokrasi, demokrasi politik dan demokrasi ekonomi melalui wahana Koperasi bersemangat Gotong Royong sebaai upaya untuk menyatukan kekuatan ekonomirakyat itu.

Dengan memflashback cerita Bung Karno ini, saya ingin mengatakan bahwa Manusia Bersumber Daya dari sejak Proklamasi menjadi titik sentral Proses Pembangunan Bangsa Indonesia. Melalui kemerdekaan Manusia Indonesia bersumber daya perlu diberi kesempatan untuk menguasaiIlmu Pengetahuan dan Teknologi. Mengelola alat dan peralatan utama produksi baik di bidang agraria maupun industri serta jasa. Memiliki akses terhadap sumber daya berupa Man, Money,Machine and Management sehingga dapat dimanafaatkan sepenuh penuhnya untuk menjadi Bangsa yang mandiri. Upaya untuk membangun kemandirian Bangsa itu telah diperjuangkan sejak tahun 1945-1965 melalui Program Nation Character Building dalam Program Pembangunan Semesta. Kemudian dalam masa orde baru 1967-1998 PAk Harto melalui lima tahapan Pelita dikembangkan program sistimatis berkesinambungan, yang kemudian semuanya menjadi kadaluarsa ditelan karena KKN yang melahirkan krisis ekonomi berujung pada prosesn Reformasi tahun 1998.

Kemudian selama 12 tahun Prsiden Habibie, Presiden Gus Dur, Presiden Megawati dan Presiden SBY dengan sungguh sungguh dan kerja keras menyusun dan mengimplementasikan program untuk membalik arah pembangunan ekonomi (turn around and restructuring) dari yang tadinya bersifat terpusat atau sentralistik menjadi desentralisasi dengan otonomi daerah untuk membangkitkan kekuatan ekonomi lokal.

Beruntung ada proses konsolidasi demokratisasi dan desentralisasi yang secara bertahap dan berkesinambungan dilaksanakan secara estafeta oleh empat presiden dari kurun waktu 1998-2009. Yang kesemuanya membuka kesempatan lebih luas bagi Indonesia untuk tumbuh dan bekembang. Dibawah kepeimpinan SBY priode kedua 2009-2014 , kini Indonesia masuk dan naik kelas menjadi anggota klub elite dunia Negara G20 dan  kestabilan kebijakan ekonomi makro serta stabilitas politik , hukum dan ekamanannya telah menyebabkan Indonesia memiliki daya  tahan terhadap setiap  goncangan krisis finansial dunia.

Kita telah mampu memiliki ketahanan alamiah dan sistem recovery yang menyebabkan daya juang dan daya survival kita sebagai bangsa. telah teruji sepanjang sejarah kelahiran dan pembenutukannya.

Pertanyaanya kini dengan modal yang kuat itu, What Next ? Kemana kita hendak melangkah untuk mengembangkan Manusia Indonesia yang ber Sumber Daya IPTEK, agar masa depan Indonesia mampu tumbuh atas dasar inovasi dan proses pengolahan bahan mentah menjadi setengah jadi dan produk jadi, dalam proses transformasi nilai tambah. Baik disektor pertambangan mineral, gas dan minyak bumi. Maupun dalam sektor pertanian, perternakan dan kelautan. Atau sektor manufaktur dan industri padat teknologi lainnya.

Jika Manusia Indonesia tetap ber sumber daya dalam skala mikro.Jika Manusia Indonesia hanya Sumber Daya IPTEK terbatas dengan modal kapital yang juga pas pasan. Maka kita memiliki Keahlian dan keterampilan tapi tak punya peralatan dan laboratorium yang cukup untuk mengeksplorasi keahlian yang dimiliki. Lapangan kreatif kita menjadi ruang sempit. Petani Memiliki sawah tapi tak dapat diolah menjadi pusat produksi pangan yang baik, karena modal untuk membeli pupuk,pencegahan hama, bibit unggul tak dimiliki. Jadi semuanya berskala mikro dan tak memiliki “economic of scale” untuk mampu menjadi besar.

Karena itu sudah saatnya  kata Manusia Indonesia Bersumber Daya   ditonjolkan sebagai fokus utama kebijakan pembangunan Indonesia kedepan. Sehingga dimasa depan “formulasi kebijakan ekonomi” menjadi berorientasi pada :”People Centered Development”, Pembangunan Ekonomi dengan menempatkan Manusia Bersumber Daya sebagai aktor utama dan sekaligus tujuan utamanya. Growth with Equity. Setiap aktivitas ekononomi harus dijadikan wahana transformasi Manusia Bersumber Daya skala mikro menjadi Manusia Bersumber Daya skala Makro yang padat ilmu pengetahuan dan teknologi dan kapital.

Merubah Marhaen menjadi tuan rumah di negaranya sendiri. Kata Bung Karno. Dengan membangkitkan kembali semangat Gotong Royong seperti sering disampaikan oleh Presiden Megawati pada masa ia berkuasa.

Pendekatan Manusia Bersumber Daya kini mulai diimplementasikan dalam pembangunan enam koridor ekonomi dalam MP3EI. Tiap kawasan ekonomi pasti memiliki spesifikasi industri yang menjadi andalan dan unggulan daerahnya. Tiap industri memiliki variasi jobs title dan jobs value yang dapat diterjemahkan menjadi suatu “division of tasks and added value stream”, aliran dan diagram pembagian tugas dan nilai tambah tertentu dalam satu mata rantai proses transformasi bahan mentah menjadi barang setengah jadi dan produk akhir. Jika kita percaya bahwa ditiap daerah ada Manusia Bersumber Daya iptek dengan tingkat keahlian tertentu maka dapat dirancang proses produksi yang memanfaatkan Manusia Bersumber Daya, yang berada disekitar kawasan untuk dimasukkan kedalam proses transformasi yang tersedia.

Insya Allah melalui program yang nyata dan revitalisasi infrastruktur ekonomi yang kini sedang berlangsung Bangsa Indonesia akan mampu memiliki modal spirit dan program nyata untuk mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi yang lahir dari kebijakan dua kali kepeimpinan Presiden SBY. Di tahun 2014 momentum ini mudah mudahan akan tidak tergerus dengan proses politik selanjutnya.Kita berharap dimasa depan tercipta kondisi yang baik agar semua potensi Bangsa dapat dipusatkan pada upaya untuk membangun kekuatan inovasi dengan pembenahan dari semua kelemahan “mikro teknis” pada klaster industri yang ada saat ini. Program industrialisasi akan berjalan dengan kecepatan yang tinggi seperti terjadi di negara tetangga dan China.|

Source http://jusmansd.org/2013/04/manusia-indonesia-yang-ber-sumber-daya-bagian-kedua/


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: