Oleh: MAULA | Oktober 23, 2014

Manusia yang Bersumber Daya (Bagian Pertama)

Oleh Jusman Syafii Djamal

Lima tahun lalu , seorang sahabat sekaligus guru saya Prof.Mardi Hartanto Guru Besar Teknik Industri ITB, menulis buku tentang “human Resorces Development”, Pengembangan Sumber Daya Manusia. Dalam buku itu beliau menolak thesis klasik yang menyatakan bahwa manusia itu asset perusahaan, yang nilai nya bisa mulur mungkret, bisa naik turun karena harga pasar. Sebab melalui pendekatan karyawan atau manusia ayang bekerja dikategorikan sebagai asset yang  nilainya naik turun, maka biaya pengembangan SDM selalu dipandang sebagai Cost, atau Biaya.

Karena itu beliau merekomendasikan agar istilah Sumber Daya Manusia diganti menjadi Manusia Yang Bersumber Daya. Dengan istilah ini karyawan atau manusia selalui dipandang sebagai “center of excellence” atau pusat keunggulan perusahaan. Sehingga jika ada biaya yang dikeluarkan untuk meningkatkan keahlian, keterampilan dan kesamaptaan dari karyawan sebuah perusahaan, maka biaya yang dikeluarkan tidak dipandang sebagai Cost melainkan sebagai Investasi.

Pada Juli 1997, sahabat debat saya sekaligus Guru Besar di ITB Prof Iskandar Alisyahbana, yang kini sudah almarhum (semoga Allah Lapangkan jalan Ke SurgaNya), menceritakan fikirannya setelah membaca buku Blind Watchmaker karya Richard Dawkins.

Beliau kurang lebih bilang begini:”Manusia itu mengalami proses evolusi dalam dua hal, yang pertama Gene dan kedua Meme.  Genes yang berasal dari bahaya Greek berarti “born” atau lahir. Dalam bahasa Inggris disebut Gen yang diartikan sebagai “something that produce something”, dan dijelaskan lebih rinci dalam kata gene yangberarti :”unit of inheritance thats is carried on a chromossome, controls transmission of hereditary characters and consist of DNA or in some vuruses RNA (Penguin, English Dictionary). Gene adalah sifat dan karakter  alamiah yang dibawa secara turun temurun dari sejak lahir dalam DNA atau dalam virus RNA.

Sedang meme adalah “geist” atau mind and spirit atau akal budi yang selalu tercerahkan dan melahirkan hasil karya cipta dan karsa manusia  sebagai unsur budaya suatu bangsa, dimana Ilmu Pengetahuan dan Teknologi termasuk didalamnya.

Gene berkembang biak dan menyebar berpindah dari satu generasi melalui sperma dan telur. Sementara meme tumbuh berkembang, menyebar luas dari otak ke otak yang lain melalui proses yang disebut sebagai proses imitasi, mutasi, variasi dan seleksi. Sebagian dari meme aka musnah dan terlupakan, karena banyak manusia tidak percaya dan tidak dapat setuju dengan buah fikiran yang terkandul dalam meme tersebut. Sejak dahulu sudah berlaku bahwa fikiran fikiran yang berguna dan berkhasiat akan diteruskan dari orang tua kepada anak cucunya. Begitu kata Prof Alisyahbana. (tulisannya pernah dipresentasikan dalam Strategic Management Workshop Teknik Industri berjudul :”Human Resources Development and Human Geist).

Proses Evolusi Meme atau Human Geist atau bahasa Jerman dari  Mind and Spirit atau akal budi manusia sebagai hasil evolusi kebudayaan dan peradaban, terjadi dalam proses interaksi saling asih, asah dan asuh yang tumbuh dari rasa cinta orang tua, guru, dan para sahabat atau bahkan lawan tanding yang muncul dalam bentuk pengalaman hidup. Karenanya evolusi meme jauh lebih cepat dibanding evolusi gene.

Seorang insinyur yang merancang mesin berupaya dengan sungguh sungguh mendapatkan karya yang paling unggul dari ide yang muncul. Ada dua cara yang ia tempuh melalui proses tinkering atau trial and error atau mengotak atik  dengan membuat banyak mesin prototype yang beraneka ragam variasinya. Kemudian diseleksi untuk mendapatkan karya optimumnya. Tapi ada juga jalan yang ditempuh melalui proses “think” berfikir melalui proses iterasi dalam simulasi komputer untuk membuat pelbagai model matematika dan model rekayasa rancang bangun untuk kemudian diiterasi mendapatkan “the best among the goods” atau primus interpares, yang terunggul dari semua yang  terbaik.

Kedua proses tinkering dan “think” ini mempercepat proses evolusi meme atau buah karya cipta manusia sebagai hasil evolusi kebudayaan. Melalui proses tinkering atau trial and error dalam eksperimentasi serta “think” berfikir dalam proses riset pengembangan secara sistimatis berjenjang dan berkelanjutan dari  ruang laboratorium , iterasi dalam simulasi model komputer, pembuatan prototype yang dibimbing oleh iptek, telah mebawa kecepatan pertumbuhan evolusi meme. Ambil contoh pelbagai jenis teknologi yang dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas manusia pada awal tahun 60an berkembang setiap sepuluh tahun sekali, tahun 1986 “daur hidup” atau “life cycle technology” adalah setiap dua tahun sekali, kini di tahun 2012 setiap enam bulan sekali kita menemukan teknologi baru. Meme bervolusi lebih cepat dari gene. Kerana potensi kreatip manusia atau meme yang merupakan produk kebudayaan dan peradaban manusia tumbuh lebih cepat dari gen.

Hal inilah yang kurang lebih disebut sebagai Manusia Bersumber Daya oleh Prof. Mardi Hartanto. Manusia memiliki Geist atau Mind and Spirit sebagai sumber daya yang selalu mengalami proses nilai tambah dan terbarukan dalam proses evolusi kebudayaan. Kebudayaan suatu Bangsa selalu cendrung berorientasi menemukan yang terbaik dari potensi yang ada dalam jati diri melalui interaksi dengan semama warga bangsa dan dengan bangsa lain didunia.

Dengan kata lain Manusia Bersumber Daya dalam lingkungan perusahaan memerlukan ekosistem dalam bentuk budaya kerja yang bertransformasi sepanjang masa sesuai dengan perubahan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikuasainya.

Ketika tahun 2005 saya diminta pak Rachmat Gobel untuk bertemu dengan kel Konosuke Matsushita agar dapat disetujui menjadi Chairman Yayasan Matsushita Gobel, — yayasan yang didirikan dari dana pribadi alm Drs Thayeb Mohamad Gobel dan Konosuke Matsushita founding father Panasonic– saya diikenalkan dua konsep pengembangan industri Jepang, yakni Monozukuri dan Hitozukuri. Mono berarti product, dan Hito berarti people. Zukuri bermakna “producing” or “manufacturing”.

Kedua konsep in merupakan dua sisi dari mata uang yang sama, selalu berpasangan. Tak mungkin  satu perusahaan dapat memproduksi suatu barang jadi atau barang setengah jadi atau produk akhir yang unggul di pasar, jika perusahaan tersebut tidak mampu mengembangkan ekosistem tempat kerja dimana sesama karyawan saling asih, saling asuh dan saling asah. Hanya karyawan yang unggul dapat melahirkan produk unggul.People before product Concept.

Create Atmosphere to attract and produce good quality people first, before producing a good quality product. Man behind the gun is more important than a gun itself. Melahirkan dan memproduksi tenaga kerja berkualitas unggul perlu jadi prioritas utama sebelum memproduksi barang yang baik.

Tetapi produk yang unggul tak mungkin lahir jika cita rasa dan kebutuhan utama para pembeli atau pelanggan tidak dijadikan orientasi dari rekayasa, rancang bangun produk. Dalam hal ini Cost Quality and Delivery Time menjadi kata kunci atau pilar utama. Sebab pada akhirnyapenghargaan pelanggan yang mau membeli, menyimpan dan menggunakan serta memanfaatkan produk tersebut yang membuat suatu barang menjadi berharga atau bernilai. Nilai dalam bentuk dollar, yen atau rupiah ini kemudian masuk kedalam kas perusahaan dirubah menjadi revenue stream untuk digunakan sebgai modal selanjutnya untuk melahirkan produk yang lebih baik dimasa depan dan kesejahteraan karyawan serta pemegang saham, dan tentunya pajak bagi negara.

Dengan jalan fikiran demikian membangun industri tak identik dengan membangun pabrik.Pabrik adalah lokasi kerja dimana manusia bertemu bahan baku dan mesin pengolah bahan baku menjadi produk. Pabrik berorientasi pada tatacara memproduksi barang secepat cepatnya dan sebanyak banyaknya sesuai target ditetapkan dan beroientasi pada hasil semata berdasarkan “standard operating procedure”. Dalam miliu pabrik sumber daya manusia bisa mengalami “loneliness”.

Sementara Industri adalah sebuah wahana transformasi.  To transform dalam Penguin English Dictionary diterjemahkan sebagai :” to change something radically, e.g in structure, appearance or character”, atau “to change a current in potential , e.g from high voltage to low voltage (agar listrik dapat digunakan tanpa kesetrum) atau “to subject a configuration to a mathematical transformation”.

Dengan kata lain industri sebagai wahana transformasi dapat merubah secara drastis “gaya hidup” dan “gaya bekerja” dari bersifat individual , tak mengenal arti waste dan kualitas, tak tau “time line” atau delivery time dan efsiensi biaya atau bekerja asal asalan, serampangan tak kenal agenda dan check list, tak disiplin , ngawur ditransformasikan menjadi “gaya hidup” dan gaya kerja yang mengedepankan satu set nilai budaya berbasis perbaikan terus menerus atas tingkat produktivitas, efisiensi dan competitiveness. Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin menjadi kultur kerja yang melekat.

Inilah yang dimaksud dengan Hitozukuri dan Monozukuri, producing a good people before producing good product. Industri menjadi wahana transformasi untuk merubah secara radikal karakter, struktur dan tampilan sebuah bahan baku atau raw material menjadi produk jadi yang berdaya guna tinggi.

Dan itu hanya mungkin dicapai oleh Manusia yang berSumber Daya. Setiap Manusia berSumber Daya memiliki tingkat kesamaptaan atau keterampilan atau skill yang bersifat unik, otentik  dan orisinal , sebagai buah dari tradisi keluarga, pendidikan masa kecil baik formal maupun informal. Sehingga ia dapat ditempatkan pada satu “job title”, dan job value tertentu yang tepat dan sesuai dengan tingkat kesamaptaannya.

Melalui suatu eksosistem yang mengedepankan proses “continuous improvement” dalam wadah “learning organization” akan tercipta ruang kebebasan bagi tiap Manusia Bersumber Daya menjadi dirinya sendiri, sehingga tiap diri dapat  eksis menonjol dan berdaya guna tinggi dalam setiap tantangan pekerjaan yang dihadapinya, dalam satu jaringan kerja dan mata rantai nilai tambah yang eksis dalam perusahaan.

Melalui jenjang pengalaman pekerjaan yang memiliki tingkat kesulitan dari sederhana hingga paling rumit, tia Manusia ber Sumber Daya secara bertahap , bertingkat dan berlanjut mendapatkan investasi tambahan berupa proses pelatihan, seminar, workshop, debat diskusi dialog, sehingga ia mampu meningkatkan “value added” individunya. Atau seperti kata Jean Paul Sartre, proses transformasi melalui pekerjaan akan menjadi wahana dimana tiap Eksistensi melahirkan Esensi.

Eksistensi yang terwujut dalam potensi keahlian yang dimilikiya secara orisinal atau Entre en Soi (eksistensi yang ada begitu saja yang berujut potensi) dapat ditransformasikan melalui kesulitan tantangan pekerjaan yang diberikan oleh mekanisme serta struktur organisasi dan sistem tata cara kerja  dalam perusahaan, sehingga diubah menjadi Entre pour soi (eksistensi yang terwujut dalam tingkat keahlian tertentu yang memiliki value dan ruang pilihan kebebasan profesional bagi dirinya sendiri).

Begitu kurang lebih kata Prof Mardi Hartanto. Dengan menggunakan istilah Manusia Bersumber Daya, Prof Mardi seolah  ingin menjelaskan konsep Indonesia Bersumber Daya, Jawa Bersumber Daya, Kalimantan Bersumber Daya, Sumatera Bersumber Daya, demikian juga Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara , Kepulauan Maluku dan Papua yang berSumber Daya.

Demikian catatan saya, mudah2an bermanfaat.

Source https://www.facebook.com/notes/jusman-syafii-djamal/manusia-yang-bersumber-daya-bagian-pertama-/10150877932053406


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: