Oleh: MAULA | Juni 10, 2016

Piala Eropa 2016, Serat Tjenthini dan Croissant

 

Oleh A.A. Ariwibowo

 

Serat atau Surat Tjenthini sebagai warisan sastra Jawa kuno bicara apa mengenai croissant ala Prancis? Bukan sekadar mengada-ada atau mencocok-cocokan, ternyata Paris sebagai ibukota kota mode itu bakal disantap ludes oleh ratusan juta penikmat dan penggila sepak bola global.

Pamfletnya, croissant ala Prancis yang menjanjikan sensasi mentega yang terasa renyah, gurih dan ringan ternyata dapat mewarnai perhelatan akbar sepak bola Piala Eropa yang siap digelar di Paris, Prancis, pada 10 Juni sampai dengan 10 Juli 2016.

Silakan menyantap croissant dengan tidak sambil berjongkok, dan silakan menikmati lembar demi lembar tekstur kulit croissant dengan perlahan bukan terburu-buru seperti kerbau sedang makan. Ini salah satu keping contoh cara “kasar” di mata Serat Tjenthini.

Untuk membedakan kerbau dengan manusia, silakan lihat dari cara makan croissant ketika menikmati tayangan Piala Eropa 2016.

Manusia yang berbudi ketika makan kue khas Prancis itu, tentu tidak menggenggam lebih dari satu kue di satu tangan, kemudian memasukkan ke mulut dengan menjejalkan layaknya kerbau makan onggokan rumput.

Cara “halus” makan croissant, menurut amatan Surat Tjenthini, memegang kemudian memasukkan kue itu ke dalam mulut dengan perlahan, dan tentu dengan tidak mengeluarkan bunyi mendengus layaknya kerbau.

Surat Tjenthini dalam satu ayatnya melukiskan orang yang tidak tertata perilaku makannya atau “puluke njunjung bokong”, artinya seseorang yang setiap kali makan membungkukkan badan. Tangannya seperti “menggayung”, dan perutnya hampir meledak karena terisi penuh asupan makanan dan minuman.

Penuh penguasaan diri dalam prosesi makan, inilah salah satu keping inti Surat Tjenthini. Ketika seseorang makan croissant sebanyak-banyaknya sebagaimana yang ia kehendaki, maka ia tidak memperoleh “trofi” sebagai penghargaan tertinggi dari proses sakral makan.

Hanya mengejar kenyang, tanpa merasakan tekstur gurih croissant menandakan bahwa masih bercokol sifat dan cara “kasar”. Bukankah croissant cocok dinikmati dengan apa saja, mulai dari mentega tawar, selai dan marmalade atau awetan jeruk, sampai ham dan keju?

Artinya, croissant memberi keleluasaan, layaknya fans sepak bola pada laga Piala Eropa 2016. Silakan memfavoritkan Spanyol, silakan menjagokan Jerman, silakan menyanjung Italia, atau silakan memberi penghormatan kepada tim tuan rumah Prancis agar dapat merengkuh trofi kejuaraan sepak bola terakbar di Benua Biru.

Untuk membuat croissant keju, silakan membuka croissant yang sudah matang di bagian sisinya, silakan mengolesi dengan mentega bagian dalamnya, dan masukkan potongan keju favorit. Silakan panaskan lagi croissant dalam oven dengan temperatur 240C.

Santaplah dengan dipandu tuah Surat Tjenthini, bahwa cara makan yang kasar menunjukkan cara makan yang ingin melahap semua, tanpa mempedulikan orang lain.

Belajarlah dan berhikmatlah dari laga demi laga Piala Eropa 2016. Silakan saja menjagokan Spanyol sebagai mantan juara yang siap melabrak setiap lawan dengan langgam permainan menawan berbuah gol. Silakan memfavoritkan Jerman yang menggenggam predikat sebagai juara dunia sepak bola 2014 yang dihelat di Brasil.

Silakan pula memilih Inggris yang siap memberi gaya sepak bola menarik dan menyisakan keping-keping kesan “wow” di sanubari setiap pecinta bola. Boleh-boleh saja memajukan Belgia, memuja Italia dan melirik Portugal sebagai kampiun, meski “tim croissant Prancis” juga berpeluang karena mendapat dukungan penuh publik tuan rumah.

Cara kasar dan cara teror yang dilawan Surat Tjenthini ternyata terjadi ketika seorang pria “berusia 25 tahun yang berkaitan dengan kelompok garis kanan” kedapatan membawa sejumlah bahan peledak, senjata dan amunisi jelang penyelenggaraan Piala Eropa 2016.

Aparat keamanan Prancis secepat kilat menciduk seorang pria itu. Menurut keterangan polisi setempat, pria itu besar kemungkinan akan menyerang masjid atau sinagoga tempat ibadah orang Yahudi, sebagaimana dilansir oleh sejumlah media Prancis.

Ketakutan jelang penyelenggaraan Piala Eropa merebak setelah seorang Prancis ditangkap di Ukraina. Pria itu kedapatan membawa sejumlah senjata yang direncanakan bakal digunakan untuk melakukan serangkaian serangan di Prancis.

Pria, yang oleh media diidentifikasi bernama Gregoire M itu, membawa tiga peluncur roket, sekitar 100 detonator, 100 kilogram lebih bahan peledak berjenis TNT, dan setengah lusin senjata Kalashnikov laras panjang. Ia langsung dicokok setelah berusaha melewati perbatasan Polandia.

Penyelenggaraan Piala Eropa 2016 dibayangi ancaman teror kekerasan. Menurut pejabat senior bidang kontra-terorisme di Prancis, perhelatan sepak bola di Benua Biru itu akan ditunda bila serangan teror terjadi. Ini tidak lepas dari peristiwa Teror Paris yang mengakibatkan 130 jiwa melayang pada November 2015.

Presiden Prancis Francois Hollande menegaskan tidak akan tunduk pada terorisme. “Kita harus berbuat sesuatu untuk menjamin agar penyelenggaraan Piala Eropa 2016 berjalan dan berakhir dengan sukses,” katanya lewat radio France Inter.

Sebelumnya, otoritas kepolisian Inggris menyebut bahwa “tidak ada keraguan” para teroris yang tergabung dalam kelompok ISIS menargetkan untuk menyerang penyelenggaraan Piala Eropa 2016.

Direktur lembaga penegakan hukuman Uni Eropa, Ron Wainwright mengatakan ancaman terhadap penyelenggaraan turnamen sepak bola berskala internasional itu tergolong “tinggi”, sebagaimana dikutip dari laman BBC.

“Saya tidak ragu mengatakan Piala Eropa masuk daftar target dari (ISIS), dengan berbagai alasan. Ancaman itu tergolong masuk kategori tinggi,” katanya. Otoritas keamanan Prancis terus melakukan pengamanan menjelang dan selama penyelenggaraan Piala Eropa 2016, dengan mengerahkan aparat kepolisian dan pasukan militer untuk mencegah dan menangkal ancaman teror.

Data menunjukkan bahwa para teroris menargetkan fans sebagaimana ditemukan dalam laptop yang dimiliki saleh Abdesalam, otak di balik serangan Paris yang mengakibatkan 130 orang terbunuh.

Membunuh, menghabisi nyawa sesama, tidak senapas dan tidak seirama dengan sensasi mengonsumsi croissant pada Piala Dunia 2016 di Prancis. Croissant ala negeri tim Le Bleus menjanjikan tekstur sensasi rasa gurih mentega bercampur keju.

Kalau makan merupakan prosesi bersama, maka sepak bola Piala Eropa 2016 seharusnya dan selayaknya merupakan prosesi menyenangkan bagi semua orang tanpa bumbu kekerasan apalagi teror bagi sesama.

Surat Tjenthini menyiratkan bahwa bila seseorang makan, maka dia hendaknya tidak menjelma menjadi kerbau atau lembu. Dia makan (croissant) untuk menjadi manusia. Kita menyaksikan sepak bola untuk (menjadi) sesama manusia.

Jangan lupa, selain croissant, cicipilah baguette, kudapan sederhana di Prancis, berupa roti pentung segar yang baru keluar dari panggangan. Ini sensasi menu khas Prancis pada Piala Eropa 2016. [antaranews.com, 10 Juni 2016]

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: