Oleh: MAULA | Juni 15, 2016

Bisakah Kita Mengubah Sampah Jadi Energi Listrik?

 

SAMPAH LISTRIKMelalui Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2016, pemerintah menetapkan percepatan pembangunan pembangkit listrik berbasis sampah menggunakan teknologi proses thermal incinerator atau pembakaran.

Sampah kota nantinya diharapkan menjadi sumber energi terbarukan untuk menghasilkan listrik menggunakan cara gasifikasi, pyrolysis, dan incinerator.

Proses mengubah sampah menjadi energi listrik ini pun dijelaskan oleh Direktur Pusat Teknologi Lingkungan dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, BPPT, Rudi Nugroho.

“Jadi truk pengangkutnya juga sudah dikondisikan, begitu sampah masuk, ada mesin press, langsung ditekan, nanti (sampah) akan mampat. Airnya akan turun dan ditampung di truk itu sendiri,” kata Rudi.

Sesampainya sampah di lokasi pembuangan akhir, pecahan logam dan kaca dipisahkan, karena elemen tersebut bisa menghambat pembakaran.

“Baru nanti diangkut oleh alat seperti robot, dimasukkan ke ruang bakar yang suhunya 800-1000 derajat Celsius,” kata Rudi.

Incinerator atau pembakaran, menurut Rudi, hanya menyisakan sekitar 10% dari sampah yang dibakar. Dan panas yang dihasilkan dari pembakaran akan dialirkan untuk memanaskan boiler sehingga menghasilkan uap.

Uap itulah yang akan digunakan untuk menggerakkan turbin yang akan menghasilkan listrik. Listrik inilah yang nanti akan didistribusikan atau dijual ke PLN.

“Prinsipnya seperti pembangkit listrik tenaga uap, tapi bahan bakarnya bukan batubara, tapi sampah,” tambah Rudi.

Salah satu hambatan penggunaan teknologi ini di Indonesia, menurut Rudi, adalah sampah rumah tangga Indonesia yang cenderung basah sehingga nilai kalorinya rendah dan membutuhkan lebih banyak tambahan batubara untuk membakar sampah.

“Kalau kadar airnya masih tinggi dimasukkan ke ruang bakar, suhunya akan turun, sehingga pengeringan (untuk) menurunkan kadar air (di sampah) itu sangat penting,” ujar Rudi.

Implikasinya, pemerintah harus mulai memikirkan penggunaan truk-truk sampah yang bisa melakukan pemampatan sampah dan mengurangi kadar air sebelum sampai ke tempat pembuangan sampah akhir.

Solusi lain, jika tidak dikeringkan, maka untuk tetap menjaga suhu ruang bakar tetap tinggi, harus dilakukan penambahan bahan bakar. Tapi dalam penilaian Rudi, langkah ini bukannya menjadi solusi, malah justru menambah masalah, terutama soal biaya.

Meski upaya mengubah sampah menjadi energi dengan menggunakan metode incinerator atau pembakaran ini sudah umum dilakukan di negara-negara lain, namun Rudi mengingatkan fokus teknologi ini lebih untuk menghilangkan sampah, dan bukan menghasilkan listrik.

Sehingga listrik yang nantinya dibeli oleh PLN dilakukan dengan biaya yang lebih tinggi dari energi listrik biasanya, yaitu seperti sudah ditetapkan pemerintah, pada maksimum 18,5 sen per kwh.

Gas metan

Selain menggunakan incinerator, ada metode lain mengubah sampah menjadi listrik, yaitu menggunakan penangkapan gas metan. Namun menurut peneliti dan pakar sampah Sri Bebassari, energi yang dihasilkan dari sampah lewat penangkapan gas metan akan lebih sedikit dibandingkan lewat sistem thermal atau pembakaran.

“Di landfill (TPA), kelemahannya, gas metannya tidak stabil, belum tentu tiap hari ada. Minimal (alatnya) harus ada saluran gasnya, dan instalasi penangkap gasnya, dan juga instalasi power plant-nya,” ujar Sri.

Sri membandingkan hasil listriknya, lewat penangkapan gas metan, dari 1000 ton sampah bisa menjadi 0,5-1 megawatt, sedangkan lewat incinerator, 1000 ton sampah bisa menghasilkan sampai 12 megawatt.

Dan, sama seperti Rudi, Sri juga menegaskan hal yang sama, bahwa dalam mengubah sampah menjadi energi, listrik tak boleh dilihat sebagai hasil yang dituju, melainkan hanya bonus.

“Tapi itu (12 megawatt) juga bukan sesuatu yang besar. Paling dari 12 megawatt itu, dipakai sendiri 7 megawatt, nanti yang dijual ke PLN mungkin cuma 5 mega,” tambahnya.

Yang harus diingat juga, kata Sri, meski Perpres percepatan pembangunan Pembangkit Listrik Berbasis Sampah menyatakan PLTSa akan dilakukan di tujuh kota, namun tak semua kota di Indonesia cocok menggunakan teknologi incinerator.

“Ini hanya tujuh kota yang besar yang tidak punya lahan. Itu pun ada feasibility studies-nya, hasilnya bisa feasible, bisa tidak. Tapi buat saya pribadi, mungkin baru Jakarta yang sudah siap. Kalau bisa satu dulu, dibuat pelajaran bersama,” kata Sri.

Dia membandingkannya dengan saat Singapura pertama membangun incinerator pada 1980an.

“Dia butuh tiga sampai empat tahun, pertamanya, ke incinerator kedua dia butuh 10 tahun. Jadi pembelajarannya butuh 10 tahun, baru bangun lagi,” ujar Sri.

 

Source: http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/06/160613_majalah_sampah_sumberenergi

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: