Oleh: MAULA | Juni 15, 2016

Dengan Digital, Mengubah Dunia

 

http://www.yuswohady.com/wp-content/uploads/2016/06/Anugerah-Telkomsel-2016.jpgOleh  Yuswohady

 

When we change the way we communicate, we change society

Ketika kita mampu mengubah bagaimana masyarakat berkomunikasi dengan sesama masyarakat maupun dengan pemimpinnya, maka transformasi luar biasa bakal tak terhindarkan.

Ungkapan Clay Shirky, pakar internet, dalam Here Comes Everybody (2008) itu begitu mengena begitu kita kaitkan dengan sepak terjang lima orang hebat penerima Anugerah Telkomsel 2016. Mereka adalah Kertamalip, Rama Raditya, Ainun Najib, Nadiem Makarim,danAhmad Zacky.

Ketika masyarakat terkoneksi satu sama lain dan berkomunikasi intens melalui platform digital seperti blog atau Facebook, maka energi positif meluap-luap pun begitu mudah terbebaskan. Mereka menjadi masyarakat yang terlibat, peduli, partisipatif, bertanggung jawab, dan selalu tergerak untuk berkontribusi dan mengubah dunia.

Itulah yang dilakukan Kertamalip, Kepala Desa Karang Bajo di kaki gunung Rinjani Nusa Tenggara Timur. Dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) gampang dan murah seperti blog dan media sosial Kertamalip mampu menggerakkan warganya untuk berpatisipasi aktif membangun desa.

Ia menjadikan warganya melek internet, dan kemudian menggunakan internet untuk mendorong partisipasi masyarakat, menciptakan transparansi, menghilangkan sumbat-sumbat birokrasi, memperbaiki layanan publik, dan membangun good governance.

Namun di atas itu semua, sumbangsih paripurna sang kepala desa adalah mengedukasi masyarakat untuk berdaya. Mendorong warganya untuk peduli, terlibat, bertanggung jawab dan aktif berkontribusi bagi kemajuan desanya. Singkatnya, Kertamalip telah melakukan Revolusi Mental yang diimpikan Jokowi, bukan dengan penataran P4, tapi dengan blog dan Facebook.

Connecting Citizens
Kertamalip tidak sendiri. Sekumpulan anak muda milenial tergerak hatinya mengabdi di ranah publik memberikan yang terbaik untuk bangsanya dengan memanfaatkan platform digital sebagai enabler. Dua di antaranya adalah Rama Raditya dan Ainun Najib.

Rama Raditya menciptakan aplikasi digital Qlue untuk menghubungkan aspirasi masyarakat sipil dengan pejabat publik. Dengan aplikasi tersebut masyarakat dapat melaporkan keluhannya mengenai tumpukan sampah, kemacetan, atau pungutan liar secara langsung. Dengan aplikasi ini, para pejabat publik berlomba-lomba bekerja lebih baik dengan cara menindaklanjuti keluhan-keluhan masyarakat yang disalurkan lewat aplikasi ini.

Sementara Ainun Najib menciptakan situs kawalpemilu.org untuk mengawal rekapitulasi suara pemilihan umum di Tanah Air. Dengan pendekatan crowdsourcing Najib menggalang para relawan melalui jejaring media sosial. Melalui situsnya, Najib menggerakkan para relawan ini untuk membantu proses pemasukan data rekapitulasi pemilu. Hasil input data inilah yang menjadi sumber informasi yang bisa dipantau masyaakat melalui situs kawalpemilu.org.

Seperti dipraktekan Rama dan Najib, platform digital seperti blog dan aplikasi mobile telah menjadi alat transformasi sosial yang mampu menciptakan perubahan berarti dalam tata kelola pemerintahan. Dengan platform digital mereka telah membuka saluran-saluran komunikasi antara warganegara dengan aparat pemerintah yang selama ini mampet sekaligus mendorong transparansi.

Apa yang dilakukan Kertamalip, Rama, dan Najib merupakan inspirasi luar biasa bagi setiap pemimpin publik dari kepala desa hingga presiden, bahwa platform digital bisa menjadi disruptive tools yang berpotensi merevolusi efektivitas dan produktivitas pengelolaan sektor publik.

Tanpa banyak pidato dan himbauan, secara kongkrit mereka telah memberi alternatif solusi bagi persoalan masyarakat di depan mata. Mereka telah menunjukkan kepada kita bahwa teknologi digital merupakan alat revolusi sosial yang impactful.

Business Enabler
Kalau Kertamalip, Rama, dan Najib berkiprah di sektor publik, maka Nadiem Makarim dan Ahmad Zacky memberikan sumbangsih tak kecil di ranah bisnis. Peran teknologi digital sebagai business enabler begitu substansial dalam memotong biaya transaksi (transaction costs), mendorong efisiensi dan produktivitas, menjangkau pasar, menciptakan engagement dengan konsumen, hingga berbagi sumber daya.

Nadiem dan Zacky memanfaatkan keunggulan digital secara cantik tak hanya untuk kemanfaatan bisnis mereka semata, tapi juga untuk masyarakat dan bangsa. Platform digital yang mereka tawarkan tak hanya menjawab persoalan bisnis yang mereka hadapi, tapi sekaligus menjadi solusi sosial berupa pemberdayaan ekonomi masyarakat bawah dan pelaku usaha kecil-menengah.

Apa yang dilakukan Nadiem sangat revolusioner, menciptakan sebuah aplikasi digital Gojek yang menghubungkan masyarakat dengan layanan ojek yang super efisien dan bebas repot. Layanannya tak cuma transportasi orang tapi melebar pengiriman makanan, dokumen, belanja, bahkan jasa pijat.

Dengan platform berbagi (sharing platform) maka kedua belah pihak baik konsumen maupun tukang ojek diuntungkan. Konsumen mendapatkan kepastian harga dan kemudahan pemesanan. Sementara di sisi lain pendapatan tukang ojek terdongkrak hingga lebih dari 50%. Tak bisa disangkal, platform yang dirintis Nadiem sekaligus merupakan solusi sosial bagi problem pengangguran yang demikian akut di negeri ini.

Kontribusi Ahmad Zacky tak kalah bernilai. Ia membuka bukalapak.com, sebuah platform jual beli online yang menampung para pelaku usaha kecil-menengah (UKM). Yang menarik, apa yang dilakukan Zacky adalah beyond business, tak melulu bermotif bisnis. Ia menggunakanbukalapak.com sebagai platform untuk mengedukasi, memberdayakan, dan menaikkan kelas UKM sehingga cukup powerful untuk menjadi pilar ekonomi Indonesia.

Apa yang dilakukan Nadiem dan Zacky sangat bermakna karena dengan platform berbagi mereka menciptakan inovasi bisnis untuk menghasilkan extraordinary value ke konsumen. Tapi tak hanya itu, mereka juga menciptakan inovasi sosial dengan menyelesaikan persoalan-persoalan sosial-kemasyarakatan yang ada di lingkungannya.

Dengan platform berbagi yang diciptakan, mereka membuka seluas-luasnya kesempatan berusaha di kalangan individu (individual entrepreneur) dan wirausaha kecil-menengah (micro entrepreneur) yang berpotensi mengurangi pengangguran dan mewujudkan pemerataan kemakmuran. Lebih luas lagi, mereka juga berkontribusi membangkitkan social capital dengan mengembangkan lapis masyarakat wirausaha yang berpikiran positif, produktif, dan selalu mencipta nilai.

Apapun cara dan hasilnya, ada yang sama dari apa yang dilakukan Kertamalip, Rama Raditya, Najib, Nadiem, dan Zacky. Mereka semua menggunakan keajaiban digital untuk mengubah dunia. Bangsa ini membutuhkan ribuan bahkan jutaan orang seperti mereka.

 

*Dimuat di KompasKlass edisi 1 Juni 2016

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: