Bulan: Juli 2016

Mencoba Berpisah dari Sri Mulyani

Oleh Goenawan Mohamad

 

 

[Pada acara perpisahan dengan Sri Mulyani, Jakarta, 19 Mei 2010]

 

Malam ini kita mencoba berpisah dari Sri Mulyani. Saya katakan “mencoba”. Sebab sering kali, dan terutama malam ini, kita menyadari: orang bisa hanya sebentar mengucapkan “hallo”, tapi tak pernah bisa cuma sebentar mengucapkan “selamat berpisah”.Mungkin karena kita tak tahu apa sebenarnya arti “berpisah”. (lebih…)

Iklan

Jadi Soehartois, Kenapa Takut?

 

Oleh Muhadjir Effendy *

Pada 21 Mei yang lalu, tatkala Pak Harto menyatakan berhenti dari jabatan presiden, kejadiannya disiarkan langsung oleh semua pemancar televisi. Tak lama setelah itu, televisi juga meliput suasana sorak sorai para mahasiswa, terutama yang lagi menduduki gedung DPR/MPR, menyambut penuh antusias atas lengser keprabon-nya Pak Harto. Seramnya, close up kamera TV juga dibidikkan kepada patung Pak Harto komplit dengan peci hitam dan baju batik yang diseret-seret di jalan menuju pintu gedung DPR. Ini sangat paradoks dengan ejadian sebelumnya, di mana kehadiran Pak Harto ke gedung itu selalu dengan iring-iringan mobil mewah, kawalan ketat, dan disambut penuh takzim. (lebih…)

Kaum Miskin Urban: Kere, Kelaparan, tapi Eksis

Oleh Gayatri Jayaraman

 

(Catatan Editor: Artikel ini adalah terjemahan artikel “The Urban Poor You Haven’t Noticed: Millennials Who’re Broke, Hungry, But On Trend” yang ditulis Gayatri Jayaraman di laman Buzzfeed tanggal 5 Mei 2016. Artikel asli tulisan ini bersituasi di negara India. Nama tempat, mata uang, dan aspek lainnya menyesuaikan yang sebenarnya di India.) (lebih…)

Muda, Kaya, dan Berbahaya

Oleh Mardiyah Chamim

 

Sebuah artikel di buzzfeed sedang ramai beredar, berkisah tentang drama kehidupan eksekutif muda di India. Mereka pontang-panting mengejar gaya hidup tinggi, padahal penghasilan sama sekali belum mampu menopang. Ada yang rela menahan lapar seharian, demi bisa membeli roti lapis di gerai waralaba internasional. Ada juga yang gajinya habis buat membayar cicilan mobil mewah, yang diparkir di pinggir jalan. Judul artikelnya, Mengenal Kaum Miskin Urban: Anak-Anak Muda yang Kere, Kelaparan, tapi Eksis. (lebih…)

Masuk Sekolah Lebih Cepat atau Lebih Lambat? Ini Hasil Risetnya

Kebanyakan orangtua beranggapan bila lebih cepat masuk sekolah, maka anak akan belajar lebih banyak dan lebih baik. Benarkah? Inilah kesimpulan risetnya

Kebanyakan orang tua berpikir, anak lebih cepat masuk sekolah itu lebih baik. Karena semakin muda anak masuk sekolah maka semakin cepat anak belajar, semakin lama anak belajar, semakin bagus dalam mencapai prestasi akademik. Dalam beberapa kasus atau beberapa anak, logika tersebut bisa terbukti. Latihan lebih lama membuat anak lebih siap bukan? (lebih…)

Kisah Pak AR Fachrudin yang Selalu Menolak Tawaran Menjadi Menteri

 

Satu kenyataan yang sering dilupakan orang adalah bahwa Muhammadiyah lahir dan besar di pusat kebudayaan Jawa, Yogyakarta. KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah adalah orang Jawa tulen yang hidup dan besar dalam lingkungan Jawa.

Ayahnya, KH Abu Bakar, adalah khatib terkemuka di masjid Kesultanan Yogyakarta pada masanya. Dengan melihat latar belakang Muhammadiyah tersebut, paling tidak, kultur kejawaan tersebut amat penting untuk dipahami oleh warga Muhammadiyah, khususnya yang menjadi caloncalon pimpinan tertinggi Muhammadiyah. Kenapa Jawa? Jawabnya: Jawa dan kebudayaannya adalah ”sebuah entitas budaya dan psikologis” yang nyaris telah menyatu dalam keindonesiaan. Hal ini logis karena mayoritas penduduk Indonesia berada di Pulau Jawa dan lebih dari 75% perekonomian dan pusat keuangan berada di Jawa. Yang menarik, sejak zaman kemerdekaan pun, hampir semua tokoh-tokoh nasional papan atas berasal dari Jawa. Jika pun tidak lahir di Jawa, mereka pernah menuntut ilmu dan tinggal di Jawa. (lebih…)