Oleh: MAULA | Juli 2, 2016

Makna Brexit: Penguatan Industri Lokal

Oleh Akhmad Arsya

 

Banyak orang menyepelekan implikasi Brexit. Hal ini bisa dipahami. Mereka pasti berpikir kenapa sesuatu yang terjadi ribuan kilometer jauhnya bisa berdampak pada kehidupannya disini. Selain nilai tukar dan keimigrasian rasanya tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Namun, arti penting hasil referendum Britania Raya tersebut dapat diukur dari reaksi pemimpin-pemimpin dunia kala mengetahui mayoritas penduduk negeri “Westeros” memilih untuk memisahkan diri dari paguyuban Eropa. Amerika panik. German gelisah. Perancis khawatir. Yang lain? Wait and see. Kalau Britania baik-baik saja bukan tidak mungkin akan ada Nexit (Netherland Exit), Rexit (Rumania Exit), atau bahkan Sexit (Spain Exit).

Tapi, apa sebetulnya yang mereka khawatirkan? Kenapa mereka merasa amat berkepentingan menjaga keutuhan Uni Eropa?

Jawabannya adalah persepsi.
DASAR PEMIKIRAN

Dalam ilmu ekonomi, untuk mendapatkan sesuatu yang sifatnya “terbatas” maka diperlukan pengorbanan yang berwujud materi, waktu, atau lainnya. Udara yang anda hirup saat ini sifatnya tidak terbatas (sementara ini) oleh karenanya gratis dan tidak perlu pengorbanan dalam mendapatkannya. Tidak seperti mendapatkan beras dengan menanam padi terlebih dahulu atau jasa tukang pijat yang harus menerima imbalan atas waktu dan tenaga yang sudah mereka korbankan demi melayani anda. Imbalan yang didapatkan oleh petani padi atau tukang pijat adalah pengorbanan yang dikeluarkan oleh mereka yang menikmati beras atau jasa pijat tersebut.

Adam Smith, terinspirasi oleh ekonom Perancis Francois Quesnay, adalah pencetus ide “Cosmopolitical Economy” yang mempromosikan perdagangan bebas antar negara. Ia berpendapat bahwa perdagangan tanpa batasan-batasan (misal: tarif impor) akan baik bagi semua pihak karena pada hakekatnya masing-masing negara diberkahi dengan kemampuan khusus yang disebut “absolute advantage” atau “comparative advantage” sehingga dapat memproduksi suatu barang/jasa tertentu dengan “pengorbanan” yang lebih sedikit dibanding negara lain. Jadi tidak perlu setiap negara berusaha memproduksi semua jenis barang/jasa nya sendiri. Smith menggunakan analogi negara seperti itu layaknya tukang sepatu yang berusaha menjahit bajunya sendiri. Untuk apa? Buang-buang waktu katanya. Lebih baik urusan jahit menjahit diserahkan ke tukang jahit.

Negara-negara yang bisa lebih efisien dalam memproduksi barang/jasa tertentu memiliki pengalaman dan jam terbang yang lebih tinggi. Jadi sebetulnya, jika semua negara diberi kesempatan yang sama untuk belajar (Learning Curve) dan berkembang maka hasil yang sama seharusnya bisa didapatkan.

Betul, ada hal-hal seperti sumber daya alam (minyak, batu bara, tambang, dll), kondisi iklim, dan tanah subur yang merupakan berkah alam semesta. Tapi, apa kabar Israel? Negara yang letaknya di gurun tandus, hari ini menjadi pusat teknologi dunia melalui inovasi-inovasi mereka. Bercocok-tanam di tengah gurun? Tidak masalah. Silakan cek http://www.israel21c.org. Keterbatasan lingkungan tidak pernah jadi penghalang. Justru menjadi pemacu semangat.

Pertanyaannya kemudian adalah, apakah negara-negara yang sudah mulai terlebih dulu (First Mover Advantage) mau memberi kesempatan bagi negara-negara yang tertinggal untuk mengejar? Karena hal itu dapat berarti hilangnya pekerjaan di negara-negara tersebut di masa depan.

Pasti banyak advokat perdagangan bebas yang akan membantai argumen saya dengan teori-teori ekonomi super canggih. Kebanyakan mungkin lulusan universitas terkemuka di Amerika. Tapi, mereka tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa Korea, Taiwan, dan Jepang yang baru memulai pembangunan ekonomi mereka di tahun 50an pasca perang dunia kedua (Jepang hancur setelah dibom atom dan kalah perang sehingga mulai dari nol lagi) merupakan negara maju. Di awal masa revolusi industri kala Inggris menjadi pusat manufaktur dunia, adakah yang menduga bahwa 3 negara tersebut termasuk China akan menjadi kekuatan ekonomi yang menyaingi bahkan melebihi Inggris hari ini?

Kenyataannya, menurut Joe Studwell dalam bukunya “How Asia Works”, tidak ada satupun dari mereka yang memulai pembangunan ekonominya dengan membuka pasar. Mereka lebih memilih jalur “proteksi industri lokal”. Perdagangan bebas baru mereka implementasikan diakhir proses pembangunan ekonomi kala korporasi-korporasi mereka sudah “mature”.

Apa yang lebih dahulu dilakukan oleh negara-negara tersebut adalah memupuk kemampuan penciptaan kekayaan (productive power) dengan peningkatan kualitas manusia, melindungi industri lokal, dan menciptakan situasi perpolitikan dalam negeri yang kondusif. Kemampuan untuk menciptakan kekayaan (wealth creation) jauh lebih penting dari kekayaan (wealth) itu sendiri karena pada hakekatnya mereka yang mengkonsumsi lebih banyak dari yang bisa mereka produksikan akan menjadi miskin, sebaliknya mereka yang bisa menghasilkan lebih banyak dari yang mereka konsumsi akan menjadi kaya.

Sederhananya, seseorang yang kaya karena warisan tapi kemudian bermalas-malasan di rumah suatu saat akan disamai bahkan dilewati oleh orang miskin yang mengenyam pendidikan tinggi kemudian membesarkan perusahaannya sendiri. Pendidikan dalam hal ini adalah “productive power” yang dimaksud diatas. Contoh-contoh “productive power” diantaranya adalah mental positif, persatuan bangsa, kekuatan militer yang besar, penguasaan navigasi dan maritim, dan penegakan hukum (rule of law).

Teori Smith seolah-olah menganggap bahwa “Absolute Advantage” atau “Comparative Advantage” itu kekal adanya. Sehingga negara-negara yang diawal sudah mendominasi akan bisa terus mendominasi. Padahal, tidak saja China hari ini menjadi salah satu produsen sepatu terbesar dunia tapi juga tekstil, mobile phone, ember, tusuk gigi, kondom, genteng, TV LCD, dan hampir semua barang-barang dalam kehidupan kita berlogo “made in China”.

Tukang sepatu memang sebaiknya tidak menjahit bajunya sendiri, buang-buang waktu. Lebih baik ia fokus membuat sepatu dan membiarkan tukang jahit melakukan pekerjaannya. Namun, satu hal yang pasti adalah mereka semua tinggal di China.

 

FREE TRADE ATAU FAIR TRADE?

Uni Eropa adalah pengejewantahan sempurna konsep “Cosmopolitical Economy” milik Smith. Utopia yang ia impikan menjadi kenyataan, sampai akhirnya terjadi Brexit. Negara tempat lahirnya ide perdagangan universal tanpa batas, yang juga merupakan tanah kelahiran Sang Maestro Ekonomi, justru menjadi pihak yang meragukan konsep tersebut. Seandainya ekonomi adalah sebuah agama dan Smith menjadi nabinya maka apa yang dilakukan oleh masyarakat Britania Raya kemarin itu adalah suatu bentuk kekafiran maksimal. Infidels!

Kita semua bisa sepakat bahwa sebagian besar negara Britania Raya memiliki kualitas sumber daya manusia, teknologi, dan industri yang jauh lebih maju dari Indonesia. Namun, hal-hal tersebut ternyata tidak menghilangkan efek samping perdagangan super bebas yang tidak memperdulikan pemerataan kesejahteraan diantara penduduknya. Terbukti, 52% pemilih yang mayoritasnya sudah hidup cukup lama untuk bisa merasakan efek baik-buruknya perdagangan bebas memilih untuk tidak lagi setuju dengan konsep tersebut. Nah, apa kabar Indonesia yang ujug-ujug mau “telanjang” tanpa proteksi? Yang ada “diperkosa” ramai-ramai oleh negara adidaya.

Apakah argumen yang mengatakan bahwa perdagangan bebas mendatangkan manfaat yang lebih besar daripada mudharat, sepenuhnya benar? Pertanyaannya kemudian, siapa yang menikmati manfaat dan siapa yang menanggung mudharatnya?

Saya lelah mendengarkan para advokat perdagangan bebas yang selalu menggunakan argumen “Cost vs Benefit”. Karena pada akhirnya, selalu akan ada yang menikmati “benefit” dan akan ada yang menanggung “cost”-nya. Kecuali, argumennya kemudian adalah “benefit-benefit”.

Apakah anda dapat menerima dengan ikhlas ketika argumen yang digunakan dalam mengimplementasikan perdagangan bebas adalah penciptaan lapangan pekerjaan di negeri asal ekspor dan ketersediaan barang murah di negeri tujuan ekspor lalu serta merta ini berarti “win-win” bagi kedua belah pihak? Apa kabar dengan penciptaan lapangan pekerjaan di negeri tujuan ekspor tersebut? Dan apakah lebih baik bekerja di perusahaan milik asing daripada bekerja di perusahaan milik WNI yang menyediakan remunerasi dan “good governance” serupa?

Betul, kenyataannya Indonesia belum memiliki perusahaan sekelas itu. Kalaupun ada, maka produk-produk yang dihasilkannya jauh lebih mahal dan kurang berkualitas dibanding perusahaan asing. Semua itu disebabkan oleh jam terbang yang masih minim. Tapi, kita tidak akan pernah punya perusahaan kaliber dunia kalau terus menerus dibiarkan bersaing secara gamblang dengan korporasi asing yang jauh lebih berpengalaman. Analoginya mirip dengan anak kecil yang baru belajar berjalan. Apakah adil ketika anak umur 6 tahun dibiarkan menantang pelari 100 m kelas dunia? Seperti itukah “persaingan adil” yang dimaksud oleh para advokat perdagangan bebas?

Samsung, Posco, Toyota, adalah segelintir contoh perusahaan-perusahaan yang menjadi kaliber dunia berkat kerjasama antara pemerintah yang menyediakan perlindungan dengan pihak swasta dalam negeri agar dapat tumbuh berkembang menjadi pelari-pelari 100 m kelas dunia.

Informasi yang tidak pernah disampaikan oleh para advokat tersebut adalah kenyataan bahwa hampir tidak ada negara maju hari ini yang tidak melalui tahapan “proteksi industri lokal” dalam pembangunan ekonominya. Inggris kala memulai industrinya memproteksi industri esensial mereka dari Liga Hanseatic. Lalu, Amerika dari Inggris. Kemudian China dari Amerika. Dan sekarang mereka justru menginstruksikan kita, negara kecil yang konon katanya tidak punya “political muscle” untuk bisa melakukan “proteksi industri lokal”, untuk membuka seluas-luasnya pasar dalam negeri. Lucu.

Jelas kenapa Amerika dibuat pusing oleh Brexit. Obama sampai mengeluarkan pernyataan bahwa Inggris akan berada di antrian belakang setelah negara-negara Uni Eropa dalam urusan perdagangan dengan Amerika. Terlihat kepanikannya. Mereka punya kepentingan untuk terus menyuarakan perdagangan bebas karena produk-produk mereka butuh pasar, penduduk mereka butuh lapangan pekerjaan.

Melalui Trans-Pacific Partnership (TPP) mereka mengincar pasar kelas menengah Asia Pacific yang belum sepenuhnya dieksploitasi oleh mereka. Tentunya dengan persaingan sengit dari China. Mereka mencoba “menenangkan” dunia dengan memberikan persepsi melalui media bahwa Inggris akan mengalami krisis ekonomi akibat perbuatan mereka yang menjauh dari struktur perdagangan bebas. Well, maybe they are right. But, what if they are wrong?

 

SOLUSI

Lalu, apa yang bisa saya dan anda lakukan?

  1. Sadari bahwa anda memiliki andil dalam membawa perubahan melalui suara anda (baca: vote). Hasil referendum Britania Raya menjadi contoh bahwa banyak orang yang tidak lagi sepakat dengan status quo. Mereka anti-elit, anti-establishment, dan anti-expert. Kebangkitan tokoh-tokoh populis baik di luar maupun dalam negeri, yang tidak lagi merasa perlu bersikap “politically correct” atau dalam istilah Indonesia “ABS Asal Bapak Senang” merupakan momentum yang harus dimanfaatkan. Tokoh-tokoh yang mulai berani berseberangan dengan elit-elit partai politik demi mengakomodir suara rakyat. Pilih mereka or, even better, be like them. Karena kekalahan mereka dipanggung politik akibat keapatisan anda berarti membiarkan elit partai politik korup untuk berkuasa. Pilih wakil rakyat yang pro industri lokal. Jangan pilih elit politik yang pro asing demi mendapatkan seonggok rente, it is sooo Orde Baru.
  2. Tidak ada resep yang lebih jitu dalam menciptakan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development)  selain dengan kewirausahaan. Kalau anda sudah terlanjur menjadi pegawai setidaknya dukung anak-anak anda untuk menjadi wirausahawan. Lebih bagus kalau bisa berkecimpung di sektor agrikultur atau manufaktur karena keduanya adalah sektor yang padat karya alias menyerap tenaga kerja paling banyak. Ingat, menjadi kaya tidak berarti apa-apa kalau tidak semua orang punya kesempatan yang sama untuk menjadi kaya. Karena artinya, akan ada orang-orang yang selalu hidup di garis kemiskinan yang bisa setiap saat menciptakan instabilitas sosial di masyarakat. We need to create more jobs. Buktikan kalau anda adalah generasi pembaharu yang memiliki “dignity” dan “pride of nation”. Menjadi kaya dengan membesarkan perusahaan yang bisa mendatangkan devisa ekspor, itu baru keren. I’m counting on you, Indo-Millenials. Innovate!
  3. Membangun industri lokal membutuhkan pengorbanan generasi hari ini. Mekanisme proteksi pemerintah terhadap industri lokal salah satunya dengan mengenakan tarif  terhadap produk impor akan membuat barang-barang dari luar menjadi lebih mahal. Namun pendapatan dari tarif impor tersebut bisa digunakan untuk mensubsidi produk-produk lokal agar harganya lebih terjangkau. Seiring berjalannya waktu, dengan pertumbuhan perusahan-perusahaan lokal yang menciptakan suasana kompetisi antar mereka, ditambah kompetensi yang telah meningkat, harga produk-produk lokal perlahan-lahan akan turun dan kualitasnya akan meningkat. Akhirnya, kita tidak lagi membutuhkan produk impor sebanyak sekarang. Bahkan, kita akan bisa mulai menjadi net eksportir. PS: Don’t fucking tell me we can’t do it. Because that is basically what the English, the American, and the Chinese did back in their infant-day.
  4. Janganlah kita anti-perdagangan bebas. Tapi jangan pula kita menjadikannya “starting point” perjalanan kita menjadi negara maju. Free trade is our destination, not our starting point. Lagipula, ketika perusahaan-perusahaan kaliber dunia sudah lahir di Indonesia, mereka akan membutuhkan pasar-pasar besar macam Amerika dan China dengan penduduknya yang banyak. Gimana mereka tidak ketar-ketir membayangkan produk-produk murah berkualitas tinggi asal Indonesia membanjiri pasar mereka?

 

DEMI YANG TERSAYANG

Anda mungkin berpikir bahwa saya adalah garis keras haluan kanan atau ekstrimis agamais yang anti-Amerika.

Anda salah.

Saya sendiri akan melanjutkan studi magister di Amerika dalam waktu dekat ini. Dimana lagi kita bisa belajar menjadi negara adidaya selain di negara yang sukses bertahan dari gempuran revolusi industri Inggris bahkan kemudian melebihinya? Hehehe.

Saya hanyalah orang merasa “insecure” ketika tidak tahu jati diri saya. Saya ini apa? Saya putuskan bahwa saya adalah orang Indonesia yang hidup di Indonesia sehingga akan terkena dampak dari kejadian apapun yang terjadi di Indonesia terlepas dari seberapa kaya saya hari ini. As simple as that.

Anda mungkin bertanya-tanya. Kenapa kita harus mengorbankan konsumsi atas barang-barang impor murah hari ini dan memilih produk buatan perusahaan Indonesia yang dimiliki oleh orang Indonesia demi mendukung berseminya perekonomian Indonesia di masa depan?

Jawabannya adalah demi anak-cucu kita, generasi penerus. Demi mereka yang tersayang. Tanpa industri lokal yang menopang kelangsungan hidup 250an juta penduduk, sulit membayangkan masa depan yang lebih baik.

APBN tidak akan cukup untuk menjadikan seluruh angkatan kerja produktif menjadi pegawai negeri sipil. Perusahaan asing yang membuka pabriknya disini bisa sewaktu-waktu pergi. Sudah banyak contohnya.

Di sisi lain, perusahaan lokal yang bisa mengekspor barang ke luar negeri justru mendatangkan devisa bagi negara. And they are here to stay. Untuk apa perusahaan lokal kita mengirimkan proses pembuatan barang ke China atau Vietnam kalau mereka bisa mendapatkan tenaga kerja lokal Indonesia dengan kualitas dan biaya yang sama?

Semua itu dimungkinkan, jika dan hanya jika, elit politik kita memilih untuk mewujudkan hal tersebut. Namun menjadi seolah-olah tidak mungkin, dengan dalih dan argumen ekonomi yang sok canggih, jika mereka mendahulukan kepentingan lain selain kepentingan Indonesia. Tidak masuk akal kalau ada orang yang notabene penduduk Indonesia, tinggal di Indonesia, tapi lebih mendahulukan kepentingan non-Indonesia. Terus kalau negara “chaos” mau ngumpet dimana? Lari jadi TKI ke Singapura?

Ini bukan masalah Nasionalisme membabi-buta tanpa arah. Ini masalah “Survival of The Fittest” and by importation means you are doomed to be extinct because you are highly dependent on other nations to provide for you.

Kasus ekstrim lebay: Bayangin kalau tiba-tiba perang dunia terjadi dan industri lokal kita tidak siap menopang. Memang bakal bisa impor? Memang perusahaan asing disini bakal stay?

Apakah betul kita lebih memilih konsumsi hari ini dan tidak peduli dengan masa depan generasi penerus kita dengan mewariskan utang luar negeri yang makin hari makin besar akibat defisit perdagangan dan neraca?

Lihat muka anak-anak anda sekarang dan katakan “Bodo amat”.

I dare you.

[perspektifakarrumput.wordpress.com]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: