Oleh: MAULA | Juli 29, 2016

Jadi Soehartois, Kenapa Takut?

 

Oleh Muhadjir Effendy *

Pada 21 Mei yang lalu, tatkala Pak Harto menyatakan berhenti dari jabatan presiden, kejadiannya disiarkan langsung oleh semua pemancar televisi. Tak lama setelah itu, televisi juga meliput suasana sorak sorai para mahasiswa, terutama yang lagi menduduki gedung DPR/MPR, menyambut penuh antusias atas lengser keprabon-nya Pak Harto. Seramnya, close up kamera TV juga dibidikkan kepada patung Pak Harto komplit dengan peci hitam dan baju batik yang diseret-seret di jalan menuju pintu gedung DPR. Ini sangat paradoks dengan ejadian sebelumnya, di mana kehadiran Pak Harto ke gedung itu selalu dengan iring-iringan mobil mewah, kawalan ketat, dan disambut penuh takzim.

Kejadian sebaliknya, yang sama sekali tidak diliput media massa, adalah tangis beberapa ibu yang trenyuh menyaksikan kejadian itu. Mereka tak kuasa membendung rasa iba, menyayangkan mengapa seorang presiden yang sudah begitu banyak jasanya pada akhirnya harus turun tahta dengan cara di-ruda peksa.

Kalau para ibu punya reaksi yang berlawanan dengan mahasiswa atas lengser-nya Pak Harto, itu pasti ada alasannya. Di samping mungkin lantaran nurani keibuannya tergugah, mereka adalah orang yang sudah beranjak dewasa tatkala terjadi peralihan kekuasaan dari masa pemerintahan Presiden Soekarno ke tangan Presiden Soeharto (1965). Ketika kesengsaraan nasional, rasanya, sudah sampai di ubun-ubun. Pengalaman itu jelas tidak dimiliki para mahasiswa yang rata-rata lahir tahun tujuh puluhan, yang mereka itu adalah
generasi baby boomer yang tumbuh di saat proses pembangunan sudah membuahkan
kemakmuran dengan aneka kemudahan, namun sekaligus juga ketimpangan dan
kebobrokan.

Ada baiknya kita buat perbandingan sederhana antara keadaan pada 1965 saat Presiden Soekarno di-ҒSupersemarkanҒ dan keadaan waktu Presiden Soeharto dilengserkan. Sebagaimana John Bresnan dalam buku Managing Indonesia mencatat, tahun 1964 inflasi mencapai 500 persen lebih, bandingkan saat puncak krisis moneter 1997, inflasi masih di bawah 50 persen.

Tingkat pendapatan rata-rata perorangan pada 1964 hanya USD 30 setahun, sedangkan pada 1997 USD 998 (Asiaweek, 29 Mei 1998). Waktu itu rata-rata setiap orang hanya makan 1.800 kalori per hari, sedangkan saat menjelang Mei 1998 makan 2.700 kalori per orang per hari.

Sewaktu Presiden Soekarno turun tahta, sebagian besar penduduk tidak makan nasi beras. Sebagai gantinya, mereka makan thiwul, bulgur, bahkan nasi yang dibuat dari tangkai pohon keladi (dodor), atau pangkal pohon pisang (ares). Keadaan diperparah oleh krisis politik yang diwarnai dengan pembantaian PKI.

Dalam keadaan seperti itu, kehadiran Pak Harto di panggung kekuasaan bagaikan sinterklas atau imam mahdi. Jika ditilik dari tingkat krisis saat itu yang sudah sangat parah, dapat dikatakan bahwa Pak Harto mampu menunjukkan kemampuan linuwih-nya untuk menormalkan keadaan. Sampai-sampai di kalangan penduduk pedalaman Jawa, Pak Harto diyakini sebagai ratu adil yang mengejawantah, yang kedatangannya memang sudah ditunggu-tunggu.

Sebagai koreksi, Pak Harto telah berusaha tampil beda dengan pendahulunya. Antara lain, ia tak mau menyandang gelar Paduka Yang Mulia/Pemimpin Besar Revolusi meski juga mau disebut Bapak Pembangunan. Pak Harto menghindari penggunaan kata-kata sloganis dan menggebu-gebu dalam setiap pidato. Demokrasi terpimpin diganti dengan demokrasi Pancasila. Dia juga tidak mau banyak kawin.

Meski begitu, akhirnya ada beberapa kesamaan juga, yaitu: 1. sangat lama memegang kekuasaan; 2. kepemimpinannya menyimpan misteri karena dibungkus aura mitologis; 3. bertindak sebagai Ғpenafsir? ideologi negara meski dengan versi yang berlainan; 4. sama-sama turun tahta karena krisis ekonomi; dan 5. turun dengan cara di-ruda peksa.

Yang belum bisa dibuktikan adalah, bisakah Pak Harto suatu saat nanti bangkit menjadi mitos sebagaimana Bung Karno. Kalau bisa, berapa lama dibutuhkan. Sebab, nama Bung Karno butuh waktu 30 tahun dari masa lengser-nya untuk benar-benar bangkit kembali. Hasilnya, harus diakui bahwa bagaimanapun, kemenangan PDI Perjuangan tak lepas dari kebangkitan karisma Bung Karno yang menitis ke dalam diri putrinya, Megawati.

Kalau dilihat sangat banyaknya lapisan masyarakat yang secara emosional masih berpihak kepada Pak Harto, baik yang menaruh empati maupun sekadar simpati, serta tidak terlalu parahnya kesengsaraan umum pada saat Pak Harto dilengserkan dibandingkan dengan waktu Bung Karno di-Supersemar-kan; kelak di kemudian hari, tampaknya, bakal bangkit mitos Soehartoisme. Bahkan, mungkin, tidak perlu menunggu 30 tahun, rakyat akan melupakan kesalahan Pak Harto, keluarga, dan kroninya.

Keluarga Pak Harto dan pembantu setianya di masa datang sangat berpeluang membangun sistem dinasti politik di Indonesia sebagaimana keluarga Kennedy di Amerika Serikat, Gandhi di India, atau Marcos di Filipina.

Kalau pada zaman Orde Baru tindakan represif melahirkan ketakutan umum, termasuk takut mengaku menjadi pengikut Soekarno, kini sebagai buah reformasi, tindakan represif kian tak populer sehingga tak perlu ada rasa takut, termasuk takut mengaku jadi pengikut Pak Harto bukan?

 

*) Drs Muhadjir Effendy MPA, staf pengajar UMM.

 

Catatan: Pada tahun 2000, penulis menjadi Rektor UMM. Pada 27 Juli 2016, penulis diangkat menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

 

Source: Jawa Pos, 23 Agustus 1999


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: