Oleh: MAULA | Agustus 24, 2016

Jejak Tasawuf dalam Kepemimpinan Bung Karno

Bung-Karno-620x330Kiai Muhammad Muchtar Mu’thi bin KH Abdul Mu’thi, dari Pondok Pesantren Majma’al Bahrain Shiddiqiyyah, Losari, Ploso, Jombang, Jawa Timur, mengungkapkan bahwa kurang lebih lima bulan jelang kemerdekaan bangsa Indonesia diproklamirkan oleh Dwi Tunggal: Sukarno-Hatta pada 17 Agustus 1945, keduanya telah menemui empat orang ulama tasawuf yang mukasyafah (terbuka mata batinnya). Empat ulama tasawuf itu adalah Syeikh Musa dari Sukanegara, Cianjur; KH Abdul Mu’thi dari Ploso (ayahanda Kiai Muchtar); Sang Alif atau Raden Mas Panji Sosrokartono yang sudah mukim di Bandung; dan Hadratusysyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari, Jombang (pendiri Nahdlatul Ulama).

Kesimpulan dari pertemuan Sukarno dengan empat ulama tasawuf tersebut adalah:

Akan ada berkat Rahmat Allah yang besar turun di Indonesia, pada Jumat legi, 9 Ramadhan 1364 Hijriah. Bila meleset, harus menunggu tiga abad lagi.

Titimangsa itu sama persis dengan Proklamasi kemerdekaan Indonesia yang dikumandangkan Sukarno-Hatta pada 17 Agustus 1945. Nama Hatta kerap diabaikan sebagai bagian penting sejarah Proklamasi. Padahal dialah yang menyusun teks Proklamasi itu dan Sukarno yang membacanya. Hal ini bisa kita temukan dalam tulisan Hatta di otobiografinya, Untuk Negeriku, yang ia rampungkan penulisannya sebelum wafat pada 1980. Atas sumbangsih Hatta itulah, maka menjadi sah julukan yang diembannya sebagai dwitunggal RI.

Ungkapan Kiai Muchtar di atas, sejajar dengan yang dikatakan Prof. Mansur Suryanegara saat diwawancarai situs Eramuslim pada 11 Syawal 1434 H/17 Agustus 2013, yang menguraikan siapa saja ulama penyokong pembacaan Proklamasi.

“Pertama. Syeikh Musa, ulama dari Sukanegara, Cianjur Selatan. Kedua. Drs. Sosrokartono, kakaknya RA Kartini. Ketiga. KH Abdul Mukti, dan keempat, KH Hasyim Asy’ari. Mereka inilah yang memberi tahu bahwa Jepang tidak akan mengganggu Indonesia lagi. Kiai Hasyim pada waktuitu juga mengatakan bahwa presiden pertama Indonesia adalah Bung Karno, dan hal itu telah disetujui angkatan laut Jepang.” Dari deretan nama tersebut, hanya Syeikh Musa saja yang belum terjelaskan dengan baik dalam catatan sejarah. Perlu dilakukan penelitian lanjutan terkait hal ini.

Prof. Mansur Suryanegara masih memberi tambahan data lagi selain peran empat orang pembesar di atas. “Jadi ketika 10 Ramadhan atau 18 Agustus 1945, Pancasila sebagai dasar negara dikukuhkan oleh tiga orang, KH Wahid Hasyim (NU), Ki Bagus Hadi Kusumo, dan Kasman Singodimejo (keduanya dari Muhammadiyah). Mereka itulah yang membuat kesimpulan Pancasila sebagai adicita negara, dan UUD ‘45 sebagai konstitusi. Kalau tidak ada mereka, BPUPKI takkan mencapai kata sepakat, walaupun diketuai oleh Bung Karno sendiri. Dari situ pula, Bung Karno diangkat jadi presiden, dan Bung Hatta sebagai wakilnya. Jadi negara ini yang memberi kesempatan Proklamasi seperti itu adalah ulama.”

Terkait hubungan Sukarno dengan RMP Sosrokartono, memang sangat sedikit buku sejarah yang mencatatnya. Bagi Sukarno, Sosrokartonoyang poliglot itu, tak hanya sekadar guru bahasanya, melainkan juga guru spiritual yang memang ia akui. Posisi penting Sosrokartono itu bisa kita amini ketika Sukarno dan tiga pembelanya di Landraad (Pengadilan) Bandung pada 18 Agustus 1930, ketika membacakan “Indonesia Klaagt Aan” (Indonesia Menggugat), yang ia susun di Penjara Banceuy, mendatangi rumah sekaligus balai pengobatan Sosrokartono—semalam sebelum putusan pengadilan dijatuhkan.

Kedatangan mereka secara diamdiam itu, ternyata telah diketahui lebih dulu oleh Sosrokartono melalui mukasyafah-nya. Di dalam rumah, telah disediakan empat bangku kosong. Sedang Sosrokartono telah duduk mendahului tamunya. Sebelum para tamu yang gelisah itu angkat bicara, tuan rumah seketika berujar.

“Sukarno adalah seorang satria. Pejuang seperti satria boleh saja jatuh, tetapi ia akan bangkit kembali. Waktunya tidak lama lagi.”

Apa yang terjadi keesokan harinya? Sukarno dijatuhi hukuman empat tahun penjara. Paling berat di antara tiga kawan seperjuangannya, Gatot Mangkupraja, Maskun, dan Supriadinata, yang hanya diganjar hukuman separuh dari waktu yang harus dilalui Sukarno. Meski mereka berupaya mengajukan banding ke Raud van Justitie (Pengadilan Tinggi), namun hasilnya nihil. Hukuman Sukarno telah mantap dikukuhkan.

Laman: 1 2 3 4


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: