Pesan “Bumi Manusia”

Saya baru saja nonton “Bumi Manusia” karya Hanung Bramantyo. Film ini bagus banget, natural, dengan bahasa Belanda, Perancis, Jawa, Melayu, Madura sesuai peran setiap tokoh. Film ini sangat layak ditonton oleh anak milenial yang tak biasa baca roman tebal, belum kenal Pramoedya Ananta Toer, atau tidak tahu sejarah pergerakan bangsa.

Film ini sebaiknya juga ditonton keluarga besar aparat militer, keamanan dan kejaksaan, agar mereka tahu bagaimana sesungguhnya roman Pram yang dikomuniskan oleh rezim Orde Baru.

Dari tontonan tiga jam tersebut, saya simpulkan beberapa pelajaran penting, antara lain :

1. Inti peradaban Eropa terletak pada pemuliaan harkat dan martabat manusia. Hal ini terpatri pada sikap “adil sejak dalam pikiran” sebagaimana petuah Jean Marais. Tanpa itu semua, manusia Eropa hanya mahkluk rasis, tamak, dan brengsek.

2. Perubahan sosial hanya dapat dilakukan oleh kelas menengah yang terpelajar, bukan kelas alit tak terdidik. Kesadaran kelas kaum elite ini akan berdampak kepada bunuh diri kelas, keluar dari privilese dan zona nyaman, dengan mengutamakan perjuangan bangsanya yang mayoritas alit.

3. Kemampuan jurnalistik dan bahasa asing merupakan keahlian utama saat pergerakan fisik mengalami kendala. Seperti kata Minke usai pengadilan Nyai Ontosoroh yang tak adil, “Saatnya perjuangan pena dengan tinta darah”.

4. Interaksi langsung dengan kaum tertindas, pengalaman hidup penuh diskriminasi, penghinaan sebagai pribumi, menancapkan tekad untuk bebas dari segala bentuk penindasan. Semua ini harus dialami sendiri, tidak bisa ditransfer melalui kisah atau konsep.

Di luar itu ada sedikit ganjalan teknis, antara lain :
1. Asap kereta api berwarna putih. Padahal asap batu bara biasanya hitam.

2. Mahar Minke kepada Annelies disebutkan berupa cincin dan seperangkat alat salat. Memang, orang Indonesia umumnya memahami mahar sebagai perhiasan emas. Nah, seharusnya berat cincin disebutkan berapa gram sebab mahar itu harus detail. Bila tidak tahu, sebaiknya adegan ini dipotong saja. Sedangkan mahar seperangkat alat salat itu baru muncul pada era 1980-an seiring merebaknya gerakan pengajian (harakah).

3. Minke sempat lontarkan kata “Ntar”, kependekan dari “sebentar”. Kata ini khas bahasa Betawi, sedangkan bahasa pergaulan Minke adalah Belanda, Jawa, dan Melayu.

[Andito Sukahar]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s