Pejalan Spiritual

Setiap pejalan, dalam arti harfiahnya, pasti orang yang belum sampai tujuan. Termasuk pejalan spiritual (salik/traveller). Bila ada salik yang mengaku “Aku sudah sampai pada tahap atau maqam itu” sesungguhnya dia telah bohong. Kontradiksi dengan posisinya yang masih sebagai pejalan spritual.

Pengalaman spiritual yang salik terima bisa jadi hanya berupa gambaran atau petunjuk, bukan hasil (reward) “spiritual”. Sehingga dia tidak bisa mengklaim bahwa apa yang dia alami dan saksikan adalah “Ini buah perjalananku” atau “Ini adalah maqamku” atau “Aku sudah di level sekian”.

Seringkali tergelincirnya seorang salik berawal dari klaim dari orang yang dianggap atau diangkat sebagai “murabbi” atau “mursyid”. Dia klaim apa yang dia peroleh sebagai sebuah kebenaran sehingga memperkuat otoritas spiritualnya di hadapan murid-muridnya. Hal ini sering terjadi di dunia tasawuf Sunni.

Berbeda dengan dunia spiritual Syiah (Ahlulbait) yang sudah selesai pada kemaksuman 12 pemuka Ahlulbait Nabi. Sehingga siapapun selainnya tidak punya otoritas bahwa dirinya telah sampai pada maqam spiritual tertentu. Dunia suluk Syiah tidak mengenal seleb sufi atau mistikus.

Sesungguhnya klaim spiritual itu hanya terjadi dalam ranah komunikasi saja, tahap paling dasar perilaku manusia. Sedangkan orang spiritual yang sudah sampai mustahil mengaku bahwa dirinya telah sampai. Sebab segala maqam yang dia peroleh hanya untuk diri pribadinya, bukan untuk diumbar ke publik.

Muhammad bin Abdullah tidak pernah mengklaim spiritualitasnya selama dia suluk di Goa Hira. Dia baru mengklaim diri sebagai Nabi setelah diperintahkan oleh Allah SWT. Kalau ada seorang tokoh punya klaim spiritual otoritas seperti yang Nabi lakukan, harus diperiksa validitasnya. Kemungkinan besar dia bohong.

Ayatullah Ruhullah al-Musawi Khomeini, misalnya, tak sekalipun menulis bahwa dirinya telah berada pada tahap maqam spiritual tertentu. Naskah-naskah mistik yang dia tulis atau komentari selalu ditekankan “mungkin maksudnya adalah…” atau “penulis belum sampai pada tahap yang dia tulis”.

Meskipun otoritas spiritual hanya milik pemuka Ahlulbait as, Imam Khomeini menekankan agar kita tak mudah menghakimi dimensi mistik yang kita tidak ketahui atau karya dari seorang tokoh sufi. Apalagi yang menyangkut segala nasehat baik. Oh iya, gelar imam pada Ayatullah Khomeini bukan gelar kemaksuman melainkan posisi sebagai wali fakih, pemimpin umat Islam dalam urusan sosial politik.

Maqam spritual itu proses ikhtiyari, hasil usaha, bukan takwini yang terima jadi. Klaim keturunan (dzuriyyah) tidak berlaku sama sekali. Mereka bisa siapa saja. Karena itu kita dilarang untuk merendahkan siapapun. Sebab siapa tahu kedudukannya di mata Allah SWT luar biasa. [Andito Sukahar]

*) Hasil obrolan dengan Imam Hazairin, penggagas sistem informasi sekolah jibas.net, pada Sabtu sore 26 Januari 2019. Dimuat di Twitter @anditoaja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s