Spiritualitas Jawara

Namanya Ujang, bekerja di pelabuhan Tanjung Priok. Dia dikenal sebagai jawara, menang keturunan jawara, terutama dari garis uwaknya, kakaknya ibu. Uwak jago pengobatan patah tulang tapi tidak suka dipublikasikan, tidak mau pasang tarif. Uwak punya perguruan silat. Seperti leluhurnya yang berasal dari Cianjur Selatan, suka melanglang buana mencari ilmu kedigdayaan. Kehidupan di dunia persilatan, datangi yang jago untuk dites. Kalau kalah, ikut berguru.

Uwak itu pendiam, tenang. Tapi kalau sudah diajak ngobrol, bisa semalaman. Uwak pernah menasihati, ”Di dunia ini ada manusia rusak dan ada manusia baik. Ada juga manusia yang biasa-biasa saja. Lu pilih yang mana? Lu jago, punya ilmu banyak tapi lu bawanya gak bagus, sama aja gak baik. Banyak jawara yang matinya begitu aja.”

Uwang sering didatangi tamu. Kalau uwak sakit, murid-muridnya yang jauh bisa tahu. Bila bulan Maulid tiba, murid-muridnya datang membawa bingkisan, penganan. Panji, jawara kondang asal Tangerang, cium tangan uwak bila datang saat Muludan.

Hingga kini, tahun 2009, Ujang tidak mendapat ilmu silat uwaknya karena dianggap belum cocok. Nampaknya uwak bisa meraba, kalau Ujang diberi ilmu, bawaannya mau menguji orang melulu.

Ujang meyakini bahwa pada akhirnya semua akan kembali kepada Allah SWT. Semua ilmu dari Allah. Asal kita yakin maka semua ilmu akan sirna, netral. Apalagi kalau niatnya karena Allah, hajat untuk kebaikan.

Ujang tidak suka kesadaran ini dipaksakan. Karena itu dia tidak suka pelatihan yang memanipulasi emosi peserta sehingga mereka tiba-tiba menjadi orang suci. Menurutnya, model pelatihan yang mengolah emosi itu cara mengajar yang tidak baik, tidak efektif. Buat apa mereka menangis di dalam ruangan tapi berbuat dosa di luar.

Katanya, ”Kalau kita masih doyan setan, artinya senang maksiat, sebaiknya jangan ikut training spiritual. Jangan sampai tobat hanya di bibir. Tiap salat sebut nama Allah tapi kelakuan seperti setan. Buat apa menangis setiap hari tapi di hatinya masih ada dengki dan sirik sama orang lain. Beda kalau orang sudah pasrah, ia seperti terbang, enteng.”

Dia pernah mengikuti pelatihan kecerdasan spiritual di sebuah lembaga motivasi ternama. Lembaga ini mampu membuat gedung sendiri di TB Simatupang. Katanya, ”Pelatihan spiritual itu terlalu mengada-ada. Bila orang mau taubat nasuha, ada jalannya. Buat apa mengondisikan hati agar terbuka. Hati kok dibuka, ya dibelah saja.”

Selama training berlangsung, dia suka mengganggu peserta lainnya. Pada salah satu sesi, dia menarik kaki orang yang sudah mau menangis. Orang itu jadi mengomel, konsentrasinya buyar.

Hari terakhir training, Ujang mendengar kabar temannya meninggal. Dia minta izin pulang sambil mengajak kawan-kawannya melayat. Manajer HRD kantornya ngomel. Ujang malah marah. Orang meninggal kok tidak ditengok. Ujang tetap tinggal training. Dia tetap dapat sertifikat. Nilainya sama dengan peserta lain yang tidak ikut seluruh sesi. Ujang menyimpulkan, berarti training tersebut bohong, manipulatif. [Andito]

 

Priok, 5 Agustus 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s