Sejarah Maula

Indonesia adalah fenomena pasar tumpah. Segala macam barang, baik yang materiil hingga ideologis terpapar di depan mata masyarakat. Sebagian besar asal mengenakannya tanpa reserve, tidak peduli hakikat di balik semua itu. Sebagian lagi berekspresi apriori, selalu menilai negatif bahwa segala sesuatu yang berbeda dengan kehendak asalnya adalah jelek dan mesti dimusnahkan.

Golongan pertama adalah masyarakat yang mengambang (floating mass), yang hanya bisa memamah apa pun tanpa bisa menilai secara kritis. Mereka tidak memerlukan nasehat-nasehat yang rumit dan meresahkan. Mereka hanya terima beres. Yang penting enak, kenyang, simpel. Inilah tipikal masyarakat tontonan yang tidak menyadari bahwa kebesaran bangsa ini, di mana mereka termasuk entitas di dalamnya, juga bergantung dengan kesadaran mereka atas beragam realitas ini.

Di pihak lain adalah kelompok yang ‘selalu marah’. Mereka suka mempertentangkan segala realitas sosial ini dengan segala sakralisasi nilai ketuhanan yang mereka pahami secara sepihak. Mereka ini biasanya diwakili oleh kelompok/organisasi keberagamaan, yang sebenarnya bukan representasi mayoritas warga Indonesia yang moderat. Tapi karena akses dan kepentingan media untuk menampilkan segala hal ‘yang aneh’, suara mereka menjadi besar dan menakutkan.

Fenomena keberagamaan saat ini memang memancing banyak respon dari berbagai pihak, baik positif maupun negatif. Yang jelas, hal ini akan merusak iklim investasi dan transformasi nilai yang berujung pada kehancuran bangsa Indonesia dalam seluruh aspeknya.

Seluruh nilai universal yang diturunkan untuk Sang Pencipta dan selanjutnya mewujud dalam beragam sistem kepercayaan dan keyakinan, sudah seharusnya membawa kebaikan bagi umat manusia dan alam semesta. Tuhan Yang Mahabaik dan Mahakasih pasti tidak menginginkan Nama-Nya menjadi rebutan beragam kelompok dan berakibat malapetaka bagi yang lain.

Republik Indonesia – sebuah negara dengan kondisi geografis yang sangat strategis, sejarah peradaban masa lampau yang menakjubkan, kearifan budaya yang begitu mendalam – haruslah dengan sadar menghindari berbagai praktik kekerasan terhadap sesama manusia. Apapun dalihnya.

Pada akhir 2000 di Bandung, beberapa lulusan muda ITB, Unpad dan IKIP membincangkan potensi mengkhawatirkan apabila kondisi majemuk bangsa ini tidak dipertahankan. Mereka menyadari benar bahwa kaum fundamentalis mempunyai kerja-kerja organisasi dan ideologi yang lebih solid dan sistemik. Menghadapi mereka tidak bisa hanya dengan berdoa. Apalagi ketika doa itu pun dianggap milik mereka sebagai pemilik seluruh kebenaran di dunia ini.

Maka, membangun sebuah lembaga yang bisa memberi inspirasi dan memperkuat nilai-nilai universal dan plural adalah tindakan yang pertama mesti dilakukan. Dengan sistem kurikulum advokasi yang dialogis, reflektif dan mencerahkan dan jaringan kerja dengan sesama pencinta perdamaian diharapkan muncul kesadaran gerak pada masyarakat mulai dari pencerahan kosmik, kesetaraan, kemajemukan, dan kesejahteraan. Untuk hal inilah MAULA dilahirkan.[]

Responses

  1. Alangkah bahagianya kita semua, apabila kita menyadari atas perbedaan2 yang ada yang bisa menyatukan gerak langkah kita untuk menuju cita2, tengtang keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. # Selamat berjuang, maju terus smoga sampai tujuan #

    • terima kasih

  2. diluar bahasa adalah kesunyian.dan sampailah aku diluar kebahasaan,sepi…hampir-hampir aku tersesat didalamnya.terimakasih niscaya aku menemukan pelita-Mu

  3. nak ade anak baru mestilah kan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: