Agama

Spiritualitas Jawara

Namanya Ujang, bekerja di pelabuhan Tanjung Priok. Dia dikenal sebagai jawara, menang keturunan jawara, terutama dari garis uwaknya, kakaknya ibu. Uwak jago pengobatan patah tulang tapi tidak suka dipublikasikan, tidak mau pasang tarif. Uwak punya perguruan silat. Seperti leluhurnya yang berasal dari Cianjur Selatan, suka melanglang buana mencari ilmu kedigdayaan. Kehidupan di dunia persilatan, datangi yang jago untuk dites. Kalau kalah, ikut berguru.

(lebih…)

Sikap Plural Muhammad Ali

Muhammad Ali: “Ibuku seorang Baptis, dan ketika saya besar, ia mengajari segala yang ia ketahui tentang Tuhan. Setiap Minggu, ia mendandani saya, dan membawa saya dan abang saya ke gereja. Ia mengajari kami hal-hal yang dianggapnya benar. Ia mengajari kami supaya mencintai sesama dan memperlakukan siapa pun dengan baik. Ia mengajari kami bahwa berprasangka dan membenci itu salah. Ketika saya beralih agama, Tuhan ibuku tetap Tuhan saya hanya menyebutnya dengan nama yang lain. Dan pandangan tentang ibu saya tetap seperti yang saya katakan jauh sebelumnya. Dia baik, gemuk, perempuan menawan yang suka memasak, makan, menjahit, dan senang berada bersama keluarga. Ia tidak minum, merokok, dan mencampuri urusan orang, atau menggangu siapa pun. Tak seorang pun lebih baik kepadaku sepanjang hidupku, kecuali dia.” (Tempo, edisi 1 Agustus 1992).

Korek Api Muhammad Ali

“Aku tidak merokok, namun aku menyimpan kotak korek api dalam sakuku.

Apabila hatiku terjatuh untuk melakukan perbuatan dosa, aku nyalakan korek api tersebut lalu ku sundutkan ke telapak tanganku.

Kemudian aku berkata pada diriku, “Ali, kamu tidak bisa menahan walau hanya panas sebatang korek api ini, bagaimana kamu mampu tahan dengan panas api neraka yang tidak tertahankan nanti?”

(Muhammad Ali) (lebih…)

Makna Asyura bagi Ahlusunnah dan Syi’ah

Teks: Dr. KH. Said Aqil Siradj
Kita semua telah mengetahui bahwa cucu Rasulullah Saw dari Sayyidah Fathimah az-Zahra yaitu Al Hasan dan Al Husain, keduanya akan menjadi pemimpin pemuda surga, dua orang pemuda yang sudah dipastikan masuk surga. Hendaknya umat Islam mencontoh dan mengambil teladan dari kedua tokoh tersebut, dari kedua pemimpin kita semua. Baik dilihat dari nash Al Quran dan Al Hadits maupun dilihat dari sejarah, kita seharusnya menghayati apa arti Asyura, apa arti peristiwa Karbala ini sebagai mas’alatil Islam wal muslimin, sebagai tragedi yang menimpa umat Islam dan ajaran Islam itu sendiri.

Walaupun ada beberapa pihak yang tidak senang dengan adanya acara ini, itu karena mereka melihatnya dengan sepotong-sepotong, hanya melihat dari aspek politik saja. Tetapi bagi kita yang masih memiliki hati nurani yang ikhlas dan iman yang cukup ideal, kita mencintai hari ini, acara ini, bukan karena kepentingan, politik, target, atau apapun yang bersifat duniawi, tapi kita betul-betul melihat peristiwa Karbala sebagai peristiwa adzim, salah satu peristiwa agama. Sama seperti peristiwa lahirnya Nabi Muhammad, Nuzulul Quran, Lailatul Qadr, Yaumil Arafah, demikian pula peristiwa Karbala merupakan peristiwa agama.
(lebih…)

Teologi Kurban dan Etika Pejabat Publik

Syahrul Kirom

Tanggal 15 Oktober 2013, seluruh umat Islam merayakan hari raya Idul Adha 1434 H. Sudah seharusnya umat Islam mampu merefleksikan secara filosofis dan komprehensif tentang makna kurban. Ibadah kurban yang dilakukan umat Islam mempunyai nilai berarti (meaningful) dalam dirinya. Dalam bahasa Arab, kurban atau “udhhiyah” atau “dhahiyyah” secara harfiah berarti hewan sembelihan. Ritual kurban merupakan salah satu ritual ibadah pemeluk agama Islam, ketika dilakukan penyembelihan binatang ternak, seperti kambing, sapi, unta, kerbau untuk dipersembahkan kepada Allah.

Secara historis, Ibadah kurban ini dilakukan ketika Nabi Ibrahim, melalui mimpinya yang diturunkan dari Allah SWT, untuk menyembelih anaknya, Ismail. Perintah itu berarti ujian bagi Nabi Ibrahim untuk merelakan putranya demi mencapai ketaqwaan dan ridha dari Allah SWT. Pada akhirnya, penyembelihan anaknya itu diganti Allah dengan seekor kambing. (lebih…)

Zakat, Korupsi dan Kemiskinan

Oleh: Maksun

Harta yang diperoleh dari praktik korupsi selamanya tidak akan pernah tersucikan dengan zakat.

Sudah menjadi semacam konvensi di setiap bulan Ramadan umat Islam diserukan untuk membayar zakat (fitrah dan mal) yang diperuntukkan bagi mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Secara normatif-teologis, Islam memang mewajibkan kepada kalangan yang mampu (aghniya-muzakki) untuk peduli dan membantu sesamanya yang kekurangan (fuqara-mustahiq), melalui kosep zakat. Ini sekaligus menunjukkan keseriusan doktrin Islam terhadap upaya penciptaan keadilan sosial melalui ritual zakat.

Secara aktual, keadilan sosial (social justice) dapat diwujudkan dengan menciptakan tatanan sosial yang bebas dari praktik korupsi dan jauh dari penyakit kemiskinan. Lalu, sejauh mana relevansi dan signifikansi zakat jika dikaitkan dengan upaya pemberantasan korupsi dan pengentasan kemiskinan?

(lebih…)