Nasionalisme

Ekspansionisme Digital Vs Proteksionisme Digital

europe-and-the-internet-its-complicated-29-638“Kita sudah memiliki internet. Perusahaan- perusahaan kitalah yang menciptakan, mengembangkan, dan menyempurnakannya. Perusahaan-perusahaan Eropa, seperti yang Saudara tahu, tak dapat berkompetisi dengan internet kita, sedang mencoba membangun jalan pengadang.”

Demikian The Financial Times edisi 16 Februari 2016 mengutip Presiden Barack Obama menanggapi sikap Uni Eropa yang ramai- ramai memblokade ekspansi bisnis korporasi digital Lembah Silikon California. (lebih…)

Iklan

Hatta dan Program Rasionalisasi Tentara

 

TRI20Di era kolonial, sebelum Indonesia lahir sebagai sebuah entitas ‘negara’, laskar-laskar muncul untuk membela dan mempertahankan tanah kelahiran mereka. Laskar-laskar itu berjuang dengan sangat gigih, berkonfrontasi dengan para penjajah yang menindas penduduk di wilayahnya. Walau dengan persenjataan yang ala kadarnya, laskar-laskar itu tidak takut dalam menghadapi lawan yang memiliki persenjataan lebih canggih dan modern pada saat itu. (lebih…)

Kebiadaban Rezim Soeharto di Sumatera Barat dan Riau

PROPAGANDA bohong, fitnah dan rekayasa yang dilakukan oleh orang-orangnya Suharto melalui media massa, mulai 1 Oktober 1965, segera memicu kemarahan dan kebencian massa organisasi-organisasi yang sebelumnya memilih politik yang berseberangan dengan PKI dan ormas-ormas kiri pada umumnya. Terutama mereka yang mempunyai kepentingan yang berbeda, seperti dalam pelaksanaan land reform pada awal tahun 60-an. PKI mendukung land reform tapi banyak kekuatan politik yang menentang reformasi pertanahan pada waktu itu. Ini masih ditambah dengan penyebaran isu-isu bohong bahwa PKI sudah lama berencana mengambil alih pemerintahan yang sah dan membuat daftar nama ulama dan tokoh masyarakat yang akan dibunuh setelah mereka menang. Situasi panas ini dimanfatkan sebaik-baiknya oleh golongan keagamaan, terutama NU, Muhammadiyah, dan Partai Katolik untuk membentuk Kesatuan Aksi Pengganyangan Gerakan 30 September (KAP Gestapu), di bawah pimpinan Subchan Z.E. (NU) dan Harry Tjan Silalahi (Katolik), yang melalui Adam Malik mendapat curahan Rp50 juta (sekitar US$ 1,2 juta, menurut tukaran saat itu-pen) dari Kedubes AS di Jakarta untuk mengganyang PKI. (lebih…)

Sekali Berarti Sudah Itu Mati

Oleh: Mohamad Sobary*

Maju
Bagimu Negeri

Menyediakan api

-Chairil Anwar

Seluruh Nusantara pernah bergolak. Daerah demi daerah melawan penjajah. Pahlawan demi pahlawan gugur. Terlalu banyak pahlawan kita. Pangeran Diponegoro salah satu yang paling gigih; paling militan. Beliau—dalam puisi Chairil—“berselempang semangat yang tak bisa mati”. Semangat jihad sejati, membela Tanah Air, membela bangsa, yang terinjak-injak kaum penjajah bangsa asing, yang serakah, dan durjana. (lebih…)

Merenungkan (Kembali) Nasionalisme Kita

Abdul Hadi WM

Nasionalisme adalah sebuah tuntutan politik. Setiap bangsa berhak menuntut kedaulatan atas negeri tempatnya tinggal selama berabad-abad berdasarkan alas an-alasan budaya, ekonomi dan kemasyarakatan. Sebagai dasar dan tujuan berdirinya negara republik Indonesia, asas nasionalisme  tercantum dalam Pancasila sebagai sila ketiga, yaitu Persatuan. Sebagai dasar ideology Negara Pancasila sepatutnya menjadi acuan kerangka kita dalam membangun kehidupan berbangsa. Sebbab selain dipandang sebagai dasar ideology Negara, Pancasila telh ditetapkan sebagai sumber hukum oleh MPR dan juga senantiasa dipandang sebagai paradigma budaya dalam melaksanakan semboyan Negara “Bhinneka Tunggal Ika”.

Pada mulanya kelima sila atau asas yang tercantum di dalamnya itu merupakan usulan Bung Karno pada Sidang Badan Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPKI) pada bulan Juni 1945. Lima asas itu ialah nasionalisme, internasionalisme atau kemanusiaan, demokrasi, keadilan social, dan last but not least – terakhir tetapi bukan tidak penting – ialah kepercayaan kepada Tuhan yang Maha Esa. Dari segi politik Pancasila sering dipandang sebagai bentuk rekonsiliasi dan sintesa dari tiga arus politik utama di Indonesia, yaitu nasionalisme, Islam dan sosialisme (Ruslan Abdulgani 1976) (lebih…)

Sejarah 1 Oktober 1965

Bagi Indonesia, tahun 1965 merupakan suatu tahun yang luar biasa penting. Sebab saat itu adalah tahun terjadinya peristiwa 1 Oktober 1965, yang memutar balik proses sejarah perkembangan Negara ini. Sejarah Indonesia sendiri pada masa Orde Baru Soeharto adalah merupakan penjaga kekuasaan bagi rezim yang berkuasa dalam hal ini termasuk ketika rezim Orde Baru memaknai tafsir mengenai peristiwa tragedi nasional 1 Oktober 1965 yang berujung kepada kesimpulan bahwa PKI menjadi pihak yang paling bertanggung jawab atau dalang atas semua kejadian berdarah yang berujung pada tragedi pembunuhan massal yang diperkirakan menghilangkan nyawa setengah hingga satu juta nyawa orang Indonesia oleh orang Indonesia sendiri. (lebih…)