Pancasila

Sejarah 1 Oktober 1965

Bagi Indonesia, tahun 1965 merupakan suatu tahun yang luar biasa penting. Sebab saat itu adalah tahun terjadinya peristiwa 1 Oktober 1965, yang memutar balik proses sejarah perkembangan Negara ini. Sejarah Indonesia sendiri pada masa Orde Baru Soeharto adalah merupakan penjaga kekuasaan bagi rezim yang berkuasa dalam hal ini termasuk ketika rezim Orde Baru memaknai tafsir mengenai peristiwa tragedi nasional 1 Oktober 1965 yang berujung kepada kesimpulan bahwa PKI menjadi pihak yang paling bertanggung jawab atau dalang atas semua kejadian berdarah yang berujung pada tragedi pembunuhan massal yang diperkirakan menghilangkan nyawa setengah hingga satu juta nyawa orang Indonesia oleh orang Indonesia sendiri. (lebih…)

Iklan

Empat Pilar Berkebangsaan dan Bernegara

PENGANTAR

Dalam berbagai wacana selalu terungkap bahwa telah menjadi kesepakatan bangsa adanya empat pilar penyangga kehidupan berbangsa dan bernegara bagi negara-bangsa Indonesia. Bahkan beberapa partai politik dan organisasi kemasyarakatan telah bersepakat dan bertekad untuk berpegang teguh serta mempertahankan empat pilar kehidupan bangsa tersebut. Empat pilar dimaksud dimanfaatkan sebagai landasan perjuangan dalam menyusun program kerja dan dalam melaksanakan kegiatannya. Hal ini diungkapkan lagi oleh Presiden RI Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, pada kesempatan berbuka puasa dengan para pejuang kemerdekaan pada tanggal 13 Agustus 2010 di istana Negara.

Empat pilar tersebut adalah (1) Pancasila, (2) Undang-Undang Dasar 1945, (3) Negara Kesatuan Republik Indonesia dan (4) Bhinneka Tunggal Ika. Meskipun hal ini telah menjadi kesepakatan bersama, atau tepatnya sebagian besar rakyat Indonesia, masih ada yang beranggapan bahwa empat pilar tersebut adalah sekedar berupa slogan-slogan, sekedar suatu ungkapan indah, yang kurang atau tidak bermakna dalam menghadapi era globalisasi. Bahkan ada yang beranggapan bahwa empat pilar tersebut sekedar sebagai jargon politik. Yang diperlukan adalah landasan riil dan konkrit yang dapat dimanfaatkan dalam persaingan menghadapi globalisasi.
(lebih…)

Tragedi Syiah Sampang dan Problem Pluralisme Internal

Aksi Menolak Pengusiran Warga Syiah Sampang

Oleh Mamang M. Haerudin

Akeh kang apal Qur’an hadise, seneng ngafirke marang liyane, kafire dewek ndak digetekke, yen isih kotor ati akale”—Syiir Tanpo Waton Gus Dur

 

Sebagai seorang yang sejak lahir, tumbuh kembang dan dibesarkan dalam tradisi Ahl Sunnah wa al-Jama’ah (Sunni, NU), saya sungguh amat sedih tatkala menyaksikan tindak kekerasan dan intoleransi—dalam konteks ini—yang melibatkan seteru Sunni-Syiah, sepekan ke belakang di Sampang, Madura. Selain hal ini merugikan keduanya, juga telah mencederai nilai luhur Islam itu sendiri, sebagai agama yang cinta damai. Ini satu bukti bahwa kita telah gagal memaknai hak kebebasan beragama dan berkeyakinan, sebagai hak yang paling asasi dalam kehidupan manusia. Lepas dari disengaja atau tidak, kita seakan telah melupakan bahwa perbedaan di antara umat adalah rahmat. Rahmat sebagai anugerah dan keniscayaan dari Tuhan yang senantiasa wajib kita syukuri dan songsong, keberadaannya. (lebih…)

Runtuhnya Karakter Bangsa dan Urgensi Pendidikan Pancasila

Oleh: Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si

Runtuhnya karakter bangsa Indonesia  yang mengemuka belakangan ini seperti terlihat pada memudarnya sikap toleran dan menghormati nilai-nilai pluralisme sehingga kekerasan begitu mudah terjadi  serta sikap tidak setia pada negara dalam bentuk  munculnya  gerakan untuk mendirikan negara berlandaskan agama seperti NII ditengarai ada sesuatu yang tidak beres  (there is something wrong) dalam  praktik  penyelenggaraan pendidikan kita, mulai jenjang pendidikan dasar hingga perguruan tinggi.  Berbagai bentuk anomali sosial dan anarkisme seperti tawuran, perusakan sarana publik, penipuan,  pelecehan seksual  hingga pembunuhan  dan berbagai bentuk  penyimpangan moral lainnya menjadi bukti konkret memudarnya nilai-nilai luhur yang selama ini melekat pada bangsa ini.

Anehnya, terhadap berbagai bentuk penyimpangan seperti itu sebagian masyarakat menyikapinya biasa-biasa saja (Kompas, 17/6/2011). Sanki sosial tak berlaku lagi dan sebagian masyarakat membiarkan,  bahkan apatis ketika penyimpangan yang sistematis di berbagai lini kehidupan hukum, pemerintahan, maupun pendidikan itu sendiri. Lebih tragis lagi, beberapa waktu terakhir ini  ada gejala sangat aneh bahwa petugas keamanan seperti polisi justru menjadi sasaran kekerasan, bahkan pembunuhan, para petugas hukum malah yang paling banyak melanggar hukum, hakim yang tugasnya menjadi benteng penegak keadilan justru mempertontonkan praktik ketidakadilan, kampus sebagai tempat para intelektual yang seharusnya menjunjung nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi dan menjauhi anarkisme juga tak luput dari aksi anarkis seperti  perusakan  laboratorium, ruang kuliah, perkantoran, intelektual yang mestinya mengedepankan argumentasi dengan nalar logis dalam menyelesaikan persoalan seolah melupakan etika akademik yang menjadi bagian kehidupannya. Semua menjadi tontonan gratis yang memilukan. (lebih…)

Sedikit Fakta tentang G 30 S/ PKI; Kesaksian Dokter Arif yang Melakukan Otopsi

dr. Arif (Lim Joe Thay) anggota tim forensik yang mengotopsi jenazah para petinggi TNI yang menjadi korban pada 30 September

dr. Arif (Lim Joe Thay) anggota tim forensik yang mengotopsi jenazah para petinggi TNI yang menjadi korban pada 30 September

INI sudah bulan September. Beberapa hari lagi saya (maksudnya adalah pemilik blog) ingin menuliskan hasil visum et repertum enam jenderal dan seorang perwira pertama Angkatan Darat yang tewas dinihari 1 Oktober 1965.

Jelas ini bukan barang baru. Beberapa tahun lalu, Benedict Anderson telah menggunakan hasil visum et repertum ini sebagai rujukan dalam artikelnya di jurnal Indonesia Vol. 43, (Apr., 1987), pp. 109-134, How Did the Generals Die?

Saya mendapatkan copy visum et repertum itu dari Dandhy DL, jurnalis RCTI. Tahun lalu, dia juga menurunkan liputan mengenai dr. Arif dan visum et repertum ketujuh pahlawan revolusi korban, meminjam istilah Bung Karno, intrik internal Angkatan Darat dan petualangan petinggi PKI yang keblinger, serta konspirasi nekolim. (lebih…)

Bagaimana Seharusnya Seorang Pancasilais?

Ada beberapa pemikiran yang sangat mengelitik penulis. Pemikiran-pemikiran tersebut misalnya ingin merubah ideologi pancasila dengan ideologi Khilafah, penulis anggap mereka adalah ekstrem kanan karena memakai simbol agama dalam hal ini adalah agama penulis sendiri yaitu Islam atau mereka yang justru ingin memaksa Negara Indonesia menjadi Negara Sekuler dengan cita-cita pertamanya adalah meniadakan Departemen agama kemudian menghapuskan identitas agama di Kartu Tanda Penduduk dengan alasan kebebasan yang ke bablasan….penulis anggap mereka adalah ekstrem kiri.

Dari pemikiran-pemikiran tersebut di atas, penulis mengajak kepada para pembaca untuk merenungkan Pancasila yang merupakan jati diri bangsa Indonesia yang merupakan hasil kesepakatan dari para founding fathers kita baik dari golongan nasionalis maupun golongan agama dalam hal ini agama Islam. Pancasila adalah jalan tengah dari berbagai macam suku dan agama yang ada di Indonesia. Pancasila adalah pemersatu dari perbedaan-perbedaan cara berpikir kita. (lebih…)