Perempuan

Perempuan-perempuan Istri Arjuna

Karya sastra Jawa klasik, Serat Candrarini berbentuk puisi tembang macapat berbahasa Jawa baru. Ditulis pada hari kamis, 7 Jumadilakir tahun be 1792 Jawa oleh Raden Mas Ranggawarsita, atas perintah Paku Buwana IX di Surakarta. Tokoh-tokoh yang ditampilkan adalah para istri Arjuna, yakni : 1. Sumbadra 2. Dewi Ulupi 3. Ratna Gandawati 4. Dewi Manohara dan 5. Srikandi. Tokoh yang ditampilkan berperangi positif, sebab para istri arjuna tersebut mempunyai karakter yang berlainan. Dilihat dari segi isinya merupakan ajaran yang ditujukan kepada kaum wanita, khususnya wanita jaman dulu yang mengabdikan hidup pada perkawinan poligami.

Didalamnya termuat contoh-contoh sifat dan tingkah laku yang dimiliki oleh kelima orang wanita ( istri ) Arjuna. Dari kelima istri Arjuna itu, yang tiga orang merupakan anak seorang raja, yang berarti mempunyai pengaruh positif kepada pemerintahan dan kehidupan duniawi. Yang dua orang istri lainnya merupakan anak pendeta atau biksu yang berarti memiliki karakter dan pribadi yang luhur. Selain memiliki karakter yang berbeda, kelima istri tersebut selalu menghargai kepada temen-temen selir, dan menganggapnya sebagai saudara sendiri yang saling hidup berdampingan dengan rukun dan damai sebagai wanita yang dikatakan berhasil dalam perkawinan, mereka memiliki sifat sabar “ rela “ dan narima “ menerima dengan bersyukur. (lebih…)

Iklan

Biarkan Mereka Berjuang

Dari pergerakan Kebangkitan-kebangkitan yang muncul dengan bergeraknya jaman muncullah kelahiran gerakan baru di sekitar tahun tujuh puluhan. Salah satunya adalah Pergerakan wanita yang lebih di kenal dengan gerakan feminisme.
——- Feminisme lahir dalam berbagai macam pandangan seperti adanya kezaliman terhadap wanita (dalam segala bidang) yang biasa dijadikan sebagai tolok ukur bangkitnya gerakan feminisme. Namun penjelasan mereka tentang sebab terjadinya kezaliman dan langkah-langkah solusi, serta ide-ide yang mereka kemukakan berbeda-beda.—— (Oleh: Khairi Fitrian Jamalullail, – Hak-Hak Perempuan dalam Perspektif Imam Khomeyni (ra) ) (lebih…)

Kecantikan; Aset Pribadi Perempuan yang Dikomersialisasi

Wajah sebagai sesuatu fisik yang unik dan publik menjadi simbol utama diri seseorang. Unik karena wajah bersifat privat, tidak ada dua wajah yang seratus persen identik meski dari dua orang terlahir kembar. Publik karena wajahlah yang dijadikan identitas untuk memperkenalkan kepada orang lain, seperti pembuatan kartu identitas. Wajah juga menggambarkan ras, usia, suasana hati dan bahkan status sosial ekonomi. Wajah telah memasyarakat menjadi tolak ukur atas status diri dan membedakan prestise seseorang dengan orang lainnya.

Perkembangan makna sosial terhadap wajah sebenarnya telah melahirkan pula bentuk-bentuk eksploitasi terhadapnya. Makna wajah lebih identik dengan makna fisiknya. Bahwa wajah yang cantiklah yang bisa dikatakan bagus. Padahal cantik atau ganteng itu sendiri sangat subjektif. Nilai kecantikan telah dijadikan eksploitasi ekonomi secara besar-besaran terutama oleh para kapitalisme yang bergerak di bidang kosmetik dan alat-alat kecantikan. Sehingga merias (fisik) menjadi kebutuhan dasar manusia untuk memperbaiki diri. Industri kosmetik ini tentunya juga tidak dapat dipisahkan dengan industri lainnya seperti pakaian, industri alat olahraga, mutivitamin dan lain-lain yang semuanya berorientasi kepada perbaikan fisik semata. Industri ini jelas telah mengkonstruk manusia (konsumen) untuk membeli produk-produk tersebut demi pertimbangan estetik yang diperlukan untuk penampilan diri secara fisik dan lebih parah lagi hanya untuk mengikuti tren dan mode yang sedang berkembang. (lebih…)

Tuhan dan Agama dalam Pergumulan Batin Kartini

Oleh: Danang Kristiawan

Pelayan di Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ)

Mahasiswa Program Pascasarjana Teologi Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Jogjakarta


Pengantar

Kartini menjadi sosok yang dikagumi dan dianggap sebagai pelopor bagi emansipasi perempuan di Indonesia. Keprihatinannya terhadap masalah perempuan dan sosial di sekitarnya tertuang dalam tulisan-tulisan pribadinya. Tentu kalau dilihat dari sisi ini sebenarnya bisa diperdebatkan sisi perjuangan dan kepahlawanannya. Keprihatinannya terhadap masalah poligami, candu, dan pendidikan merupakan pengalaman eksistensial yang bisa saja menjadi pengalaman umum bagi para perempuan pada waktu itu. Hanya saja Kartini memiliki kesempatan untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan. Ditambah dengan hubungannya dengan kultur Eropa melalui beberapa orang dekat yang dikenalnya membuat sebuah bergulatan batin yang cukup menarik. Di sinilah muncul sebuah dialog internal dalam diri Kartini antara tradisi dan modernitas.

Dialog internal itu juga terjadi dalam ranah keagamaan. Namun sayang bagian ini jarang dibahas dan terlupakan. Padahal ini merupakan sebuah contoh yang cukup menarik bahwa setiap perjumpaan selalu akan menghasilkan sebuah pemahaman yang baru dan unik. Di tengah-tengah menguatnya berbagai sentimen keagamaan, maka dalam kesempatan ini tentu menarik kalau kita melihat sedikit pergumulan Kartini mengenai Tuhan dan agama. Dalam hal ini buku Th. Sumartana yang berjudul Mission at The Crossroad: Indigeneous Churches, european Missionaries, Islamic Assosiation, and Socio-Religious Change in Java 1812-1936 (Jakarta: BPK GM, 1994), khususnya pasal IV menjadi sumber informasi yang sangat penting. Tulisan ini hanyalah ringkasan dari bagian buku tersebut. (lebih…)

Kenanglah Fathimah Zahra

Fathimah Zahra

Fathimah Zahra

Fathimah Zahra adalah putri tercinta Rasulullah saww, buah hati, cahaya mata, pelita hidup dan belahan jiwanya. Sejarah mencatat dengan tinta emas betapa berartinya Fathimah dalam hidup Rasulullah saww, Sang Putri yang digelari Ummu Abiha – ibu dari ayahnya, karena semenjak wafatnya Sayyidah Khadijah, Zahra-lah yang merawat Sang Ayah dalam menunaikan tugas ilahiyah, menghibur di kala duka, menemani saat sepi, dan menjadi obat bagi kerinduan Muhammad saww pada cinta pertamanya, Khadijah.

Saat budaya jahiliyah menghinakan anak perempuan, Muhammad mendobrak, bangga ia dengan Zahra. Ia berkata, “Fathimah dariku dan aku darinya. Siapapun yang menyakitinya maka menyakitiku.”
Fathimah lahir di dalam rumah wahyu, dibesarkan dengan penuh cinta kasih oleh pasangan mulia; Muhammad Sang Utusan dan Khadijah Sang Putri Makkah. Sang ayah mengajarkan wahyu, sementara sang ibu mengajarkan cinta dan peran perempuan dalam syi’ar menegakkan tauhid. (lebih…)

Perlindungan TKW

Oleh: KH. Said Aqiel Siradj

Gemuruh revolusi rakyat di negara-negara Timur Tengah menyisakan kisah tentang nasib tenaga kerja kita. Mereka ikut terkena getah karena harus dipulangkan ke Indonesia. Ini berarti hilang mata pencaharian mereka.

Pengiriman tenaga kerja Indonesia (TKI), khususnya tenaga kerja wanita (TKW), ke luar negeri telah menjadi fakta selama ini. Diperkirakan 70 persen lebih dari 2,5 juta lebih buruh Indonesia yang mengais rezeki di negeri orang adalah perempuan. Sebagian besar dari mereka bekerja di sektor domestik sebagai pekerja rumah tangga.

Fakta lanjut adalah kerap terjadinya perlakuan tak manusiawi, seperti penyiksaan hingga pembunuhan terhadap TKW. Pengiriman TKW ke luar negeri kemudian dipandang rawan. Banyak kalangan prihatin karena masih minimnya perhatian pemerintah. (lebih…)

Bagaimana Memahami Perempuan?

Memahami Perempuan

Memahami Perempuan

Bacalah, dengan sedikit saja harap-harap cemas.

Bisakah Anda memahami perempuan? Saya segera melarikan diri jika ada yang menjawab bisa. Bukan karena membingungkan, tapi karena perempuanlah makhluk yang paling ambigu. Kita tidak pernah tahu pentingnya mereka bagi kita sampai kemudian kita kehilangan mereka. Kita tidak akan pernah bisa memahami kenapa mereka bersedia berpakaian seksi, kelayapan di mall, tapi menolak untuk dipelototi. Kita juga tidak pernah bisa memahami kenapa mereka bersedia melakukan operasi pengencangan payudara (artinya payudara mereka selanjutnya terbuat dari plastik, sama dengan ember) padahal mereka tahu bukan bagian itu yang membuat kita mencintai mereka. (lebih…)