Politik

Mencoba Berpisah dari Sri Mulyani

Oleh Goenawan Mohamad

 

 

[Pada acara perpisahan dengan Sri Mulyani, Jakarta, 19 Mei 2010]

 

Malam ini kita mencoba berpisah dari Sri Mulyani. Saya katakan “mencoba”. Sebab sering kali, dan terutama malam ini, kita menyadari: orang bisa hanya sebentar mengucapkan “hallo”, tapi tak pernah bisa cuma sebentar mengucapkan “selamat berpisah”.Mungkin karena kita tak tahu apa sebenarnya arti “berpisah”. (lebih…)

Iklan

Jadi Soehartois, Kenapa Takut?

 

Oleh Muhadjir Effendy *

Pada 21 Mei yang lalu, tatkala Pak Harto menyatakan berhenti dari jabatan presiden, kejadiannya disiarkan langsung oleh semua pemancar televisi. Tak lama setelah itu, televisi juga meliput suasana sorak sorai para mahasiswa, terutama yang lagi menduduki gedung DPR/MPR, menyambut penuh antusias atas lengser keprabon-nya Pak Harto. Seramnya, close up kamera TV juga dibidikkan kepada patung Pak Harto komplit dengan peci hitam dan baju batik yang diseret-seret di jalan menuju pintu gedung DPR. Ini sangat paradoks dengan ejadian sebelumnya, di mana kehadiran Pak Harto ke gedung itu selalu dengan iring-iringan mobil mewah, kawalan ketat, dan disambut penuh takzim. (lebih…)

Solusi Palestina – Israel

Oleh: Dina Y. Sulaeman*

PBB, AS, (bahkan juga pemerintah Indonesia), mengusulkan solusi dua negara (two states solution) untuk mendamaikan Palestina-Israel. Tawaran solusi ini adalah: Israel dan Palestina menjadi dua negara yang hidup berdampingan secara damai.

Ada lobang besar dalam tawaran ini, yaitu sifat alami (nature) dari Rezim Zionis sendiri. Penyelesaian dengan cara mendirikan dua negara terpisah yang berdampingan secara damai, sementara wilayah Palestina sendiri (Tepi Barat dan Gaza) letaknya terpisah satu sama lain, sulit terwujud.

(lebih…)

Kebangkitan atau Kebangkrutan Politik

Oleh: Syahrul Kirom

Politik di Indonesia sudah tidak lagi berjuang untuk rakyat.

Menjelang Pemilihan Presiden 2014, suhu perpolitikan kian memanas. Sistem perpolitikan di Indonesia saat ini kian mengalami carut-marut. Oleh karena itu, politik di Indonesia harus bangkit dari keterpurukan.

Kebangkitan politik yang dicetuskan founding fathers dalam rangka perjuangan kemerdekaan Indonesia, yakni oleh Soetomo, Ir Soekarno, Dr Tjipto Mangunkusumo, Ki Hajar Dewantara, dr Douwes Dekker harus selalu diimplementasikan dalam kehidupan berdemokrasi di Indonesia saat ini.

Dalam konteks perpolitikan bangsa Indonesia saat ini, pertanyaan secara filosofis yang perlu diajukan adalah apakah benar partai politik di Indonesia sekarang ini benar-benar berjuang untuk kepentingan bangsa Indonesia dan nasib rakyat Indonesia ? Apakah benar kebangkitan nasional saat ini sudahmenunjukkan kebangkitan politik di Indonesia? Hal inilah sejatinya yang perlu dijawab elite partai politik di Indonesia.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa bangsa Indonesia sekarang ini mengalami kebangkrutan politik. (lebih…)

JFK hingga FREEPORT

“Masa lalu adalah Prolog” (Tertulis di Arsip Nasional, Washington, DC)
Dalam Bagian Satu dari artikel ini (Probe, Maret-April, 1996) kami telah bicarakan tentang Freeport melalui tahun-tahun awal pengambil-alihan tambang mereka oleh pemerintah Kuba yang berpotensi menguntungkan di Teluk Moa Bay, sebagaimana pelarian mereka bersama Presiden Kennedy mengenai masalah penimbunan ini. Namun konflik terbesar yang akan dihadapi Freeport Sulphur adalah mengenai perumahan di satu negara menghasil cadangan emas terbesar di dunia dan cadangan tembaga:ketiga terbesar, yaitu: Indonesia. Untuk memahami kerusuhan terakhir di pabrik Perusahaan Freeport (Maret, 1996), kita perlu melihat kepada akar dari perusahaan ini, untuk menunjukkan bagaimana hal-hal yang mungkin sangat berbeda harus Kennedy jalani untuk melaksanakan rencananya bagi Indonesia.