Sejarah

Jejak Tasawuf dalam Kepemimpinan Bung Karno

Bung-Karno-620x330Kiai Muhammad Muchtar Mu’thi bin KH Abdul Mu’thi, dari Pondok Pesantren Majma’al Bahrain Shiddiqiyyah, Losari, Ploso, Jombang, Jawa Timur, mengungkapkan bahwa kurang lebih lima bulan jelang kemerdekaan bangsa Indonesia diproklamirkan oleh Dwi Tunggal: Sukarno-Hatta pada 17 Agustus 1945, keduanya telah menemui empat orang ulama tasawuf yang mukasyafah (terbuka mata batinnya). Empat ulama tasawuf itu adalah Syeikh Musa dari Sukanegara, Cianjur; KH Abdul Mu’thi dari Ploso (ayahanda Kiai Muchtar); Sang Alif atau Raden Mas Panji Sosrokartono yang sudah mukim di Bandung; dan Hadratusysyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari, Jombang (pendiri Nahdlatul Ulama). (lebih…)

Iklan

Kisah Pak AR Fachrudin yang Selalu Menolak Tawaran Menjadi Menteri

 

Satu kenyataan yang sering dilupakan orang adalah bahwa Muhammadiyah lahir dan besar di pusat kebudayaan Jawa, Yogyakarta. KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah adalah orang Jawa tulen yang hidup dan besar dalam lingkungan Jawa.

Ayahnya, KH Abu Bakar, adalah khatib terkemuka di masjid Kesultanan Yogyakarta pada masanya. Dengan melihat latar belakang Muhammadiyah tersebut, paling tidak, kultur kejawaan tersebut amat penting untuk dipahami oleh warga Muhammadiyah, khususnya yang menjadi caloncalon pimpinan tertinggi Muhammadiyah. Kenapa Jawa? Jawabnya: Jawa dan kebudayaannya adalah ”sebuah entitas budaya dan psikologis” yang nyaris telah menyatu dalam keindonesiaan. Hal ini logis karena mayoritas penduduk Indonesia berada di Pulau Jawa dan lebih dari 75% perekonomian dan pusat keuangan berada di Jawa. Yang menarik, sejak zaman kemerdekaan pun, hampir semua tokoh-tokoh nasional papan atas berasal dari Jawa. Jika pun tidak lahir di Jawa, mereka pernah menuntut ilmu dan tinggal di Jawa. (lebih…)

Sebelum Supersemar, Dua Pengusaha Bujuk Soekarno Serahkan Kekuasaan

Selama ini, transisi kekuasaan dari Presiden Soekarno kepada Soeharto dianggap berlangsung sejak 11 Maret 1966, yang ditandai penyerahan Surat Perintah 11 Maret atau Supersemar.

Namun, sebelum Supersemar diserahkan oleh Soekarno kepada Soeharto melalui Mayjen Basoeki Rachmat, Brigjen M Jusuf dan Brigjen Amirmachmud di Istana Bogor, sudah ada upaya untuk membujuk Soekarno agar mau menyerahkan kekuasaannya.

Bujukan itu datang dari dua pengusaha yang juga disebut sebagai orang dekat Soekarno, Hasjim Ning dan Dasaad. (lebih…)

Belanda tak Mau Kembalikan Ribuan Naskah Kuno Yogyakarta

Ribuan naskah kuno milik Yogyakarta, ternyata masih tersimpan di Belanda. Pihak Keraton Kasultanan Yogyakarta, Pura Pakualaman, maupun Pemprov DIY bahkan hingga kini tidak bisa memulangkan naskah-naskah kuno warisan sejarah Nusantara tersebut. Alhasil, banyak akademisi dan peneliti Indonesia yang harus berbondong ke Belanda untuk memelajari naskah kuno yang memuat sejarah bangsanya sendiri. (lebih…)

Koleksi Arsip Kuno Indonesia di Leiden Bisa 12 KM

Koleksi arsip kuno dari Indonesia yang disimpan di Universitas Leiden di Belanda sangat banyak. Arsip-arsip itu merupakan koleksi Leiden yang kemudian ditambah dari Universitas Amsterdam yang diperoleh pada masa penjajahan kolonial. Lantaran Universitas Leiden merupakan lembaga pendidikan yang khusus pempelajari tentang Asia Timur.

“Kalau dijejer, panjangnya bisa mencapai 12 kilometer,” kata Rektor Universitas Leiden Carel Stolker (lebih…)