Teosofi

Ibnu Arabi dan Problem Pluralitas Agama

Introduction (Pengantar)

Muhyi al-Din ibn al-‘Arabi, yang dikenal sebagai Syaikh al-Akbar atau “the Greatest Master” mungkin adalah pemikir yang paling berpengaruh pada paruh kedua sejarah Islam. Lahir di kota Murcia di Spanyol Islam pada tahun 1165 M, ia menunjukkan bakat intelektual dan spiritual pada usia yang sangat dini. Pada tahun 1200, ia mendapat ilham untuk pergi ke Timur, dan pada tahun 1202 ia menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Dari sanalah kemudian ia bepergian dari kota ke kota lain di pusat negeri-negeri Islam. Seringkali menetap di Damaskus, di mana ia wafat pada tahun 1240. Ia meninggalkan lebih dari 500 karya tulis. Karyanya Futuhat al-makkiyya atau “Pembukaan Makkah” yang akan mengisi lebih dari 15.000 halaman dalam edisi barunya, menyajikan beberapa kerlipan cahaya dan cahaya kilat ilmu pengetahuan tercerahkan yang ia dapati ketika Tuhan “telah membukakan” baginya pintu-pintu “Khazanah Kedermawanan Ghaib”. Ia merangkumkan ajarannya dalam bukunya yang paling terkenal dan sering dipelajari, Fusus al-Hikam atau “Rangkaian gelang permata kebijaksanaan” (“Bezels of Wisdom”). Ia menggabungkan hukum Islam, theology (ilmu kalam), filsafat, mysticism (tasawuf-irfan), psikologi dan ilmu pengetahuan lainnya. Beberapa murid utamanya menyebarkan ajarannya ke seantero dunia Islam, dan dalam dua abad ada beberapa ekspresi intelektualitas Islami tak tersentuh oleh kejeniusannya. Ia telah terus mengilhami banyak intelektual Muslim bahkan pada abad sekarang, dan pengaruhnya telah diserap oleh bentuk-bentuk popular dari Islam . (lebih…)

Iklan

Tauhid dan Pembebasan

Jihad Imad MughniyahBanyak di antara kita yang akan memiliki kesulitan besar dalam memahami bagaimana tauhid terkait dengan pembebasan. Hal ini mungkin disebabkan oleh karena kita telah dikondisikan untuk memiliki tingkat keimanan yang terbatas hanya pada perkumpulan peribadatan seperti maulud dan hajatan, hukum fiqh (yurisprudensi Islam), ibadah keagamaan dan dogma teologis. Iman (keyakinan) kita seperti jubah di dalam masjid. Penggunaannya terbatas pada jam-jam tertentu dan hanya di dalam masjid sehingga keyakinan diceraikan dari kenyataan dan dipisahkan dari kehidupan kita sehari-hari. Jadi banyak di antara kita yang memiliki mata dan telinga keimanan yang hanya mampu melihat dan mendengar di dalam masjid atau di daerah-daerah yang dirujuk oleh keyakinan atau dogma. Ketika membaca surat kabar atau menemukan permasalahan sosial atau politik, mata keimanan kita menjadi buta dan telinga keimanan kita menjadi tuli. (lebih…)

Refleksi Hermeneutik dalam Pemikiran Agama

Oleh: Mohammad Adlany

Pemikiran keagamaan kontemporer ialah kenyataan atas bentuk pengkajian baru yang mempunyai akar dalam hermeneutik. Probabilitas pelontaran interpretasi yang beragam dan tak berhingga terhadap teks-teks agama, penafsiran yang bersifat historikal, perubahan interpretasi yang terus menerus, adanya keabsahan intervensi pikiran para mufassir dalam penafsiran teks-teks, dan pengaruh ilmu-ilmu lain terhadap pemahaman keagamaan adalah dimensi-dimensi baru yang hadir dalam wilayah dan ranah pembahasan keagamaan yang mempunyai akar mendalam pada teori-teori pemikiran hermeneutikal.

Hermeneutik kontemporer dari dua sisi memberikan pengaruh terhadap pemikiran-pemikiran keagamaan: (lebih…)

Keberadaan Tuhan

Oleh: Mohammad Adlany

Dasar-dasar Argumen Imkan dan Wujub

Argumen yang dipergunakan di sini untuk menelaah realitas eksistensi dan wujud eksternal dalam menegaskan eksistensi hakiki Tuhan adalah argumen imkan (contingent) dan wujub (necessity).

Argumen ini merupakan salah satu argumen rasional yang paling kuat dalam membuktikan eksistensi Tuhan, karena tak satupun manusia berakal menolak dan memungkiri eksistensi dirinya dan realitas wujud-wujud di alam ini, sementara argumen ini secara prinsipil berpijak pada penerimaan realitas eksistensi dan wujud hakiki.

Sebenarnya, Tuhan tidak gaib, yang gaib justru diri kita sendiri, Tuhan bahkan lebih berwujud dari wujud-wujud lain dan lebih bercahaya dari cahaya-cahaya lain. Jadi, kalau kita mempergunakan argumen-argumen untuk “pembuktian” wujud Tuhan, maka itu hanyalah berdimensi “mengingatkan” kita akan realitas hakiki itu. (lebih…)

Meraih Kesempurnaan Insani

Kesempurnaan setiap maujud mempunyai batasan tertentu yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta. Karena karakteristik masing-masing maujud, mulai dari tumbuh-tumbuhan, hewan, dan manusia, adalah berbeda satu sama lain, maka kesempurnaannya pun menjadi berbeda dan bertingkat-tingkat. Setiap maujud dikatakan sempurna ketika potensi-potensi khusus yang ada pada dirinya telah aktual.

Kesempurnaan setiap maujud harus ditemukan dalam sistem alam penciptaan. Untuk melakukan hal ini, harus dilakukan pengenalan terhadap hakikat suatu maujud untuk kemudia menempatkan kedudukannya di alam penciptaan, setelah itu dibutuhkan spesialisasi yang untuk mengetahui, memperkirakan, dan terakhir memberikan kesimpulan yang layak. Tentunya, penentuan kesempurnaan suatu maujud tidak bisa merujuk pada pendapat masyarakat umum, adat istiadat, dan peradaban.

  (lebih…)

Tafsir Al Fathihah

Mukaddimah

Al Fathihah

Al Fathihah

Di dunia modern dan industri saat ini, setiap alat yang diproduksi oleh perancang dan penciptanya, selalu disertai dengan buku petunjuk pengoperasian dan pemeliharaan, seperti buku petunjuk lemari es atau televisi dan sebagainya, yang diberikan kepada para pembeli barang-barang tersebut; yang memuat perincian tentang bagian luar dan dalam peralatan tersebut, juga cara penggunaan yang benar, dan hal-hal yang berbahaya bagi alat itu, dan sebagainya, agar pembeli dapat mempelajarinya dan dapat memanfaatkannya dengan baik dan benar, juga agar mereka dapat menghindari hal-hal tertentu yang akan membuat barang tersebut cepat rusak. Saya dan Anda semua, juga seluruh manusia, adalah perangkat-perangkat yang sangat modern, yang telah diciptakan oleh Dzat yang Maha Pencipta lagi Maha Kuasa. Dan oleh karena kerumitan dan ketelitian yang sedemikian besar di dalam tubuh dan jiwa kita, maka kita tidak mampu mengenali hakikat diri kita sendiri, juga jalan kebahagiaan kita. Dari satu sisi, apakah kita ini lebih kecil dibanding dengan lemari es dan televisi, yang para perancang dan penciptanya berkewajiban menyertakan buku petunjuknya, sedangkan Pencipta kita tidak perlu menulis sebuah buku petunjuk kecil untuk kita?!! Apakah kita tidak memerlukan buku petunjuk, yang menjelaskan keistimewaan-keistimewaan tubuh dan jiwa manusia, yang menerangkan segala kemampuan dan potensi-potensi yang telah diciptakan dalam wujudnya, dan menyebutkan cara-cara yang benar dalam penggunaan semua itu? Yang lebih penting dari semuanya ialah penjelasan tentang bahaya-bahaya yang mengancam tubuh dan jiwa manusia, serta sumber-sumber kebinasaan dan kesengsaraannya secara terperinci. (lebih…)

Belajar Kebijaksanaan

Seorang darwis ingin belajar tentang kebijaksanaan hidup
dari Nasrudin. Nasrudin bersedia, dengan catatan bahwa kebijaksanaan hanya
bisa dipelajari dengan praktek. Darwis itu pun bersedia menemani Nasrudin
dan melihat perilakunya.

Malam itu Nasrudin menggosok kayu membuat api. Api kecil itu ditiup-tiupnya.
“Mengapa api itu kau tiup?” tanya sang darwis. (lebih…)