Tokoh

Laksamana Cheng Ho Penemu Amerika?

Ini yang tertulis dalam sejarah: pedagang asal Genoa, Italia, Christopher Columbus memimpin armada kapal menyeberangi Samudera Atlantik. Ia tiba di ‘dunia baru’ pada tanggal 12 Oktober 1492.
‘Dunia baru’ itu yang kemudian disebut Benua Amerika. Meski hingga kematiannya, Columbus yakin benar, ia menemukan rute baru dan berhasil telah mendarat di Asia — di tanah yang digambarkan Marco Polo.\

Namun, sebuah salinan peta berusia 600 tahun yang ditemukan di sebuah toko buku loak mengancam status Columbus sebagai penemu Amerika. Juga menjadi kunci untuk membuktikan bahwa orang dari Negeri China yang pertama menemukan benua itu.

Dokumen tersebut konon berasal dari suatu ketika di Abad ke-18, yang merupakan salinan peta 1418 yang dibuat Laksamana Cheng Ho, yang menunjukkan detil ‘dunia baru’ dalam beberapa sisi. (lebih…)

Iklan

Mohammad Roem; Perunding-Pejuang

 

Oleh: Nuim Hidayat  

Mohammad Roem, tokoh Masyumi ini bukan hanya pintar menulis, ia juga ahli diplomasi. Bila ia bicara, tokoh-tokoh Belanda mendengarkannya dengan takjub. Berulangkali ia terlibat dalam perjanjian Indonesia dan Belanda, ia dan kawan-kawannya memenangkannya.

Gaya menulis Roem, berbeda dengan Natsir atau HAMKA. Bila Natsir banyak menulis tentang konsep dan HAMKA banyak mengutip ayat/hadits, maka Roem lebih banyak cerita tentang realitas. Ia senang menulis dengan gaya bercerita. Bisa dikatakan ia termasuk ‘penulis terbaik’ yang dimiliki Indonesia. Tulisan-tulisannya mempunyai ‘ruh Islam’.

Misalnya ketika menceritakan tentang Haji Agus Salim, Roem bercerita bahwa suatu hari di tahun 1925, ia diajak’ ngaji’ oleh Kasman Singodimedjo dan Soeparno ke rumah Haji Agus Salim di Gang Tanah Tinggi, Jakarta.  Ringkas cerita, jalan ke rumah Agus Salim itu becek bila kena hujan dan saat Kasman datang, Agus Salim Salim berkomentar: ”Hari ini anda datang secara biasa. Kemarin peranan manusia dan sepeda terbalik.” Kasman menjelaskan ke Roem bahwa kemarin ia datang ke rumah Agus Salim, ia ditunggangi sepeda bukan ia menunggangi sepeda. Maka Kasman menjawab ke Agus Salim : ”Een leidersweg  is een lijdensweg, Leiden is lijden.”  (Jalan pemimpin bukan jalan yang mudah, memimpin adalah menderita).  (Lihat tulisan lengkap tentang Haji Agus Salim dalam Bunga Rampai Dalam Sejarah 3, Mohammad Roem, hlm. 29-59). (lebih…)

Mengenang Pembaruan-Islam Indonesia; Sewindu Kepergian Cak Nur

Sewindu Kepergian Nurcholish Madjid

Oleh Ismatillah A. Nu’ad *

Inna lillahi wa inna ilaihi raajiun. Nurcholish Madjid (Cak Nur) kemarin (29 Agustus 2005) berpulang ke rahmatullah. Bapak pembaruan pemikiran Islam itu meninggal dunia pada usia 66 tahun.

Mengenang sosok almarhum tidak bisa dipisahkan dari munculnya gerakan pembaruan pemikiran Islam pada 35 tahun silam. Mengenang gerakan itu kurang pas jika tak menyebut nama besar Cak Nur. Mengabaikan Cak Nur sama seperti garam tanpa asin.

Dia dinisbatkan sebagai gerbong pembaruan karena pada awal dekade 70-an menggelontorkan gagasan rasionalisasi-agama sebagai jargon dari gerakan pembaruan-Islam. Pada acara halalbihalal organisasi muda Islam, Cak Nur memberikan ceramah berjudul Keharusan Pembaruan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat di Jalan menteng Raya No 58, Jakarta Pusat. Gagasan yang ditebarkan cukup menggetarkan karena tak lazim. Dia bicara soal rasionalisasi, sekulerisasi, desakralisasi, modernisasi-Islam, dll. (lebih…)

Pahlawan Yang Dikriminalisasi

Sultan Hamid II dari Kerajaan Kadriah Pontianak

Sultan Hamid II merupakan sosok Pahlawan Nasional  namun telah diabaikan oleh negara bahkan dalam beberapa media sering disebutkan sebagai pemberontak termasuk Catatan Wikipedia (http://id.wikipedia.org/wiki/Sultan_Hamid_II) perlu kita benahi, mari kita simak kembali penuturan yang lebih jelas seperti catatan dibawah ini:

Biografi:

Sultan Hamid II adalah Pencipta Lambang Negara Indonesia, yaitu Garuda Pancasila (Elang Rajawali Garuda Pancasila). Namun, nama bekas Menteri Negara RIS (Republik Indonesia Serikat) ini ditenggelamkan pemerintah Sukarno karena dikaitkan dengan pemberontakan Westerling yang sampai dengan sekarang tidak pernah terbukti secara yuridis, pun dengan paham politik yang berseberangan. Di hari peringatan ke-60 Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2005 yang lalu pihak keluarga Sultan Hamid II sempat meminta pemerintah tidak melupakan jasa Tokoh Politik asal Kalimantan Barat tersebut, akan tetapi sampai sekarang sejarah itu tetap disembunyikan pemerintah saat ini. (lebih…)

Sultan Hamid II; Perancang Garuda Pancasila Yang Terlupakan

Berikut ini, Maulanusantara menyajikan prolog buku monumental buah karya Anshari Dimyati, Nur Iskandar, dan Turiman Fachturrahman Nur yang berjudul: Biografi Politik Sultan Hamid II: Sang perancang lambang negara “Elang Rajawali – Garuda Pancasila”

Judul : Biografi Politik Sultan Hamid II: Sang perancang lambang negara “Elang Rajawali – Garuda Pancasila”
Pengarang : Anshari Dimyati, Nur Iskandar, Turiman Fachturrahman Nur
Penerbit : Top Indonesia, bekerja sama dengan Yayasan Sultan Hamid II dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat
Tahun Terbit : 2013
Deskripsi Fisik : xxvi, 562 halaman; 17 x 25 cm
ISBN : 978-602-17664-6-0

(lebih…)

Sang Penyelamat Bendera Pusaka; Muhammad Husain Muthahar

Bendera pusaka untuk pertama kali berkibar pada Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945, di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta, begitulah secara resmi bendera kebangsaan merah putih dikibarkan.

Pada tanggal 4 Januari 1946, karena aksi teror yang dilakukan Belanda semakin meningkat, presiden dan wakil presiden Republik Indonesia dengan menggunakan kereta api meninggalkan Jakarta menuju Yogyakarta. Bendera pusaka dibawa ke Yogyakarta dan dimasukkan dalam koper pribadi Soekarno. Selanjutnya, ibukota dipindahkan ke Yogyakarta.

Tanggal 19 Desember 1948, Belanda melancarkan agresinya yang kedua. Presiden, wakil presiden dan beberapa pejabat tinggi Indonesia akhirnya ditawan Belanda. Namun, pada saat-saat genting dimana Istana Presiden Gedung Agung Yogyakarta dikepung oleh Belanda, Soe­karno sempat memanggil salah satu ajudannya, Mayor M. Husein Mutahar. Sang ajudan lalu ditugaskan untuk untuk menyelamatkan bendera pusaka. Penyelamatan bendera pusaka ini merupakan salah satu bagian “heroik” dari sejarah tetap berkibarnya Sang Merah putih di persada bumi Indonesia. Saat itu, Soe­karno berucap kepada Mutahar: (lebih…)

Pesan Al Quds 2013 Sayyid Hasan Nashrallah; Al Quds Menyatukan Kita

Ini adalah petikan Khutbah Sayyid Hasan Nashrallah, Sekretaris Jenderal Hizbullah, pada Peringatan Hari Al Quds Se Dunia, yang merupakan aksi rutin setiap Jum’at terakhir Ramadhan sebagai sebuah bentuk solidaritas dan dukungan umat beragama – tidak hanya kaum Muslimin – seluruh dunia bagi kemerdekaan bangsa Palestina dari penjajahan rezim Zionis yang terkutuk, yang telah melakukan kezaliman dan kerusakan luar biasa, selama berpuluh-puluh tahun, di Tanah Para Nabi itu.

Aku berlindung kepada Allah dari godaan Setan yang terkutuk.

dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Segala puji bagi Allah Tuhan alam semesta, Shalawat dan salam untuk kekasih hati kita, Nabi Muhammad berserta keluarga dan sahabatnya yang setia. (lebih…)