Wawancara

Revrisond Baswir: Indonesia Benar-Benar TERJAJAH!

TIADA kabar yang amat menggembirakan, selain pernyataan World Bank yang dilansir pekan lalu. Dalam laporan tersebut dikatakan bahwa kondisi perekonomian Indonesia saat ini sudah sama baiknya dengan masa sebelum krisis pada 1997. Salah satu indikasinya adalah pemerintah telah berhasil mengurangi utang luar negeri. Digambarkan pula bahwa kondisi keuangan pemerintah saat ini sudah seperti pada kondisi di akhir 1970-an. Karena kenaikan harga minyak dunia, secara finansial juga mendongkrak kemampuan pemerintah untuk meningkatkan tingkat kesehatan dan pendidikan penduduk. (lebih…)

Iklan

Melawan Kapitalisme adalah Jihad

Banyak orang enggan memikirkan sistem kehidupan yang melingkupi dirinya. Kesibukan mengejar kesejahteraan hidup telah membuat kita tidak peduli menggugat sistem ekonomi kapitalisme yang terus menjerat kita kepada perbudakan. Tapi tidak dengan Umar Ibrahim Vadillo. Muslim asal Spanyol ini gigih memperjuangkan ide antikapitalisme yang telah membuat umat Islam terpuruk.

“Kapitalisme dan para pelakunya adalah anti-Islam. Makin lama menerapkan sistem kapitalisme dalam kehidupan, kita akan makin menjauh meninggalkan Islam,” paparnya kepada Ahmad Taufiq Abdurrahman dan Fathurroji dari Majalah Gontor beberapa waktu lalu di sela-sela kunjungannya ke Indonesia. Berikut petikan wawancara dengan penulis buku The End of Economic itu: (lebih…)

Politik Transaksional

Salam Perspektif Baru,

Tamu kita Rocky Gerung, yang sudah bukan nama asing lagi untuk orang yang senang mendengar obrolan menarik tapi benar. Pada dasarnya Rocky adalah seorang intelektual, dia punya pekerjaan sebagai dosen dalam logika dan etika. Dia aktif dalam pemikiran politik dan akhir-akhir ini menjadi pendorong pemikiran etis di Solidaritas Masyarakat Indonesia untuk Keadilan (SMI Keadilan).

Menurut Rocky Gerung, benang kusut persoalan di negeri ini dimulai dari hulu yaitu pendidikan politik di partai yang sama sekali tidak ada. Kita tidak melihat ada semacam kurikulum pendidikan publik di dalam partai. Partai dalam pikiran saya, anggotanya dididik untuk menjadi lebih sebagai debt collector daripada sebagai publik educator. Yang dimaksud debt collector adalah utang politik untuk mencari modal Pemilu berikutnya.

Rocky Gerung mengatakan koalisi partai sebetulnya semacam gabungan tukang tadah. Dia terima barang curian. Dia sebut barang curian karena politisi mendapat representasi atau mencuri representasi dari Pemilu, lalu publiknya ditinggalkan. Akibatnya, suara publik itu ditransaksikan diantara dua atau tiga orang saja, transaksi diantara para tukang tadah sebenarnya.
(lebih…)

Maria Farida Indrati Soeprapto; Agama bukan Ranah Negara

Mahkamah Konstitusi menolak permohonan pencabutan Undang-Undang tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama terhadap Undang-Undang Dasar 1945, Senin pekan lalu. Dan Maria Farida Indrati satu-satunya di antara sembilan hakim konstitusi yang memberikan dissenting opinion.
“Saya terbiasa sendiri,” ujarnya. Ia berpendapat Mahkamah seharusnya mencabut undang-undang produk 1965 itu karena negara tak boleh mencampuri tafsir sebuah ajaran. (lebih…)

Budhy Munawar-Rachman: Mencap Sesat adalah Sinyal Buruk Demokrasi

normal_misleading-identity.jpg

MAULA (M): Bagaimana Anda menilai perkembangan aliran sesat yang marak belakangan ini?

Budhy Munawar-Rachman (BMR): Saya tidak mau menyebut mereka aliran sesat. Saya lihat, munculnya kelompok-kelompok tersebut, yang secara sosiologis bisa disebut cult, kultus, fundamentalis, dll, ini memang fenomena khas masyarakat global sekarang ini. Ini satu hal yang biasa. Menurut saya, banyak hal yang harus dibenahi. Ada krisis spiritual, psikologi, ekonomi. (lebih…)

Prof. DR. Kautsar Azhari Noer: Klaim Penyesatan itu Subjektif

islam_europe.jpg

Maula (M): Bagaimana pandangan Anda tentang internal umat Islam Indonesia dewasa ini?

Kautsar Azhari Noer (KAN): Kondisi sekarang belum lebih baik dari masa sebelumnya. Kita belum pernah lepas dari masalah sesat menyesatkan. Klaim penyesatan itu sendiri sebenarnya adalah subjektif. Sesat menurut siapa? Bagi kelompok yang sudah mapan, kehadiran kelompok baru tentu mudah dinilai sesat. Atau, bagi kaum mayoritas, minoritas itu bisa dituding sesat. Hegemoni mayoritas ini tidak hanya berlaku bagi yang baru muncul, tapi juga meliputi segala macam keyakinan terdahulu namun minoritas, seperti kebatinan, Syiah, Ahmadiyah, Konghucu, dll. (lebih…)