Posted by: maulanusantara | Desember 28, 2007

Asal Usul Ilmu Feng Shui / Hong Sui

fengshui.gif

Berbicara soal asal usul Feng Shui / Hong Sui (seterusnya akan ditulis: Hong Sui), tak bisa tidak, haruslah membicarakan I Ching (Ya Keng) terlebih dahulu. Karena Hong Sui merupakan bagian yang tak bisa dipisahkan dari I Ching / Ya Keng, yaitu sebuah Kitab Kuno China yang sangat termashyur, yang berisi tentang pelajaran Hakekat Perubahan dan dewasa ini telah banyak dialihbahasakan ke berbagai bahasa mancanegara.

Kombinasi Pergerakan Pa Kua / Pat Kwa (Delapan Trigram), Perpaduan Yin & Yang serta transformasi Wu Xing / Ngo Heng (Lima Elemen) merupakan komponen inti yang dipakai dan dikembangkan sedemikian rupa untuk bisa mendalami filsafat I Ching / Ya Keng dan semua komponennya itulah yang juga menjadi bagian mendasar perhitungan Hong Sui.

Kitab Perubahan (I Ching/Ya Keng) merupakan salah satu kitab kuno China yang mengungkapkan tentang prinsip kebenaran tentang perubahan yang mencakup aspek perubahan alam dengan segala isinya, termasuk manusia tentunya..

I Ching / Ya Keng adalah karya klasik China yang paling kuno dan terkenal, dimuliakan selama ribuan tahun sebagai tuntunan keberhasilan dan sumber kebijakan. Hampir semua filsafat kehidupan China berakar dari kitab ini. Sebut saja, hakekat kegaiban pragmatis Tao Te Ching (Tao Tek Keng), kemanusiaan rasional Confucuis, dan strategi analitis dari seni berperang Sun Tzu bersumber utama dari Kitab Perubahan (I Ching/Ya Keng) ini.

Konsep dasar I Ching / Ya Keng dikembangkan lebih dari 4900 tahun yang lalu oleh Raja Fu Xi / Baginda Hok Hie (2953 SM - 2838 SM) yang karena pengamatannya yang cermat dan seksama terhadap segala perubahan alam & bentuk-bentuk kehidupan termasuk setiap gerakan tubuh, menyimpulkan bahwa semua pergerakan / perubahan di alam semesta dengan segala isinya berubah mengikuti hukum kehidupan ( Hukum Alam / Li ).

Dari hasil pengamatan & penelitiannya, - terutama setelah Fu Xi melihat ukiran peta di punggung Kuda Naga yang muncul dari Sungai Kuning - kemudian ditemukanlah konsep Delapan Trigram (Pa Kua / Pat Kwa) yang kemudian dikenal dengan Sien Thien Pa Kua / Sian Thian Pat Kwa atau PETA SURGAWI (Pat-kwa Awal). Sesuai dengan sebutannya, awalnya Pat-kwa ini lebih cenderung dipakai sebagai alat untuk menghitung / memprediksikan perubahan dan fenomena yang terjadi di alam ini.

Trigram ini kemudian dibukukan oleh Pangeran Wen Wang / Bun Ong ( yang kemudian menjadi pendiri Dinasti Chou / Chiu ,1150-249 SM ) yang menyusunnya dalam bentuk Ho Thien Pa Kua / Ho Thian Pat Kwa atau PETA MANUSIAWI (Pat-kwa Lanjutan), lengkap dengan 64 Heragram ( 64 Permutasi )nya. Kuta-kura raksasa hitam yang muncul di Sungai Lo dengan angka ajaib di punggungnya - yang kemudian dikenal sebagai Peta Lo Shu - adalah sumber inspirasi utama yang mempengaruhi konsep PETA MANUSIAWI., maka dimulailah era dimana Pat-kwa dipakai sebagai alat memprediksi perubahan tingkah pola kehidupan manusia.

Selanjutnya Khong Fu Zi /  Khong Hu Cu (551-479 SM) menyempurnakan isi Kitab I Ching / Ya Keng ini dengan menambahkan Sepuluh Sayap I Cing / Ya Keng sebagai tafsir penjelasan dan mengembangkannya secara khusus sebagai sumber penghayatan hidup dan pendalaman kespiritualan ( moralitas dan kebijaksanaan ).

Kaisar Qin Shi Huang Ti / Chin Se Hong Te (221-206 SM), pendiri Dinasti Qin / Chiu, yang berkuasa dengan singkat (hanya 13 tahun), tapi merupakan Kaisar lalim yang berkuasa dengan tangan besi, berhasil menyatukan China kembali setelah porak poranda karena perang campuh di akhir Dinasti Chou / Chiu. Kaisar inilah yang meninggalkan karya sejarah spektakuler, berupa dua buah keajaiban dunia, yaitu Tembok Besar China ( Great Wall ) dan Terracota. Karena kelalimannya, kaisar ini pun memerintahkan untuk memusnahkan semua kitab-kitab yang tidak sesuai dengan misi kekaisaran Qin / Chin. I Ching / Ya Keng termasuk salah satu dari sedikit kitab yang berhasil diselamatkan
.
Di jaman dinasti Han ( dinasti yang berkuasa setelah Qin / Chin runtuh ) tercapai suatu pemerintahan yang rapih & tertib, semuanya teratur dengan baik. Di jaman ini I Ching / Ya Keng dikembangluaskan dan dipandang sebagai buku etika & metafisika disamping juga sebagai buku ramalan. Ajaran Khong Hu Cu pun naik daun bahkan dijadikan sebagai agama resmi negara dengan Lima Kitab Pegangan (Wu Ching / Ngo Heng) dimana salah satunya adalah I Ching / Ya Keng.

Di jaman kejayaan Dinasti Han inilah, dibangun perlintasan Jalur Sutra yang sangat ramai dipakai sebagai jalur lalu lintas darat waktu itu, sebuah jalur untuk perdagangan luar negeri, yang menghubungkan China , India, Turki bahkan sampai ke Afganistan (makanya di Afganistan, yang praktis muslim,  sempat ada 2 buah Patung Buddha nomor 2 tertinggi didunia, yang di hancurkan oleh Penguasa Taliban pada dasawarsa yang lalu).

Jalur Sutra ini pulalah yang dipakai oleh para Bhikku / Bhiksu dari India masuk ke Daratan China membawa dan memperkenalkan Agama Buddha ke China, yang akhirnya agama ini membaur dengan agama pribumi di China yaitu agama Tao dan Khong Hu Cu , kemudian berkembang kembali keluar dari China sebagai agama Chinese Buddhism ( agama Hoa Kao / agama Sam Kao, yang di Indonesia lebih dikenal sebagai agama Kelenteng ) , dibawa oleh para Hoa-jiao / Hoa-kiao ( kaum Tiong-hoa perantauan ).

Selama Dinasti Han, I Ching / Ya Keng dikembangkan secara resmi dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kurikulum pendidikan waktu itu, bahkan dijadikan sebagai pelajaran wajib yang harus dikuasai oleh para Siu-cai ( Sarjana, red ) saat mengikuti ujian tingkat nasional kala itu. Kemudian berkembang jugalah I Ching / Ya Keng versi Buddhis dan Taoisme. Perpaduan pengembangan ini akhirnya menghasilkan teks standar I Ching / Ya Keng. Teks standar inilah akhirnya dijadikan standar para ilmuwan dunia dalam menelaah dan mempelajari I Ching / Ya Keng. Teks standar ini pulalah yang disusun dijaman Dinasti Tang pada lebih kurang Abad ke 7 Masehi, yang  akhirnya memunculkan Ilmu Hong Sui.

Pada zaman Dinasti Tang, praktek Hong Sui mulai diperkenalkan di China oleh Yang Yun Sang (sekitar 840-888 M) seorang Ahli Seni China Kuno waktu itu. Yang Yun Sang yang juga penasehat utama Kaisar Hi Tsang (888 M) - secara umum ia diakui sebagai Penemu Ilmu Hong Sui - meninggalkan warisan klasiknya berupa 3 (tiga) buah buku tentang Hong Sui.  Bukunya, akhirnya selama beberapa generasi dikembangkan menjadi dasar-dasar ilmu Hong Sui, dan dikenal sebagai Hong Sui Aliran Bentuk yang mengacu pada penentuan letak Naga Hijau dan Macan Putih sebagai faktor penentu kedudukan Nafas Kosmis ( Qi / Chi / Energi Vital / Energi Pembawa Keberuntungan ).

Ketiga buku klasik yang terkenal ini, menggambarkan praktek Hong Sui dengan metode perhitungan melaui metafora keberadaan Sosok Naga (yang dipercaya kalangan Tionghoa klasik sebagai lambang keberuntungan), terdiri atas :
1. Han Lung Ching ( Seni Membangkitkan Naga )
2. Ching Nang Ao Chih ( Metode Menentukan Letak Goa Naga )
3. I Lung Ching ( Prinsip Mendekati Naga )

Selanjutnya, Wang Zhi seorang Ahli Perbintangan yang hidup di jaman Dinasti Sung (? 960 M), memperkenalkan Hong Sui Aliran Kompas yang menekankan pada pengaruh planet terhadap kualitas baik buruknya suatu tempat / lahan / lokasi / bangunan. Wang Zhi juga meninggalkan warisan klasik berupa 2 (dua) buah buku Hong Sui yang kemudian diterbitkan oleh muridnya, Ye Shui Liang, berjudul :
1. Prinsip Inti atau Pusat (Canon of the Core or Centre)
2. Diskusi tentang Pertanyaan dan Jawaban.
(Disquisitions on the Queries and Answers)

Kemudian pada akhir abad ke 19, memasuki awal abad ke 20,  kedua aliran yang tadinya berjalan sendiri-sendiri ini, berhasil digabungkan menjadi satu prinsip perhitungan Hong Sui yang saling mengisi  dan berkaitan. Gabungan dari Aliran Bentuk dan Aliran Kompas inilah yang akhirnya terus dianalisa, dipelajari dan diperbandingkan dari generasi ke generasi.

Pada umumnya, Aliran Bentuk memberi tekanan pada bentuk dan kontur tanah seperti wujud gunung-gunung, arah aliran sungai serta pengaruh dari letak garis Maca Naganya. Untuk mengamatinya membutuhkan pandangan intuisi yang tajam. Aliran ini menggunakan rumus perhitungan Naga Hijau dan Macan Putih sebagai tolok ukurnya. Meskipun teori simbol Naga Hijau & Macan Putih relatif mudah dipahami, tapi kenyataannya aliran ini sangat sulit dipraktekkan.

Lain halnya dengan Aliran Kompas, metodenya sulit untuk dipelajari karena mencakup Pa Kua / Pat Kwa, Yin Yang dan Lima Elemen yang terbagi dalam Sepuluh Batang Langit ( 10 Elemen Langit ) dan Dua Belas Cabang Bumi ( 12 Shio ) serta Konstelasi Perbintangan yang ditimbulkan dari posisi letak planet-planet terhadap Bumi dan Matahari. Metode perhitungannya menjadi ruwet & menjelimet, membuat perumusannya menjadi sulit untuk dipahami. Tapi, jika metode aliran ini sudah dipahami, mempraktekkannya malah lebih mudah ketimbang Aliran Bentuk, karena metode Aliran Kompas ini memiliki standar acuan yang baku dan bersifat matematis ilmiah yang bisa dijabar-uraikan secara rinci dan logis.

Namun pada perkembangannya kini, banyak juga para praktisi Hong Sui yang tergolong masuk aliran baru yang pada prakteknya hampir tidak mengacu pada kedua aliran induk diatas, yaitu Aliran Supranatural ( diistilahkan sendiri oleh penulis-red ) yang merupakan suatu aliran yang semata-mata hanya mengandalkan pada pentunjuk Sin Beng / Malaikat / Roh Halus tertentu atau Melalui Kekuatan Gaib / Mata Bathin ( Daya Linuwih ).

Praktisi Hong Sui yang tergolong dalam aliran ini biasanya dikenal sebagai paranormal. Yang unik dari pengikut aliran ini adalah di samping mereka memiliki daya limuwih, praktisi Hong Sui tersebut ada juga yang sedikit mempelajari teori Aliran Bentuk & Aliran Kompas dan kemudian menyelaraskan intuisi ke paranormalannya itu dengan akidah dari kedua aliran Hong Sui ini.[Suhu Tan]

Source: http://www.wikimu.com/

Tanggapan

wah makasih sekarang saya tahu asal usul ilmu feng shui.

feng shui memang sangat mempengaruhi kehidupan umat manusia, disadari maupun tidak.

Mau tanya dunk, untuk menghitung Kua atau perhitungan Ba Zi gimana?Terima Kasih

Menghitung Ba Zi

Untuk menghitung Ba Zi, anda harus menggunakan kalendar hsia yang didasarkan oleh matahari dan bukan menggunakan kalendar lunar yang umumnya kita pakai. Ada rumus dasar untuk mengubah kalendar international yang kita kenal menjadi kalendar HSIA. Saya sendiri tidak mengtahui cara mengkonversi ini.
Cara lainnya adalah menggunakan tabel yang siap pakai. Banyak buku yang membuat tabel ini, misalnya menggunakan buku Kalendar Hsia karangan Vincent Koh. Buku ini bisa dicari di toko buku di Indonesia, misalnya TB Gramedia.
Bila anda malas mempelajari cara membaca tabel, gunakan saja software maupun website gratis yang mempunyai fasilitas ini. Contohnya adalah website berikut ini: http://fourpillars.net/online4P.html. Masukkan tanggal lahir, bulan, tahun dan jam, lalu website tersebut telah menghitung ba zi untuk anda secara gratis.
Bila anda ingin mengetahui da yun, lihat saja tabel fortune luck dari web site tersebut. itulah yang disebut da yun. Jadi ngak perlu rumit-rumit belajar sudah ada kalkulator yang menghitung gratis untuk anda. Mudah, bukan?
Permasalahannya sekarang adalah bagaimana membacanya. Untuk dapat menginterprestasikan dengan benar anda perlu pengalaman dan bimbingan guru. Unsur diri anda ditentukan oleh unsur hari dan bukannya unsur tahun seperti yang kita kenal. Selain itu, kita juga perlu menentukan kuat lemahnya unsur anda.
Sebagai contoh, saya akan mengambil unsur kayu. Unsur kayu seseorang kuat atau tidak dilihat dari 3 hal yaitu : Pertama, Waktu. Untuk ini anda perlu belajar teori 24 musim misalnya kayu akan berkembang dengan subur dan sangat kuat pada musim semi, kayu akan beristirahat pada musim panas, dan kayu akan terpenjara (menjadi lebih lemah lagi) pada akhir musim panas, kayu akan mati pada musim gugur dan akan mulai berkembang lagi pada musim dingin. Seseorang yang berunsur kayu bila dilahirkan pada musim semi akan sangat kuat sekali, bila pada musim gugur akan sangat lemah sekali. Jadi bulan kelahiran menentukan kuat lemahnya suatu unsur ini.
Kedua, lokasi, apakah ada unsur kayu di dalam element lainnya? Cek unsur bulan, tahun dan jamnya ada beberapa kayu. Bila semuanya ada kayu maka kayunya akan kuat bukan?
Ketiga, support, apakah unsur yang satu group dengannya atau mendukungnya. Misalnya, kayu perlu dukungan dari air pada unsur lainnya sehingga adakah unsur air dalam ba zi juga berpengaruh dengan dasar ke tiga hal tersebut baru ditentukan kuat lemah suatu element. Rumit, ya?
Oleh karena itu seperti yang saya katakan bahwa teori 24 musim dan teori 5 unsur merupakan hal yang utama untuk pelajari teori ini. Selain itu pengalaman dan bimbingan guru sangat menentukan untuk menjelaskan kasus-kasus yang ada dan cara menanganinya.
Sekarang ada beberapa guru ba zi yang membuat rumusan matematik yang menghitung kuat lemahnya suatu unsur. Biar mudah katanya. Sayangnya saya tidak mengetahui rumus tersebut. Ada yang mengetahuinya dan mau berbagi dengan kita semua? Dengan mengetahui rumus matematiknya anda mempermudah suatu perhitungan lagi. Dengan anda memdapat tabel ba zi anda dan da yun dari web maka 1/3 pekerjaan Ba zi sudah selesai Selamat mencoba website gratis tersebut Salam metta [Kiriman Bapak Saggadhana, http://www.budaya-tionghoa.org/modules.php?name=News&file=print&sid=223

tahun ini shio anjing pantang/chiong ama shio apa aja?

Leave a response

Your response:

Kategori