Bulan: April 2011

Rokok dan Fenomena Kebijakan Tembakau Indonesia

Perdebatan tentang rokok telah melibatkan polemik berkepanjangan dalam beberapa waktu belakangan. Berbagi pihak yang saling berbeda kepentingan mengeluarkan hasil temuan yang berbeda sudut pandang dalam melihat rokok dan segala implikasinya. Namun apapun argumentasi yang dikemukan polemik ini tetaplah merupakan suatu pertarungan dalam rangka perebutan sumber daya dan pasar. Lalu bagaimanakah kita bangsa Indonesia melihat polemik ini? maka setidaknya ada dua hal yang perlu diperhatikan.

Pertama, bagaimana kedudukan rokok terkait dengan industrialisasi nasional dan kedua, kedudukan dalam potret pertarungan perdagangan bebas yang semakin marak dalam beberapa waktu terakhir. Kedua hal tersebut penting dilihat oleh pemerintah dalam rangka merumuskan kebijakan yang tepat dalam memberikan perlakuan terhadap kegiatan perusahaan tembakau dan rokok dalam strategi pembangunan nasional, baik secara ekonomi, sosial dan kebudayaan.

Sebelum membedah masalah ini lebih jauh maka ada baiknya kita melihat hal-hal umum yang dihadapi masayarakat dunia saat ini dan bagaimana kaitannya dengan masalah ekonomi politik yang dihadapi rakyat Indonesia. (lebih…)

Iklan

Membongkar Sejarah Taman Makam Kalibata

Karena dituduh komunis, makam Heru Atmodjo di Kalibata dibongkar. Revanchisme atau ahistorisme?

AWAN mendung menaungi Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata Selasa sore, 26 April 2011. Aroma hujan terbawa angin. Bulir-bulir air mulai berjatuhan dari langit. Seorang petugas keamanan yang duduk di depan gerbang utama langsung berdiri dan menanyakan tujuan kedatangan Historia Online. Merasa tak punya kuasa, dia memanggil rekannya yang lain, yang ternyata juga tak berani memberikan izin masuk ke areal pemakaman. Sejurus kemudian dia menelpon seseorang. “Ini bapak bicara sendiri saja pada atasan,” katanya sambil menyodorkan handphone Nokia type E71 miliknya.

“Lapor dulu ke Garnizun Kodam Jaya di Gambir dan Depsos, kalau sudah ada surat izin nanti baru bisa masuk,” kata suara di ujung telpon kepada Historia Online.

(lebih…)

Terorisme Indonesia; Fakta atau Sandiwara?

Tulisan ini bisa jadi tidak “anget” lagi, karena isu terorisme tidak sedang dalam “peak season“. Topik ini saya tulis tidak lain karena hari ini, Kamis 26 Agustus 2010, jam 14:00 s.d. 16:00, ada satu forum diskusi yang diadakan oleh salah satu ormas di Jakarta dengan topik: “Benarkah Polisi ikut andil sebagai ‘dalang’ rekayasa isu terorisme?“. Sayangnya, saya tidak (akan) bisa menghadiri.

Topik diskusinya cukup sensitif menurut saya. Bahkan bisa jadi banyak yang mengerutkan dahi, setidaknya karena dua hal. Pertama, benarkah isu terorisme itu “rekayasa”? Ke dua, ini yang lebih sensitif, benarkan polisi ikut andil sebagai “dalang”? Tulisan ini tidak hendak menilai, apalagi menjawab, dua pertanyaan itu. Hasil diskusi tersebut mungkin akan bisa menjawabnya. (lebih…)

Kronologis Penginjakan Merah Putih pada Milad PKS; Bagaimana Jika Bendera PKS yang Diinjak?

Citra PKS kembali tercoreng. Setelah sempat dihebohkan karena salah satu kadernya di DPR menonton video porno saat sidang paripurna, kali ini PKS kembali dikejutkan dengan pemberitaan penginjakan kain merah-putih dalam acara Milad PKS di Kota Tasikmalaya.

Kala itu, saat salah satu pengisi acara melakukan aksi teatrikal, kedapatan menginjak kain warna merah dan putih. Mereka pun akhirnya diamankan pihak kepolisian. Berikut adalah kronologis lengkap atas kejadian kontroversi tersebut sebagaimana yang diterima okezone, Senin (25/4/2011). (lebih…)

Kecantikan; Aset Pribadi Perempuan yang Dikomersialisasi

Wajah sebagai sesuatu fisik yang unik dan publik menjadi simbol utama diri seseorang. Unik karena wajah bersifat privat, tidak ada dua wajah yang seratus persen identik meski dari dua orang terlahir kembar. Publik karena wajahlah yang dijadikan identitas untuk memperkenalkan kepada orang lain, seperti pembuatan kartu identitas. Wajah juga menggambarkan ras, usia, suasana hati dan bahkan status sosial ekonomi. Wajah telah memasyarakat menjadi tolak ukur atas status diri dan membedakan prestise seseorang dengan orang lainnya.

Perkembangan makna sosial terhadap wajah sebenarnya telah melahirkan pula bentuk-bentuk eksploitasi terhadapnya. Makna wajah lebih identik dengan makna fisiknya. Bahwa wajah yang cantiklah yang bisa dikatakan bagus. Padahal cantik atau ganteng itu sendiri sangat subjektif. Nilai kecantikan telah dijadikan eksploitasi ekonomi secara besar-besaran terutama oleh para kapitalisme yang bergerak di bidang kosmetik dan alat-alat kecantikan. Sehingga merias (fisik) menjadi kebutuhan dasar manusia untuk memperbaiki diri. Industri kosmetik ini tentunya juga tidak dapat dipisahkan dengan industri lainnya seperti pakaian, industri alat olahraga, mutivitamin dan lain-lain yang semuanya berorientasi kepada perbaikan fisik semata. Industri ini jelas telah mengkonstruk manusia (konsumen) untuk membeli produk-produk tersebut demi pertimbangan estetik yang diperlukan untuk penampilan diri secara fisik dan lebih parah lagi hanya untuk mengikuti tren dan mode yang sedang berkembang. (lebih…)

Jejak Rosihan Anwar

Jeffrie Geovanie,

ANGGOTA KOMISI I DPR RI

Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia wafat meninggalkan nama, dan Rosihan Anwar mangkat meninggalkan jejak. Wartawan multizaman yang lahir di Kubang Nan Dua, Sumatera Barat, 10 Mei 1922, itu menghadap Sang Khalik pada Kamis (14 April) pukul 08.15 di Rumah Sakit Metropolitan Medical Center, Jakarta.

Jejak apa saja yang ditinggalkan Rosihan Anwar untuk negeri ini? Yang paling menonjol, pertama, kritisisme seorang jurnalis. Tulisan-tulisan suami dari Siti Zuraida binti Moh. Sanawi ini pada umumnya memang terkesan lembut dan datar-datar saja. Tapi, pada momen-momen tertentu, ia bisa sangat kritis. Sebagai orang Minang, ia tak pernah sungkan untuk mengkritik siapa pun dan dalam kondisi apa pun. Ciri tulisannya khas dengan bahasa yang sangat lugas, logis, dan konsisten dengan kaidah yang baik dan benar.

Kritisisme Rosihan bukan tanpa risiko. Sejak awal kariernya sebagai wartawan, yakni pada masa perjuangan melawan penjajah, ia sudah harus berhadapan dengan rezim hingga dibui oleh Belanda di Penjara Bukit Duri, Jatinegara, Jakarta, yang waktu itu masih bernama Batavia. Pasca-kemerdekaan, salah satu pemimpin yang ia hormati pun, Sukarno, tak luput dari kritik pedasnya sehingga pada 1961 surat kabar yang didirikan dan dipimpinnya, Pedoman, dibredel. (lebih…)

Tuhan dan Agama dalam Pergumulan Batin Kartini

Oleh: Danang Kristiawan

Pelayan di Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ)

Mahasiswa Program Pascasarjana Teologi Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Jogjakarta


Pengantar

Kartini menjadi sosok yang dikagumi dan dianggap sebagai pelopor bagi emansipasi perempuan di Indonesia. Keprihatinannya terhadap masalah perempuan dan sosial di sekitarnya tertuang dalam tulisan-tulisan pribadinya. Tentu kalau dilihat dari sisi ini sebenarnya bisa diperdebatkan sisi perjuangan dan kepahlawanannya. Keprihatinannya terhadap masalah poligami, candu, dan pendidikan merupakan pengalaman eksistensial yang bisa saja menjadi pengalaman umum bagi para perempuan pada waktu itu. Hanya saja Kartini memiliki kesempatan untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan. Ditambah dengan hubungannya dengan kultur Eropa melalui beberapa orang dekat yang dikenalnya membuat sebuah bergulatan batin yang cukup menarik. Di sinilah muncul sebuah dialog internal dalam diri Kartini antara tradisi dan modernitas.

Dialog internal itu juga terjadi dalam ranah keagamaan. Namun sayang bagian ini jarang dibahas dan terlupakan. Padahal ini merupakan sebuah contoh yang cukup menarik bahwa setiap perjumpaan selalu akan menghasilkan sebuah pemahaman yang baru dan unik. Di tengah-tengah menguatnya berbagai sentimen keagamaan, maka dalam kesempatan ini tentu menarik kalau kita melihat sedikit pergumulan Kartini mengenai Tuhan dan agama. Dalam hal ini buku Th. Sumartana yang berjudul Mission at The Crossroad: Indigeneous Churches, european Missionaries, Islamic Assosiation, and Socio-Religious Change in Java 1812-1936 (Jakarta: BPK GM, 1994), khususnya pasal IV menjadi sumber informasi yang sangat penting. Tulisan ini hanyalah ringkasan dari bagian buku tersebut. (lebih…)