Posted by: maulanusantara | Nopember 13, 2007

Ketegangan Budaya Nenek Moyang dan Agama dalam Masyarakat Toraja

tana-toraja-solo-03.jpg

Oleh Christian Tanduk

 

Tulisan ini merupakan suatu analisis sosial masyarakat Toraja yang telah mengalami perubahan dalam bingkai budaya nenek moyang, agama dan modenitas. Penulis menyadari bahwa untuk membahas hal ini secara komprehensif, dibutuhkan penelitian yang komprehensif pula. Sementara itu, analisis yang penulis coba paparkan di sini didasarkan pada pengalaman empiris penulis - yang dibesarkan, belajar, dan melayani (sebagai Pendeta) dalam komunitas etnis Toraja - yang kemudian dirangsang oleh diskusi dalam kuliah “Agama dan Masyarakat”. Jadi selayaknya tulisan ini diberi label: “sebuah catatan awal”.

Dalam upaya memahami masyarakat Toraja ini, penulis mengelaborasi metode Bernard Adeney-Risakotta dalam kajian tentang model masyarakat Indonesia yang melihat modernitas, agama dan budaya nenek moyang sebagai tiga jaringan makna . Namun mengingat implikasi model ini sangat luas, maka penulis mempersempitnya dengan persoalan pokok: bagaimana ketiga jaringan makna ini membentuk etos dan world view masyarakat Toraja. Namun dalam pembahasannya penulis menukarkan posisi jaringan itu menjadi budaya nenek moyang, agama dan modernitas. Pembahasan seperti ini mengandaikan kronologi perubahan sosial masyarakat Toraja. Pertama-tama, budaya nenek moyanglah yang mengakar dan membentuk masyarakat Toraja. Setelah itu menyusul kehadiran agama dan merebaknya pengaruh modernitas. Penulis berusaha menghindarkan pembahasan ini dari unsur historis. Namun dalam tulisan ini hal tersebut bisa saja muncul di sana sini. Sebab menurut penulis, untuk menganalisis kondisi masyarakat saat ini dalam ketiga jaringan makna di atas, mau tidak mau kita harus sejenak menoleh ke belakang.

 

Masyarakat Toraja

Sebelum lebih jauh dalam pembahasan ini, penulis merasa perlu untuk sedikit menjelaskan apa yang penulis maksudkan dengan masyarakat Toraja. Istilah ini penulis pakai untuk membedakan kelompok masyarakat etnis Toraja yang tinggal di Kabupaten Tana Toraja dengan yang hidup sebagai perantauan di luar Tana Toraja. Pembedaan ini dilakukan mengingat adanya perbedaan pola pikir yang cukup mendasar antara orang Toraja yang tinggal di Toraja dan yang tinggal diluar Toraja dalam menanggapi masalah budaya nenek moyang, agama dan modernitas, serta pengaruhnya terhadap perilaku sosial mereka. Bagi mereka yang tinggal diluar Tana Toraja, perilaku sosial mereka cukup dipengaruhi oleh motifasi mereka meninggalkan Tana Toraja yaitu pekerjaan. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa sebagian besar orang Toraja yang merantau, hidup di daerah dalam konteks masyarakat yang majemuk, baik secara etnis maupun agama. Berbeda dengan komunitas yang tinggal di daerah Tana Toraja yang cenderung homogen.

 

Makna Budaya Nenek Moyang Bagi Masyarakat Toraja

Budaya nenek moyang orang Toraja terbentuk dengan latar belakang suatu sistem religi atau agama suku yang oleh masyarakat Toraja disebut Parandangan Ada’ (harfiah : Dasar Ajaran/Peradaban) atau Aluk To Dolo . Aluk to Dolo percaya satu dewa yaitu Puang Matua - sebutan yang di kemudian hari diadopsi oleh Gereja untuk menyebut Tuhan Allah. Di samping itu dikenal juga deata (dewa-dewa) yang berdiam di alam, yang dapat mendatangkan kebaikan maupun malapetaka, tergantung perilaku manusia terhadapnya.

Jika Durkheim membedakan antara yang sakral dan profan, maka hal itu tidak berlaku bagi Aluk to Dolo. Tidak ada yang profan. Semua aktifitas manusia memiliki nilai sakral mulai dari persoalan tidur sampai membangun rumah. Demikian halnya keberadaan manusia dari lahir sampai mati, aturan-aturan etis dan ritus serta simbol-simbol yang berhubungan dengan kesakralan itu selalu mengiringi keberadaan manusia Toraja. Aturan-aturan etis dan ritus serta simbol-simbol itu menghubungkan manusia secara khas dengan dengan tatanan faktual, baik dengan yang ilahi, maupun dengan sesama manusia dan alam. Kepercayaan inilah yang membentuk way of thinking dan way of living Toraja dan menjadi budaya yang melekat dengan begitu kuatnya.

Paradigma yang dipakai Geertz mengenai sintesa etos dan pandangan dunia daalam sebuah kebudayaan sangat membantu kita untuk memahami makna budaya nenek moyang bagi orang Toraja . Simbol-simbol dan motifasi apapun yang dicerminkan pola budaya ini sangat terkait dengan pemahaman mereka tentang tatanan faktual, dimana manusia, alam dan yang ilahi terikat dalam sesuatu yang serba sakral. Jika kemudian Geertz mendefinisikan agama dari paradigma ini, rasanya definisi yang dihasilkan Geertz tidak berbeda dengan makna budaya nenek moyang bagi orang Toraja.

 

Budaya Nenek Moyang Dalam Perjumpaannya Dengan Agama Kristen

Agama Kristen mulai diperkenalkan di Toraja oleh seorang misionaris Belanda yang bernama A.A.van de Lostrect pada tahu 1913. Kegiatan penginjilan terus dilakukan sampai berdirinya Gereja Toraja tahun 1947, dengan bentuk yang amat diwarnai oleh Gereja Gerevomeerd di Belanda. Pandangan teologia yang dibawa oleh misionaris ini sangat negatif terhadap etika maupun ritual dari budaya nenek moyang yang dicap kafir . Berbagai larangan yang didasarkan pada dogma Gereformeerd kemudian disusun. Kalupun ada etika dalam budaya yang sebenarnya tidak bertentangan dengan ajaran gereja, hal itu tetap dianggap tidak cukup. Apa yang diajarkan Gereja adalah segala-galanya. Kalaupun ada upacara-upacara yang diijinkan, hal itu senantiasa diupayakan bersih dari nilai-nilai kekafiran budaya nenek moyang. Jika kita menghubungkan kenyataan ini dengan analisis Richard Niegbuhr tentang sikap terhadap budaya, maka sikap yang anut adalah “Kristus melawan Kebudayaan”.

Sekarang ini hampir semua orang Toraja memeluk agama Kristen. Tetapi tampaknya etos dan pandangan dunia yang diharapkan Gereja dapat membentuk struktur sosial dan pranata sosial masyarakat Toraja berdasarkan nilai-nilai Kekristenan, tetap mengalami perlawanan dari budaya Toraja yang telah mengakar dalam diri masyarakat Toraja. Bentuk perlawanan itu memang tidak terlihat secara eksplisit, bahkan tidak disadari. Meminjam teori psikoanalisa Freud, penulis melihat bahwa kalaupun masyarakat Toraja telah beragama, etos dan pandangan dunia yang berlatar belakang budaya nenek moyang, tetap tersimpan dalam dirinya dalam alam bawah sadar. Pada saat-saat tertentu, cara berfikir dan cara bertindak orang Toraja akan sangat dipengaruhi oleh memori yang tersimpan dalam alam bawah sadar itu. Uniknya, memori ini tersimpan secara turun temurun.

Dalam hal ini penulis melihat bahwa perjumpaan budaya nenek moyang orang Toraja dan agama Kristen yang datang dari konteks Barat telah menciptakan kondisi masyarakat Toraja dalam suatu tarik menarik. Pada satu sisi agama Kristen diakui sebagai dasar iman. Tetapi pada sisi lain, etos dan pandangan dunia yang lahir dari budaya nenek moyang tetap berpengaruh, walaupun hal itu tidak tampak secara eksplisit. Hal ini menyebabkan kondisi masyarakat Toraja sering menampilkan sikap yang dualisme dan juga sering dikotomis. Contoh kasus berikut, kiranya dapat menjelaskan teori ini:

a. Ketika seseorang telah beragama Kristen, idealnya rujukan etikanya adalah Firman Tuhan (Alkitab). Apapun yang dipikirkan atau dilakukan idealnya selalu menempatkan Firman Tuhan sebagai penuntun sekaligus kontrol. Tetapi hal berbeda menjadi fenomena masyarakat Toraja. Ketika mereka berada dalam konteks gereja (misalnya ibadah atau kegiatan keagamaan lain), rujukan etika adalah Alkitab: “Itu tidak sesuai dengan firman Tuhan”; “Inilah kehendak Yesus”. Demikian sering dikatakan. Tetapi ketika mereka mulai beralih dalam kehidupan sehari hari, maka hal itu berubah menjadi : ”Menurut orang tua….”. (Maksudnya nenek moyang), “Jangan begitu, itu tidak sesuai dengan budaya kita”.. Dengan ungkapan-ungkapan seperti ini, masyarakat Toraja telah menunjukkan keterikatannya dengan budaya nenek moyang, walaupun ketika di tanya, bisa saja dia mengatakan : “Ah, kita kan sudah Kristen”.

Inilah salah satu contoh karakter dualisme dalam diri orang Toraja. Pada satu sisi, agama diakui. Namun pada sisi lain, petunjuk nenek moyang tetap menjadi pegangan. Ironisnya, masyarakat lebih takut melanggap pamali (pantangan yang diajarkan budaya) ketimbang larangan Alkitab. Mereka lebih taat kepada pemuka adat daripada pemuka agama. Alasannya, pelanggaran terhadap pamali akan langsung berhadapan dengan nasib buruk. Tetapi jika melanggar perintah Tuhan, belum tentu dihukum.

b. Dalam budaya nenek moyang orang Toraja, ada stratifikasi sosial yang cukup menonjol. Ketika perbudakan masih berlaku di Toraja, dikenal golong puang (penguasa, tuan) dan kaunan (budak). Namun pada zaman kolonial Belanda hal itu dilarang. Tetapi dalam prakteknya, masyarakat adat Toraja tetap membedakan empat kasta dalam masyarakat yang diurut dari yang tertinggi yaitu tana’ Bulaan (Keturunan Raja. Bulaan artinya Emas); tana’ bassi (Keturunan bangsawan. Bassi artinya Besi), tana’ karurung (Bukan bangsawan, tetapi bukan juga orang kebanyakan. Karurung adalah sejenis kayu yang keras) dan yang terendah adalah tana’ kua-kua (kua-kua, sejenis kayu yang rapuh). Dalam hubungan dengan upacara-upacara adat, dikenal pula golongan imam (to minaa atau to parenge’) dan orang awam (to buda).

Dengan berkembangnya agama Kristen, orang Toraja Kristen menerima bahwa semua manusia sama di hadapan Tuhan. Di dalam Tuhan tidak ada penggolongan seperti itu. Namun dalam penerapannnya di masyarakat, pengakuan terhadap kasta seseorang tetap ada. Akibatnya, ketika mereka berdiri sebagai warga gereja, yang dituruti adalah para penatua atau pendeta, namun dalam kehidupan sehari-hari, wibawa para keturunan raja dan bangsawan serta pemuka masyarakatlah yang berpengaruh. Hal ini menyebabkan sering terjadi benturan antara pemuka agama dan pemuka masyarakat. Pemuka agama berpedoman pada ajaran agama, sedangkan pemuka masyarakat berpedoman pada budaya nenek moyang. Akibatnya, fenomena dualisme muncul lagi. Ketika masyarakat berada dalam posisi sebagai warga jemaat, maka keputusan pemuka agamalah yang diikuti. Entah bertentangan dengan budaya atau tidak, yang jelas Firman Tuhan mengajarkan. Demikian pula sebaliknya. dalam posisi sebagai anggota masyarakat, keputusan pemuka adatlah yang diikuti, entah sesuai dengan ajaran agama atau tidak. Dari sudut pandang pemimpin, ada pula kencenderungan apatisme pemuka agama dalam kegiatan yang berhubungan dengan budaya nenek moyang, dan juga apatisme pemuka masyarakat dalam kegiatan gereja.

Hal ini juga berhubungan dengan asas kepemimpinan bottom up dan dan top down. Dalam konteks gereja teori yang berlaku adalah asas bottom up yang demokratis. Sedangkan dalam kontek kehidupan sehari-hari asas top down-lah yang berlaku. Jika demikian, masyarakat - entah sadar atau tidak - sedang dibentuk dalam dua teori kepemimpinan yang bertolak belakang itu. Implikasinya bisa menjadi bumerang bagi wibawa gereja atau wibawa adat ketika terjadi persilangan. Maksudnya asas bottom up mau dipaksakan dalam komunitas budaya, dan asas top down hendak dipaksakan dalam komunitas agama. Pemaksaan itu bisa saja dilakukan para pemuka adat atau warga biasa dalam gereja yang tidak nyaman dengan asas botom up. Atau oleh para pemuka agama yang merasa tidak nyaman dengan asas top down dalam masyarakat. Kita sudah bisa menebak akibatnnya : konflik dalam gereja atau konflik sosial dalam masyarakat, atau konflik antara institusi gereja dan institusi masyarakat.

Dengan demikian kita dapat melihat bahwa kondisi sosial masyarakat Toraja yang terus menerus berubah saat ini senantiasa berada dalam tarik menarik antara budaya nenek moyang dengan agama. Tarik menarik itu bisa berimplikasi pada dualisme, tetapi bisa juga muncul dikotomi antara yang gerejani dan budayani. Di dalam gereja, mereka menjadi orang Toraja yang berakar dalam budaya nenek moyang, tetapi tampil dengan “pakaian” Kekristenan. Ketika mereka keluar dari wilayah gereja, maka pakaian itu kembali dilepaskan untuk dipakai lagi ketika mereka kembali ke gereja. Jadi di dalam masyarakat, mereka berpegang teguh pada budaya, namun ketika mereka memasuki dunia kekristenan, maka “pakaian” Kristennya di pakai.

Masyarakat Toraja dan Pola Pikir Modernitas: Implikasi ketegangan antara budaya dan agama

Jika kembali kepada paradigma budaya Geertz, masyarakat Toraja sekarang ini - entah sadar atau tidak, tetapi kemungkinan besar tidak disadari - sedang mengalami kebingungan pembentukan etos dan worl view. Antara dogma agama dan budaya nenek moyang. Antara keduanya ada tarik menarik, bahkan pertentangan. Gejala sosial yang dilematis ini menjadikan situasi masyarakat Toraja saat ini cukup rawan ketika diperhadapkan dengan modernitas dengan berbagai karakteristiknya.

Sejauh kita memahami modernitas sebagai sebagai keterikatan kepada rasionalitas dalam semua sisi kehidupan, kita tidak dapat sepenuhnya mengklaim bahwa modernitas sama sekali belum menyentuh masyarakat Toraja pada saat agama Kristen mulai berkembang. Bagaimanapun juga, doktrin yang dibawa para zending ke Toraja tidak lepas dari pergulatan modernitas di Barat (Belanda). Bahkan adanya tarik menarik antara pandangan dunia budaya dan pandangan dunia agama bisa jadi disebabkan pengaruh pola pikir modern.

Tetapi jika kita mencoba memfokuskannya pada etos dan pandangan dunia yang ditawarkan laju modernitas, maka akan segera terlihat ketidaksiapan mental masyarakat Toraja menghadapi fenomena sosial yang ditimbulkan pola pikir atau kita sebut saja kebudayaan modern. Ketidaksiapan itu bukan berarti penolakan, tetapi penerimaan tanpa kritik. Gejala ini sudah menjadi fenomena yang cukup umum dalam masyarakat Toraja sekarang ini. Tarik menarik antara paradigma budaya dan paradigma agama menyebabkan etos dan pandangan dunia masyarakat Toraja terjebak dalam dualisme dan dikotomi. Keadaan ini menjadi cela yang cukup besar, yang memungkinkan kebudayaan modern mulai membentuk masyarakat tanpa ada perlawanan atau kritik yang berarti dari masyarakat, baik dengan dasar budaya maupun agama. Para pemerhati kebudayaan daerah maupun gairah pelayanan gereja sebenarnya cukup menyadari bahaya ini dan melakukan berbagai upaya pembinaan. Tetapi etos dan world view yang terlanjur tidak konsisten menyebabkan masyarakat tidak cukup kuat untuk mengajukan kritik terhadap kebudayaan modern serta melakukan kontrol terhadap infiltrasi kebudayaan modern. Akibatnya budaya modern mulai membentuk etos dan pandangan dunia masyarakat Toraja.

Salah satu contoh adalah individualisme. Karakter ini mulai menjadi warna masyarakat Toraja. Padahal karakter demikian sangat bertolak belakang dengan semangat kebersamaan orang Toraja yang terkenal dengan semboyan misa’ kada di potuo pantan kada di po mate (artinya kurang lebih sama dengan “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh). Ironisnya, individualisme itu bisa tercermin dalam sebuah aktifitas yang berlatar belakang budaya.

Penulis mencontohkan fenomena ini dengan menyorot salah satu upacara adat Toraja yaitu upacara pemakaman (rambu solo). Dari luar kita bisa melihat adanya nilai budaya yang besar dalam upacara ini. Ada pondok-pondok yang dirikan secara gotong royong. Hewan korban (kerbau dan babi) disiapkan untuk menjamu tetamu yang datang sekaligus simbol penghargaan kepada si mati . Setelah itu sanak famili dan kenalan mengungkapkan tanda dukacita melalui kehadiran dalam upacara itu sekaligus membawa babi atau kerbau sebagai tanda simpati. Pada akhir pesta (yang biasanya 3 sampai 4 hari), ada juga hewan korban yang disisihkan untuk disumbangkan kepada gereja.

Tetapi jika kita mencermati motifasi dibalik persiapan dan pengorbanan itu, kita akan menemukan bahwa unsur gengsi atau prestise sangat mengemuka. Demi martabat di mata masyarakat, keluarga si mati akan mempersiapkan pesta dengan hewan korban sebanyak mungkin. Walaupun merupakan sebuah pemborosan yang penting harga diri akan terjaga. Sementara itu, sumbangan dukacita (dalam bentuk hewan korban) yang dibawa famili yang lain atau kenalan, tidak lagi dianggap sebagai tanda simpati, tetapi hutang. Jika sekali waktu kenalan tersebut menggelar upacara yang sama, maka mau tidak mau hutang itu harus dibayar. Jika tidak, harga diri menjadi taruhan. Sumbangan ke Gereja pun tidak lepas dari masalah harga diri. Menyumbang banyak artinya terhormat, prestise terjaga. Tidak menyumbang, memalukan. Dalam hal ini individualistis berjalan bersama dengan materialisme. Sekiranya Ferdinand Toennies menganalisis kedaan ini maka pembedaan Gemeinshaft dan Gesselschaft dalam teorinya akan mengalami kerancuan. Masalahnya karakteristik Gesselschaft yang diidentifikasi Toennies justru sering tercermin dalam sebuah konteks Gemeinshaft di Toraja. Kita bisa sederhanakan fenomena ini dengan ungkapan “modenitas yang berpakaian tradisional”.
Dengan semua kenyataan ini, indikasi keterasingan atau ketercabutan masyarakat Toraja dari akar budayanya mulai terlihat. Tetapi saya sendiri berharap bahwa teori-Hegel tentang keterasingan masyarakat modern dari lingkungannya, atau teori kurungan besi Weber tidak akan pernah terjadi dalam konteks masyarakat di Toraja.

Kesimpulan dan Penutup

Sebagai kesimpulan, penulis menyimpulkan pembahasan ini dengan mencoba menggambarkan kondisi sosial masyarakat Toraja saat ini dengan dua illustrasi berikut:
Pranata sosial dan struktur sosial masyarakat Toraja sedang (bahkan sudah lama) berada dalam tarik menarik antara paradigma budaya dan paradigma agama. Akibatnya Etos dan world view masyarakat berada dalam dualisme dan dikotomi. Disadari atau tidak, masyarakat sedang berada dalam kebingungan merumuskan jati dirinya.

Keadaan itu menyebabkan infiltrasi kebudayaan modern berlangsung tanpa kritik dan koreksi dan budaya atau agama. Akibatnya, etos dan pandangan dunia masyarakat Toraja mulai dibentuk oleh karakteristik budaya modern, tetapi ironisnya sering ditampilkan dalam kemasan budaya atau agama.

Kenyataan ini menjadi tantangan bagi pemerhati budaya dan pemuka agama, khususnya agama Kristen, termasuk penulis.[]

Source: http://forumteologi.com/

 

Tanggapan

Sdr. Christian Tanduk YTH,

Anda kurang jeli menulis tentang budaya (adat-istiadat) Toraja. Anda hanya melihat dari besarnya pengorbanan ekonomi yang terjadi. Tidak berani melihat dampak positif yang ditimbulkan, semisal, tingginya gizi anak remaja, keeratan hubungan/kekerabatan keluarga, peningkatan kepariwisataan, Torajalogy-nya, dan masih banyak aspek lainnya.

Selain itu, anda hanya berani melihat Aluk Simuane Tallang, Silau’ Eran dari sisi rambu solo’ (aluk rampe matampu’ ;) tidak mengangkat betapa hebatnya ritual aluk rampe matallo (aluk rambu tuka’).

Jika anda orang Toraja asli, anda akan ditertawakan para pakar tradisional lisan dan para bangsawan Toraja, karena anda kurang menguasai aluktodolo, terutama aluk sanda pitunna (aluk-7777) dan aluk sanda saratu’na.

Anda membawa nama gereja, gereja mana dan orang Kristen mana yang anda wakili? Yang pasti bukan Gereja Katolik, sebab Gereja Katolik sanggup mentransformasi nilai-nilai asli budaya Toraja ke dalam ajaran dasarnya.

Jadi hati-hatilah menulis aluktodolo dengan ajaran Kristen. Agama itu sudah dapat dipastikan berada di antara mitologi dengan ideologi, namun harus belajar filsafat keagamaan, terutama agama Kristen, untuk dapat membangun minimal sebuah hipotesis untuk membuktikan kebenaran argumentasi anda tentang aluktodolo. Apalagi kalau hanya dari satu sisi saja.

Ingat tahun 1947 aluk dan adat telah jalan sejajar tetapi tetap bersatu karena saat itu pengaruh lain masuk ke Tana Toraja. Jadi selain filosofi agama berarti anda juga harus menguasai sejarah Toraja (Baca penelitian Christian Peres dan peneliti lainnya tentang budaya dan mitos di Sulsel).

Selain itu, perang Untulak Buntunna Bone telah banyak membawa ketidakjelasan ajaran aluktodolo dan ajaran kepercayaan lainnya di bumi Tana Toraja. Maukah anda membuktikan bahwa ketika itu jumlah orang Toraja tinggal sedikit yang hidup, sedang pengaruh Calvinisme di Toraja sudah berakar baik?

Jadi singkatnya, aluk dan adat pada mulanya satu. Tetapi pengaruh luar telah memaksanya berpisah, sehingga kata adat lebih populer daripada aluk (Tongkonan Ada’, 1947 berdiri). Jadi pemakaian kata adat menjadi lebih manis dan lebih populer dibanding kata lauk. Ini hanya goyangan lidah saja, bukan ikut memaknai.

Demikian komentar saya. Terima kasih atas kesudian Sdr. Christian Tanduk untuk mau mengolah atau memperbaiki redaksi artikel anda di atas.

Saya yakin anda bukan orang Katholik…. itu pasti!

Baru-baru ini Saya menganalisa mengapa ritus rambu solo’ tetap bertahan hingga kini dalam sebuah makalah ilmiah.
Salah satu yang menyebabkan ritus rambu solo’ tetap bertahan adalah karena ajaran gereja Katholik, meskipun penganut Katholik 1/2 lebih kecil dibanding penganut Protestan namun sanggup mempengaruhi budaya Toraja.
Dasarnya adalah, Guademus et Spes sebuah dogma yang menaruh penghargaan besar terhadap kebudayaan.
Kemudian yang kedua adalah bahwa gereja Katholik mengakui adanya hubungan antara orang yang sudah mati dengan orang yang masih hidup di dunia.

Saya kira kesimpulan saya adalah bahwa gereja yang berusaha membunuh kebudayaan adalah SESAT…!

Bpk Frans dan Niko yang baik.
Saya sangat senang dengan respon positif yang diberikan. Kerinduan bung Frans agar saya mengolah artikel tersebut telah saya lakukan melalui tesis yang dibimbing Prof. Gerit Singgih dan Prof Banawiratma di Yogya dengan judul “Pertemuan Dialogis dengan Korban dalam Kitab Imamat dan dalam Budaya Toraja”. Tesisnya dah kelar sebelum komentar Pak Frans di posting. Lagi pula artikel itu hanyalah catatan awal dari sebuah rancangan penelitian.
Tapi sbg bahan diskusi, saya menggarisbawahi bbrp pokok pikiran:

1. Artikel di atas diletakkan dalam bingkai segitiga Agama, Modernitas dan Budaya nenek moyang. Saya menduga bahwa kesalahan orang dalam mengkaji sebuah budaya masyarakat adalah hanya melihat satu dari tiga aspek itu. Jadi ketika orang mempelajari Adat Toraja hanya dari segi parandangan ada’na aluk todolo, maka tuduhan arkaisme cukup beralasan. Padahal worldview rambu solo dalam budaya orang Toraja masa kini sama, walaupun prakteknya nyaris sama. Jadi menurut saya, kalau mau membuat deskripsi rambu solo, misalnya, jangan dimulai dari aluk to dolo. Dalam analisis, barulah aluk todolo dilibatkan.

2. Memang backround saya Protestan, tapi belajar untuk kritis. Karenanya sejak awal saya tertarik dengan dogma Guademus et Spes yang tidak ada dalam Protestanism awal. Jadi lebih lanjut mengenai tarik menarik dalam segitiga spt dalam artikel di atas, gereja harus lebih byk melakukan sintesa ketimbang antitesa.

Namun saya masih agak ragu mengenai klaim Pak Niko bahwa Katolikisme mempengaruhi kebudayaan Toraja, misalnya dengan bertahannya ritual rambu solo’. Sayang Pak Niko tdk menyampaikan lokasi penelitiannya. Karena sepanjang yang saya lihat selama penelitian, bertahannya ritual2 dari agama suku lebih dipengaruhi oleh worldview yang membingkai ritual itu dari mulanya. Mungkin bisa dibandingkan dengan teori kebudayaan Clifford Geertz. Walaupun demikian, saya tidak menolak tesis Pak Niko. Saya justru akan sangat bersyukur kalau tulisan Pak Niko bisa di posting atau minimal disumbangkan kepada saya yang masih ingin belajar banyak.

Demikian umpan balik saya, kiranya melalui forum ini kita saling memperkaya.

Salam.
christian.tanduk@mail2web.com

Kepada YTH Bapak Christian Tanduk

Saya sedang berusaha untuk menulis skripsi tentang value yang dimiliki oleh mahasiswa toraja, tapi saya tidak terlalu mengetahui budaya toraja secara keseluruhan (selain dari upacara rambu solo’).

Dengan membaca tulisan bapak ini saya merasa bapak merupakan referensi yang baik bagi dasar penulisan skripsi saya.

saya ingin meminta bantuan bapak dalam meminta berbagai referensi lain mengenai budaya toraja yang pengaruhnya mungkin hampir terkikis oleh modernisasi di kalangan mahasiswa.

atas bantuan bapak saya ucapkan terima kasih.

novita rongre (nonovzz@yahoo.com)

Sdr. Nicholas dammen Yth,
Sebelum kita lanjutkan dialog antar agama, ijinkan sya amengajukan beberapa pertanyaan mendasar sbb :

a. Apakah ukuran yang digunakan menetapkan seseorang itu katolik atau bukan katolik ?

b.Apakah kekatolikan hanya diukur dengan Gaudemus et Spes dan adanya hubungan antara orang hidup dengan orang mati ? Atau kedua aspek tersebut kebetulan sama pandangannya dengan alukna aluktodolo ?

c. Makalah sdr. Nicholas Dammen belum terkaji secara empiris. Itu so pasti. Baru sebatas ‘personal perseption and personal view”. Masih ada banyak hal di dalam alukna aluktodolo yang lebih kuat mendukung ajaran gereja katolik dibanding kedua hal yang dikemukakan. Mis. Non-Violence sama kuatnya dengan “ladi tunurika tu apa tae’”di dalam alukna aluktodolo versi rambu solo’. Siangkaran di dalam alukna aluktodolo versi rambu tuka’ sama kuatnya dengan ajaran cinta kasih di dalam gereja katolik. Dan masih banyak contoh kobnkret lainnya.

Sdr Nicholas dammen yang baik.
Sy belum membaca makalah anda, tetapi kalau makalah itu dilengkapi dengan “alur” alukna aluktodolo, sy yakin lebih dari 100% anda akan kecewa. Sy tidak menyusun thesis dan disertasi di dalam bidang religi, apalagi ritus-ritus aluktodolo, tetapi kalau anda menelusuri Tri-Hari Suci dan anda bandingkan dengan ritus-ritus Kaperaokan ataukah ritus-ritus Ma’bua’ Kasalle, anda yakin anda tidak akan memberanikan diri berkomentar bahwa sy atau siapapun itu bukan orang katolik.
Akan lebih cilaka lagi, kalau seseorang yang mengakui dirinya katolik lalu berani menyamakan aluktodolo dengan agama katolik.

Jawaban dan komentar anda sy tunggu segera.

frans bararuallo

Yth Bp. Christian

Sy cukup setuju kalau pengamatan budaya, agama, dan moderisasi dilakukan secara berbarengan untuk mencari suatu gambaran konkret yang bersifat sangat sementara. Tetapi akan lebih setuju, sekiranya, ideologi diikut sertakan.Ideologi akan menangis dan bisa meraung-raung kalu tidak diangkat karena ia “saudara kembar” dengan budaya.

Sebagai informasi tambahan, dan hal ini harus diyakini, bahwa terjadinya degradasi alukna aluktodolo doi Tana Toraja terjadi karena (hasil pengamatan 15 tahun terakhir) :

a. Aluktodolo terdiri dari aluk sanda pitunna dan aluk sanda saratu’na.Ia meliputi aluk rambu tuka’ (aluk rampe matallo) dan aluk rambu solo’ (aluk rampe matampu’ ;) Kedua aluk ini lazim dinamakan aluk simuane tallang, silau’eran. dahulu yang boleh melaksanakan ritus tertinggi aluk ini adalah para bangsawan dan tomakaka. Jadi kalu bukan bangsawan atau tomakaka, maka itu tidak dibolehkan jika tanpa ijin dari parengnge’ atau bangsawan/tomakaka.

b. Akibat perkembangan perekonomian lapisan masyarakat bahwa karena keberuntungan yang dinikmati dari laju moderisasi, maka mereka menunggangi kekuatan moderisasi untuk menghancurkan kefeodalan bangsawan dan tomakaka, termasuk menaikkan status dirinya menjadi bangsawan baru dengan pomor kekayaan. Jadi pengakuan masyarakat diperoleh melalui harta atau pengetahuan. Itulah yang membunuh pelan-pelan aluktodolo dalam bentuk aluk rambu tuka’ dan aluk rambu solo’. Jadi kalau anda mencari identitasnya sekarang ini, hampir bisa dikatakan yang ada sudah tiruan, bukan aslinya lagi. Sudah didasarkan pada power to do or power to implement.

c. Sy sedang membukukan silsilah (ossoran di Kesu’, Luwu’ dan Tallulembangna, di mana implementasi aluktodolo ikut termuat di dalamnya.
Buku ini siap cetak (sudah diedit para pakar lisan adat Toraja).

Terima kasih.

frans bararuallo

Ibu Novita yang baik,

Jika Ibu membutuhkan data tentang aluktodolo di Toraja, anda boleh menghubungi PT Sulo di Rantepao. Ada beberapa buku yang mereka terbitkan yang memuat sebagian kecil illustrasi tentang itu.

Terima kasih,

frans bararuallo

Saya senang belajar. Cuma kalau komentar2 yang masuk berisikan bahasa emosional, lantas bagaimana caranya mencari kebenaran.

Ibu Novi,
Ada beberapa pustaka yang mungkin bisa membantu: Ihromi, T.O (Adat Perkawinan Toraja Sa’dan dan Tempatnya dalam hukum positif Masa Kini); Kobong, Th. dkk.-Pusbang Gereja Toraja, (Aluk, Adat, dan Perjumpaannya dengan Injil; Roh-roh dan Kuasa Gaib; Manusia Toraja: Siapa, Bagaimana, Mau Ke Mana; Aluk Rambu Solo’ dan Persepsi orang Kristen tentang Rambu Solo’); Nooy-Palm (The Sa’dan – Toraja: A Studi of Their Social Life and Religion, Rituals of The East and West); Peter J.M.Nas, (Framing Indonesian Realities); Siman, A. Paniki (Kurban Menurut Faham Orang Toraja Sa’dan); L.T.Tangdilintin (Toraja dan Kebudayaannya); van der Veen (Ossoran Tempon Dao mai langi’; The Toraja Sa’dan Chant for The Deceased. ada beberapa lagi tapi saya lupa. Saya gak tau Novi posisi di mana. Tapi kalau kebetulan ke Jogja, perpus Kolsani atau UKDW bisa dicari.

Lanjut mengenai dialog Budaya, saya setuju Pak Theo mengenai gaya kita berdialog. Tidak semua hal perlu di tanggapi ‘kan ?.

Saya ingin melanjutkan dialog ini dengan menggaris bawahi dua pernyataan pak Frans.
PERTAMA “….. ada banyak hal di dalam alukna aluktodolo yang lebih kuat mendukung ajaran gereja katolik”.
Catatan kecil : Pak Frans senang menggunakan nama : ALUKNA ALUK TO DOLO. Apa tidak sebaiknya ALUK TO DOLO saja. Atau kalau mau komplit : PARANDANGAN ADA’NA TO DOLO. Ah itu hanya masalah kecil.
Catatan kedua : Saya setuju bahwa banyak ajaran Aluk todolo yang mendukung ajaran Gereja Katolik, dan tentu ajaran protestan juga. Cuma masalahnya sekarang adalah apa respon Gereja (saya tidak membedakan Katolik dengan Protestan) dengan dukungan itu ? Apakah sekedar membolehkan ritual tertentu lalu mengatakan “Yes. Ini cocok dengan ajaran Gereja”, atau mulai menjadikan hal itu sebagai wahana untuk penghayatan iman ? Saya menduga bahwa Gereja masih lebih cenderung sebatas mengatakan ini cocok atau ini tidak cocok. Kalau keadaan ini dibandingkan dengan statement pegiat kontekstualisasi teologi, maka yang masih lebih banyak dilakukan adalah mencari kecocokan Injil dengan budaya dan bukannya menemukan injil dalam budaya. Dalam salah satu bukunya, Gerit Singgih mengatakan “Apa yang dibawa para missionaris/sendeling adalah sebagian dari kekayaan Injil. Sebagian lagi, entah bagaimana sudah ada di Timur”. Jadi kalau kita melihat kecocokan ideologi antara aluk to dolo dan ajaran Gereja, maka kita harus berani lebih jauh menyelam dalam kecocokan itu lalu menemukan sesuatu yang membangun iman,bukan hanya sekedar sejajar. Karena yang sejajar gak bakal bisa ketemu.

BBB “b. Akibat perkembangan perekonomian……dst.” Saya mengajak pak Frans memasukkannya dalam segitiga (Agama-Modernitas-Budaya Nenek Moyang) yang membangun pemikiran dalam artikel saya di atas. Pak Frans sudah mengangkat dua unsur (modernitas dan budaya). Persoalannya sekarang adalah dimana dan apa yang dilakukan agama ? Apakah ini pertanda bahwa Agama sedang ditantang atau justru bukti bahwa agama tidak berdaya ? Ini sulit dijawab. Saya cuma menduga bahwa jika tokoh agama -di Toraja- berani menyelam kekayaan Injil dalam Budaya DAN tokoh budaya peduli dengan pergumulan Gereja, mungkin keprihatinan pak Frans bisa direspon.

Salama’

Terima kasih bung Frans,
dan maaf bagi siapapun….

saya baru membuka halaman ini sejak beberapa bulan yang lalu, saya tidak begitu tertarik berdebat lebih jauh tentang hal ini. Terlalu berbahaya……

Saya kira yang harus dilakukan oleh (tabe’ ;) ambe’-ambe’ ta adalah: Menyusun Buku tunggal tentang Kebudayaan Toraja secara menyeluruh agar kita lebih memiliki batasan yang dapat dijadikan landasan kuat dan satu-satunya.

Kalau begitu, kita akan lebih aman berdebat….!

Perlu saya tegaskan, jangan sampai ada yang salah orang; saya bukan Nicholas Dammen yang sering dipanggil P’ Tendy yang di kedubes Indonesia untuk Asean…. saya hanya seorang mahasiswa S1. ini saya tulis hanya untuk menghindari salah kira.

tetap tolak pemekaran Tana Toraja….

manasu mo ra ka kambang bai,…..
hahaha…..

oh, ya soal makalah.
saya belum akan mempostingnya, karena makalah saya sedang diikutkan kompetisi…..

‘ntar saya posting, lho??!

kurre sumanga’

saya terkadang muak melihat sekte Kristen tertentu yang baru didirikan kemarin (bahkan ada yang didirikan hanya dipakai pendeta mencari uang) berusaha membunuh kebudayaan. Mereka dengan lancang mengatakan, daging yang dimakan di upacara rambu solo’ haram.

Bukankah waktu Yesus masih di dunia, Ia mengikuti dan kebudayaan sekitarnya? Waktu Yesus dikubur, Ia dibaluti dengan rempah-rempah menurut kebudayaan Yahudi, dan masih banyak lagi kebudayaan Yahudi yang dijalankan Yesus.

Yang perlu dilakukan Gereja adalah meluruskan makna yang terkandung dalam setiap nilai budaya, bukan membunuh kebudayaan dengan kedok mengadu Kitab Suci dengan Ritual Kebudayaan. Tradisi Kebudayaan lebih mengakar dalam kehidupan Masyarakat Adat Toraja ketimbang ajaran Kristen yang asing.

Menurut saya, ajaran agamalah yang harus berafiliasi pada kebudayaan, bukan sebaliknya. Kristus jangan dipahami hanya seputar Injil tetapi seluruh jagat raya. Gereja di tengah bangsa-bangsa adalah gereja seperti yang dirumuskan dalam Konsili Vatikan II, gereja yang terbuka, menerima kebudayaan lokal, dan kearifan leluhur. (Baca: Guademus et Spes untuk memahaminya).

Terlebih dahulu sy mohon maaf sebesar-besarnya kepada Bp. C. Tanduk dan sdr. Nicholas D atas keterlambatan saya membuka milis ini. Setidaknya ada dua hal yang sy akan tanggapai berdasarkan tanggapan-tanggapan sebelumnya.
1. Untuk Bp. C. Tanduk
Semua pasti setuju kalau tidak semua hal harus ditanggapi. Tetapi kalau tanggapannya miring dan dapat merusak tatanan budaya atau struktur sosial kemasyarakatan, khususnya di Tana Toraja, maka pasti banyak pihak yang angkat bicara. Sy menggunakan alukna aluk to dolo karena aluk to dolo itu mempunyai banyak aluk, mis. aluk rambu solo’ (massilli’, ma’pasangbongi, ma’patallung bongi, ma’palimang bongi, mangrapai, dst) dan aluk rampe matallo (aluk banua, aluk tedong, aluk pare, aluk tau, dst). Aluk-aluk ini masing-masing punya versi dan ciri khas sendiri-sendiri dan tidak dapat dcampuadukkan.
Bp. C. Tanduk, sy bukan ahli teologia, bukan juga pakar budaya. Namun kalau diskusi tentang ketuhanan dan kedewataan, barangkali kita harus benarni mengakui bahwa keduanya dapat dianggap sebagai asul-usul manusia. Terserah versinya bagaimana ? Kalau budaya Toraja mau di dalami dewasa ini, sebaiknya kita tidak menggali di Tana Toraja, tetapi silakan ke Leiden (Belanda). Hal sama juga terjadi pada Lagaligo (70% ada di sana). Jadi mau Van der Veen, Erich Crystal, Katleen Adams, dst kesemua itu merupakan jurnal/buku hasil penelitian di Balusu, Kesu’, atau Tallulembangna tempo dulu.
Jika menyinggung masalah ajaran katolik dan protestan, sy hanya berkomentar bahwa protestan yang ada di Toraja adalah kalvinisme. “Mungkin” sebagian adat-istiadat Toraja juga terkikis karena kalvinisme ini, selain pengaruh keberhasilan manusia industrian (industrialisasi).
2. Untuk sdr.Nicolas D
Filosofi “kambang bai” itu berarti campur aduk atau tidak beraturan, kurang tepat dilontarkan manusia Toraja sepeti anda. Lulusan SMP dan SMA dekade 1970-an dari Toraja saat ini banyak menduduki jabatan teras di dalam dan di luar negeri. Mereka bukan produk budaya kambang bai. Mereka adalah produk piong duku bai, pangrarang duku tedong sola duku bai. Gizinya bukan main, tidak dapat diragukan. Orientasinya sebatas batas lingkaran bumi ini.
Mahasiswa UNHAS pertengahan dekade 1970-an adalah produk yang sama. Mereka penyandang predikat akademis yang baik, beasiswa. itu sebuah alibi konkret.
Masalah gaudemus et spes dalam gereja katolik itu baik. Tetapi akan lebih baik lagi kalau dilengkapi dengan non-violence, sehingga berpeluang disempurnakan oleh komitmen “toleransi” beragama. Bahwa ada ajaran kristen yang baru lahir dan menolak pantunuan di Toraja, memang itu suatu mala petaka budaya dan kecelakaan gizi generasi muda orang Toraja. Bukankan pantunuan tedong dan bai itu berhasil membentuk manusia muda bergizi secara gratis ?
Sy sangat setuju jika gereja mengambil sikap meluruskan makna yang terkandung di dalam setiap nilai budaya, dan bukan mempertentangkan. Apalagi mengeliminir. Jika begitu, maka itu juga merupakan mala petaka daerah dan mementahkan sendiri visi dan misinya.
Sejarah mewartakan bahwa di bumi Tana Toraja tempo dulu ada 40-arroan (kerajaan kecil). Setiap arroan berkedudukan sebagai satu wilayah adat.Kini tinggal 32 wilayah adat. Itu berarti bahwa sudah menguap 8 wilayah adat. Penyebab dan sebab-musababnya, “mungkin” yang disinyalir olrh sdr. Nicholas D, selain berkurangnya kepedulian masyarakat setempat. Sayangnya, banyak orang perantauan Toraja kembali mencari “identitas diri”. Siapakh saya ?
Jadi kalau sdr. Nicholas D mengusulkan sebuah buku panduan budaya Toraja, seharusnya ada 40 buku, bukan satu buku supaya representatif. Dari sana identitas diri masing-masing dapat ditemukan, bahkan jawaban quo vadis masing-masing bisa terjawab secara pelan tetapi pasti.
Terakhir untuk kali ini, sy tetap bertolak pendapat untuk pemekaran wilayah Tana Toraja. Sy pernah menulis di Koran Toraja untuk dijadikan tiga kabupaten (Sangkapeindoran/Sangkapeamberan, Tallulembangna, dan Sang Ma’dikaan). Bahkan kini sy menjadi anggota pelopor untuk menjadikan wilaya Masenrengpulu’, Luwu’, dan Toraja untuk menjadi provinsi tersendiri, lepas dari SULSEL dan SULBAR.
Jadi tetap mempelopori pemekaran Tana Toraja !

Sekian,
kurre buda

Leave a response

Your response:

Kategori