Oleh: maulanusantara | November 13, 2007

Ketegangan Budaya Nenek Moyang dan Agama dalam Masyarakat Toraja

tana-toraja-solo-03.jpg

Oleh Christian Tanduk

 

Tulisan ini merupakan suatu analisis sosial masyarakat Toraja yang telah mengalami perubahan dalam bingkai budaya nenek moyang, agama dan modenitas. Penulis menyadari bahwa untuk membahas hal ini secara komprehensif, dibutuhkan penelitian yang komprehensif pula. Sementara itu, analisis yang penulis coba paparkan di sini didasarkan pada pengalaman empiris penulis – yang dibesarkan, belajar, dan melayani (sebagai Pendeta) dalam komunitas etnis Toraja – yang kemudian dirangsang oleh diskusi dalam kuliah “Agama dan Masyarakat”. Jadi selayaknya tulisan ini diberi label: “sebuah catatan awal”.

Dalam upaya memahami masyarakat Toraja ini, penulis mengelaborasi metode Bernard Adeney-Risakotta dalam kajian tentang model masyarakat Indonesia yang melihat modernitas, agama dan budaya nenek moyang sebagai tiga jaringan makna . Namun mengingat implikasi model ini sangat luas, maka penulis mempersempitnya dengan persoalan pokok: bagaimana ketiga jaringan makna ini membentuk etos dan world view masyarakat Toraja. Namun dalam pembahasannya penulis menukarkan posisi jaringan itu menjadi budaya nenek moyang, agama dan modernitas. Pembahasan seperti ini mengandaikan kronologi perubahan sosial masyarakat Toraja. Pertama-tama, budaya nenek moyanglah yang mengakar dan membentuk masyarakat Toraja. Setelah itu menyusul kehadiran agama dan merebaknya pengaruh modernitas. Penulis berusaha menghindarkan pembahasan ini dari unsur historis. Namun dalam tulisan ini hal tersebut bisa saja muncul di sana sini. Sebab menurut penulis, untuk menganalisis kondisi masyarakat saat ini dalam ketiga jaringan makna di atas, mau tidak mau kita harus sejenak menoleh ke belakang.

 

Masyarakat Toraja

Sebelum lebih jauh dalam pembahasan ini, penulis merasa perlu untuk sedikit menjelaskan apa yang penulis maksudkan dengan masyarakat Toraja. Istilah ini penulis pakai untuk membedakan kelompok masyarakat etnis Toraja yang tinggal di Kabupaten Tana Toraja dengan yang hidup sebagai perantauan di luar Tana Toraja. Pembedaan ini dilakukan mengingat adanya perbedaan pola pikir yang cukup mendasar antara orang Toraja yang tinggal di Toraja dan yang tinggal diluar Toraja dalam menanggapi masalah budaya nenek moyang, agama dan modernitas, serta pengaruhnya terhadap perilaku sosial mereka. Bagi mereka yang tinggal diluar Tana Toraja, perilaku sosial mereka cukup dipengaruhi oleh motifasi mereka meninggalkan Tana Toraja yaitu pekerjaan. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa sebagian besar orang Toraja yang merantau, hidup di daerah dalam konteks masyarakat yang majemuk, baik secara etnis maupun agama. Berbeda dengan komunitas yang tinggal di daerah Tana Toraja yang cenderung homogen.

 

Makna Budaya Nenek Moyang Bagi Masyarakat Toraja

Budaya nenek moyang orang Toraja terbentuk dengan latar belakang suatu sistem religi atau agama suku yang oleh masyarakat Toraja disebut Parandangan Ada’ (harfiah : Dasar Ajaran/Peradaban) atau Aluk To Dolo . Aluk to Dolo percaya satu dewa yaitu Puang Matua – sebutan yang di kemudian hari diadopsi oleh Gereja untuk menyebut Tuhan Allah. Di samping itu dikenal juga deata (dewa-dewa) yang berdiam di alam, yang dapat mendatangkan kebaikan maupun malapetaka, tergantung perilaku manusia terhadapnya.

Jika Durkheim membedakan antara yang sakral dan profan, maka hal itu tidak berlaku bagi Aluk to Dolo. Tidak ada yang profan. Semua aktifitas manusia memiliki nilai sakral mulai dari persoalan tidur sampai membangun rumah. Demikian halnya keberadaan manusia dari lahir sampai mati, aturan-aturan etis dan ritus serta simbol-simbol yang berhubungan dengan kesakralan itu selalu mengiringi keberadaan manusia Toraja. Aturan-aturan etis dan ritus serta simbol-simbol itu menghubungkan manusia secara khas dengan dengan tatanan faktual, baik dengan yang ilahi, maupun dengan sesama manusia dan alam. Kepercayaan inilah yang membentuk way of thinking dan way of living Toraja dan menjadi budaya yang melekat dengan begitu kuatnya.

Paradigma yang dipakai Geertz mengenai sintesa etos dan pandangan dunia daalam sebuah kebudayaan sangat membantu kita untuk memahami makna budaya nenek moyang bagi orang Toraja . Simbol-simbol dan motifasi apapun yang dicerminkan pola budaya ini sangat terkait dengan pemahaman mereka tentang tatanan faktual, dimana manusia, alam dan yang ilahi terikat dalam sesuatu yang serba sakral. Jika kemudian Geertz mendefinisikan agama dari paradigma ini, rasanya definisi yang dihasilkan Geertz tidak berbeda dengan makna budaya nenek moyang bagi orang Toraja.

 

Budaya Nenek Moyang Dalam Perjumpaannya Dengan Agama Kristen

Agama Kristen mulai diperkenalkan di Toraja oleh seorang misionaris Belanda yang bernama A.A.van de Lostrect pada tahu 1913. Kegiatan penginjilan terus dilakukan sampai berdirinya Gereja Toraja tahun 1947, dengan bentuk yang amat diwarnai oleh Gereja Gerevomeerd di Belanda. Pandangan teologia yang dibawa oleh misionaris ini sangat negatif terhadap etika maupun ritual dari budaya nenek moyang yang dicap kafir . Berbagai larangan yang didasarkan pada dogma Gereformeerd kemudian disusun. Kalupun ada etika dalam budaya yang sebenarnya tidak bertentangan dengan ajaran gereja, hal itu tetap dianggap tidak cukup. Apa yang diajarkan Gereja adalah segala-galanya. Kalaupun ada upacara-upacara yang diijinkan, hal itu senantiasa diupayakan bersih dari nilai-nilai kekafiran budaya nenek moyang. Jika kita menghubungkan kenyataan ini dengan analisis Richard Niegbuhr tentang sikap terhadap budaya, maka sikap yang anut adalah “Kristus melawan Kebudayaan”.

Sekarang ini hampir semua orang Toraja memeluk agama Kristen. Tetapi tampaknya etos dan pandangan dunia yang diharapkan Gereja dapat membentuk struktur sosial dan pranata sosial masyarakat Toraja berdasarkan nilai-nilai Kekristenan, tetap mengalami perlawanan dari budaya Toraja yang telah mengakar dalam diri masyarakat Toraja. Bentuk perlawanan itu memang tidak terlihat secara eksplisit, bahkan tidak disadari. Meminjam teori psikoanalisa Freud, penulis melihat bahwa kalaupun masyarakat Toraja telah beragama, etos dan pandangan dunia yang berlatar belakang budaya nenek moyang, tetap tersimpan dalam dirinya dalam alam bawah sadar. Pada saat-saat tertentu, cara berfikir dan cara bertindak orang Toraja akan sangat dipengaruhi oleh memori yang tersimpan dalam alam bawah sadar itu. Uniknya, memori ini tersimpan secara turun temurun.

Dalam hal ini penulis melihat bahwa perjumpaan budaya nenek moyang orang Toraja dan agama Kristen yang datang dari konteks Barat telah menciptakan kondisi masyarakat Toraja dalam suatu tarik menarik. Pada satu sisi agama Kristen diakui sebagai dasar iman. Tetapi pada sisi lain, etos dan pandangan dunia yang lahir dari budaya nenek moyang tetap berpengaruh, walaupun hal itu tidak tampak secara eksplisit. Hal ini menyebabkan kondisi masyarakat Toraja sering menampilkan sikap yang dualisme dan juga sering dikotomis. Contoh kasus berikut, kiranya dapat menjelaskan teori ini:

a. Ketika seseorang telah beragama Kristen, idealnya rujukan etikanya adalah Firman Tuhan (Alkitab). Apapun yang dipikirkan atau dilakukan idealnya selalu menempatkan Firman Tuhan sebagai penuntun sekaligus kontrol. Tetapi hal berbeda menjadi fenomena masyarakat Toraja. Ketika mereka berada dalam konteks gereja (misalnya ibadah atau kegiatan keagamaan lain), rujukan etika adalah Alkitab: “Itu tidak sesuai dengan firman Tuhan”; “Inilah kehendak Yesus”. Demikian sering dikatakan. Tetapi ketika mereka mulai beralih dalam kehidupan sehari hari, maka hal itu berubah menjadi : ”Menurut orang tua….”. (Maksudnya nenek moyang), “Jangan begitu, itu tidak sesuai dengan budaya kita”.. Dengan ungkapan-ungkapan seperti ini, masyarakat Toraja telah menunjukkan keterikatannya dengan budaya nenek moyang, walaupun ketika di tanya, bisa saja dia mengatakan : “Ah, kita kan sudah Kristen”.

Inilah salah satu contoh karakter dualisme dalam diri orang Toraja. Pada satu sisi, agama diakui. Namun pada sisi lain, petunjuk nenek moyang tetap menjadi pegangan. Ironisnya, masyarakat lebih takut melanggap pamali (pantangan yang diajarkan budaya) ketimbang larangan Alkitab. Mereka lebih taat kepada pemuka adat daripada pemuka agama. Alasannya, pelanggaran terhadap pamali akan langsung berhadapan dengan nasib buruk. Tetapi jika melanggar perintah Tuhan, belum tentu dihukum.

b. Dalam budaya nenek moyang orang Toraja, ada stratifikasi sosial yang cukup menonjol. Ketika perbudakan masih berlaku di Toraja, dikenal golong puang (penguasa, tuan) dan kaunan (budak). Namun pada zaman kolonial Belanda hal itu dilarang. Tetapi dalam prakteknya, masyarakat adat Toraja tetap membedakan empat kasta dalam masyarakat yang diurut dari yang tertinggi yaitu tana’ Bulaan (Keturunan Raja. Bulaan artinya Emas); tana’ bassi (Keturunan bangsawan. Bassi artinya Besi), tana’ karurung (Bukan bangsawan, tetapi bukan juga orang kebanyakan. Karurung adalah sejenis kayu yang keras) dan yang terendah adalah tana’ kua-kua (kua-kua, sejenis kayu yang rapuh). Dalam hubungan dengan upacara-upacara adat, dikenal pula golongan imam (to minaa atau to parenge’) dan orang awam (to buda).

Dengan berkembangnya agama Kristen, orang Toraja Kristen menerima bahwa semua manusia sama di hadapan Tuhan. Di dalam Tuhan tidak ada penggolongan seperti itu. Namun dalam penerapannnya di masyarakat, pengakuan terhadap kasta seseorang tetap ada. Akibatnya, ketika mereka berdiri sebagai warga gereja, yang dituruti adalah para penatua atau pendeta, namun dalam kehidupan sehari-hari, wibawa para keturunan raja dan bangsawan serta pemuka masyarakatlah yang berpengaruh. Hal ini menyebabkan sering terjadi benturan antara pemuka agama dan pemuka masyarakat. Pemuka agama berpedoman pada ajaran agama, sedangkan pemuka masyarakat berpedoman pada budaya nenek moyang. Akibatnya, fenomena dualisme muncul lagi. Ketika masyarakat berada dalam posisi sebagai warga jemaat, maka keputusan pemuka agamalah yang diikuti. Entah bertentangan dengan budaya atau tidak, yang jelas Firman Tuhan mengajarkan. Demikian pula sebaliknya. dalam posisi sebagai anggota masyarakat, keputusan pemuka adatlah yang diikuti, entah sesuai dengan ajaran agama atau tidak. Dari sudut pandang pemimpin, ada pula kencenderungan apatisme pemuka agama dalam kegiatan yang berhubungan dengan budaya nenek moyang, dan juga apatisme pemuka masyarakat dalam kegiatan gereja.

Hal ini juga berhubungan dengan asas kepemimpinan bottom up dan dan top down. Dalam konteks gereja teori yang berlaku adalah asas bottom up yang demokratis. Sedangkan dalam kontek kehidupan sehari-hari asas top down-lah yang berlaku. Jika demikian, masyarakat – entah sadar atau tidak – sedang dibentuk dalam dua teori kepemimpinan yang bertolak belakang itu. Implikasinya bisa menjadi bumerang bagi wibawa gereja atau wibawa adat ketika terjadi persilangan. Maksudnya asas bottom up mau dipaksakan dalam komunitas budaya, dan asas top down hendak dipaksakan dalam komunitas agama. Pemaksaan itu bisa saja dilakukan para pemuka adat atau warga biasa dalam gereja yang tidak nyaman dengan asas botom up. Atau oleh para pemuka agama yang merasa tidak nyaman dengan asas top down dalam masyarakat. Kita sudah bisa menebak akibatnnya : konflik dalam gereja atau konflik sosial dalam masyarakat, atau konflik antara institusi gereja dan institusi masyarakat.

Dengan demikian kita dapat melihat bahwa kondisi sosial masyarakat Toraja yang terus menerus berubah saat ini senantiasa berada dalam tarik menarik antara budaya nenek moyang dengan agama. Tarik menarik itu bisa berimplikasi pada dualisme, tetapi bisa juga muncul dikotomi antara yang gerejani dan budayani. Di dalam gereja, mereka menjadi orang Toraja yang berakar dalam budaya nenek moyang, tetapi tampil dengan “pakaian” Kekristenan. Ketika mereka keluar dari wilayah gereja, maka pakaian itu kembali dilepaskan untuk dipakai lagi ketika mereka kembali ke gereja. Jadi di dalam masyarakat, mereka berpegang teguh pada budaya, namun ketika mereka memasuki dunia kekristenan, maka “pakaian” Kristennya di pakai.

Masyarakat Toraja dan Pola Pikir Modernitas: Implikasi ketegangan antara budaya dan agama

Jika kembali kepada paradigma budaya Geertz, masyarakat Toraja sekarang ini – entah sadar atau tidak, tetapi kemungkinan besar tidak disadari – sedang mengalami kebingungan pembentukan etos dan worl view. Antara dogma agama dan budaya nenek moyang. Antara keduanya ada tarik menarik, bahkan pertentangan. Gejala sosial yang dilematis ini menjadikan situasi masyarakat Toraja saat ini cukup rawan ketika diperhadapkan dengan modernitas dengan berbagai karakteristiknya.

Sejauh kita memahami modernitas sebagai sebagai keterikatan kepada rasionalitas dalam semua sisi kehidupan, kita tidak dapat sepenuhnya mengklaim bahwa modernitas sama sekali belum menyentuh masyarakat Toraja pada saat agama Kristen mulai berkembang. Bagaimanapun juga, doktrin yang dibawa para zending ke Toraja tidak lepas dari pergulatan modernitas di Barat (Belanda). Bahkan adanya tarik menarik antara pandangan dunia budaya dan pandangan dunia agama bisa jadi disebabkan pengaruh pola pikir modern.

Tetapi jika kita mencoba memfokuskannya pada etos dan pandangan dunia yang ditawarkan laju modernitas, maka akan segera terlihat ketidaksiapan mental masyarakat Toraja menghadapi fenomena sosial yang ditimbulkan pola pikir atau kita sebut saja kebudayaan modern. Ketidaksiapan itu bukan berarti penolakan, tetapi penerimaan tanpa kritik. Gejala ini sudah menjadi fenomena yang cukup umum dalam masyarakat Toraja sekarang ini. Tarik menarik antara paradigma budaya dan paradigma agama menyebabkan etos dan pandangan dunia masyarakat Toraja terjebak dalam dualisme dan dikotomi. Keadaan ini menjadi cela yang cukup besar, yang memungkinkan kebudayaan modern mulai membentuk masyarakat tanpa ada perlawanan atau kritik yang berarti dari masyarakat, baik dengan dasar budaya maupun agama. Para pemerhati kebudayaan daerah maupun gairah pelayanan gereja sebenarnya cukup menyadari bahaya ini dan melakukan berbagai upaya pembinaan. Tetapi etos dan world view yang terlanjur tidak konsisten menyebabkan masyarakat tidak cukup kuat untuk mengajukan kritik terhadap kebudayaan modern serta melakukan kontrol terhadap infiltrasi kebudayaan modern. Akibatnya budaya modern mulai membentuk etos dan pandangan dunia masyarakat Toraja.

Salah satu contoh adalah individualisme. Karakter ini mulai menjadi warna masyarakat Toraja. Padahal karakter demikian sangat bertolak belakang dengan semangat kebersamaan orang Toraja yang terkenal dengan semboyan misa’ kada di potuo pantan kada di po mate (artinya kurang lebih sama dengan “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh). Ironisnya, individualisme itu bisa tercermin dalam sebuah aktifitas yang berlatar belakang budaya.

Penulis mencontohkan fenomena ini dengan menyorot salah satu upacara adat Toraja yaitu upacara pemakaman (rambu solo). Dari luar kita bisa melihat adanya nilai budaya yang besar dalam upacara ini. Ada pondok-pondok yang dirikan secara gotong royong. Hewan korban (kerbau dan babi) disiapkan untuk menjamu tetamu yang datang sekaligus simbol penghargaan kepada si mati . Setelah itu sanak famili dan kenalan mengungkapkan tanda dukacita melalui kehadiran dalam upacara itu sekaligus membawa babi atau kerbau sebagai tanda simpati. Pada akhir pesta (yang biasanya 3 sampai 4 hari), ada juga hewan korban yang disisihkan untuk disumbangkan kepada gereja.

Tetapi jika kita mencermati motifasi dibalik persiapan dan pengorbanan itu, kita akan menemukan bahwa unsur gengsi atau prestise sangat mengemuka. Demi martabat di mata masyarakat, keluarga si mati akan mempersiapkan pesta dengan hewan korban sebanyak mungkin. Walaupun merupakan sebuah pemborosan yang penting harga diri akan terjaga. Sementara itu, sumbangan dukacita (dalam bentuk hewan korban) yang dibawa famili yang lain atau kenalan, tidak lagi dianggap sebagai tanda simpati, tetapi hutang. Jika sekali waktu kenalan tersebut menggelar upacara yang sama, maka mau tidak mau hutang itu harus dibayar. Jika tidak, harga diri menjadi taruhan. Sumbangan ke Gereja pun tidak lepas dari masalah harga diri. Menyumbang banyak artinya terhormat, prestise terjaga. Tidak menyumbang, memalukan. Dalam hal ini individualistis berjalan bersama dengan materialisme. Sekiranya Ferdinand Toennies menganalisis kedaan ini maka pembedaan Gemeinshaft dan Gesselschaft dalam teorinya akan mengalami kerancuan. Masalahnya karakteristik Gesselschaft yang diidentifikasi Toennies justru sering tercermin dalam sebuah konteks Gemeinshaft di Toraja. Kita bisa sederhanakan fenomena ini dengan ungkapan “modenitas yang berpakaian tradisional”.
Dengan semua kenyataan ini, indikasi keterasingan atau ketercabutan masyarakat Toraja dari akar budayanya mulai terlihat. Tetapi saya sendiri berharap bahwa teori-Hegel tentang keterasingan masyarakat modern dari lingkungannya, atau teori kurungan besi Weber tidak akan pernah terjadi dalam konteks masyarakat di Toraja.

Kesimpulan dan Penutup

Sebagai kesimpulan, penulis menyimpulkan pembahasan ini dengan mencoba menggambarkan kondisi sosial masyarakat Toraja saat ini dengan dua illustrasi berikut:
Pranata sosial dan struktur sosial masyarakat Toraja sedang (bahkan sudah lama) berada dalam tarik menarik antara paradigma budaya dan paradigma agama. Akibatnya Etos dan world view masyarakat berada dalam dualisme dan dikotomi. Disadari atau tidak, masyarakat sedang berada dalam kebingungan merumuskan jati dirinya.

Keadaan itu menyebabkan infiltrasi kebudayaan modern berlangsung tanpa kritik dan koreksi dan budaya atau agama. Akibatnya, etos dan pandangan dunia masyarakat Toraja mulai dibentuk oleh karakteristik budaya modern, tetapi ironisnya sering ditampilkan dalam kemasan budaya atau agama.

Kenyataan ini menjadi tantangan bagi pemerhati budaya dan pemuka agama, khususnya agama Kristen, termasuk penulis.[]

Source: http://forumteologi.com/

 

About these ads

Responses

  1. Sdr. Christian Tanduk YTH,

    Anda kurang jeli menulis tentang budaya (adat-istiadat) Toraja. Anda hanya melihat dari besarnya pengorbanan ekonomi yang terjadi. Tidak berani melihat dampak positif yang ditimbulkan, semisal, tingginya gizi anak remaja, keeratan hubungan/kekerabatan keluarga, peningkatan kepariwisataan, Torajalogy-nya, dan masih banyak aspek lainnya.

    Selain itu, anda hanya berani melihat Aluk Simuane Tallang, Silau’ Eran dari sisi rambu solo’ (aluk rampe matampu’) tidak mengangkat betapa hebatnya ritual aluk rampe matallo (aluk rambu tuka’).

    Jika anda orang Toraja asli, anda akan ditertawakan para pakar tradisional lisan dan para bangsawan Toraja, karena anda kurang menguasai aluktodolo, terutama aluk sanda pitunna (aluk-7777) dan aluk sanda saratu’na.

    Anda membawa nama gereja, gereja mana dan orang Kristen mana yang anda wakili? Yang pasti bukan Gereja Katolik, sebab Gereja Katolik sanggup mentransformasi nilai-nilai asli budaya Toraja ke dalam ajaran dasarnya.

    Jadi hati-hatilah menulis aluktodolo dengan ajaran Kristen. Agama itu sudah dapat dipastikan berada di antara mitologi dengan ideologi, namun harus belajar filsafat keagamaan, terutama agama Kristen, untuk dapat membangun minimal sebuah hipotesis untuk membuktikan kebenaran argumentasi anda tentang aluktodolo. Apalagi kalau hanya dari satu sisi saja.

    Ingat tahun 1947 aluk dan adat telah jalan sejajar tetapi tetap bersatu karena saat itu pengaruh lain masuk ke Tana Toraja. Jadi selain filosofi agama berarti anda juga harus menguasai sejarah Toraja (Baca penelitian Christian Peres dan peneliti lainnya tentang budaya dan mitos di Sulsel).

    Selain itu, perang Untulak Buntunna Bone telah banyak membawa ketidakjelasan ajaran aluktodolo dan ajaran kepercayaan lainnya di bumi Tana Toraja. Maukah anda membuktikan bahwa ketika itu jumlah orang Toraja tinggal sedikit yang hidup, sedang pengaruh Calvinisme di Toraja sudah berakar baik?

    Jadi singkatnya, aluk dan adat pada mulanya satu. Tetapi pengaruh luar telah memaksanya berpisah, sehingga kata adat lebih populer daripada aluk (Tongkonan Ada’, 1947 berdiri). Jadi pemakaian kata adat menjadi lebih manis dan lebih populer dibanding kata lauk. Ini hanya goyangan lidah saja, bukan ikut memaknai.

    Demikian komentar saya. Terima kasih atas kesudian Sdr. Christian Tanduk untuk mau mengolah atau memperbaiki redaksi artikel anda di atas.

    • Seperti anda, Saya sangat tertarik dengan adat istiadat kita, oleh karena itu saya membahas tentang budaya pernikahan adat yang ada di Indonesia, mohon masukan dan dukungannya ya makasih :)

      • wah, kalo ada artikel menarik, dengan sepenuh hati kami terima ;)

    • Begitu indah dan kaya Indonesia ini, mari bersama kita lestarikan budaya kita,, salam kenal dari Pernikahan Adat Di Indonesia

  2. Saya yakin anda bukan orang Katholik…. itu pasti!

    Baru-baru ini Saya menganalisa mengapa ritus rambu solo’ tetap bertahan hingga kini dalam sebuah makalah ilmiah.
    Salah satu yang menyebabkan ritus rambu solo’ tetap bertahan adalah karena ajaran gereja Katholik, meskipun penganut Katholik 1/2 lebih kecil dibanding penganut Protestan namun sanggup mempengaruhi budaya Toraja.
    Dasarnya adalah, Guademus et Spes sebuah dogma yang menaruh penghargaan besar terhadap kebudayaan.
    Kemudian yang kedua adalah bahwa gereja Katholik mengakui adanya hubungan antara orang yang sudah mati dengan orang yang masih hidup di dunia.

    Saya kira kesimpulan saya adalah bahwa gereja yang berusaha membunuh kebudayaan adalah SESAT…!

  3. Bpk Frans dan Niko yang baik.
    Saya sangat senang dengan respon positif yang diberikan. Kerinduan bung Frans agar saya mengolah artikel tersebut telah saya lakukan melalui tesis yang dibimbing Prof. Gerit Singgih dan Prof Banawiratma di Yogya dengan judul “Pertemuan Dialogis dengan Korban dalam Kitab Imamat dan dalam Budaya Toraja”. Tesisnya dah kelar sebelum komentar Pak Frans di posting. Lagi pula artikel itu hanyalah catatan awal dari sebuah rancangan penelitian.
    Tapi sbg bahan diskusi, saya menggarisbawahi bbrp pokok pikiran:

    1. Artikel di atas diletakkan dalam bingkai segitiga Agama, Modernitas dan Budaya nenek moyang. Saya menduga bahwa kesalahan orang dalam mengkaji sebuah budaya masyarakat adalah hanya melihat satu dari tiga aspek itu. Jadi ketika orang mempelajari Adat Toraja hanya dari segi parandangan ada’na aluk todolo, maka tuduhan arkaisme cukup beralasan. Padahal worldview rambu solo dalam budaya orang Toraja masa kini sama, walaupun prakteknya nyaris sama. Jadi menurut saya, kalau mau membuat deskripsi rambu solo, misalnya, jangan dimulai dari aluk to dolo. Dalam analisis, barulah aluk todolo dilibatkan.

    2. Memang backround saya Protestan, tapi belajar untuk kritis. Karenanya sejak awal saya tertarik dengan dogma Guademus et Spes yang tidak ada dalam Protestanism awal. Jadi lebih lanjut mengenai tarik menarik dalam segitiga spt dalam artikel di atas, gereja harus lebih byk melakukan sintesa ketimbang antitesa.

    Namun saya masih agak ragu mengenai klaim Pak Niko bahwa Katolikisme mempengaruhi kebudayaan Toraja, misalnya dengan bertahannya ritual rambu solo’. Sayang Pak Niko tdk menyampaikan lokasi penelitiannya. Karena sepanjang yang saya lihat selama penelitian, bertahannya ritual2 dari agama suku lebih dipengaruhi oleh worldview yang membingkai ritual itu dari mulanya. Mungkin bisa dibandingkan dengan teori kebudayaan Clifford Geertz. Walaupun demikian, saya tidak menolak tesis Pak Niko. Saya justru akan sangat bersyukur kalau tulisan Pak Niko bisa di posting atau minimal disumbangkan kepada saya yang masih ingin belajar banyak.

    Demikian umpan balik saya, kiranya melalui forum ini kita saling memperkaya.

    Salam.
    christian.tanduk@mail2web.com

  4. Kepada YTH Bapak Christian Tanduk

    Saya sedang berusaha untuk menulis skripsi tentang value yang dimiliki oleh mahasiswa toraja, tapi saya tidak terlalu mengetahui budaya toraja secara keseluruhan (selain dari upacara rambu solo’).

    Dengan membaca tulisan bapak ini saya merasa bapak merupakan referensi yang baik bagi dasar penulisan skripsi saya.

    saya ingin meminta bantuan bapak dalam meminta berbagai referensi lain mengenai budaya toraja yang pengaruhnya mungkin hampir terkikis oleh modernisasi di kalangan mahasiswa.

    atas bantuan bapak saya ucapkan terima kasih.

    novita rongre (nonovzz@yahoo.com)

  5. Sdr. Nicholas dammen Yth,
    Sebelum kita lanjutkan dialog antar agama, ijinkan sya amengajukan beberapa pertanyaan mendasar sbb :

    a. Apakah ukuran yang digunakan menetapkan seseorang itu katolik atau bukan katolik ?

    b.Apakah kekatolikan hanya diukur dengan Gaudemus et Spes dan adanya hubungan antara orang hidup dengan orang mati ? Atau kedua aspek tersebut kebetulan sama pandangannya dengan alukna aluktodolo ?

    c. Makalah sdr. Nicholas Dammen belum terkaji secara empiris. Itu so pasti. Baru sebatas ‘personal perseption and personal view”. Masih ada banyak hal di dalam alukna aluktodolo yang lebih kuat mendukung ajaran gereja katolik dibanding kedua hal yang dikemukakan. Mis. Non-Violence sama kuatnya dengan “ladi tunurika tu apa tae’”di dalam alukna aluktodolo versi rambu solo’. Siangkaran di dalam alukna aluktodolo versi rambu tuka’ sama kuatnya dengan ajaran cinta kasih di dalam gereja katolik. Dan masih banyak contoh kobnkret lainnya.

    Sdr Nicholas dammen yang baik.
    Sy belum membaca makalah anda, tetapi kalau makalah itu dilengkapi dengan “alur” alukna aluktodolo, sy yakin lebih dari 100% anda akan kecewa. Sy tidak menyusun thesis dan disertasi di dalam bidang religi, apalagi ritus-ritus aluktodolo, tetapi kalau anda menelusuri Tri-Hari Suci dan anda bandingkan dengan ritus-ritus Kaperaokan ataukah ritus-ritus Ma’bua’ Kasalle, anda yakin anda tidak akan memberanikan diri berkomentar bahwa sy atau siapapun itu bukan orang katolik.
    Akan lebih cilaka lagi, kalau seseorang yang mengakui dirinya katolik lalu berani menyamakan aluktodolo dengan agama katolik.

    Jawaban dan komentar anda sy tunggu segera.

    frans bararuallo

  6. Yth Bp. Christian

    Sy cukup setuju kalau pengamatan budaya, agama, dan moderisasi dilakukan secara berbarengan untuk mencari suatu gambaran konkret yang bersifat sangat sementara. Tetapi akan lebih setuju, sekiranya, ideologi diikut sertakan.Ideologi akan menangis dan bisa meraung-raung kalu tidak diangkat karena ia “saudara kembar” dengan budaya.

    Sebagai informasi tambahan, dan hal ini harus diyakini, bahwa terjadinya degradasi alukna aluktodolo doi Tana Toraja terjadi karena (hasil pengamatan 15 tahun terakhir) :

    a. Aluktodolo terdiri dari aluk sanda pitunna dan aluk sanda saratu’na.Ia meliputi aluk rambu tuka’ (aluk rampe matallo) dan aluk rambu solo’ (aluk rampe matampu’) Kedua aluk ini lazim dinamakan aluk simuane tallang, silau’eran. dahulu yang boleh melaksanakan ritus tertinggi aluk ini adalah para bangsawan dan tomakaka. Jadi kalu bukan bangsawan atau tomakaka, maka itu tidak dibolehkan jika tanpa ijin dari parengnge’ atau bangsawan/tomakaka.

    b. Akibat perkembangan perekonomian lapisan masyarakat bahwa karena keberuntungan yang dinikmati dari laju moderisasi, maka mereka menunggangi kekuatan moderisasi untuk menghancurkan kefeodalan bangsawan dan tomakaka, termasuk menaikkan status dirinya menjadi bangsawan baru dengan pomor kekayaan. Jadi pengakuan masyarakat diperoleh melalui harta atau pengetahuan. Itulah yang membunuh pelan-pelan aluktodolo dalam bentuk aluk rambu tuka’ dan aluk rambu solo’. Jadi kalau anda mencari identitasnya sekarang ini, hampir bisa dikatakan yang ada sudah tiruan, bukan aslinya lagi. Sudah didasarkan pada power to do or power to implement.

    c. Sy sedang membukukan silsilah (ossoran di Kesu’, Luwu’ dan Tallulembangna, di mana implementasi aluktodolo ikut termuat di dalamnya.
    Buku ini siap cetak (sudah diedit para pakar lisan adat Toraja).

    Terima kasih.

    frans bararuallo

  7. Ibu Novita yang baik,

    Jika Ibu membutuhkan data tentang aluktodolo di Toraja, anda boleh menghubungi PT Sulo di Rantepao. Ada beberapa buku yang mereka terbitkan yang memuat sebagian kecil illustrasi tentang itu.

    Terima kasih,

    frans bararuallo

  8. Saya senang belajar. Cuma kalau komentar2 yang masuk berisikan bahasa emosional, lantas bagaimana caranya mencari kebenaran.

  9. Ibu Novi,
    Ada beberapa pustaka yang mungkin bisa membantu: Ihromi, T.O (Adat Perkawinan Toraja Sa’dan dan Tempatnya dalam hukum positif Masa Kini); Kobong, Th. dkk.-Pusbang Gereja Toraja, (Aluk, Adat, dan Perjumpaannya dengan Injil; Roh-roh dan Kuasa Gaib; Manusia Toraja: Siapa, Bagaimana, Mau Ke Mana; Aluk Rambu Solo’ dan Persepsi orang Kristen tentang Rambu Solo’); Nooy-Palm (The Sa’dan – Toraja: A Studi of Their Social Life and Religion, Rituals of The East and West); Peter J.M.Nas, (Framing Indonesian Realities); Siman, A. Paniki (Kurban Menurut Faham Orang Toraja Sa’dan); L.T.Tangdilintin (Toraja dan Kebudayaannya); van der Veen (Ossoran Tempon Dao mai langi’; The Toraja Sa’dan Chant for The Deceased. ada beberapa lagi tapi saya lupa. Saya gak tau Novi posisi di mana. Tapi kalau kebetulan ke Jogja, perpus Kolsani atau UKDW bisa dicari.

    Lanjut mengenai dialog Budaya, saya setuju Pak Theo mengenai gaya kita berdialog. Tidak semua hal perlu di tanggapi ‘kan ?.

    Saya ingin melanjutkan dialog ini dengan menggaris bawahi dua pernyataan pak Frans.
    PERTAMA “….. ada banyak hal di dalam alukna aluktodolo yang lebih kuat mendukung ajaran gereja katolik”.
    Catatan kecil : Pak Frans senang menggunakan nama : ALUKNA ALUK TO DOLO. Apa tidak sebaiknya ALUK TO DOLO saja. Atau kalau mau komplit : PARANDANGAN ADA’NA TO DOLO. Ah itu hanya masalah kecil.
    Catatan kedua : Saya setuju bahwa banyak ajaran Aluk todolo yang mendukung ajaran Gereja Katolik, dan tentu ajaran protestan juga. Cuma masalahnya sekarang adalah apa respon Gereja (saya tidak membedakan Katolik dengan Protestan) dengan dukungan itu ? Apakah sekedar membolehkan ritual tertentu lalu mengatakan “Yes. Ini cocok dengan ajaran Gereja”, atau mulai menjadikan hal itu sebagai wahana untuk penghayatan iman ? Saya menduga bahwa Gereja masih lebih cenderung sebatas mengatakan ini cocok atau ini tidak cocok. Kalau keadaan ini dibandingkan dengan statement pegiat kontekstualisasi teologi, maka yang masih lebih banyak dilakukan adalah mencari kecocokan Injil dengan budaya dan bukannya menemukan injil dalam budaya. Dalam salah satu bukunya, Gerit Singgih mengatakan “Apa yang dibawa para missionaris/sendeling adalah sebagian dari kekayaan Injil. Sebagian lagi, entah bagaimana sudah ada di Timur”. Jadi kalau kita melihat kecocokan ideologi antara aluk to dolo dan ajaran Gereja, maka kita harus berani lebih jauh menyelam dalam kecocokan itu lalu menemukan sesuatu yang membangun iman,bukan hanya sekedar sejajar. Karena yang sejajar gak bakal bisa ketemu.

    BBB “b. Akibat perkembangan perekonomian……dst.” Saya mengajak pak Frans memasukkannya dalam segitiga (Agama-Modernitas-Budaya Nenek Moyang) yang membangun pemikiran dalam artikel saya di atas. Pak Frans sudah mengangkat dua unsur (modernitas dan budaya). Persoalannya sekarang adalah dimana dan apa yang dilakukan agama ? Apakah ini pertanda bahwa Agama sedang ditantang atau justru bukti bahwa agama tidak berdaya ? Ini sulit dijawab. Saya cuma menduga bahwa jika tokoh agama -di Toraja- berani menyelam kekayaan Injil dalam Budaya DAN tokoh budaya peduli dengan pergumulan Gereja, mungkin keprihatinan pak Frans bisa direspon.

    Salama’

  10. Terima kasih bung Frans,
    dan maaf bagi siapapun….

    saya baru membuka halaman ini sejak beberapa bulan yang lalu, saya tidak begitu tertarik berdebat lebih jauh tentang hal ini. Terlalu berbahaya……

    Saya kira yang harus dilakukan oleh (tabe’) ambe’-ambe’ ta adalah: Menyusun Buku tunggal tentang Kebudayaan Toraja secara menyeluruh agar kita lebih memiliki batasan yang dapat dijadikan landasan kuat dan satu-satunya.

    Kalau begitu, kita akan lebih aman berdebat….!

    Perlu saya tegaskan, jangan sampai ada yang salah orang; saya bukan Nicholas Dammen yang sering dipanggil P’ Tendy yang di kedubes Indonesia untuk Asean…. saya hanya seorang mahasiswa S1. ini saya tulis hanya untuk menghindari salah kira.

    tetap tolak pemekaran Tana Toraja….

  11. manasu mo ra ka kambang bai,…..
    hahaha…..

    oh, ya soal makalah.
    saya belum akan mempostingnya, karena makalah saya sedang diikutkan kompetisi…..

    ‘ntar saya posting, lho??!

    kurre sumanga’

  12. saya terkadang muak melihat sekte Kristen tertentu yang baru didirikan kemarin (bahkan ada yang didirikan hanya dipakai pendeta mencari uang) berusaha membunuh kebudayaan. Mereka dengan lancang mengatakan, daging yang dimakan di upacara rambu solo’ haram.

    Bukankah waktu Yesus masih di dunia, Ia mengikuti dan kebudayaan sekitarnya? Waktu Yesus dikubur, Ia dibaluti dengan rempah-rempah menurut kebudayaan Yahudi, dan masih banyak lagi kebudayaan Yahudi yang dijalankan Yesus.

    Yang perlu dilakukan Gereja adalah meluruskan makna yang terkandung dalam setiap nilai budaya, bukan membunuh kebudayaan dengan kedok mengadu Kitab Suci dengan Ritual Kebudayaan. Tradisi Kebudayaan lebih mengakar dalam kehidupan Masyarakat Adat Toraja ketimbang ajaran Kristen yang asing.

    Menurut saya, ajaran agamalah yang harus berafiliasi pada kebudayaan, bukan sebaliknya. Kristus jangan dipahami hanya seputar Injil tetapi seluruh jagat raya. Gereja di tengah bangsa-bangsa adalah gereja seperti yang dirumuskan dalam Konsili Vatikan II, gereja yang terbuka, menerima kebudayaan lokal, dan kearifan leluhur. (Baca: Guademus et Spes untuk memahaminya).

  13. Terlebih dahulu sy mohon maaf sebesar-besarnya kepada Bp. C. Tanduk dan sdr. Nicholas D atas keterlambatan saya membuka milis ini. Setidaknya ada dua hal yang sy akan tanggapai berdasarkan tanggapan-tanggapan sebelumnya.
    1. Untuk Bp. C. Tanduk
    Semua pasti setuju kalau tidak semua hal harus ditanggapi. Tetapi kalau tanggapannya miring dan dapat merusak tatanan budaya atau struktur sosial kemasyarakatan, khususnya di Tana Toraja, maka pasti banyak pihak yang angkat bicara. Sy menggunakan alukna aluk to dolo karena aluk to dolo itu mempunyai banyak aluk, mis. aluk rambu solo’ (massilli’, ma’pasangbongi, ma’patallung bongi, ma’palimang bongi, mangrapai, dst) dan aluk rampe matallo (aluk banua, aluk tedong, aluk pare, aluk tau, dst). Aluk-aluk ini masing-masing punya versi dan ciri khas sendiri-sendiri dan tidak dapat dcampuadukkan.
    Bp. C. Tanduk, sy bukan ahli teologia, bukan juga pakar budaya. Namun kalau diskusi tentang ketuhanan dan kedewataan, barangkali kita harus benarni mengakui bahwa keduanya dapat dianggap sebagai asul-usul manusia. Terserah versinya bagaimana ? Kalau budaya Toraja mau di dalami dewasa ini, sebaiknya kita tidak menggali di Tana Toraja, tetapi silakan ke Leiden (Belanda). Hal sama juga terjadi pada Lagaligo (70% ada di sana). Jadi mau Van der Veen, Erich Crystal, Katleen Adams, dst kesemua itu merupakan jurnal/buku hasil penelitian di Balusu, Kesu’, atau Tallulembangna tempo dulu.
    Jika menyinggung masalah ajaran katolik dan protestan, sy hanya berkomentar bahwa protestan yang ada di Toraja adalah kalvinisme. “Mungkin” sebagian adat-istiadat Toraja juga terkikis karena kalvinisme ini, selain pengaruh keberhasilan manusia industrian (industrialisasi).
    2. Untuk sdr.Nicolas D
    Filosofi “kambang bai” itu berarti campur aduk atau tidak beraturan, kurang tepat dilontarkan manusia Toraja sepeti anda. Lulusan SMP dan SMA dekade 1970-an dari Toraja saat ini banyak menduduki jabatan teras di dalam dan di luar negeri. Mereka bukan produk budaya kambang bai. Mereka adalah produk piong duku bai, pangrarang duku tedong sola duku bai. Gizinya bukan main, tidak dapat diragukan. Orientasinya sebatas batas lingkaran bumi ini.
    Mahasiswa UNHAS pertengahan dekade 1970-an adalah produk yang sama. Mereka penyandang predikat akademis yang baik, beasiswa. itu sebuah alibi konkret.
    Masalah gaudemus et spes dalam gereja katolik itu baik. Tetapi akan lebih baik lagi kalau dilengkapi dengan non-violence, sehingga berpeluang disempurnakan oleh komitmen “toleransi” beragama. Bahwa ada ajaran kristen yang baru lahir dan menolak pantunuan di Toraja, memang itu suatu mala petaka budaya dan kecelakaan gizi generasi muda orang Toraja. Bukankan pantunuan tedong dan bai itu berhasil membentuk manusia muda bergizi secara gratis ?
    Sy sangat setuju jika gereja mengambil sikap meluruskan makna yang terkandung di dalam setiap nilai budaya, dan bukan mempertentangkan. Apalagi mengeliminir. Jika begitu, maka itu juga merupakan mala petaka daerah dan mementahkan sendiri visi dan misinya.
    Sejarah mewartakan bahwa di bumi Tana Toraja tempo dulu ada 40-arroan (kerajaan kecil). Setiap arroan berkedudukan sebagai satu wilayah adat.Kini tinggal 32 wilayah adat. Itu berarti bahwa sudah menguap 8 wilayah adat. Penyebab dan sebab-musababnya, “mungkin” yang disinyalir olrh sdr. Nicholas D, selain berkurangnya kepedulian masyarakat setempat. Sayangnya, banyak orang perantauan Toraja kembali mencari “identitas diri”. Siapakh saya ?
    Jadi kalau sdr. Nicholas D mengusulkan sebuah buku panduan budaya Toraja, seharusnya ada 40 buku, bukan satu buku supaya representatif. Dari sana identitas diri masing-masing dapat ditemukan, bahkan jawaban quo vadis masing-masing bisa terjawab secara pelan tetapi pasti.
    Terakhir untuk kali ini, sy tetap bertolak pendapat untuk pemekaran wilayah Tana Toraja. Sy pernah menulis di Koran Toraja untuk dijadikan tiga kabupaten (Sangkapeindoran/Sangkapeamberan, Tallulembangna, dan Sang Ma’dikaan). Bahkan kini sy menjadi anggota pelopor untuk menjadikan wilaya Masenrengpulu’, Luwu’, dan Toraja untuk menjadi provinsi tersendiri, lepas dari SULSEL dan SULBAR.
    Jadi tetap mempelopori pemekaran Tana Toraja !

    Sekian,
    kurre buda

  14. Saya setuju dgn pendpt saudara Frans bahwa anda hanya menulis keterangan mengenai Tana Toraja hanya dr luarnya. Seharusnya anda mendalaminya dulu, baru kemudian anda berhak menuliskan tentang Tana Toraja, daerah leluhur kami!!!

  15. Saya suka dgn Tana Toraja krn itu adlh tempat kelahiran suami saya yg sgt saya cintai… Amin… Dan untungnya sampai sekarang kami msh dpt bersama…..
    Kami tlh mempunyai 15 orng anak, hal itu disebabkan krn kami menikah muda. Saat itu saya berumur 13 thn dan dy berumur 12 thn, ya dia mmg lbh muda drpd saya.
    Pernikahan kami skrg menginjak usia 20 thn. Doakn ya spy langgeng trzzzz…..
    Salam buat tmn baiknya yg bernama Fransiskus Dannari alias gigi.
    Salam Cinta,
    Anastasia
    Emmuahhhhhhhh….

  16. saya sangat tertarik untuk mengetahui lebih banyak mengenai budaya Toraja khususnya mengarah pada budaya materi,, kira2 ada yang mau berbagi dengan saya mengenai perbedaan bentuk simbuang pada Toraja bagian utara dan bagian selatan (l bentuk, motif, makna dan latarbelakang)

    Atau referensi mengenai hal itu ?
    terimahkasih sebelumnya. GBU

  17. Saya orang Toraja tulen, lahir dan besar di Toraja. Namun, saya ingin bertanya sedikit tetang pergumulan masyarakat Toraja dan kebudayaanya. Apakah orang Toraja tidak akan menjadi orang Toraja lagi jika ritus dan pemaknaan nilai-nilainya telah bergeser oleh karena pengarus perubahan saman….???? Sejujurnya, saya sangat bangga menjadi orang Toraja tapi dengan melihat bentuk pelaksanaan kebuayaan Toraja sekarang ini, kadang saya merasa kasihan dan sekaligus malu. Contoh kecil mengapa saya merasa kasihan dan Malu: Di mata dunia, masyarakat Toraja terkenal dengan budaya Korbannya yang luar biasa dan mencengangkan…unik…dan hebat….!, namun kadang ditertawakan juga oleh mereka. mengapa….? tebak sendiri. Ada pendapat yang mengatakan bahwa sisi positifnya adalah peningkatan gizi remaja, namun menurut saya sebaliknya hal itu telah merebut peluang peningkatan Isi otak remaja. Ini adalah konsekwensi logis dari sikap menempatkan kebudayaan menjadi yang no. 1. (saya mebuktikan ini dalam penelitian lapangan). Maaf jika saya agak kecewa dengan bentuk pelaksanaan kebudayaan Toraja sekarang ini, khususnya kepada para pengagum budaya Toraja. Satu hal lagi, menurut saya nilai-nilai luhurnya tidak lagi menjiwai pelaksanaan adat itu, namun lebih pada mengejar hal yang di sebut “PRESTASI, eh salah maksud saya PRESTISE”, O….tirori tau, sugi’ liu ia, buda tedong na Tunu”. Ah….. sayang sekali, coba yang menjadi no 1 adalah pendidikan (PRESTASI).

  18. Sdr. Alfius dan sang torayaan yth,

    Mohon maaf, sy sangat terlambat membuka milis ini karena berbagai hal.

    Sy bukan pakar budaya, bukan sosilog, bukan antropolog, dan juga bukan politikus. Sy hanya seorang anggota masyarakat biasa, khususnya, orang Toraja yang pernah dilahirkan di sana, tetapi tidak didewasakan dan tidak seluruh jenjang pendidikan saya terlaksana di sana. Jadi tidak usa takut, apalagi sungkam terhadap sy. Sy hanya menyayangkan, kalau ada di antara kita yang meneliti atau melaporkan kepada pihak luar tentang kandungan “aluk, adat, dan adat-istiadat” etnis Toraja yang keliru sehingga melahirkan persepsi yang salah terhadap orang Toraja.
    Soal “pantunuan tedong sola baii” di Tana Toraja, itu tergantung pelaksananya. Nakuan kadanna Toraya, ladi-tunu rika tuu apa tae’. Itu benar sekali, menurut sy. Tetapi kalau kita mencoba dan berusaha untunuu-i tuu apa tae’, itu yang sangat salah. Artinya “sistem mengutang atau sistem arisam”. Maaf !
    Sdr Alfius dan sesama orang Toraja yth di mana pun berada,
    Percaya atau tidak, saat ini, krisis budaya Toraja sangat tinggi karena krisis ini berada di antara tarik-tarikan kepentingan antara mereka yang mau mempertahankan tradisi dan mereka yang bersikeras memihak kepada modernitas. Akibatnya apa ? Banyak di antara orang Toraja yang berusaha mencari identitas diri dan mendobrak status sosialnya (masalah kasta pengakuan diri seorang orang Toraja). Dobrakan ini dilakukan bisa lewat gereja, lembaga masyarakat, atau even tertentu. Misalnya, karena ia punya uang banyak lalu memotong kerbau atau babi yang banyak pada pesta penguburan jenazah keluarganya. Ini bukan “aluk dan adat” orang Toraja yang sesungguhnya. Ini yang disebut mengejar gengsi (prestise).

    Aluk Todolo itu ada dua jenis (jalur), yakni aluk rampe matallo (rambu tuka’) dan aluk rampe matampu’ ( rambu solo’). Keduanya lazim disebut “aluk simuane tallang, silau’ eran”. Orang Toraja yang memahaminya menyatakan,”mane dibussanan rokko ampa’, anna randemi aluk sola pemali”. Jadi aluk, dalam hal ini, bukan adat (Adat masuk ke Toraja setelah pengaruh Islam masuk).

    Aluk rampe matatallo di mulai, jika dipersonifikasikan, diawali dengan kelahiran seorang insan manusia. Ketika itu, ada upacara kecil-kecilan. Setelah dua atau tiga tahun umurnya, maka ia dikai’. Artinya diresmikan masuk ke dalam aluk todolo. Ada upaca dengan memotong babi dan menanam pohon “sendana”. Setelah remaja dan siap menikah atau dinikahi, maka dilangsungkanlah “aluk rampeanan kapak” dengan standar perikatan (tanak) tertentu. Strata tanak dimulai dari tanak kua-kua, tanak karurung, tanak bassi, dan berakhir pada tanak bulaan (tertinggi). Setelah menikah, maka ia membangun rumah (rumah adat, misalnya). Muncullah aluk banua (tongkonan) dengan patokan dan status tertentu. Yang tertinggi adalah “tongkonan layuk”. Ketika itu rumah adat (tongkonan) ini diresmikan penggunaannya (mangrara banua) berdasarkan “suke-suke-nya”. Ada suke tallu, suke a’pa’ dst. Setelah “mangrara banua”, maka dilangsunganlah uapacara “meraok”, dan setelah upacara meraok disusul dengan upacara “ma’bua’”. Biasanya, yang tertinggi adalah “ma’bua’ kasalle”. Biasanya, sudah tua ketika itu, kalau umur panjang, maka ia meninggal. Berarti ia berada pada status aluk rambu solo’. Seandainya meninggal lebih awal, maka aluk-alukna diteruskan oleh anaknya atau cucunya menurut kesiapan dan kesanggupan mereka.
    Khusus untuk aluk rampe matampu’, kalau meninggal pada status bayi, anak, remaja, atau dewasa, maka ada urut-urutannya (khusus untuk bangsawan).
    Mulai dari status “disillik”, dipasang-bongi, dipatallung-bongi. dipalimang-bongi. dipapitung-bongi, sampai pada strata dirapa’i. Di rapa’i pun masih ada stratanya (tergantung wilayah aluk atau adat sang mendiang). Yang tertinggi, kata orang, adalah “sapu randanan”, tetapi di daerah Kesu’ dan Sa’dan masih ada satu strata di atas itu.
    Ujung-ujung rambu tuka’ dan rambu solo’, jika disatukan, maka upacara “ma’gandangngi”, misalnya di daerah Tallulembangna (Ma’kale, Mengkendek, dan Sanggalla”).

    Sekarang apa yang dirisaukan ? Siapa yang dirugikan ? Dalam hal apa ada kerugian ? Sisi mana yang sudah rapuh dan hilang ?.
    “Yang pasti, kita sendiri tidak mengerti dan tidak menguasai alukta sola nasang”. Siapa yang pantas dialuk ?????

    Sekali lagi, sy secara pribadi, sangat menyayangkan jika harus terjadi “patahan” hanya karena kita semua teropsesi dengan modernitas, tetapi makna modernitas itu sendiri tidak dikuasai lalu ramai-ramai mencari identitas diri.

    Mungkinkah suatu ketika, ada oknum atau kelompok tertentu yang tanpa tedeng aling-aling mau mengakui “ossoranna atau nenekna” orang lain menjadi neneknya ????

    Sy sudah berdialog dengan Prof. Eric Crystal (Ketua Ford Foundation), cucu Vander Veen, Kathlim Adams (Loyola University), dan Prof. Ito dan Prof. Shinsita (Tokyo University) tentang kelangngengan “aluk todolo”. Komentar mereka, secara umum, terutama tentang menjamurnya banua toraya (terdiaspora), adalah terjadi “surplus”. Yang tidak sepantasnya juga dilakonkan.

    Pertanyaan sy kepada siapa pun orang Toraja di mana pun berada adalah,”kenapa sudah ada banua toraya, tetapi harus ada pondokan di sampingnya ?”. Kenaspa orang yang menunggunya (penunggu) tidak berani tidur di atas banua toraya ?

    Jika pertanyaan ini dijawab secara benar, maka itulah sanksi yang terselubung di dalam aluk etnis Traja, aluk rampe matampu’, yang harus dipikul keluarga sang penunggu kemudian hari setelah ia menghembuskan napas terakhir di atas banua sura’na keluarga.

    Ok, kita akhiri sementara, agar ada kesempatan bagi yang lain untuk menurunkan komentarnya.

    Salam sang Torayaan,

    frans B. Palebangan

  19. Bpk Frans B.P. dan teman-teman sang Torayan yg terkaskih!

    Saya memiliki kesan bahwa Bpk Frans menguasai dan mendalami kebudayaan Toraja dan sejujurnya sekalipun saya lahir dan besar di Toraja, saya tidak lebih menguasainya bila dibanding dengan bapak.

    Benar sekali bahwa yg terjadi sekarang adalah krisis pemaknaan dan pelaksanaan budaya Toraja. Saya setuju akan pendapat ini karena saya sendiri mengalami pelaksanaan tradisi di Toraja hanya sekedar pelaksanaan tradisi tanpa pemaknaan yg dalam, contoh kecil: saya pernah bertanya kepada salah seorang kapala saroan “kenapa kita harus “mantunu”? jawabannya simple saja “karena ini sudah dilakukan sejak dari nene’ todolo ta dan harus tetap dipelihara, ini adalah budaya kita”, saya berusaha menggali pemaknaannya tapi sama sekali tidak mendapat makna inti pelaksanaan budaya ini. Mungkin kasus ini tidak menwakili fenoman krisis kebudayaan di Toraja namun ini adalah salah satu bukti krisis tersebut.

    Saya memiliki kesan bahwa Bpk Frans merindukan pemaknaan dan pelaksanaan budaya sebagaimana yg ada pada semulanya (mungkin saya salah), namu kalu itu benar, bagi saya itu sebuah hal yg “imposible”, sebab ketika terjadi terbukanya interaksi dengan masyarakat yg berbudaya lain, maka kita tidak bisa lepas dari kemungkinan untuk mengadopsi budaya dan nilai-nilai yg baru tersebut (bisa dikatakan ini adalah peristiwa yg alami) sehingga terjadilah pencampuran. Dalam pemahaman saya, kebudayaan Toraja yg kita anggap asli adalah juga merupakan produk dari interaksi dengan kebudayaan dari masyarakat lain. Jadi, budaya Toraja juga adalah hasil proses pertemuan dan percampuran dengan budaya lain, makna dan bentuknya pun bisa berubah dari waktu ke waktu.

    Menyadari akan hal itu, maka yg penting untuk kita perhatikan adalah apakah proses ini menciptakan sebuah kebudayaan yg lebih baik dan lebih memanusiakan masyarakatnya atau malah lebih menindas. Oleh karena itu tugas kita adalah memberi sumbangsi pemikiran dan usaha secara praksis untuk mengembalikan makna yg baik dari budaya kita dan juga mengadopsi yg baik dari kebudayaan yg berinteraksi dengan kebudayaan kita. Dalam asumsi saya “tidaklah salah kalalu budaya yg di usung modernisasi kita adopsi sepanjang itu lebih memanusiakan masyarakat kita dan membawa kita pada kehidupan yg lebih baik. Dan jangan sampai kita jatuh lagi dalam mengadopsi kebudayaan yg menindas kita (mis.: sabung ayam).

    Berkaitan dengan pendapat saya di atas, maka saya ingin menjawab pertanyaan “kenapa sudah ada banua Toraya, tetapi harus ada pondokan di sampingnya ?”. Kenapa orang yang menunggunya (penunggu) tidak berani tidur di atas banua toraya?
    Jawaban saya: karena konstruksi banua Toraya tidak lebih nyaman untuk menjadi tempat tinggal. Interaksi orang Toraja dengan orang Bugis mengakibatkan terjadinya adopsi konstruski rumah tempat tinggal, dan toh dalam kenyataannya memang kontrusksi rumah Bugis lebih nyaman dibanding dengan banua Toraya. Menurut saya adopsi ini sah-sah saja, toh hal ini tidak serta merta menjadikan kita mengidentifikasi diri menjadi orang Bugis-Toraja, tapi tetap orang Toraja tulen.

    Untuk sementara saya akhiri dulu, lain waktu disambung kalo ada ide lagi!

    Salam kasih! Senang bisa berdialog dengan teman-teman sang Torayan dan untuk Pak Kristian selaku penulis artikel di atas, salam jumpa!! saya gabung diskusi yah..!!.

    Salama’!
    Alfius

  20. apakah ma’ badong dan mengorbankan tedong sewaktu upacara kematian itu tidak baik dalam ajaran agama Kristen. tlng jelaskan yah soal nya aku tak mengerti budaya toraja

  21. Salama’ sola nasang.

    Menyimak alur diskusi kita, saya melihat satu celah yang menyebabkan ada pokok pikiran yang sama tapi tidak ketemu.
    Dalam setiap komen teman-teman saya melihat ada sudut pandang yg berbeda-beda.
    Tampaknya dlm diskusi ttg dunia sosial Toraja, kita harus bedakan dr perspektif apa kita berpijak. Apakah kita bicara mengenai Aluk to Dolo atau budaya Toraja. Harap kita jgn buru-buru bilang itu sama saja. Tidak semua budaya Toraja yg kita kenal sekarang berasal dari atau persis seperti dlm Aluk to Dolo, karena sdh mengalami transformasi, entah oleh persentuhan dgn budaya lain, modernitas atau kepentingan2.Bahkan bisa jadi tdk ada dlm aluk to dolo. jadi kalau kita mau bicara tentang budaya toraja, sebaiknya jangan memulai dari aluk to dolo. harus mulai dari apa yg kita lihat sekarang, mengenai apa yang dirasakan org, bukan cuma yg dipahami atau di dengar dari orang lain apalagi kalau cuma pakar budaya, to minaa atau selevelnya. Analisisnya memang mau tidak mau harus bicara ttg aluk to dolo. tapi pisau analisisnya jgn cuma itu. dimensi politik, sosial, ekonomi harus di sertakan.
    Contoh soal, mantunu. Janganlah terlalu berat sebelah dan membela ataupun mencerca habis-habisan dari satu sudut pandang saja. Datanya jgn hanya dr orang tua, pakar kebudayaan atau penutur tradisi lisan. dengarkan juga apa kata orang. Pahami ungkapan “la di tunu raka tu tae’” tapi jgn lupa, ada juga yang bilang “di pa den tu tae’na”.

    Saya yakin keberanian kita untuk melihat dari berbagai sudut, akan menjadikan diskusi kita bisa lebih “menggigit” dan menghasilkan sumbangan pemikiran untuk sangtorayan.

    Tentu ada kekecualian, yaitu kalau ketertarikan seseorang thd Toraja lebih berorientasi pada etnisitas shg sah2 saja bicara tentang aluk secara an sich, lepas dari atau minimal mereduksi dimensi lain. Ketertarikan sy thd budaya tdk lagi pada level itu, tapi lebih pada pergumulan real yang dihadapi masyarakat. dlm hubungan dengan budaya. So, kalau ada uraian yg di klaim tdk sama dgn ideologi org Toraja, maka sy bisa tanya balik: ideologi yg mana: Aluk to dolo atau org Toraja today ?
    tabe’ agi mo dolo. la malena’ um palele tedong.

    salama’
    Christian Tanduk

  22. tulisan kristologi sangat jarang tidak mengaitkan agama lain. kalau bukan yahudi, ya islam. kalo bukan keduanya, lari ke aluk todolo.

    dalam tulisan ini jelas dikatakan bahwa aluk todolo adalah suatu kepercayaan kafir.

    mari kita simak mana yang kafir antara aluk todolo atau anda?

    - aluk todolo tidak memiliki kitab suci. kenapa? karena aluk todolo berhubungan dengan sang pencipta tanpa ada batas. kesucian hati aluk todolo diutamakan sehingga tidak ada sekat antara pencipta dengan ciptaan.

    - kristen memiliki kitab suci yang disebut alkitab yang konon katanya adalah sabda tuhan (atau kata-kata tuhan/yesus & Bapa). pertanyaannya adalah apakah benar isi alkitab itu keluar dari mulut yesus dan bapa? saya rasa terlalu terburu-buru jika anda langsung menjawab “YA”. karena terbukti dalam alkitab justru yang menjadi bahan cerita adalah bapa dan yesus, yang secara otomatis orang yang masih berpikiran waras akan membantah kalau itu adalah kata-kata yang keluar dari mulut yesus atau dari bapa.
    contoh:
    “pak raden memanggil si unyil untuk diberi mangga.”
    dari kalimat diatas, jika saya mengatakan bahwa kalimat itu diucapkan oleh pak raden atau si unyil, maka orang akan menganggap saya gila.
    kasus itu juga yang terjadi dalam alkitab.

    berikutnya…
    kapenomban dalam aluk todolo tidak sembarang. tidak sembarang orang yang bisa masuk ke tempat penyembahan puang matua. selama masih ada sedikit saja kekotoran yang melekat di hatinya, maka dia tidak akan mampu masuk ke tempat itu. sekuat apapun ia paksakan dirinya untuk masuk. ini membuktikan bahwa antara tuhan dengan hamba sangat terasa dan nyata.

    sementara kristen? maaf, ada beberapa teman dekat saya yang mengaku pernah berzinah di dalam gereja pada saat ada kegiatan camp natal atau paskah. sesuatu yang sangat ironis.
    anda menganggap aluk todolo sebagai kepercayaan kafir tapi puang matua melindungi tempat peribadatannya dari kebusukan hati manusia yang ingin memasukinya. sementara yesus tidak mampu berbuat apa-apa ketika rumah kebesarannya ditempati berzinah.

    masalah ibadah…
    pertanyaan yang sering saya lontarkan kepada teman-teman saya adalah “berapa kali dalam seminggu kamu menyebah tuhan?” ada yang jawab sekali seminggu, yaitu tiap hari minggu. dan ada yang jawab tiap hari.
    ketika saya tanya tata cara penyembahannya gimana, jawabnya sudah mulai ngelantur.
    orang kristen menyembah tuhan dengan cara:
    1. menyanyi
    2. berdoa

    menurut saya jika hanya itu yang dilakukan orang di gereja, maka sebenarnya orang kristen tidak pernah menyembah tuhan.
    MENYANYI BUKAN MENYEMBAH melainkan hanya memuji.
    BERDOA JUGA BUKAN MENYEMBAH melainkan meminta.
    kalian orang kristen yang merasa paling sempurna dan menganggap aluk todolo kafir adalah sekelompok makluk gila yang tidak mau menggunakan akal.
    tiap hari menyanyi memuji tuhan, setelah itu berdoa meminta yang banyak-banyak kepada tuhan. terus menerus terulang. semuanya hanya untuk diri kalian. untuk tuhan mana? kapan terakhir kalian menyembah tuhan? TIDAK PERNAH.

    penebus dosa…
    mahasiswa STAKN banyak yang sudah menjadi misionaris kecil-kecilan dengan mendatangi saya dan menceritakan dongeng penebusan dosa. mereka bercerita panjang lebar seperti sedang menghadapi anak sekolah minggu. yang semua dosa manusia yang percaya kepada yesus akan diampuni. sebesar apapun dosanya asal percaya kepada yesus, maka dijamin masuk surga.
    BULL SHIT!!!

    bandingkan dengan ajaran aluk todolo.
    aluk todolo tidak punya juru selamat karena yang bisa menyelamatkan kita adalah diri kita sendiri. semuanya kembali pada diri sendiri. apapun hasil akhir yang akan kita dapat, semuanya tergantung pada usaha kita selama kita hidup di dunia ini.

    sebenarnya masih banyak hal tidak masuk akal dalam kristen tapi hanya buang-buang waktu saja untuk diceritakan di sini.

    pertanyaan sederhana:
    kenapa kalian orang kristen makan daging babi? bukankah dalam perjanjian lama dilarang?

    • Ada dan tiada itu kata fenomenologi eksistensial yang coba diungkapkan oleh Jean Paul Satre …….. menurutnya eksistensi itu lebih dulu ada barulah esensi !!! Itulah mungkin yang anda ingin katakan bahwa manusia sebagai ada mampu menyelamatkan dirinya sendiri terlepas dari apakah kemudian ada kuasa magis yang lebih kuat dari dirinya. Saudara Barumbun hidup manusia sebagai yang ada itu ternyata masih memiliki sisi lain yang sangat mencemaskan yaitu sisi keterlemparan dimana ia tidak tahu mengapa ia bisa lahir ke dunia !!! dan untuk apa ia ada di dunia !!!! dan bilamanakah ia akan mati !!!!! saya kira tidak ada ruginya percaya kepada penyelamatan dari pada nanti betul-betul itu terjadi dan saudara tidak diselamatkan !!!!

  23. “Maaf atas keterlambatan sy membuka milis ini karena kesibukan di luar kantor yang tidak kunjung usai”.

    Sangsiuluran sangtorayan sola nasang,
    Tabe’ lako tu dipoindokna, dipoambekna, ondongpi lako suliu’ sang torayaan solanasang.

    Sy tidak bermaksud untuk mencari jalan lain dan juga belum berpikir untuk keluar dari konteks atau topik diskusi, yakni “Ketegangan Budaya Nenek Moyang dan Agama dalam Masyarakat Toraja” yang ditulis sendiri oleh sdr Christian Tanduk pada tgl 23 Nopember 2007 yang lalu.

    Jika tidak setuju, boleh-boleh saja, tetapi jalan terbaik adalah menawarkan dimensi yang diajukan, yakni “dimensi politik, sosial, ekonomi” kepada semua masyarakat Toraja. Jika setuju, boleh dilanjutkan, tetapi kalau tidak mari kita buat rumusan sementara.

    Keluar dari konteks adalah :
    a. suatu cara “mendangkalkan mutu dan kadar keilmuan”, terutama di bidang religius yang digeluguti oleh sdr. Ch. Tanduk. Sangat riskan dan menyesatkan.
    b. Jika dimensi “politik, sosial, ekonomi” diikutsertakan, sy yakin sdr Ch. Tanduk tidak bakal mampu mengikuti perubahan di dalam ilmu perilaku itu. Tokoh-tokoh dan dimensinya serabutan (belajarlah ekonometrik atau ilmu fisika terlebih dadulu baru kita diskusi). Maaf, dasar pernyataan anda selama ini sy pribadi menilainya hanya berusaha mengenal bungkusan, tidak berusaha membuka bungkusan itu secara pelan dan lebih teliti. Nanti antara aliran agama kristen di Toraja yang konflik akhirnya. Misalnya aliran “Sendeng Kalvanis” dengan Katolik.
    c. Jalan terbaik adalah mari kita belajar lebih banyak. Nanti tgl 6 Des 2008 ada diskusi di Jkt, tepat di TIM, di mana para ilmuan orang Toraja akan membahas ttg budaya Toraja, dan dilanjutkan tahun depan (akhir Juli 2009) di Toraja dengan topik Conference on Toraja Culture yang melibatkan hampir semua mantan peneliti budaya Toraja sejak 1950-an sampai sekarang.
    d. Di bidang Theologia (Theo dan Logos) rasanya memang kita semua belum seutuhnya memahami agama masing-masing, termasuk Akuk Todolo yang sering dimanfaatkan kehadirannya untuk mencapai gelar tertentu dalam bidang ke-theologia-an demi untuk dapat bertahan hidup di muka bumi ini.
    e. Sy sebagai orang Toraja sangat tidak menyukai orang tidak konsisten, apalagi mengaburkan masalah dengan jalan menambah masalah baru. Itu adalah sifat gerilya dan tidak dapat menumbuhan jiwa perubahan dan pembangun yang bernilai ekonomi tinggi yang dapat dinikmati generasi sekarang dan generasi yang akan datang. Maaf kepada siapun orang Toraja yang membaca isi milis ini.

    Padamo too siuluk, podo anta pada masankka’

    Rasanya hanya sekian komentar sy, salama’ undaka’ kande ladipotuona sola nasang.

    frs

  24. Saya senang membaca diskusi ini dan saya harap dapat dilanjutkan dengan pemikiran yang ilmiah sehingga terbuka kajian dari berbagai displin ilmu dalam perspektif budaya toraja. Saya juga mau berguru sama teman-teman mungkin ada hasil karya ilmiah yang dapat menajdi referensi dalam memperkaya kajian-kajian dengna perspektif budaya toraja

  25. Sdr Ch. Tanduk, Barumbun, dan Sdr. Tato Randa Yth,

    Perjalan panjang selalu diawali dengan sebuah langkah awal. Salah langkah berarti menambah jarak perjalanan. Namun ajakan sdr. Tanduk menelaah aluk todolo dari berbagai aspek, menyebabkan sy kembali menegaskan bahwa aluk todolo ada dua jenis (baca di atas).
    Pada aluk rambu tuka ada aluk banua, aluk pare, aluk tedong, dll; sedang pada aluk ramu solo ada ma’pasangbongi, ma’patallung bongi, lima bongi, pitung bongi, dan mangrapai. Inilah yang saya sebut “alukna aluk todolo”. Tergantung “status sosial seseorang”. Jadi bagaimana implementasi setiap aluk tersebutlah yang nanti memperkaya aluk todolo. Itulah alukna aluk todolo. Jadi sdr. Tanduk sama sekali tidak menyimak jenis- aluk-aluk ini. Maaf saja.

    Kalau sy baca seluruh diskusi dari atas hanya membahas jumlah kurban (tedong sola bai), tidak mencoba menyimak bagaimana proses dan kenapa memilih aluk seperti itu. Dalam konteks inilah Barumbun dan Alfius keberatan atas argumentasi sdr. Tanduk.

    Sdr, Tanduk yth dan merasa sudah sangat paham tentang aluk todolo.
    Kalau unsur ekonomi anda masukan, unsur ekonomi mana ? Apakah akan dimulai dari sistem ekonomi moyang orang toraja (sistem ekonomi tallu silolok : lolo tau, lolo tananan, lolo patuoan) ? Ataukah mulai dari sistem ekonomi feodal, pra kapitalisme, ka[italisme, atau sistem ekonomi sosial ?

    Seandainya sdr. Tanduk mau mulai dari “sistem ekonomi tallu silolok”, anda berasal dari wilayah adat mana dan tongkonan layuk mana (kalau boleh sy tahu)? Di sana pasti ada sistem serekan banekna sola ballaran ampa’na (tanyakan pada silsilah keluargamu). Osokan onganna pun ada (baca jurnal dari Prof. Dr. Roxana Waterson dari Singapure National University: ada 27 judul).

    Jika anda mulai dari ekonomi feodal, pelajari dulu sistem “kasibalianna tongkonan” di wilayah Tana Toraja, terutama di wilayah adat asal-muasalmu. Ketika itu anda terpaksa, suka atau tidak, harus melakukan introspeksi diri dan katakan pada dirimu,”who am I?”. Ketika itu terbentuklah sistem politik versi toraja dalam dirimu. Di sanalah aluk todolo memegang peranan penting di dalam sistem perekonomian etnis toraja (bukan saja orang toraja).

    Jika anda hanya bermodalkan ajaran kritiani untuk mengamatai implementasi aluk todolo, anda pasti bukan orang pas untuk itu. Prof. Eric Christal, Prof. Kathleem Adams, Prof. Roxana, Prof. Shinto, dan masih banyak pakar peneliti budaya lainnya di seantero dunia(termasuk alm. Van der Vien), tidak pernah berani mengatakan akan mengadakan tinjauan dari sisi ekonomi, politik, dls seperti yang anda usulkan. Mereka ini bertahun-tahun tinggal di Toraja mengamati dan menganalisis aluk todolo dan implementasinya.
    Sangat rumit dan teramat sulit diurai makna dan kesatuan batin orang toraja dengan penciptanya.

    Sdr. Tanduk, apakah anda percaya bahwa Adam dan Hawa itu pernah ada ? Jika anda percaya, pertanyaan sy yang sangat sederhana adalah “anak Adam dan Hawa menikah dengan anak siapa ?”. Aluk todolo tidak membenarkan saudara kandung saling menikahi. Kalau begitu, manakah yang ada terlebih dahulu, apakah ajaran kristen seperti yang anda pahami ataukah aluk todolo ?

    Jawabnya sama ngak dengani cerita Sawerigading dengan adik kandungnya, We Tendriabeng sang cantik molek itu ?.

    Jadi intinya, sy sudah mulai masuk espek ekonomi, budaya, dan politik kebudayaan di Toraja (belum ada model-modelnya)? Sdr Tanduk mau usul apa lagi ? Masyarakat Toraja pasti dengan lapang dada menerimanya asalkan masuk dalam jkonteks aluk todolo dan implementasinya.

    Padamo dolo too sang mane,

    frs

  26. Salama’ lako kita sola nasang.

    Saya sedih dengan beberapa orang yang tidak rendah hati menyimak pandangan orang lalu memberi tanggapan atau caci maki, sampai-sampai menanyakan “pellaoan” seseorang, sebelum menyimak dalam lingkaran mana orang itu sedang berbicara.

    Sebelum lebih jauh mengenai diskusi ini saya menyarankan kita untuk membaca tulisan awal dengan rendah hati. Mohon maaf kepada pak Barumbun. Saya tidak mengerti isi kemarahan anda, karena tidak satu pun tulisan dan komentar forum ini yang mengatakan aluk to dolo kafir. Itu adalah bahasa misionaris jaman dulu, dan sayapun tidak setuju klaim itu. Jadi sebelum mencak-mencak, simak baik-baik. Madomi’ komi na tarru’ saki ulu dako’ ambe’ ke madomi’komi sengke.

    Pak Frans, saya sedang menjemur keripik ubi ketika pak Frans mencaci maki saya menilai tidak tahu menanam singkong.
    Tulisan saya diletakkan dalam bingkai tiga jaringan makna yaitu budaya nenek moyang, agama dan modernitas untuk melihat masyarakat toraja kontemporer, sehingga semua komentar saya bergerak di situ. Ingat, bukan hanya aluk to dolo, tetapi juga agama dan modernitas. Ini yg saya katakan, simak dengan rendah hati. Mungkin bapak banyak belajar -dan tahu-tentang aluk to dolo lalu memaksakan bahwa saya sedang bicara tentang aluk to dolo dan menanggapi segala sesuatu dari kaca mata yang dibingkai aluk todolo. Padahal saya bicara tentang masyarakat Toraja dalam jaringan tiga makna itu. Kalaupun kita hanya bicara dari sudut budaya Toraja – seperti sudah berulang saya katakan – jangan mengatakan budaya toraja identik dengan aluk to dolo. Akibat apriori bapak, ketika saya mengusulkan dimensi sosial, ekonomi dan politik sbg pisau analisis, Pak Frans lagi-lagi menyeretnya ke dunia aluk to dolo , lalu mencecar dengan kalimat-kalimat yang aneh, menuduh saya merasa sangat menguasai aluk to dolo, dsb. (Saya bukannya tidak tertarik mengenai dimensi sosial, ekonomi dan politik dalam aluk to dolo. Tetapi saya kira ruangannya lain. Ada tulisan sementara saya persiapkan mengenai world view aluk to dolo mungkin sumbangan pak Frans sangat berarti di situ).

    Lebih disayangkan, pak Frans menimpali dengan bahasa-bahasa yang sangat tidak etis untuk ukuran orang Toraja. Misalnya dengan menyanyakan pellaoan saya. Akibatnya beberapa sangmane dan sangbaine (14 org) yang tertarik untuk melihat dunia sosial orang Toraja (sekarang), lebih suka berdiskusi lewat milis lain dan tidak mau berkomentar dan bertanya di sini karena cara kita yang mengaku Toraja dalam menyampaikan pendapat tidak simpatik. Mepakalongko’ ke nakuai tu tau, pada ya si kada-kadai (mungkin ketularan gaya milis lain he…he.. maaf).
    Kalau saya sih sudah terbiasa dengan bahasa-bahasa kasar seperti itu. Tapi mohon pakailah bahasa susi siamo ke Toraya ma’kada. Tentang who am I, Ia tu aku te pak, ulu ri malotong ku di sanga tau.

    Jadi sekali lagi, kalau pak Frans tetap memaksakan semua pembahasan dari sudut pandang aluk to dolo, bapak akan mencak-mencak terus pak, karena penggumulan utamanya adalah konteks masa kini. Komentar-komentar misalnya dr sdr Alfius, sy nilai lebih konsisten dengan topik paper saya.
    Saya tegaskan lagi bahwa usulan saya mengenai dimensi ekonomi, sosial, dan politik dalam praktek-praktek budaya yang merasa mengusung nilai budaya sekarang ini, bukan dari sudut pandang aluk to dolo, tetapi dari konteks yang sangat real sekarang ini dan tetap konsisten dengan tiga jaringan makna yang disebut di awal.

    Karena bukan ruangannya, sy tidak mau berdebat kalau bapak memberi nilai E mengenai pemahaman saya tentang Aluk simuane tallang silau’ eran, juga mengenai sistem ekonomi tallu lolona (sy cukup merasa asing dengan ungkapan tallu silolok. Terima kasih untuk tambahan istilahnya. Dari wilayah adat mana ?)

    Bapak Tato’ Randa, salam kenal. Salut, karena bapak memahami dengan persis arah idel dari diskusi kita. Kajian-kajian ilmiah dari berbagai disiplin tentu kita harapkan untuk mengajar kita menghargai budaya sendiri, namun tetap kritis. Saya sendiri mencobanya dari sudut pandang Teologi untuk mengembangkan suatu yang sering disebut Teologi Kontekstual, walaupun sering mendapat tuduhan bahwa semuanya hanya sekedar untuk mempertahankan hidup serta dipastikan akan mendangkalkan kadar keilmuan. Saya kita itu terlalu naif. Kita semua merindukan bahwa Toraja dengan keunikannya merupakan kekayaan yang tidak ternilai. Dan kekayaan itu sebaiknya tidak berdiri sendiri, melainkan akan semakin memperkaya semua sendi kehidupan masyarakat Toraja. Saya yang lahir, dibesarkan, belajar dan melayani dalam konteks Toraja sering merasa ambigu. Antara bangga dengan budaya Toraja dengan nilai-nilai idealnya, dan prihatin dengan prakteknya yang sering mengorbankan sisi lain hidup masyarakat.

    Pada mo do lo to.
    Salama’

    Christian Tanduklangi’

  27. Christian Tanduklangi’ dan sesama orang toraja yth,

    Berikut ini sy kutib kembali beberapa pernyataan sdr. Ch. Tanduklangi’ pada awalnya yang besar kemungkinannya membawa perdebatan berkepanjangan dalam etnis Toraja. Bahkan memungkinkan terjadinya konflik antara aliran kepercayaan di wilayah Tana Toraja. Hal ini yang membuat sy tergerak untuk menepis komentar-komentar seperti ini, apalagi kalau dugaan sy ini terjadi di antara anak mudah yang belum mendalami apa itu agama kristen dan apa itu aluk todolo. Sayang, bukan . . . ?

    Komentar-komentar sdr. Ch. Tanduklangi’:

    a. Sekarang ini hampir semua orang Toraja memeluk agama Kristen. Tetapi tampaknya etos dan pandangan dunia yang diharapkan Gereja dapat membentuk struktur sosial dan pranata sosial masyarakat Toraja berdasarkan nilai-nilai Kekristenan, tetap mengalami perlawanan dari budaya Toraja yang telah mengakar dalam diri masyarakat Toraja.

    Sdr. Ch. Tanduk, “apakah salah jika nilai-nilai kekristenan mendapat perlawan dari budaya toraja, karena mungkin gereja memaksakan kehendaknya kepada masyarakat toraja ?” nda salah kapra bukan ?

    b. … cara berfikir dan cara bertindak orang Toraja akan sangat dipengaruhi oleh memori yang tersimpan dalam alam bawah sadar itu. Uniknya, memori ini tersimpan secara turun temurun.

    Sdr. Ch. Tanduk,”salahkah masyarakat yang memiliki memori seperti ini ?”. Ini baru masyarakat yang benar namanya. Sdr. Ch. Tanduk, cobalah jalan-jalan ke Bali, ke Jogya, ke Jepang, atau Ke Thailand. Betapa indah dan akrabnya agama, budaya dan modernitas di sana. Semua serba dualisme, tetapi masyarakatnya tidak pernah mempertentangkan kehadiran mereka masing-masing. Apalagi agama yang dipeluknya. Bukan main-main anda sebagai orang toraja tulen.

    c. Dari sudut pandang pemimpin, ada pula kencenderungan apatisme pemuka agama dalam kegiatan yang berhubungan dengan budaya nenek moyang, dan juga apatisme pemuka masyarakat dalam kegiatan gereja.

    Sdr. Ch. Tanduklang’, cobalah simak baik-baik kalimat anda di atas in. Apakah benar ada pemaksaan ajaran gereja sehingga tokoh masyarakat dan gereja pun ikut pasrah ? Sayang sekali kalau hal ini terjadi dan terjadi lagi bukan ? Itu berarti misi gereja merangkul masyarakat sudah “patah arang”. Gagal . . . dan sebutan semacam lainnya. Cobalah dengan gaya persuasif sehingga ada perpaduan antara budaya, ajaran gereja, dan modernitas sehingga masyarakat semua menyadari bahwa kesemua itu akan bergesek dan saling melengkapi. Anda terlalu emosional menyatakan pendapat anda sehingga tanggapan masyarakat toraja pun ikut menantang anda habis-habisan. Ingatkah anda tentang cerita para parisi dalam Injil ? Cobalah simak baik-baik.

    d. “modenitas yang berpakaian tradisional”. Sy sebagai orang toraja tidak pernah merasa bahwa sy telah berhasil karena modernitas. Juga tidak bangga karena masyarakat sy tetap berpegang teguh pada tradisinya. Yang sy kagumi adalah masyarakat sy, masyarakat toraja, sadar akan keberadaanya sebagai orang toraja dan etnis toraja di tengah masyarakat dunia. Apakah anda merasakan hal yang sama ? Atau anda sudah merasa sangat puas dengan mengetahui sedikit ketuhanan dan mengabaikan masyarakat toraja di sekitarmu (maaf) ? Jangan lupa masyarakat di sekitar kita, di mana pun kita berada, adalah modal dasar kita untuk sampai ke pangkuan Bapa yang ada di sana.

    e. Akibatnya Etos dan world view masyarakat berada dalam dualisme dan dikotomi. Disadari atau tidak, masyarakat sedang berada dalam kebingungan merumuskan jati dirinya.

    Sdr. Ch. Tanduklangi’, cobalah simak baik-baik kalimat anda di atas in. Apakah benar apa yang sy katakan bahwa banyak di antara kita tidak mengenal dirinya sendiri ? Sibuk mencari identitas diri dan memanfaatkan kehadiran modernitas dan ajaran gereja untuk melakukan quantm-leave demi mengejar status sosial karena merasa sudah berhasil ? Jadi bukan dilematik seperti yang anda sebut sebagai dikotomi. Sekali lagi jagan ajaran gereja dan budaya toraja dibenturkan. Anda pasti gagal. Nakua kadanna toraya,”latallan rika tu bida” ataukah “latangmembaliangrika tedong diong tombang”. Kalau anda berjuang dengan benar, maka kesuksesan anda hanya boleh tertunda. Yang membuat orang toraja bingung sekarang adalah ajaran gereja yang bertibi-tubi tanpa kejelasan yang konkret. Hal ini sangat disayangkan. Akhirnya mereka merayap kembali ke aluk todolo. Artinya, gereja dipaksa mengikuti kemauan mereka karena mereka tidak merasa diuntungkan ikut ajaran gereja.
    Sayang Sdr. Ch. Tanduklabgi’, persepsi umpan balik seperti ini. Ingatlah perumpamaan di Injil tentang orang Samaria. Kenapa Jesus mau mengambil contoh masyarakat ini ?
    Ingat ngak, cerita Saul menjadi Paulus dalam Injil ? Kenapa harus diambil arah sebaliknya ?

    Sekali lagi, Jesus yang kita puja bersama itu tidak suka mengenai pertentangan (ingat wanita pelacur ?). Ia tidak pernah mau mengalidili sesama manusia. Dan … sy melakukan ini, menetang habis-habis Sdr. Ch. Tanduklangi’ karena mengingat Injil Luk. 21 : 10-14 dan Luk. 28 : 16-20.
    Cobalah simak baik-baik isi Injil ini supaya tidak saling menyalahkan dan tidak saling menuding yang byukan-bukan. Bacalah sekali lagi ulasan anda pada awal mulanya di atas.
    Apalagi kalau Sdr. Ch. Tanduklangi’ membaca Luk. 2 : 8-20 dan Luk. 11 : 19-26. Jika anda seorang Theologist, maka ketika isi Injil ini anda simak baik-baik, maka ketika itu diharapkan akan lahir Lukas-Lukas muda belia dan Paulus-Paulus muda penerus warta kegembiraan, kabar penyelamatan dunia via Jesus Kristus.

    Jesus tidak pernah menolak budaya lama, kecuali ketika mengusir para pedagang di Sinagoga. Mudah-mudahan kita ini bukan pedagang di Sinagoga, Rumah BapaKu (kata Jesus) itu.

    Akhirnya, pesan sy”jangan takut memikul salibmu”, seperti kalimatmu yang kebingungan ini,”Antara bangga dengan budaya Toraja dengan nilai-nilai idealnya, dan prihatin dengan prakteknya yang sering mengorbankan sisi lain hidup masyarakat”. Bagaimana orang bisa percaya pada dirimu kalau anda sendiri tidak percaya pada dirimusendiri.

    Kurre sumanga’,

    frs

  28. Kalau kita ingin membicarakan masalah Toraja memang tidak semudah membalik telapak tangan. Jadi mungkin tidak tepat kalau kita segera memberi penilaian benar atau salah, karena kita tidak membicarakan hitam atau putih tetapi lebih berbicara kepada perasaan dari hati sanubari.
    Dan secara pribadi saya sangat senang dengan forum ini. Meskipun cara pandang tiap-tiap orang tentang budaya dan Orang Toraja pasti berbeda-beda. Tapi yang jelas, kita harus memberi apresiasi kepada temana2 kita yang berani mengungkapkan perasaannya tentang Budaya Toraja. Apapun sumbernya, yang penting dapat diungkapkan secara obyektif, menrut saya itu bagus.
    Jadi misalnya saja soal kepercayaan “aluk todolo”…itu menarik sekali. Berdasarkan penelusuran pustaka dan juga kenyataan yang terjadi dalam adat istiadat khususnya Orang Asia, maka aluk todolo kayaknya mirip dengan ajaran Tao yang ada di Cina dan Jepang.
    Beberapa hari lalu saya ketemu Pak Frans dan saya juga sampaikan bahwa aluk todolo itu punya kemiripan dengan Tao. Hebat kan..??
    Segitu dulu yang dapat saya ungkapkan, dah malam nanti lain kali saya sambung ceritanya.

    salam,

    Nasir T

  29. Opu Natsir yth,
    Siulu’ sola nasang sang toraya-an di mana pun berada.
    “Terlambat tidak berarti tidak tahu, tetapi duluanpun tidak berarti sangat tahu”.

    1). Rasa-rasanya perlu dilakukan cut-off (pembatasan) diskusi agar tindakan transformasi kekayaan tradisi lama dapat dilakukan ke dalam alam modernitas untuk memperkaya demensi analisis kita, termasuk transformasi peradaban luar ke dalam aluk to dolo.

    2). Jika aluk to dolo disinergikan dengan ajaran TAO (taoisme), perlu dijaga ketentuan dan alur kiri dari taoisme. Misalnya sifat “jibakutai” kalau gagal mencapai sasaran (ajaran Ashura Mus dari Kaisar Jade di Jepang).

    3). Memang implementasi aluk to dolo kategori sapu randanan tempo dulu, selalu ada hamba setia yang ikut dikurbankan. Tetapi itu bukan jibakutai dari aluk to dolo. Itu adalah jibakutai dari hamba setia (ingat strata hamba atau kaunan dalam aluk to dolo : kaunan tai manuk, kaunan mengkaranduk, dan kaunan dialli/dilakbak).

    4). Kesengsaraan manusia di alam semesta ini adalah karena ulah mereka sendiri (taoisme), sedang kesengsaraan manusia menurut aluk to dolo terjadi karena pelanggaran ketentuan aluk, adat, dan adat-istiadat di dalam aluk to dolo. Misalnya, strata tongkonan dibagi dalam empat tigkatan, yakni barung-barung, tongkonan a’riri, tongkonan kapeindoran/kapeamberan, dan tongkonan layuk. Mana kalah aluk banua, dalam hal ini aluk tongkonan strata yang lebih tinggi dipaksakan dilaksanakan pemiliknya pada strata yang lebih rendah, maka ada sanksi yang dinamakan “untengkai pesungna” sehingga akan terjadi apa yang disebut naa karo’dai (istilah kasar) sehingga bisa cacat fisik mendadak atau anggota keluarga mati beruntun.
    Pada taoisme tidak demikian (sepengetahuan sy), khususnya untuk suku Salar di RRC yang memiliki pola hidup yang sangat mirip dengan etnis Toraja di RAMA.

    5). Jika teori dan model-model metafisika diimpor masuk ke dalam perbandingan aluk to dolo dengan taoisme, maka hal ini bisa berakhir pada “mata rantai makanan” dengan model-model ekonometrik, model-model fisika, dan kombinasi unsur-unsur kimia menurut kimia struktur dan kimia organik. Kenapa demikian ? Karena sudah pasti “unsur tehnologi” akan ikut mengambil bagian sehingga ilmu-ilmu manajemen, terutama perilaku keuangan dan psikologi akan sangat menentukan. Mengapa demikian ? Karena kita tidak bisa luput dari tindakan memposisikan “peradaban” di antara tradisi dengan modernitas.

    6. Opu Natsir, kalau keadaannya seperti itu, apakah sdr/i kita yang telah dinyatakan lulusan dalam bidang theologia (pendeta atau pastor) pada strata S1, S2, atau S3 yang mengambil obyek penelitiannya pada garis-garis dan alur-alur aluk to dolo akan dinyatakan gugur kesarjanaannya, kemasterannya, atau kedoktorannya ?
    Sy kawatir teori atau model-model mereka akan dinyatakan berguguran sehingga tindakan aborsi model dan teori ini merupakan malapetaka besar dalam dunia teologia di kalangan para pendeta dan pastor.

    7. aluk to dolo dan aluk dipasonglo’ domai langi itu sangat berbeda (konsep aluk sanda pitunnna oleh Tangdilino dan turunannya dengan konsep aluk sanda saratu’na oleh puang tamboro langi’). Kekeliruan yang amat besar telah dilakukan oleh para theologists kita adalah menyamakan puang matua (ajaran aluk to dolo) dengan Allah (Tuhan) pencipta alam semesta. Padahal masih ada jenajng sebelumnya, yakni para dewata di langi’. Mungkin ini mirip dengan konsep PatotoE di Luwu’ dengan Konsep Eran di Langi di Rura Bamba Puang. Sy tidak tahu persis apakah kedua hal ini sebuah mitos atau sama dengan Taman Eden dalam ajaran Injil. Pokoknya something behind and beyond untuk konsep-konsep seperti itu untuk mampu membawa pemikiran manusia ke dalam sebuah alam nyata yang membuat mereka mau percaya bahwa mereka pernah bersumber dari sesuatu yang pernah ada secara abadi.

    8. Opu Natsir yang baik. Makin rumit bukan ?
    Itulah sebabnya sdr. Ch. Tanduklangi’ sy minta untuk berpikir dalam-dalam sebelum memasukkan unsur ekonomi, politik, dan unsur lain yang dapat membuat diskusi ini makin lamur dan tidak jelas.
    Dalam konteks ini pula Barumbun bisa dibenarkan tentang “hubungan batin” orang Toraja dengan para leluhur dan para dewatanya.

    9. Akhirnya, sy dengan segala ketidaktahuan yang amat mendalam selalu dan di mana pun sy berada menyatakan bahwa tolong dibedakan terlebih dulu pengertian “Toraja” dengan “Toraya”. Kalau sy Toraya itu lebih luas pengertiannya daripada Toraja. Kalau demikian adanya, maka filosofi diskusi kita dapat ketemu, kalau tidak di Buntu Kandora Mengkendek (Sawerigading dan Lapidikati atau Tamboro Langi’), atau di Rura Bamba Puang (Puang La Londong), ataukah di Tongkonan Kesu’ dan Balusu (Aluk Sanda Pitunna), ataukah pada Injil (perjanjian lama ttg proses penciptaan dunia dan segala isinya).

    Setelah sejumlah rangkaian ini terbaca oleh siapapun, maka untuk memahami kerngka pemikiran yang dapat menyatukan persepsi kita, maka haruslah berada pada koridor transformasi dan penerimaan secara positif atas budaya imporan dan kemampuannya berassimilasi (menyatu) dengan kebudayaan asli etnis Toraya.

    Padamo too, kurresumanga’ lako kita sang Toraya-an podo anta pada salam’,

    anggota : torajagroup@yahoo.com

  30. Asyik juga, dari cara menyajikan pendapat, bisa dikenal mana orang Toraja yang tenang dan mana orang Toraja yang emosional. Menurut adat dan budaya mana yang lebih layak jadi panutan?.

  31. Setelah membaca tulisan dan berbagi komentar pada milis ini dapat saya simpulkan bahwa, betapa besarnya kerinduan masyarakat Toraya terhadap budaya yang ditinggalkan oleh leluhur kita.
    Namun saya menganggap bhw masih banyak hal yg perlu di diskusikan mengenai semua Aluk Sola Pemali atau produk budaya yang dihasilkannya.
    Ambil contoh sederhana begini:
    1. Banyak pihak di Toraya menganggap bhw cerita Puang I Lakipadada hanya sekedar mitos saja. Benarkan itu hanya mitos?
    2. Jika beliau pernah ada, lantas dimanakah rumah beliau dan dimana beliau di makamkan?
    3. Mengenai aluk 7777 dan sanda saratu’, spt apakah sesungguhnya itu? saya belum pernah membaca atau mendengar bagaimana sesungguhnya isi dari kedua aluk itu.
    4. Ada yg berkomentar di milis ini bhw salah satu sisi positif dari aluk rambu tuka yg mengeluarkan biaya puluhan bahkan miliaran itu adalah: MEMBERI GIZI KEPADA ANGKATAN MUDA. Kalau hanya sekedar memberi gizi, kenapa hrs semahal itu, dengan unag Rp 100rb, kita sdh bisa makan Coto Makassar selama 2 minggu berturut turut, dan tdk perlu mengeluarkan biasa banyak.
    5. Fakta bhw sejarah Toraja memang amburadul, tdk ada catatan tertulis sejak jaman To Manurun yg diperkirakan dimulia abad XII. akibatnya, masing kelompok merasa bhw merekalah penguasa sesungguhnya, apa benar begitu?
    Catatan lontara mengatakan bhw pada waktu La Tenri Tata (Arung Palakka) setelah mengalahkan Sultan Hasanuddin atas bantuan Belanda, melancarkan perang ke Pantilang atas bantuan beberapa daerah seperti Luwu-Pammana (Wajo) dan Sangalla (Toraja). Hancurnya Pantilang yg wilayahnya hampir sebagian besar Tana Toraja saat ini hancur oleh pengkhianatan dari dalam.
    Beberapa tahun setelah Pantilang jatuh, anak2 turunan dan kerabat Puang Pantilang bersama tokoh2 pemberani dari seluruh Tana Toraya melakukan perlawanan ke Bone yg dikenal dgn sebutan Un Tulak Buntunna Bone. Perang yg di pimpin oleh lebih seratus To Pada Tindo berhasil mengusir Bone keluar dari Toraja. Tapi pertanyaanya, kenapa kekuasaan Puang Pantilang tdk dipulihkan? Lantas kenapa para Tokoh To Pada Tindo seolah dilupakan begitu saja? Dimana penghargaan kita terhadap mereka?

    Menutup komentar saya, saya ingin menyampaikan terleibih dahulu permohonan maaf jika ada yg tdk senang dgn tulisan ini. saya hanya ingin kita semua tahu kejadian yg sesungguhnya. Bagi saya, tulisan lontara jauh lbh akurat daripada cerita turun temurun yg bisa saja di tambah atau dikurang tergantung siapa yg memegang cerita itu. yg pasti spt kata pepatah Toraya: “Tae tu tau pa uranni sianna”.

    Salam hormat selalu

  32. Berikut komentar saya yg kedua.
    1. Saya bisa memahami jika banyak pendapat yg saling bertentangan satu sama lain khususnya jika kita menilai ajaran Aluk Todolo dgn agama2 semawi yg sdh dianut oleh sebagina masyarakat Tpraya saat ini. Menurut saya, sumber pertentangan disebabkan oleh karena semua pengetahuan kita ttg Aluk Sola Pemali (aluk todolo) hanya diperoleh melalui proses Tutur Tinular. Orang tua bercerita ke anak melalui bahasa tutur. Tentu saja dalam cerita itu pihak penutur akan menambahkan kehebatannya tokoh di kampung mereka di banding kampung lain. akhirnya muncullah berbagai versi cerita ttg satu sosok tertentu.
    2. Sebagai misal: Ada yg mengatakan bhw Puang I Tamboro Langi adalah ayahanda Puang I Lakipadada. Ada pula yg mengaku bhw mereka adalah turunan ke 12 dari Puang I Lakipadada. Jika benar pendapat org ini benar, maka itu artinya org ini lebh tua dari Sultan Hasanuddin yg lahir pada 12 Juni 1631. Kenapa saya katakan begitu? Sebab Sultan Hanasuddin sendiri berada pada 14 generasi di bawah Puang I Lakipadada menurut Silsilah Kerajaan Gowa. Bukankah ini suatu bukti bhw sebaguan silsilah orang2 di Toraja kacau balau? Bukti lain. Dikatakan bhw anak Puang I Lakipadada yg bernama Petta I La Marang pergi ke Gowa dan menjadi Raja Gowa (Somba ri Gowa). Tapi tahu kah kita semua bhw Nama itu tdk pernah ada dalam sejarah Kerajaan Gowa? Ada pula yg mengatakan bhw anak Puang I Lakipadada yg bernama Petta I La Bantan pergi ke Bone dan nejadi Raja Bone. Ada pula yg mengatkan bhw beliau ke Sangalla, lantas mana yg benar? Sebagai info saja, Raja Bone yg pertama bernama Ti ManurunE Ri Mattajang yg diberi nama Mata Silompoe. Hal sama di Luwu? Dalam silsilah Kerajaan Luwu, tdk ada nama Petta I La Bunga, tapi org2 di Toraya mengklaim hal ini. Lantas dimana kebenarannya? Jika benar, lantas dimana titik temunya?
    3. Kacaunya silsilah di Toraya tentu ada penyebabnya. Dahulu kala, org Toraya blm mengenal tulisan, sehingga silsilah keluarga satu tongkonan, disusun dgn menggunakan potongan kayu/lidi. Jika salah satu potongan ini tertukar, maka tentu saja akan kacau saat di urai kembali. Jadi tdk tertututp kemungkinan susunan nama sdh tertukar.
    4. Ko padamo to, kurre sumanga’, sia tabe’ ke den dikka kadangku tang mammi2 mi basa.

  33. Mengenai nama Toraya dan Toraja.

    1. Jika kita pergi ke tana Gowa (Butta Gowa), dan ada yg bertanya begini:” Orang dari mana itu?”. Yg ditanya akan menjawab begini:” Battu ri Toraya beng” yg artinya: “katanya Datang dari Timur yang jauh” Yg mereka sebut “Timur yg jauh” adalah Tana Toraja saat ini. Jadi yg memberi nama kata “TORAYA” terhadap orang2 yg ada di Tana Toraja saat ini adalah orang2 Gowa. Jika kita sdh ada di Tana Toraja, tentu kita tdk bisa lagi mengatakan bhw “saya orang Toraya” sebab saya sdh ada di tempat yg dimaksud. Yg benar adalah : “saya orang Mengekndek atau saya orang Kesu atau saya orang Sa’dan dan seterusnya”.

    2. Mengenai kata Toraja. orang2 dipesisir timur menyebut kita sebagai To RiajaE yg artinya orang diatas gunung. Jadi kedua nama tersebut mengandung maksud yg sama yaitu: sama2 merujuk pada sekelompok orang yg tinggal di suatu tempat yg saat ini bernama Kab. Tana Toraja dan Kab. Toraja Utara.

    3. Pada masa lalu, orang2 tua kita selalu mengatakan begini: ” Iyatu kita Toraya…..”. Kalimat singkat ini sdh menggambarkan bhw orang2 tua kita jaman dulu lbh familiar menyebut kata Toraya dibanding Toraja.

    4. Konon kata Ugi’ adalah nama yg diberikan oleh orang Toraya terhadap penduduk di sepanjang pesisir Teluk Bone. Kata Ugi’ dalam bhs Toraya dulu mengadung arti “Berdoa”. Orang2 Toraya yg berkunjung ke Luwu sering kali melihat mereka berdoa kepada Dewata Agung. itulah sebabnya mereka menyebut org itu sebagai To Ugi yg artinya adalah Para Pendoa. Hingga saat ini kata Ugi berubah menjadi Bugis yg berasal dari kata Ma’ Bugi’, yaitu sebuah ritual agama Aluk Todolo utk memuja Dewa.

    Mudah2an bermanfaat.

  34. Sulwan Dase dan sesama etnis Toraya yth,

    Setelah membaca komentar sdr di atas, maka hati sy tergerak untuk menatap satu kata saja, yakni “TORAYA”. Selebihnya menyusul.

    Mungkin sdr Sulwan Dase sedang kacau pikirannya atau sedang mengidentifikasi identitas diri sehingga komentarnya pun “agak” berhamburan.

    MODEL yang saya gunakan di sini adalah MODEL A-T-M, untuk memnyumbangkan pemikiran ke dalam forum diskusi ini, yakni Amati – Tiru – Modifikasi.

    Sy pribadi berpendapat bahwa kita memiliki warisan leluhur yang tidak pernah salah diwariskan kepada kita dan kepada siapun. Hanya kita-kita ini yang, ketika itu, belum merasa penting sehingga diabaikan saja. idak pernah ditulis secara pribadi. Hanya dengar-dengar sehingga berakhir pada kata “ADE’”.
    Sekarang masyarakat dunia sedang sibuk-sibuknya menelusuri “ossoran atau silsilhnya” baru ikut-ikutan dan mulai menoleh ke belakang. Sungguh sangat terlambat. Katanya menduniakan diri. Kren dong ???

    a. Jika kata dan nama “Toraja dan Toraya” diamati, maka saya lebih senang memilih kata “Toraya” dibanding Toraja. Kenapa demikian ?

    b. Sy yakin cikal-bakal nama itu, yang memberi atau yang menerima ataukah yang memakai pada awalnya, tidak bermaksud apa-apa. Saat ini karena kehadiran Etnis Toraya mulai dilirik di bumi Indonesia, bahkan Asteng, baru mulai kasat-kusut, padahal yang terselubung dalam diri kita masing-masing adalah pertanyaan ini,”who am I?”

    c. Toraya lebih luas pengertiannya dibanding Toraja. Toraya meliputi Makale – Rantepao, Masenrengpulu’, Luwu, Seiko, bahkan sampai ke Palu dan Toli-Toli; sedang Toraja hanya meliputi wilayah Tana Toraja atau Makale – Rantepao. Ini adalah sebuah warisan kesalahan masa lalu.

    d. Kenapa, ketika Kab. Tana Toraja terbentuk pertama kali nama Tana Toraja yang dipilih. Bukannya “Toraja Selatan” sehingga otomatis Poso dan sekitarnya menjadi Toraja Utara ???? Karena yang memberi nama juga kurang paham sejarah katorayaan. Sdr Sulwan Dase ada menyesal ?? Tolong komentar anda !!!!

    e. Selanjutnya, jika Lakipadada dipertanyakan kebenaran dan kuburannya, maka sdr Sulwan Dase diharapkan dapat berkunjung ke Gowa (Balla Lompoa) dan tanyakan kepada penjaganya,”kuburan yang di sudut sana yang tidak terurus itu kuburan siapa ?” Di sana juga sdr boleh menanyakan dan mempelajari, sama atau tidak nama Lakipadada denga Karaeng Bayo ??? Hasil kunjungan anda tolong dapat menambah bahan diskusi di milis ini.

    f. Jika perang Untulak Buntunna Bone ditelusuri kebenarannya (Topada Tindo), maka tolong situsnya dikunjungi di Gandang, sebelah selatan Buntu Pune. Di sana, asal belum dirusak, sdr dapat menemukan tujuh batu yang tertanam secara bisu. Memang tidak ada tulisan apa-apa di sana, tetapi masyarakat setempat dapat menjelaskannya kepada sdr ketujuh batu tersebut. Hasil kunjungan sdr tentu dapat disumbangkan pada forum ini.

    g. Jika raja Bone sdr sebut-sebut dalam forum ini, maka pertanyaan sy kepada sdr, apakah anda percaya bahwa Landorundun pernah menjadi raja di Bone ??? Sdr boleh berkunjung ke belakang Linut di Makassar. Di sana anda akan temukan kuburannya yang dipindahkan oleh Linut (700-RIT) ketika itu dari sana karena ada pembelokan informasi ttg sejarah Bone. Landorundun adalah putri Landosusu dari Sa’dan Balusu, turunan sdri Kandung Lakipadada (La Tenriabeng). Jika sdr mau bukti konkret silakan berkunjung ke Tondok Litak. Di sana sdr akan menemukan situs ttg bagaimana kejadian ketika Landorundun lahir. Hasil kunjungan sdr kami tunggu dalam milis ini.

    Supaya tidak berlama-lama dan makin pusing, samapia di sini dulu dan selamat menjawan dan membuktikan sendiri seribu satu macam pertanyaan yang menghantui sdr Sulwan Dase saat ini.
    Tabe’ lako sang torayaan, kurre sumanga’ lako pada dadinta laan tondok mamalikta solanasang, toraya mala’bi’, padamo too dolo.

    Salama’

  35. wawww ehm

  36. Pertama-tama saya haturkan hormat kepada sdr. Christian Tanduklangi’ yg memelopori sekaligus moderator disitus/blog ini dan tidak lupa kpd bpk-bpk cendikiawan ahli sejarah Toraja yg ikut memberi komentar serta masukkan hal-hal mengenai Adat Istiadat Tana Toraja hubungannnya dgn daerah2 dataran rendah di Sulawesi Selatan.

    Perkenalkan…, saya adalah WNI keturunan Tana Toraja (bukan Cina) yg lahir dan dibesarkan serta menempuh pendidikan di DKI Jakarta. Sedikit banyak saya mengetahui sejarah kampung halaman leluhur saya dr keluarga dan handai taulan yg berdomisili di Jakarta, Makassar, dan Tana Toraja tepatnya Kab. Tana Toraja Utara sekarang.

    Mohon maaf terlebih dahulu (tabe’) dr saya tp saya mau mengkoreksi sedikit saja mengenai nama2 atau sebutan yg salah sebut, misalnya:

    Christian Peres sebetulnya adalah Christian Pelras,
    La Tenriabeng sebetulnya We Tenriyabeng -orang Luwu’ dan daerah2 Bugis atau Sulsel yg diwarisi Lontara biasanya menyebut wanita dengan awalan We sama dgn orang Toraja menyebut wanita dgn awalan Lai, sdngkn laki2 diawali dgn La setara dgn So’ dalam kebiasaan orang Toraja menyebut laki2.

    Ini saya amati dr sumber2 situs yg menggali kebudayaan Bugis di internet. Mungkin kebiasaan salah sebut oleh orang Toraja diwarisi dr nenek moyangnya yg memang kurang memahami budaya atau kebiasaan orang lain disekitarnya. Hal itu sih wajar2 aja tetapi menurut saya jika kita ingin dihargai orang lain maka kita harus terlebih dahulu menghargai mereka. Artinya kita harus menyebut nama sesuai dgn nama yg diakui di tempat aslinya atau yg diberikan oleh kedua orangtuanya sehingga hal ini tidak membingungkan atau menjadi perdebatan yg tidak berarti.

    Misalnya nama Sarong Lambe’susu ibu dr Landorundun disebut Landosusu atau Mendurana disebut Bendurana. Penyebutan Landosusu atau Bendurana tentunya akan membuat suatu masalah yg lain lagi. Tetapi hal ini wajar2 saja di Tana Toraja jika To Ma’dandan menyebut nama nenek orang lain misal nenek To Sa’dan Balusu dr turunan Puang Bua’lolo sdr Landorundun dgn salah ucap. Tetapi tentunya akan lain rasanya jika nama yg janggal tersebut disebut2 di forum resmi yg sudah go international. Orang Belanda aja sudah tahu mengenai riwayat Landorundun-Mendurana versi aslinya (http://sangmaneku.wordpress.com/2008/08/18/sastra-toraja/).

    Saya berpikir kenapa cerita ini berkembang dan terkenal di seluruh Tana Toraja tentunya karena tokoh2 dalam cerita juga bukan sembarang orang misalnya Sarong Lambe’susu itu sendiri yg saya yakin adalah bangsawan yg cukup terkenal dizamannya.

    Saya mengetahui dr Ossoran yg saya dapat bahwa Lakipadada tidak mempunyai saudara kandung bernama La Tenriabeng atau We Tenriyabeng. Nama La Tenriabeng yg anda maksud atau di Sa’dan Balusu dgn sebutan Andi Tenriabeng atau di Sure’ Galigo-Luwu’ dgn nama We Tenriyabeng (versi wikipedia berbahasa Indonesia) adalah jelas2 saudari kembar dr Lawe alias La’ Ma’dukelleng alias La Oro Kelling (Orang Oro kelling) alias La Datu Lolo (Raja Muda) alias Opunna Ware (yang diperTuhan di Ware) alias To Appanyompa (Orang yang disembah) alias Sawe Ri Sompa (Keturunan Orang yang disembah) alias La Pura Eloq (Orang Yang tak terbantahkan kemauannya) alias La Tenritappuq (orang yang tak terkalahkan) alias Pamadeng Lette (Sang Pemadam Halilintar) alias Langiq Paewang (Sang Penggoyah Langit) alias La Mampuara Elo (orang yg tak terbantahkan) alias Sawe Ri Gading (Keturunan dari orang yang menetas diatas bambu betung).

  37. Oleh masyarakat Sinjai, Christian Pelras yang adalah bule peranakan Perancis saja diberi nama La Massarassa Daeng Palippu lebih kentalnya dipanggil Daeng Palippu.

    Begitu juga dalam tradisi Toraja juga mengenal gelaran nama atau nama lain yg diberikan kepada seseorang. Misalnya di Randan Batu tepatnya di Tongkonan Tallu Lanta terdapat Pahlawan To Padatindo nomor wahid alias no.1 yaitu Lamanga alias Pong Kalua.

    Pong Kalua mendapatkan tugas yang sangat berat pada saat itu : menyelamatkan Puang Sangalla dari cengkraman Raja Bone yg berhasil menculik Puang tsb dr istananya di Sangalla setelah mundurnya pasukan To Bone dr Negeri Botting Langi’.

    Pong Kalua berhasil mengecoh Raja Bone dan seluruh pasukannya di istana Raja Bone dengan berbagai trik dan tipuan sampai seseorang prajurit pemberaninya Pong Kalua berhasil memasuki Istana lalu kamar Puang Sangalla tsb berada, serta membawanya keluar dari wilayah Bone kembali ke Sangalla. Raja Bone sangat murka pada saat itu sehingga seluruh isi istananya mendapatkan hukuman darinya.

    Sedangkan Pong Kalua mendapatkan penghargaan yg sangat besar dari Penguasa distrik Sangalla pada saat itu. Puang Sangalla menawarkan sawah, emas, kerbau serta harta benda yg tidak ternilai besarnya mungkin sesetengah atau lebih kekayaan Puang Sangalla tsb.

    Tetapi Pong Kalua yang artinya Luas, luas pula pikirannya, ia memandang jauh ke depan kepada turunannya yang akan beranak-pinak. Pong Kalua hanya meminta Puang Sangalla utk memberikan paha kerbau jika Puang Sangalla dan anak cucunya mengadakan Pesta Rambu Solo’ di wilayahnya (Sangalla) yg menganut Aluk Sanda Saratu’. Begitulah seterusnya kewajiban turunan Puang Sangalla kepada turunan Pong Kalua di Tongkonan Tallu Lanta, Randan Batu.

    Permintaan kedua Pong Kalua adalah apabila Puang Sangalla dan turunannya kelak berkehendak menyambangi tempat kediaman Pong Kalua maka ia diwajibkan jalan kaki saja tanpa kendaraan apapun sebagai penghormatan kepada Pong Kalua yg juga rela berjalan kaki dari Tana Toraja ke Kerajaan Bone demi menyelamatkan nyawa Puang Sangalla.

    Dalam riwayat Landorundun alias Datu Manili dikisahkan bahwa Landorundun pergi bersama Mendurana (nama Toraja-nama Bugisnya La Tando???) menyusuri Sungai Sa’dan naik perahu atau jalan kaki???. Orang Toraja memiliki kebiasaan mengganti nama orang dr suku lain yang menikah dgn anaknya dengan nama khas Toraja.

    Jadi intinya orang tersebut di Torajakan. Tetapi saya ingin sekali menonton film Landorundun-La Tando yang beredar di tahun 70-an di Makassar, pasti ceritanya versi Bugis punya. Apakah film ini yg dimaksud bpk. Frans Baraluallo alias Ne Bura’ sbg pembelokan sejarah Bone. Dan hal ini juga berlaku di Ker. Gowa terhadap Puang I Lakipadada dgn memberikan gelar Karaeng Ta Bayo (Nama Makassarnya) kepadanya.

    Menurut cerita yg saya dengar asal muasal kata Toraja itu sebetulnya ucapan orang2 Ker. Gowa dalam menyebut tempat asal muasal Puang Ta Lakipadada. Jadi Toraja bermakna to=asal raja=raja, ToRaja = asal Raja. Banyak versi di Tana Toraja mengenai cerita Lakipadada, misalnya yg saya dengar dr seseorang Tikala (Toraja Utara) begini:

    “Lakipada menuntut ilmu Tang Mate di hutan belantara selama waktu yg panjang sampai ia mendapat penuntun ghoibnya disana lalu ia menyeberangi lautan menuju Pulau Maniang dgn kendaraan kerbau putih (bule) namun kerbau tsb tidak mau mengantarnya menyeberang sehingga Lakipadada menyumpahi kerbau tsb bahwa turunannya tdk akan menyentuh atau memakan turunan dr kerbau putih tsb yg berwarna putih juga sampai selama-lamanya. Lalu Lakipada ditolong oleh buaya sakti sampai di Pulau Maniang.

    Di pulau tsb Lakipada diminta oleh penuntun ghoibnya utk berjaga-jaga (berpuasa tanpa tidur) selama 7 hari 7 malam. Namun baru hari yg kesekian Lakipadada sdh terlelap shg ia diambil oleh seekor burung rajawali raksasa dan kemudian diturunkan di Tanete wil. Ker. Gowa dahulu kala.

    Keadaan Lakipadada yg habis ‘bertapa’ tsb sangatlah buruk baju yg kumal, rambut yang sangat panjang, bau yg tidak sedap mewarnai dirinya.

    Lalu ia menghampiri pelataran Istana Raja Gowa, para abdi istana sangat terkejut melihat dia tetapi juga sangat iba sehingga Lakipadada disuguhi makanan di piring kucing piaraan Raja Gowa lalu Lakipadada yg kelaparan memakan suguhan tsb tanpa mengetahui piring tsb adalah piring kucing peliharaan Raja Gowa.

    Tiba2 seluruh kucing yg ada di Istana Ker. Gowa mati tanpa sebab! Melihat itu besoknya para abdi istana memberikan piring yg lain utk suguhan makan Lakipadada piring tersebut adalah piring anjing Istana, lalu kembali Lakipadada tdk menyadari hal tsb tetap cuek makan aja. Akibatnya seluruh anjing di Istana Raja Gowa mati tanpa sebab !!

    Keesokannya pula para abdi memberikan makanan kepada Lakipadada dgn beralaskan piring yg biasa dipakai oleh hamba/abdi Istana namun yg terjadi adalah seluruh abdi di dlm istana mati tanpa sebab !!! Melihat musibah itu Raja Gowa menitahkan kpd punggawa2nya utk memperlakukan Lakipadada seperti layaknya bangsawan terhormat.

    Mendapatkan perlakuan yg sewajarnya Lakipadada sangat senang hatinya sehingga keadaan Istana kembali pulih seperti sedia kala. Melihat kemukzizatan seperti ini Raja Gowa terperangah dan menantang Lakipadada utk menolong dirinya (Raja Gowa) dan permaisuri yang belum memiliki turunan agar dihapuskan bala atau sialnya sehingga mereka memiliki keturunan.

    Lakipadada diiming-imingi hadiah jika Lakipadada berhasil membuang bala tsb dan permaisuri ternyata hamil maka jika anak yg lahir kemudiannya laki2 akan dijadikan saudara angkatnya, tetapi jika itu perempuan akan dijadikan isteri Lakipadada.

    Kemudian Lakipadada membuat suatu acara ritual di Istana guna memanggil penuntun ghoib-nya yg dikenalnya selama di pertapaan. Sang penuntun ghoib menyanggupi permintaan Lakipadada utk menyelamatkan kelangsungan silsilah kerajaan Gowa. Maka hamillah sang permaisuri kemudian. Mengetahui hal ini maka senanglah hati Raja Gowa.

    Ia mengutus Lakipadada dalam ekspedisi Phinisinya ke Negeri Sudan Timur Tengah, mungkin niat Raja menguji lagi Lakipadada apakah ia akan kembali lagi ke Ker. Gowa dgn selamat dan mengambil hadiahnya.

    Di dalam ekspedisi tsb Lakipadada melanglangbuwana ke negeri-negeri asing selama bertahun2 lamanya. Dan akhirnya ia pulang juga ke Ker. Gowa dengan hasil/kekayaan yang berlimpah ruah. Pakaian yg dikenakannya sangatlah indah dihiasi dan didominasi emas yang kuning kemilau dan pinggangnya dihiasi pedang serta beberapa pusaka diantaranya payung, Pedang/Pusaka Sudang sebagai pemberian cenderamata dr Penguasa Sudan (Lakipadada = Tu Manurung I Ri Sudang???).

    Akhirnya ia menikah dgn Putri Raja dan memiliki beberapa anak diantaranya Patta La Bantan yg kembali ke Sangalla dengan kemegahannya serta beranak pinak disana mewarisi warisan Lakipadada di daerah Tallulembangna “.

    Itulah sekilas cerita yg saya dapatkan dr beberapa sumber orang Toraja. Saya sendiri tidak/belum menemukan kaitan Puang I Lakipadada dlm urutan silsilah saya baik dr pihak ibu maupun bapak saya. Tetapi leluhur saya bersaudara Puang Petimbabulaan yg merupakan cucu dr Datu Manaek di Tongkonan Nonongan dan ada juga leluhur saya dr pihak bapak saya bernama Puang Panggeso keponakan Puang Sanda’ Boro orangtua dr Puang I Lakipadada.

    Kalau cerita aslinya mengenai Puang I Lakipadada pasti orang Toraja yg bermukim di distrik Sangalla akan sangat paham, saya sarankan sdr Sulwan Dase yg merasa dirinya mempunyai hubungan darah dgn Puang I Lakipadada belajar atau bertanya ke Tongkonan Buntu Kalando di distrik Sangalla lihat situs ini : http://www.batusura.de/kalando.htm .

    Namun nama Puang I Lakipadada atau pengetahuan mengenai dia sangat membantu dalam perang Untulak Buntunna Bone karena banyak orang Toraja yg selamat dr pembantaian oleh pasukan Bone yg jumlahnya puluhan ribu saat itu dgn mengaku mempunyai hubungan darah dgn nama tsb. Jadi masalah silsilah di Tana Toraja sangat erat kaitannya dgn Tongkonan.

    Tongkonan merupakan simbol atau prasasti atau lontara tidak bertulis/beraksara yang sampai saat ini setelah ribuan tahun lamanya yg dapat menjabarkan silsilah atau asal usul seseorang Toraja. Jadi ada Tongkonan Induk kemudian Tongkonan Anak lalu Tongkonan Cucu-cicit dan seterusnya. Dengan memakai rumus ini maka mungkin teman/keluarga Sulwan Dase yaitu Daeng Rusle penulis di sini http://noertika.wordpress.com/2006/12/19/napuataki-petta-ranreng/ dapat menelusuri nenek moyangnya.

    • Mau nanya Pak, apakah versi Buntu Kalando bisa dipercaya bahwa itu yang benar ?

  38. Kembali lagi kepada hubungan masyarakat Luwu dan Toraja.

    Sementara hanya ada 2 nama besar di dalam epik terpanjang di dunia yg lebih panjang dr kisah klasik terkenal di dunia Mahabarata, epik atau karya sastra yg sekaligus dianggap Kitab Suci yg menerangi segenap masyarakat Luwu tempo doeloe beserta jajahan-jajahannya yaitu Sureq Galigo.

    Nama Pertama ialah Puang Sawerigading di distrik Sangalla yg diakui menikah dgn Puang Pindakati yang kemudian melahirkan Jamanlomo atau Jamallomo dan menikah dgn Puang Samang lalu mendirikan Tongkonan Dulang pada Potok Tengan, Kab. Toraja Selatan.

    Nama yang Kedua ialah Andi Tenriyabeng yang diakui menikah dgn Remman Ri Langi’ di Tongkonan Punti di Sesean Kabupaten Toraja Utara. Tetapi siapakah yang lebih tinggi derajatnya menurut Kitab Suci Sureq Galigo ? Turunan I La Sawerigading atau Turunan I We Tenriyabeng ??? Kita baca dulu terjemahan dari resensi yg dicuplik dr Kitab Suci Sureq Galigo :

    “Alkisah, Sawerigading, putera mahkota kerajaan Luwu, tengah menjambangi makam neneknya di negeri Tompoq Tikkaq (Matahari Terbit). Di sana ia diberitahu rahasia terbesar kerajaan.

    Di bagian terlarang istana, hiduplah seorang gadis kelewat cantik yang berjalan dengan pakaian serampangan dan menghabiskan waktu dengan mabuk mandi dan bercakap dengan segala jenis burung: seorang makhluk langit yang dititipkan ke dunia.

    Dengan berbagai cara, Sawerigading mencari jalan menerobos larangan istana. Begitu melihat gadis tersebut, sukmanya terbang. Ia jatuh cinta pada gadis yang ternyata adik kembarnya, We Tenriabeng, makhluk paling cendekia dalam seluruh kosmologi Bugis.

    Pangeran muda itu sesungguhnya sudah punya sejumlah isteri. Selain penjudi agung yang gemar menyabung ayam, ia adalah pemburu perempuan yang bersedia mengembara ke neraka untuk mendapatkannya.

    Pernah ia jatuh hati pada seorang puteri yang telah meninggal. Seluruh armadanya ia kumpulkan lalu dengan brutal ia menyerang alam arwah yang terlarang dan mengacak-acaknya untuk merebut kekasihnya dari tangan dewa.

    Mengetahui bahwa tak boleh ia menikahi adiknya, Sawerigading bertolak dari Luwu. Untuk menjinakkan ingatannya pada si adik, pangeran tampan dan romantis itu berniat menjarah seluruh lautan. Armadanya mulai membelah samudera ketika sebuah pesan tiba dari orang tuanya yang kangen. Di depan ayah bundanya kembali ia memohon ijin mempersunting puteri yang satu tembuni dengannya.

    Orang tua yang mati akal dan bahkan pernah dibentak dengan muncratan ludah itu hanya bisa bilang bahwa insest itu tabu, pemali. Negeri akan berantakan, padi jadi lalang dan sagu lumpur. Batara Lattuq Sang Raja lalu mendatangkan seorang nenek tua bangka yang seusia manusia pertama, untuk menegaskan akibat perkawinan sedarah: kehancuran dunia dan kelaparan yang membentang di cakrawala.

    Mungkin karena usianya yang uzur, mungkin karena tabuhan Sawerigading pada tubuh tua itu terlalu boros, nenek itu terkapar. Seakan ingin memutuskan sejarah yang menabukan insest, Sawerigading memenggalnya.

    Sejumlah kesintingan, seperti memanggang berhari-hari semua anak Luwu di bawah matahari dengan harapan agar mereka juga menderita sebagaimana dirinya, masih dilakukan Sawerigading sebelum akhirnya adik kembarnya datang menemui. Bissu belia yang bahkan lebih cerdas dari dewa-dewa ini berupaya keras menghadapi kakaknya yang lebih mencemaskan bahkan ketimbang setan.

    Segala macam penjelasan kosmis pemali insest dan kabar adanya putri Cina lebih cantik dari si adik, tak dapat masuk ke benak pangeran kepala batu yang terus mendesaknya menikah.

    Setengah putus asa, We Tenriabeng yang hampir luluh melihat cinta tak berbatas itu, memperlihatkan bayangan I We Cudaiq di kuku jarinya.

    Lalu dimintanya si kakak berbaring dan ditiupkannya sebentuk mimpi. Mimpi erotis tersebut — di dalamnya Sawerigading sempat dengan ganas baku cumbu dengan Sang Dewi Cina dalam satu sarung — rupanya bekerja, meski tak cukup ampuh. We Tenriabeng pun berjanji, jika I We Cudaiq tak lebih elok dari dirinya, Sawerigading boleh balik ke Luwuq. Si Adik kembar akan menerima suntingan kakaknya, dan “… kita runtuhkan langit, kita ubah hukum dewata, kita kubur rembulan, melangkahi pemali, duduk bersanding bersaudara”.

    Sawerigading akhirnya bertolak ke Cina, di perjalanan di lautan ia harus berhadapan dengan 7 lawan yg tangguh:
    1) Armada Mancapaiq (Majapahit) yang dipimpin oleh Banynyaq Paguling awalnya melawan sengit. Penumpasannya diakhiri dengan diceraikannya tubuh dan kepala Paguling. Pertempuran-pertempuran selanjutnya yang tak kalah sengit datang dari armada pimpinan
    2) La Tuppu Soloq,
    3) La Tuppu Gellang,
    4) La Togeng Tana dan
    5) La Tenripulang. Keenam lawan Sawerigading kepalanya dipenggal dan digantung diatas kapal I La Walenreng. Sedemikian beratnya pertempuran keenam melawan armada
    6) La Tenrinyiwiq, Sawerigading terpaksa meminta bantuan adik kembarnya. Sawerigading berkomunikasi dengan seekor burung yang bernama La Dunru dan menyuruhnya menyampaikan pesan ke We Tenriabeng untuk naik ke Botting Langiq untuk melaksanakan pernikahannya.

    We Tenriabeng saat itu sudah terangkat naik ke langit, melewati guntur dan halilintar. Karena Sawerigading telah menjelma sebagai manusia di bumi, maka ia tak lebih dari manusia-manusia lainnya yang berada di bumi yang dimana mempunyai kekurangan-kekurangan sebagai manusia bumi.

    Bukti kemanusiaan Sawerigading ketika pada peperangan yang membuat sawerigading meminta bantuan kepada penguasa langit yang dimana Remmang Ri Langiq alias Batara Guru II suami dari We Tenriabeng turun kebumi untuk membantu Sawerigading untuk berperang. Saat Remmang Ri Langiq tiba di bumi, ia langsung memerintahkan Sawerigading untuk menyembah Remmang Ri Langiq sebanyak tiga kali sebagai bukti kemanusiaan Sawerigading dengan pengakuan eksistensi ke dewaan Remmang Ri Langiq.

    Pertempuran ketujuh menghadapi armada Settia Bonga Lompeng ri Jawa Olioqe, yang sudah tiga tahun bertunangan dengan I We Cudaiq yang hendak disunting Sawerigading. Bersama para pengawalnya, Settia Bonga ditangkapi dan dipulangkan ke negeri asalnya “.

  39. Baca selengkapnya disini (klik & drag & paste di hal baru):
    http://repository.kulib.kyoto-u.ac.jp/dspace/bitstream/2433/56113/1/KJ00000133875.pdf
    http://arsuka.wordpress.com/2008/09/23/galigo-odisei-buendia/
    dan ini http://lagaligo.net/2008/12/mengenal-sosok-sawerigading-lebih-jauh-part-ii/
    dan ini http://lagaligo.net/2008/07/silsilah-la-galigo-sawerigading/
    dan ini http://www.luwuutara.go.id/media/sawerigading.pdf
    http://library.melayuonline.com/?a=d3FUeC9kd3REcjMvRWpRMFZkUldZ=&l=cinta-laut-dan-kekuasaan-dalam-epos-la-galigo

  40. Tetapi ada juga putra Luwu asli yg kontra dgn tulisan diatas :
    http://id.wikipedia.org/wiki/Pembicaraan:Sawerigading

    Tetapi masih banyak lagi perdebatan mengenai tujuan Sawerigading ke negeri Cina sebagaimana tempat tinggal I We Cudaiq. Cinanya Cina mana ??? Apa Cina daratan yg ada di Benua Asia atau Cina Singkawang di Kalimantan, atau Cina Benteng di Tangerang atau masyarakat Cina di Kep. Buton atau Cina yg bermukim di Pulau Singapore ???

    Orang Wajo yg mengaku sebagai asal muasal Orang Bugis menulis : Penamaan “ugi” merujuk pada raja pertama kerajaan Cina (bukan negara Tiongkok, tapi yang terdapat di jazirah Sulawesi Selatan tepatnya Kecamatan Pammana Kabupaten Wajo saat ini) yaitu La Sattumpugi. Ketika rakyat La Sattumpugi menamakan dirinya, maka mereka merujuk pada raja mereka. Mereka menjuluki dirinya sebagai To Ugi atau orang-orang/pengikut dari La Sattumpugi. La Sattumpugi adalah ayah dari We Cudai dan bersaudara dengan Batara Lattu, ayahanda dari Sawerigading.

    Sawerigading sendiri adalah suami dari We Cudai dan melahirkan beberapa anak termasuk La Galigo yang membuat karya sastra terbesar didunia dengan jumlah kurang lebih 9000 halaman folio.

    Jadi pertanyaannya sekarang kepada Sulwan Dase adalah kenapa banyak suku-suku lain di Sulsel yg sebenarnya bukan orang Bugis atau bukan rakyatnya La Sattumpugi atau jajahannya Kerajaan Wajo sering mengaku-ngaku sebagai orang Bugis sampai-sampai orang-orang Mandar yg bermukim di pedalaman Papua mengaku2 Bugis ??? Baca ini : http://sulawesi.cseas.kyoto-u.ac.jp/lib/pdf/GeorgeJunusAditjondro.pdf
    Mengenai nama Petta I La Merang itu tidak tertulis di dalam daftar silsilah orang Gowa masa sih ??? Mungkin ada nama aliasnya atau nama lainnya Karaeng siapa gitu…Mungkin dokumennya sudah dibakar oleh Arung Pallaka atau dibombardir VOC pada saat mengganyang Istana Somba Opu (Tuhan Disembah).

    Eh ngomong2 kata somba juga berarti menyembah lho di Batak dan gelaran Opu atau Ompu juga ada di sana…dan mereka juga mengenal aksara lontara (baca ini:http://m4nurung.wordpress.com/2008/01/15/hikayat-ompu-gumarang-manurung-2/ dan ini http://simanjuntak.or.id/index.php?s=aksara

  41. Mengenai hubungan-hubungan lain yang bersejarah antara Tana Toraja dgn suku-suku lain termasuk suku Bugis dpt dibaca disini (klik & drag & paste di hal yg baru): http://dualembang.multiply.com/journal/item/17/Tongkonan_dan_Mitosnya_Dalam_Hubungannya_Dengan_Kerajaan-kerajaan_Dataran_Rendah_di_Sulsel

    Atau jika Sureq Galigo dikaji bersama-sama antara cendikiawan2 Tator (yg mempunyai hubungan darah dgn tokoh2 yg ada didalamnya : Sawerigading dan I We Tenriyabeng (Andi Tenriyabeng) dgn cendikiawan2 Luwu’ membahas masalah :

    1) Negeri Botting Langi’ suatu tempat yg menjadi asal usul Remman ri Langi’ (Raja Langit)

    2) Batara Guru I alias La Togeq Langiq yg diturunkan dr Langi’ ceritanya mirip Manurun di Langi’ di Tongkonan Kesu’ Ke’te’ Kesu Toraja Utara atau Puang Tamboro Langi’ di Kandora, Tallulembangna Toraja Selatan.

    DR.Fachruddin Ambo Enre, dalam disertasinya berjudul Rintumpanna Welenrennge (1993), mengemukakan tiga jenis pandangan tentang naskah Sure’Galigo, yaitu sebagai naskah mitos dan legenda, sebagai naskah sejarah dan sebagai karya sastra.

    3) Dalam pementasan theatrikal I La Galigo di Indonesia, Singapura, New York dll yg melibatkan bissu asli Puang Matoa Saidi (baca disini: http://www.mail-archive.com/blogger_makassar@yahoogroups.com/msg06707.html ) kenapa adegan2 /episode Sawerigading memohon bantuan Remman ri Langi’ dan menyembah Remman ri Langi’ 3 X sebelum menghabisi pasukan La Tenriwinyiq tidak diperlihatkan ???

    Dalam hal ini saya sependapat dgn bpk. Frans. Baraluallo perihal kurang setuju atas nama Puang Matua yg dijadikan nama lain TUHAN YME & seringkali diucapkan Pendeta/Bissu Gereja Toraja dalam pemberkatan.

    Perlu dikupas pula mengenai silsilah Remman ri Langi’ di Tongkonan Punti dari mana asal usulnya ? Siapa orang tuanya apakah ada hubungan dgn Manurun di Langi’ atau Puang Tamboro Langi’. Penelusuran ini haruslah jujur jangan sampai ada tujuan2/maksud yg ingin mementingkan diri sendiri. Jangan mentang2 nama Remman ri Langi’ terlibat di Sureq Galigo banyak orang Tator yg mengaku2 mempunyai hubungan khusus dgn Beliau dan menjadi sombong hatinya.

    Dan satu hal lagi saya mau jelaskan kepada Sulwan Dase, istri dr Karaeng Ta Lakipadada yg anda tulis diberbagai forum ialah To Manurung Baineya kan ? To Manurung Baineya itu artinya: Istrinya To Manurung jadi yang To Manurung itu adalah suaminya, ngerti…..

    Lalu Payung ri Luwuq pertama adalah Petta I La Bunga sebelum beliau berkuasa tidak ada gelaran Payung di Luwuq. Payung emas yg dibawa dr Makassar oleh2 dr bapaknya setelah merantau dari Negeri Sudan dijadikan lambang/simbol Negeri Luwuq, selain payung Bunga Waru juga menjadi simbol kerajaan. Udah paham…

    Saya tidak setuju jika dibeberapa penulisan yg berbau sejarah ditulis Pemerintahan Luwuq sebelum Belanda berkuasa membawahi Tana Toraja, jadi Tana Toraja dulunya diperintah Oleh Payung ri Luwuq atau Datu Luwuq setujukah anda? Kalau ditanya apa buktinya orang Luwuq pernah berkuasa di Tana Toraja maka jawabnya paling2 begini: itu lihat di sana di Tongkonan Dulang ada batu yang merupakan reinkarnasi tubuh Puang I We Pindakati yang dikutuk Puang I La Sawerigading krn melawan dia.

    Udah dulu capeeek aahhh

  42. saya salut sama tana toraja culture,mreka bsa tetap eksis meski dalam budaya orang dengan tetap memgang budaya sendiri,salut buat toraja….salam untuk sodara sodara hindu d tana toraja….

  43. Sang torayaan yth,

    Setelah membaca dan mencoba menikmati ulasan sdr Laurentius Mangari yang panjang dan lebar di atas, maka pertama-tama sy menekankan kembali tentang “Model ATM” yang sy gunakan untuk ikut menyumbangkan informasi tentang sejarah katorayaan. Lumayan sebagai salah satu sumber yang dapat dipercaya untuk untuk sementara dalam proses menggali dan meluruskan kebenaran sejarah toraya. Namun sy mau mengoreksi beberapa hal, a. l :

    a. Nama sy memang Frans Bararuallo (dan tentu bukan bare’allo) dan tidak pernah dipanggil Bura’ (Frans Baraluallo alias Ne Bura’, menurut sdr Laurentius Mangari). Apalagi menggunakan nama itu di dalam hidup sy sehari-hari. Nanti keluarga Bura’ keberatan atau menuding sy meminjam nama marga mereka (kog pinjam ?). Nama kecil sy memang Bara’ (tetapi bukan dokter Bara’).

    b. Salah pernyataan sy sebelumnya memang ada dua, yakni sdr kandung Sawerigading, La Tendriabeng, bukan sdr kandung Lakipadada dan satu lagi tetapi belum terdeteksi oleh sdr Laurentius Mangari.

    c. Salah tulis dapat saja disebabkan karena salah dengar dari sumber utama, ataukah karena kesalahan turun-temurun orang toraya yang kurang senang menulis yang seharusnya. Itu dapat dimaklumi. Sebut ajalah “pewarisan yang salah”.

    d. Jangan sampai salah duga, sy bukan seorang antropolog, bukan sejarawan, bukan pakar lisan, bukan arkeolog, dan bukan politikus. Sy lebih banyak berkecimpung di dunia akuntansi dan keuangan sesuai dengan jenjang pendidikan sy. Tetapi entah roh nenek moyang mana yang kembali mengingatkan dan membaharui cerpen dan ritual yang sy pernah dengar dan tulis dikit-dikit ketika sy sekolah di SR Alang-Alang tempo dulu dan banyak mengganggu para to menaa dan parengnge’ di alang jika sedang bercerita nenek atau ossoran tongkonan, padahal rumah Ibu sy ada di Kanuruan, Nonongan (semoga bukan turunan dari Datu’ Manaek di Nonongan atau Pabane’ di Kesu’ ataukah Pata’dungan dari Tumika, Lemo).

    Sang torayaan yang baik budi,
    Izinkan sy menalar masalah tongkonan, sebagai hasil penelitian sejak 1987 hingga 2007, yang sedang sy rangkum dalam sebuah buku kecil dan sederhana (sekitar 300 halaman) dengan judul “Banuanna dan Passura’na Toraya”.

    c. Cerita rakyat dari Enrekang juga menyebutkan bahwa Landorundun adalah nenek moyang mereka yang berasal dari Makale (Tallulembangna). Suatu pernyataan yang sangat kontroversial jika dihubungkan dengan cerita dari Toraja (Tondok Litak).
    Sdr Laurentius Mangari memberi nama yang layak untuk tongkonan di atas, yakni “prasasti”. Memang benar sebab kalau tongkonan itu roboh (ro’pok), maka seluruh toma’tongkonan akan malu. Tongkonan memang umpamisa’ rara-buku (ikatan darah-daging) keluarga. Jika tongkonan tinggal nama, dan sawah ladangnya habis dijual oleh sang pemilik tongkonan, itu berarti umpa’dei rara-buku toma’ tongkonan. Bahasa krennya, kata anak muda sekarang,”dillelleng buangin” (sorry kalau tidak tepat di wilayah Tallulembangna) dan lama-lama terungkap sebagai “mupa’ lellengbuanginni bangki’”.

    Ya itu dia. Namun sejak tahun 1927 (H. I. Lanting) dan diungkap kembali tahun 1987 (Prof. Dr. C. Salombe’), bahkan menurut dokumen asli “tongkonan” di Leiden University (Belanda), tinggal 12 (dua belas) tongkonan layuk (tongkonan pesio’ aluk) yang ada di wilayah RAMA. Tiga di Tallulembangna, yakni Otin, Tondon (asal Laurentius Mangar), dan Kaero Sangalla’. Apa benar ya Pak Laurentius Mangari ??? Tolong informasinya agar diskusi di milis ini lebih berbobot.

    Sang torayaan tu umpa misa kada, ungka mali tondok torayanna,
    Sejarah perjalanan banuanna toraya menyebutkan bahwa banua pertama dinamakan banua ditoke’ atau banua pandoko dena’, banua lentong a’pa, banua ditamben, banua ditolok / diroroanni terdiri dari barung-barung, banua batu a’riri, banua kaparengngesan, dan banua pesio’ aluk.
    Bantuk banua ditolok ada yang tilantak da’dua, tilantak tallu, tilantak a’pa’. Kesemua lantak-lantak mengindikasikan “tempat dan status sosial pango’koranna toraya”. Ibarat duduk di lumbung toraya, siapa yang berhak dan tidak berhak duduk di bawah panito alang yang berukiran “pa’ulu karua” ?
    Jadi kalau sebuah tongkonan kita sebut-sebut (bukan nama kampung), kawatir jika ada yang keberatan sebelum memintah izin kepada yang punya (toma’tongkonan) di dalam forum diskusi ini, walaupun ada di antara kita yang nota bene masih ma’tongkonan (ada istilah ma’ …. oi tau, ma’ …. toda oko, padahal tae’bang ….mu di bagian utara Toraya). Sorry, jika sy mengungkap ini. Hanya menjaga forum ini agar tetap semarak.
    Pertanyaan sy, kapan sebuah barung-barung menjadi tongkonan batu a’riri, batu a’riri menjadi tongkonan kaparengnesan, dan tongkonan kaparengngesan menajdi tongkonan layuk ?? Demikian pun kapan sebuah tongkonan resmi menjadi tongkonan layuk ??? Apakah menrut kategori tilantak-nya ?

    Tgl 26 Maret 2009 akan ada seminar buku Tallulembangna yang berjudl ” Aluk, Adat, dan Budaya Tallulembangna dan Kaitannya dengan Luwu, Mandar, dan Enrekang” di LIPI, Jl. Gatot Subroto Jaksel jam 9 pagi sampai 18.30 WIB. Mirip dengan judul sebuah buku yang diproduksi oleh penerbit Sulo di Rantepao tahun 2007 lalu. Kalau ada waktu, datanglah supaya ossoran nenek-nenek di Tondon, Kaero, dan Otin dapat dilurus dan diungkapkan kembali agar lebih informatif. Seminar ini gratissss.

    Akhirnya, sy pribadi belum mau mengomentari tentang ossoran para pendahulu kita sebelum seminar di atas terselenggara. Yang pasti silsilah di Kesu’, Tallulembangna, Luwu’, dan Baruppu’ sudah usai dibukukan dengan judul,”Ossoran Etnis Toraya”. Sementara diedit oleh tokoh-tokoh adat, pemuka masyarakat yang dipilih menurut petunjuk orang tertentu dan bangsawan menurut wilayah adatnya. Jadi kawatir ada yang tumpang tindih atau munculnya kembali istilah “menurut” ataukah “nakua ne’ anu alias ADE’na”. Bahkan urut-urutan raja Bone dan Gowa-pun sudah menjadi lampiran buku ini.

    Kurre sumanga’ lako kita sang torayaan. Podo anta pada salama’. Pela’-pela’ komi ambe’, andi ammi titodo,

    Salama’
    frs

  44. Emph…

    bagaimana dengan kasus orang kristen terhadap kebudayaan yang ada???

    apa ada kasus tertentu??

  45. Kepada Sang Torayaan Yth,

    Mohon maaf sekali lagi kepada bapak Frans Baraluallo yg mungkin adalah dosen fak. ekonomi Univ Atma Jaya dan bukan Ne’ Bura sebagaimana yg saya duga sebelumnya. Mohon maaf juga atas keterlambatan saya dalam merespon akibat banyaknya hambatan jika saya sedang ingin menulis dari kedua anak saya so’ Parantean (3thn-9bln) dan so’ Dengen (2thn) yang selalu mengusik saya.

    Saya baru ingat bahwa nama Landorundun ternyata bukan hanya milik satu orang saja di Tana Toraja tapi banyak orang. Yang saya ingat ada 2 nama Landorundun yang saya temukan di dalam ossoran leluhur saya di wilayah Kesu’ (dr pihak ibu). Dan 2 nama ini tidak ada hubungannya dgn Landorundun-nya Mendurana bahkan jika diurut urutan generasinya jauh lebih tinggi. Ia ada di urutan pertama atau kedua di garis keturunan Polopadang atau Manaek, itu juga kalau tidak salah. Saya malas membuka-buka atau mencari2 lagi copyan ossoran yang dibuat oleh Mr.Renda Sarungngallo sepupu 3x ibu saya.

    Tetapi yang saya mau beritahu disini adalah nama Landorundun bukan hanya milik satu orang saja di Tana Toraja tetapi mungkin lebih dari 10 nama yang sama. Mungkin nama Landorundun itu adalah nama/gelaran yang dikhususkan bagi wanita atau lebih tepatnya Toean Poeteri yang kerjanya cuma mengurusi/memanjakan rambutnya sampai panjangnya tak terhingga.

    Kembali saya jelaskan asal usul saya: ayah saya aslinya lahir di Tongkonan Sarambu Bayo di Polok Tondok Salu Sopai yang leluhurnya bernama Parantean sibali Datu Karua (Datunnatotammunauran Undi) anak dr Datunnatotammunuran(To Manurun???) sibali Bongga To Salu anak dr Bongga To Napo sibali Patodemmanik (Puang ri Tagari?), Bongga To Salu juga bersaudara Karaeng Dua dan Sarong Lambesusu (kembali lg kalau tidak salah). Lalu ada leluhur ayah saya dr garis keturunan yg lain bernama Panggeso dari Makale malesau Tikunna Malenong lalu turunannya bernama Panggeso juga maletama Salu sibali Rante Manik dan anaknya diberi nama Panggeso juga. Sedangkan hubungan kekeluargaan ke Tikunna Malenong dan Makale ( http://www.batusura.de/tondonmakale.htm ) sudah tidak jelas alias tinggal cerita, tetapi ke-2 om saya masih memakai fam Panggeso yaitu T.Panggeso (alm) dan D.Panggeso. Di sini saya berusaha mengingat-ingat tanpa melihat langsung ke ossoran dr pihak ayah saya. Saya stop sampai disini karena kami sekeluarga mau ke gereja ada misa Rabu Abu di Katedral.

  46. Saya mencoba menjawab pertanyaan pak Frans: kepada siapa pun orang Toraja di mana pun berada adalah, ”kenapa sudah ada banua toraya, tetapi harus ada pondokan di sampingnya?”

    Kenapa orang yang menunggunya (penunggu) tidak berani tidur di atas banua toraya?

    Saya yang lahir dan dibesarkan di Jakarta kalau pulang kampung (rumah dr pihak ibu di Rura La’bo Kesu) ada 2 pilihan tempat tinggal/tidur ke-1 Tongkonan dan ke-2 rumah batu di samping Tongkonan yg dulunya rumah Bugi namun sdh dibangun kembali patungan keluarga.

    Tetapi pengalaman saya tidur di Tongkonan tsb saya pernah diimpikan seorang nenek tinggi besar sampai2 kepalanya ketutupan balok kuda2 Tongkonan tsb. Saya disusui seperti anak bayi olehnya lalu saya berkaca dlm mimpi tsb rambut, alis saya tiba2 sudah putih semuanya. Tetapi saya tdk takut dan tetap saja kalau saya kesitu pasti saya sempatkan tidur di dalam Tongkonan tsb.

    Tetapi setelah jenazah om saya (kakak ibu) dan jenazah suami tante saya sempat disemayamkan(di-makula’-i) disitu sebelum di pesta tentunya saya berpikir 2 kali untuk tidur disitu, mimpi apalagi nantinya yg akan saya alami?

    Pengalaman kedua saya di tongkonan leluhur ayah di Tongkonan ‘Sarambu Bayo’ Polok Tondok Salu Sopai yg dibangun oleh leluhur bernama Ne’ Parantean dan Datu Karua. Pada saat itu hari masih siang terang langitpun cerah saya memasuki Tongkonan yg sudah tua umurnya (ma’karama’-dikeramatkan).

    Saya berniat mendoakan arwah tante saya yg jenazahnya (to makula) ada tidur didalam. Setelah didalam saya menaruh sedikit panganan (sirih dll) didekat jenazah lalu saya membakar beberapa hio/dupa yg saya bawa dr Jakarta. Dalam sekejap ruangan di dalam Tongkonan menjadi harum wangi cendana dan rupa2 bunga.

    Saya mulai mengeluarkan Rosario dan mulai berdoa. Tetapi belum lama saya berdoa tiba2 terdengar suara kepakan sayap burung yg memukul2 papan rumah pondokan (banua bugi) di samping Tongkonan, saya masih berusaha konsentrasi berdoa. Namun tidak lama kemudian tiba-tiba rumah bergoyang2 seperti ada gempa lalu tiba2 saya mendapatkan penglihatan atau mata batin saya melihat seekor kerbau Salego (belang2 seluruh tubuh) di bawah tongkonan bangun dan bangkit berdiri!

    Cepat2 saya memelekkan mata dan bangkit berdiri lalu berjalan menuju anak tangga, di tengah anak tangga saya menoleh ke samping ke arah banua bugi yang menjadi tempat tinggal penunggu jenazah ternyata tidak ada apa2 tidak ada seekor burung atau ayam didalamnya ! Sampai dibawah saya memperhatikan dgn teliti kondisi dibawah tongkonan dari balik tiang2 penyangga bangunan ternyata tidak ada apa2. Yang ada hanyalah tanduk2 kerbau bekas pesta rambu solo’ suami tante saya beberapa tahun yg lampu. Saya langsung berlari ke arah lumbung dan berdiri disitu memperhatikan serta mengawasi tongkonan yg saya pikir akan roboh.

    Memang tongkonan tsb termasuk dikeramatkan. Dulu ada cerita, pernah tongkonan tersebut diserang oleh gerombolan, seluruh keluarga pada saat itu mengungsi keatas gunung dan tinggal di tongkonan disitu (Tongkonan Solok). Tongkonan yang ditinggali penghuninya berusaha dibakar oleh gerombolan tsb. Tetapi Tongkonan tsb dapat menyelamatkan dirinya sendiri dgn cara melompat dan mengeluarkan hujan (seperti ada alat pengaman bangunan modern yg bisa mengeluarkan air). Setelah beberapa waktu keluarga yg mengungsi turun gunung/bukit utk melihat keadaan. Ternyata Tongkonan tsb sudah pindah tempat dan disekitar Tongkonan berserakan batang2 obor (suluh) yang menghitam arang!

    Sekarang didalam Tongkonan keramat tsb ada dua tomakula, tante Indo Balla (kakak ayah) dan om T.Panggeso (adik ayah) yg tinggal menunggu saatnya dipesta rambu solok oleh anak2nya yg ada di Jakarta, Padang (sumatera barat), Palu, Toli2, Tana Toraja, Belanda (3orang), dan Amerika Serikat.

    Saya ingin bertanya kepada pak Frans tetapi sebelumnya saya ingin bercerita dulu duduk persoalannya :

    Ayah saya sdh meninggal 26 tahun yg lalu di Jakarta (tdk usah disebut2 namanya) dan beliau dimakamkan di Tanah Kusir Jakarta, mungkin jenazahnya tinggal tulang belulang yg keropos sekarang. Dulu keluarga dr ayah pernah berniat mengambil jenazahnya utk dibawa ke kampung halaman dan dipesta disana tetapi ibu saya menolak dgn tegas dan kami anak2nya masih kecil2.

    Yang ibu saya takutkan pada saat itu mungkin takut dihutangi banyak pihak yg datang ke pesta membawa kerbau yg mahal2 sehingga anak2nya yg masih kecil2 juga menjadi korban politik to kampung.

    Harta mendiang ayah saya di kampung halamannya juga tdk banyak tetapi yg diluar lumayanlah. Harta yg dulunya dibeli berupa sawah diluar Tana Toraja (di Palopo) bersertipikat hak milik dan bukan tanah adat dan di bawah pengawasan & wewenang pemerintah setempat.

    Tetapi ada juga sawah di Padang Sappa yg dulunya luasnya 2,5 hektar sudah dijual oleh penggarapnya yg adalah suami tante (kakak ayah) saya sebagian dan mungkin tinggal beberapa ribu meter persegi saja skrang dan suratnya dipegang anaknya.

    Saya tidak tahu alasannya mungkin karena kekecewaan karena ayah saya belom dipesta atau alasan lain.

    Suami tante akhirnya meninggal dan tidak lama kemudian dipesta rambu solok (dirapa,i-klu tdk salah-) mengorbankan sekitar 40 ekor kerbau yg besar2 1 tedong salego dan beberapa tedong bonga dan yg lainnya tedong biasa (pudu), situasi pesta kurang lebih sama dgn pestanya kakek saya (pare’nge’) yg dipesta di tahun 1986.

    Pertanyaan saya :

    1) Kenapa pesta adat di kampung yg meriah ujung2nya bisa membuat perselisihan keluarga (intern) dan keluarga yg satu berani menjual tanah milik keluarga yang lain demi gengsi (artis/pejabat juga bukan) semata ?

    2) Apakah jenazah ayah saya yg sudah 26 tahun dikubur di Jakarta masih wajib dipesta di kampungnya ? karena sepupu saya yg di Belanda (muane) masih ingin membawanya ke Tana Toraja utk dipesta. Sedangkan jenazah Lakipadada saja yg orang To Raja tulen saja masih tertanam di Mangkasa’ sampai sekarang setelah ratusan tahun, sedangkan jenazah anak2nya yg berdarah campuran mulai dr Petta La Merrang sampai Puang Lai Katelek (klu tdk salah?) sudah dipesta besar-besaran ala Aluk Sanda Saratu’ ?

    3) Kira2 sanksi2 apakah dr pihak keluarga saya/pihak adat jika saya tetap bersikeras menolak mengadakan pesta karena alasan kurang mampu ? Dan jika saya mengadakan pesta utk orang tua saya sesuai kemampuan saya apakah boleh mantunu cuma 7 ekor kerbau jantan, 7 ekor babi jantan, 7 ekor ayam jantan, 7 ekor itik (memakai Aluk Sanda Pitunna 7777) dan bolehkah saya menolak kerbau2 & babi2 yg datang dr handai taulan yg juga berniat dipotong diacara tsb ?

    4) Halal apa tidak jika merayakan pesta rambu solok atau mantunu tedong/bai’ dipestanya keluarga dr hasil mencuri, merampok, melacur, korupsi menurut Aluk Todolo ?

    5) Dan bagaimanakah dgn jenazah2 orang Toraja yang mati tenggelam dilaut atau hilang di hutan apakah wajib dipesta rambu Solo’ tanpa jenazah ?

  47. Di forum ini masih berdebat soal Lakipadada dan anak2nya tetapi di Samarinda Kalimantan Timur : http://www.samarindacity.com/node/2999 sudah berdiri Satria Lakipadada yg didirikan oleh 27 orang tokoh Kaltim diantaranya 7 tokoh (pejabat/pengusaha sukses) utama yang berpredikat haji. Dan mereka mengklaim anak2 Lakipadada adalah Matasyak ri Lepongan Bulan, Pajung Ri Luwu, Mangkau Ri Bone, Sombaya Ri Gowa. Kemudian Maraddia di Mandar, Arung Matoa Wajo. Datu Ri Sopeng, Datu Ri Sidenreng dan Datu Ri Suppa.

    Pada saat puncak pelaksanaan Festival Budaya Mamali Wakil Presiden (Wapres) HM Jusuf Kalla diberi gelar adat kehormatan Tana Toraja sebagai “Tomaluangan Bata’engna, Tomasindung Inayanna, Tolona Passiruanna” (pemimpin yang berpikir jernih, sabar, murah hati, bijaksana, berwawasan luas, tanggap, dan cerdas dalam memecahkan masalah). Jusuf Kalla dianggap sebagai generasi “Puang Lakipadada”, tunas puang Pattaladidi, dan keturunan puang “Mataelle” Lompoe Bone. sampai kapan gelaran ini berlaku ? selamanya atau sampai beliau lengser dr jabatan Wapres ?

    Pak Frans menulis : Jadi kalau sebuah tongkonan kita sebut-sebut (bukan nama kampung), kawatir jika ada yang keberatan sebelum memintah izin kepada yang punya (toma’tongkonan) di dalam forum diskusi ini, walaupun ada di antara kita yang nota bene masih ma’tongkonan. Tetapi di situs ini http://www.batusura.de/tongkanu.htm ditulis Sara’s deserted tongkonan; no human beings, no animals. Foto ini diambil tanpa meminta izin tomatongkonan karena ditulis ditongkonan tsb tidak ada manusia dan hewan. Padahal maksud foto tsb berusaha mengexploitasi tongkonan untuk tujuan bisnis semata. Misalnya ada bule atau org Jepang yg tertarik melihat Tongkonan Kanuruan di foto tersebut di internet lalu mengeluarkan kocek ribuan dollar ikut paket tour sampai di Jakarta lalu ke Makassar bermalam di hotelnya Andi Sose lalu naik keatas pakai mobilnya Andi Sose lalu bermalam di hotelnya Andi Sose juga di Tana Toraja. Andi Sose ikut mengambil keuntungan dr Tour tsb tapi tomatongkonan belum tentu dapat uang tip dr si bule atau tour leader. Keberatankah Pak Frans ?
    Mungkin berbeda di zamannya Se’ Ne’ Tangke Tasik yang berhasil memukul mundur pasukan Pong Maramba dari Buntu Pune yang berniat menjarah Desa Kanuruan dan sawah2 yang besar2 dan menggiurkan di Wilayah Nonongan. Menurut cerita om saya Pong Tiku (Pahlawan Tana Toraja) saja ditalo Pong Maramba pada saat sengketa tanah di pasar Rantepao. Katanya ada film dokumenter-nya yg dibuat Tino Sarungngallo mengenai perang (perebutan sawah Nonongan) ini, boleh dong.

    Pertanyaan saya utk sdr Barumbun : seperti apakah bayangan atau khayalan sdr tentang Toraja masa lampau ? Sehingga anda menulis : ” insya allah toraja akan kembali menjadi pusat peradaban dunia. kapan dan bagaimana itu terjadi? wallahu ‘alam” di forum ini : http://noertika.wordpress.com/2007/08/08/lakipadada-dan-tong-mate/
    Apakah seperti film Apocalypto disitus ini: http://www.imdb.com/title/tt0472043/ atau seperti Legenda Atlantis yang hilang ditelan Samudra Atlantik ?

    Terima Kasih utk bpk Christian Tanduklangi dan Frans Baraluallo. Kurre sumanga’ lako kita sang torayaan, bongi mello !

  48. PENGHIANATAN TERHADAP ALUK TODOLO’ DALAM RITUAL RAMBU SOLO’

    Aluk todolo adalah kepercayaan yang dianut oleh masyarakat toraja pada zaman dahulu sebelum agama samawi masuk ke toraja. Secara bahasa artinya ‘aturan nenek moyang’ (aluk=aturan, todolo= nenek moyang).

    Aluk todolo menurut penganutnya diturunkan oleh Puang Matua yang mulanya diturunkan kepada leluhur pertama Datu’ La Ukku’ yang kemudian menurunkan ajaran kepada anak cucunya. Oleh karena itu menurut Aluk Todolo, manusia harus menyembah, memuliakan Puang Matua yang diwujudkan dalam berbagai bentuk dan sikap hidup serta ungkapan ritual.

    Pada hakikatnya kepercayaan Aluk Todolo berintikan 2 hal yaitu pandangan terhadap alam dan kesetiaan pada leluhur. Masing-masing mamiliki fungsi dan tugas masing-masing dalam menjaga keharmonisan dunia. Jika terjadi kesalahan dalam pelaksanaan, sebutlah misalnya Rambu Solo’, maka bencana pun tak dapat dihindarkan. Rambu solo’ adalah salah satu bentuk ritual yang kental dengan Aluk Todolo.

    Rambu Solo’ pada dasarnya adalah ritual yang digelar keluarga untuk menghormati arwah leluhur yang telah meninggal. Ritual ini di gelar semewah mungkin agar arwah leluhur dapat diterima di puyo(surga). Kerbau dan babi pun dikorbankan sebanyak mungkin agar perjalanan sang arwah ke surga tidak terhambat.

    Aluk Todolo mempercayai bahwa jiwa yang mati mengendarai jiwa kerbau dan babi yang dikorbankan. Makanya hewan yang terbaik sebagai kendaraan menuju Puyo adalah Tedong Bonga sebab kerbau ini dianggap kuat untuk melintasi gunung dan lembah menuju surga.

    Menurut kepercayaan Aluk Todolo, seseorang yang telah meninggal pada akhirnya akan menuju suatu tempat yang disebut Puyo (surga). Puyo adalah tempat yang kekal bagi arwah dan terletak di bagian selatan tempat tinggal manusia. Tidak semua arwah itu dengan sendirinya masuk ke puyo. Untuk mencapai puyo perlu di dahului dengan ritual penguburan sesuai dengan status sosial selama hidupnya, apabila arwah tidak di upacarakan secara sempurna menurut kepercayaan alukta’ maka yang bersiap-siaplah menjadi arwah yang tersesat.

    Selama arwah belum diupacarakan, arwah akan berwujud setengah dewa dan dianggap tidak sempurna dalam istilah toraja disebut sebagai Tomebali Puang.

    Sambil menunggu persembahan untuknya, sang arwah senantiasa memperhatikan keluarganya. “Agar jiwa orang yang ’bepergian’ itu tidak tersesat, tetapi sampai ke tujuan, upacara yang dilakukan harus sesuai Aluk dan mengingat Pamali. Ini yang disebut Sangka’ atau darma, yakni mengikuti aturan yang sebenarnya.

    Kalau ada yang salah atau biasa dikatakan Salah Aluk (Tomma’ Liong-Liong), jiwa orang yang ’bepergian’ itu akan tersendat menuju puyo (surga),” kata Tato’ Denna’, salah satu tokoh adat setempat, yang dalam stratifikasi penganut kepercayaan Aluk Todolo mendapat sebutan Ne’ Sando.

    Oleh karena itu, ritual kematian yang dilakukan haruslah mengikuti Aluk yang berhubungan dengan kematian dan prosesnya wajib mengikuti syarat dan ketentuan yang berlaku pada upacara Rambu Solo’.

    Makanya, sebelum pesta dilakukan haruslah mengumpulkan sanak famili untuk membicarakan kapan dan dimana pelaksanaan upacara serta berapa ratus ekor kerbau dan babi yang harus jadi korban. Pelaksanaannya harus mengikuti prosedur standar upacara Rambu Solo’ agar sang arwah dapat bersenang-senang di Puyo. Apabila ada bagian yang dilanggar maka tersesatlah sang arwah.

    Kebahagiaan arwah di Puyo juga ditentukan oleh kualitas upacara kematian yang digelar oleh keluarga. Makin sempurna suatu upacara maka semakin bahagialah arwah di Puyo, begitupun sebaliknya.

    Menurut pastor Stanislaus, gereja bisa menangkap dasar dari semua itu, ada kemungkinan iman kristiani di kalangan pemeluk katolik di tana toraja akan lebih tertanam apabila adat toraja dan iman kristiani bias saling mengisi.

    Sebagai orang toraja pastor Stanislaus menyatakan, upacara kematian dimaksudkan sebagai ungkapan kerinduan, ungkapan kasih sayang terhadap leluhur yang telah meninggal. Lebih dari itu, bagi orang toraja ada kesadaran yang muncul lewat upacara Rambu Solo’, yakni bahwa dunia ini tidak habis setelah kita meninggal dunia.

    Melihat kenyataan yang ada, nampaknya tradisi yang diwariskan ajaran Aluk Todolo,khususnya dalam ritus-ritus Rambu Solo’ masih akan bertahan sampai kapan pun! Sebab bagi masyarakat toraja berbicara mengenai pemakaman bukan hanya berbicara upacara, status, jumlah kerbau yang dipotong tetapi juga soal malu (siri’). Dulunya pesta meriah hanya boleh diadakan oleh kaum bangsawan.

    Akan tetapi, sekarang makna pesta tsb mulai bergeser. Siapa yang kaya maka itulah yang pestanya meriah. Saya cuma heran ketika rambu solo’ sampai saat ini masih dipertahankan sebagai simbol penghormatan terhadap leluhur orang toraja. Padahal nilai yang terdapat dalam ritual sekarang ini telah jauh dan di bumbui oleh ajaran agama tanpa memandang keberadaan Aluk Todolo sebagai pemegang otoritas dari Rambu Solo’.

    Tradisi Rambu Solo’ yang murni ajaran aluk todolo telah mengalami perubahan nilai yang sebenarnya yaitu penghormatan terhadap nenek moyang sedangkan kini menjadi ajang perlombaan untuk meningkatkan status dan gengsi di masyarakat. Hal inilah yang akan menancapkan kukunya dengan erat di dalam ritual Rambu Solo’.

    Saya tidak takut semua ini akan hilang, yang saya takuti justru kalau orang melakukan ritus rambu solo sekadar untuk show. Kalau itu yang terus terjadi maka kerugian yang di dapat. Kalau begitu kenapa orang harus rela menghamburkan uang bahkan meminjam jika tidak mempunyai uang hanya untuk melakukan ritual Rambu Solo’ ?? >>lakipadada: dari berbagai sumber

  49. Sedikit koreksi utk sdr. Laurentius.
    Anda menyebut dr Petta La Merrang sampai Puang Lai Katelek (klu tdk salah?).
    Sebenarnya dari Petta La Bantan alias Puang Palodang I s/d Puang Laso Rinding alias Puang Palodang XIII ayah dari Puang Popang Willem Sombolinggi’. Tetapi jangan mengira baru ada 13 tingkat generasi. Tetapi kira-kira sudah ada 30-an generasi dari Puang Palodang I s/d Puang Palodang XIII.
    Begitu saja,
    Tuhan Berkati

  50. Bungkaran Kada

    Tabe’ lako to urria tannun alukna paturan guntu’; Puang Matua doomai langi’ To ussambe’ tali kusan pallean na pala’ to galugu, To kaubanan lan mai lisunna Batara. Tabe’ lako taruk bulawanna lindona bulan, Lolo sumanikna todipaberrana Allo.
    Sa’buran pe Kapuangan lan Tallu Lembangna na lako To di Ampulembangngi digente’ Ma’dika Matasak diong mai Padang Kalambunan Allo, Lembang Kabotoan Kulla’, na lako Balimbing Kalua’, Tipari’tikna Bura – bura.
    Tabe’ lako To Sitoe Tokon Petokonna Lembang, To Sikambi’ Pebose tang damma’ lan tumengkana tondok sa’buran To Ma’parenta. Tangdipasalian rinding lako mintu’ torro to buda, tangdipaleko’na manangnga banua anggenna tau kamban lan lili’na Tondok Toraya Tiku randanna Tana Matari’ Allo.
    Kurre sumanga’na inde padang tuo balok, saba’ parayanna inde liku tumbuku – buku. Kurre sumanga’na inde padang nabumbun rongko’, saba’ parayanna inde inan ma’lite bumbungan. Te padang mangka napilei langsa’ nene’ todolo, natonno’ bua kayu allo angi’na. Napabendanni tongkonan, na osokki lando longa yamo tu padang “Bumi Lakipadada”. Kurre sumanga’na langngan Puang Matua dao tangngana langi’, Puang to kaubanan lan masuanggana batara. Puang to palullungan dao daun ma’gulung – gulunganna. La rampopa’ kitundan to mamma’ te kulla’ di rande lulangngan anna songlo’pa mellao langi’ situru’ sarira rampan dikapadanganna tu’tun koli – koli inde’ te inan kaparannuan Tondok Toraya tungka sanganna.
    Passakkei te To unggaragai te Web Site iya te, rinding pala’i tu to patama pangngampa’na, kulambu tarunoi tu mintu’ tau lante padang matari’ allo lili’na lepongan bulan. Bura’kan lindo masakke sola nasang, pi’pikki tanda marendeng tu mintu’ to umbasai te Web Site angki tontong masakke’ mairi’ marudindin sola nasang.

    Kurre sumanga’na te allo melo totemo saba’ parayanna te kulla’ dimarassan

    Kurre sumanga’na

    Pong Taru,

    Donny Batara

  51. Sang Torayaan yth,

    “Bahasa menunjukkan asal”, kata orang Indonesia. Orang Toraja (Toraya) membawakannya dalam nguyonan seperti ini,”matokko tauanna ma’kada-kada, ganna’ sukaran tangnga’na, bida sukaranna”.

    Berhubung pertanyaan-pertanyaan di atas ditujukan langsung oleh Pak Laurentius Mangari ke sy, maka izinkan sy memberi perspsi secara pribad dgn syarat tidak mewakili siapa-siapa dan sy bukan antropolog, bukan sosiolog, bukan sejarawan, bukan politikus, bukan pakar lisan Toraja, bukan pakar hukum adat Toraja, dan juga bukan konsultan budaya Toraja.

    Sdr. Laurentius Mangari dan keluarga Kesu’ yang mulia. Ini pernyataan sy pribadi, bukan wakil Kesu’ bukan juga wakil dari wilayah adat yang lain di sepitar wilayah adat sang Torayaan.

    Sy memang lahir di Kanuruan, Nonongan 52 tahun yang lalu, tetapi umur 12 tahun sy sudah berada di luar Makale-Rantepao. Bapak sy meninggal ketika sy masih kls-4 SR Alang-Alang. Untungnya Ibu berjuang tidak banyak pertimbangan namun halal menurut aluk, adat, dan pemali sang Torayaan sehingga sebagian dari kami anaknya masih sanggup menyandang gelar S1.

    Sdr Laurentius Mangari dan sang Torayaan.
    1). Menjual tanah tongkonan untuk pesta orang mati bukan jiwa kepemimpinan turunan Pabane’ dan Datu Manaek. Istilah krennya “kande banua”. Sy pernah ribut mulut dengan keluarga sy hanya gara-gara kande banua yang mau dijual untuk pesta kematian. Kenapa ?
    Orang Kesu’ menyebutnya,”manda’ randena lamunan lolomu, tongkonan siri’ rapummu sola lindo kalua’mu”.

    Jika orang Toraja mau berpikir secara jernih, maka sebenarnya aluk rampe matampu’ yang tertinggi derajatnya adalah empat ekor kerbau, yakni satu ketika upacara mengkalao alang, dua ekor ketika ma’pasonglo (dipalao), dan satu ekor ketika penguburan. Kenapa harus 40 atau lebih ?
    Memang ada istilah 3.6, 3.7, 17.9 dari Kesu, Saloara, dan Balusu jika mampu. Tetapi itu terjadi ketika anak tomate mengakui dirinya sebagai rumpun paling wahid atau “piamuane”. Biasanya Sa’dan – Balusu (tempo dulu) menyebutnya sbb,”pada deata dadinta, pada puang bussananta”.Hebat bukan ??

    2). Sdr Laurentius Mangari dan sang Torayaan.
    Keputusan pesta orang tua atau keluarga, menurut ketentuan yang lazim diterapkan, adalah keputusan anak kandung sang mendiang. Bukan pihak lain. Jenazah mendiang sang ayah tercinta jika mau dipindahkan ke Toraja pun sama halnya. Keputusan istri almarhum dan anak-anaknya yang merupakan keputusan final. Soal pesta di sana, sama halnya. Tetapi pesan bangsawan Kesu’ (tempo dulu) harus diingat,”kalau sudah dikubur di tempat lain lalu dipindahkan ke Toraja, sedapat mungkin tidak ada kurban kerbau; hanya boleh beberapa ekor babi”.Boleh baca Injil tentang urusan tulang belulang (di bawah salib Jesus, memang tidak ada yang mustahil, tetapi kemustahilan dapat saja sirnah di hadapan sesama manusia). Jesus tidak menajarkan kemunafikan. Ia selalu membuka peluang untuk lebih bijak bertindak terhadap sesama. Ia seorang pemimpin yang selalu “first In and last out, atau FILO”. Percaya atau tidak, silakan uji sendiri.

    3). Sdr. Laurentius Mangari dan sang Torayaan.
    Memang ada banyak istilah orang Toraja tempo dulu yang mungkin saja bisa muncul kembali dengan berbagai dalih yang “boleh-boleh” masuk saja akal. Tetapi kalau dulu itu begitu, sekarang masih begitu, dan yang akan datang juga masih begitu, maka itu berarti kebangsawanan di Kesu’ jalan di tempat. Anda setuju ngak ???
    Bagi sy kebangsawan orang Toraja sedang berproses mengalami “degradasi” karena tidak berani keluar dari lingkaran kecil itu. Tidak berani melakukan penyesuaian. Sy bukan pakar budaya Toraja, tetapi sy berani mengatakan bahwa sisa-sisa aluk to dolo saat ini yang kita dapat saksikan hanya “mammaran mata, rampanan kapa’, dan mangrara banua”. Selain itu, sudah menguap tanpa rimba karena pengaruh modernitas dan ajaran lain. Itu karena terpaksa memilih jalan lain akibat tuntutan aluk, ada’, sola pemali buatan to dolo dadinta yang terlalu memberatkan dan merusak eksistensi peningkatan kualitas hidup generasi muda.

    4). Sdr Laurentius Mangari dan sang Torayaan.
    Maaf sebesar-besarnya, tetapi menurut sy aluk to dolo tidak pernah dan tidak akan pernah membenarkan kegiatan mencuri, merampok, apalagi melacurkan diri dan korupsi untuk melaksanakan aluk rampe matallo atau aluk rampe matampu. Apalagi kalau merasa dirinya turunan bangsawan atau parengnge’. Jangan harap. Om Sarung Allo pernah berkelakar sambil menasehati sy dengan mengatakan,”Bara’, anda boleh punya istri sebanyak-banyaknya asal resmi dan diketahui keluarga, tetapi jangan pernah mempermalukan keluarga karena mencuri, merampok, apalagi melacurkan diri dan korupsi untuk melaksanakan versi aluk to dolo manapun di Toraja”. Laksanakanlah sesuai dengan “passoronganna totumampamu rokko rianmu”.
    Sdr. Laurentius Mangari dan keluarga. Nasehat ini sy terima tgl 7 Juli 1989 di atas pesawat Garuda jam 10 lewat 17 menit sebelum landing di Cengkareng. Ketika itu pernikahan sy baru berumur enam puluh tujuh hari.
    Jadi tergantung kemampuan. Bukan jorjoran.

    5). Ada banyak kasus suram tentang kematian orang Toraja yang tidak pernah direncanakan. Apalagi diketahui sebelumnya. Hal ini juga terjadi di mana-mana di seantero dunia. Namun harus diingat bahwa tidak semua orang Toraja yang mati harus dipestaramsolokan, dalam arti dirapa’i. Ada aturan, ada ketentuan, dan ada kesepakatan keluarga. Apalagi mayat tidak ditemukan ?? Belum pernah ada simulasi, percontohan, ataukah tindakan semacam lainnya.

    Akhirnya, sy atas nama diri sendiri mengajak Bpk/Ibu, dan sdra-i sang Torayaan untuk membisakan diri memberi tanggapan secara pribadi atas pertanyaan sdr kandung kita, Laurentius Mangari, ke dalam ruang pelaksanaan aluk to dolo versi rampe matampu rambu solo’). Beliau rasa-rasanya mengalami kontratiktif dgn diri sendiri dan dengan tuntutan aluk to dolo versi leluhur kita bersama dibumi Tana Toraja. Semoga identitas diri masih menyatakan ossoran masing-masing sehingga kualitas diskusi ini tetap semarak bagi siapapun tanpa paksaan.

    Dolo diomai siulu’ sola nasang, sang Torayaan, kukurre sumanga, kupole parayaan anda kinalloina’ todolo dadinku tu base-basena Toraya.
    Padamoo too, podo anta pada salama’.

    (Frans B. Palebangan)

  52. Saudara Frans Barruallo manusia “yang teratur pikirannya” dan menyebut saya orang “kacau pikirannya”.
    Semakin lama saya membaca tulisan saudara frans, semakin tiba saya pada satu kesimpulan bhw saudara merasa diri orang paling tahu :-(
    saudara bukan parner diskusi yg baik, sebab terlalu merasa lbh tau.
    Siapa yg mengatakan bhw orang yg bernama lando rundun pernah jadi raja bone?? aneh!!
    dalam sislsilah kerajaan bone, tdk sedikitpun disebut nama Lando rundun, jd makin terlihat siapa yg pikirannya kacau hahahaha.
    website ini bertujuan utk saling betukar pengetahuna, bukan utk menghakimi atau menjelekkan orang. dalam banyak tulisan saudara di disini lbh banyak mengambil rujukan dari buku Christian Pelras. apakah anda pernah bertanya langsung kepada sumber di Gowa??
    Jikapun anda pernah lakukan, apakah yg anda tanyai orang2 Gowa yg digelari Balanda Bide??
    ataukah turunan langsung Sultan Hasanuddin?
    awalnya saya tertarik berbagi pengetahuan dgn anda, ttp makin banyak saya membaca komentar anda, yg ada di benak saya hanyalah manusia sok tahu saja. maaf jika saya agak kasar, sebab mungkin anda layak disebut begitu.

  53. Saudara frans menulis begini:
    “Selanjutnya, jika Lakipadada dipertanyakan kebenaran dan kuburannya, maka sdr Sulwan Dase diharapkan dapat berkunjung ke Gowa (Balla Lompoa) dan tanyakan kepada penjaganya,”kuburan yang di sudut sana yang tidak terurus itu kuburan siapa ?” Di sana juga sdr boleh menanyakan dan mempelajari, sama atau tidak nama Lakipadada denga Karaeng Bayo ??? Hasil kunjungan anda tolong dapat menambah bahan diskusi di milis ini.”

    Perlu anda tahu bhw tdk pernah ada kuburan Puang Puang Lakidada di Gowa. Jika ada mengatakan demikina, maka pastilah dia pembohong besar atau keluarga Balanda Bide’ (orang yg bersekongkol dgn Belanda).

    Terlalu banyak yg anda tdk tahu Karaengta Lakipadada di Butta Gowa, semua yg anda tahu hanya ” menurut kata orang”. Jika anda menanyakan ke Bate Salapang dan 7 daerah Karaeng Loe di Tana Gowa, maka anda bisa jadi bahan tertawaan hahahaha.

    Jelas sekali dlm Festival Keraton tahun lalu, di sendratarikan dua tokoh sentral Kerajaan Gowa di masa awal, yaitu Karaengta Lakipadada dan Karaengta Bajo, begitulah orang Gowa menyebutnya, koq anda mengatakan Puang Lakipadada sama saja dgn Karaeng Bajo?? Aneh.

  54. ssaudara frans menulis begini:

    “Sy memang lahir di Kanuruan, Nonongan …”

    karena anda orang Nonongan dan anda orang paling banyak tahu di milis ini, maka saya ingin bertanya ke sauadara:

    1. darimanakah asal muasal nama Nonongan?
    2. apakah artinya Nonongan?
    3. apakah Nonongan nama daerah atau apa?

  55. Apa kabar pak Lourentus?

    Pada tulisan terdahulu, bpk menulis spt ini:

    “Akhirnya ia menikah dgn Putri Raja dan memiliki beberapa anak diantaranya Patta La Bantan yg kembali ke Sangalla dengan kemegahannya serta beranak pinak disana mewarisi warisan Lakipadada di daerah Tallulembangna “.

    Mari kita mendiskusikan apa yg bpk tulis.

    Pernah bpk mencari tahu ke Gowa mengenai kebenaran cerita ini?

    Di Gowa, dikenal dua jenis lontara yaitu:
    1. Lontara tertulis dan
    2. Lontara berjalan.

    Apa yg menjadi keyakinan di masyarakat Gowa, khususnya di Bate Salapang (9 Dewan Adat) maupun di turunan Batara Gowa-Karaeng Loa Ri Se’ro dan 7 turuna Karaeng Loa lainnya, adalah bahwa mereka lebih mempericayai Lontara berjalan daripada lontara tertulis.

    Penyebabnya adalah:
    1. Pada beberapa generasi yg lalu, konflik di lingkaran kerajaan Gowa, menyebabkan banyak lontara (silsilah) yang dipalsukan dgn cara mengganti nama orang dgn nama lain atau menghilangkan nama tokoh tertentu.

    2. Masyarakat Gowa sangat percaya pada apa yg di tuturkanlangsung oleh para leluhur melalui seseorang yg telah dinubuatkan beberapa wkt lalu bhw “pada suatu masa,akan datang seorang karaeng asli yg menceritakan cerita sebenarnya, sehingga yg palsu akan malu sendiri”. Hal ini sdh terbukti dan sedang berjalan hingga saat ini.

    Kembali ke cerita bpk. Apa yg bapak utarakan diatas, (maaf) tidak dikenal dalam masyarakat Gowa. Puang atau Karaengta Lakipadada tidak pernah menikah dengan putri Raja Gowa. Yg benar dan diakui di Gowa adalah bhw anak beliaulah yg datang menikah dgn putri Raja Gowa I kemudian beliau dilantik menjadi Raja Gowa II.

    Kenapa cerita yg berkembang di Toraja sama spt yg bpk cerita, sebab org Toraja tdk mengenal tulisan, shg cerita yg berkembang bisa mengalami pembiasan atau kesalahan sebab daya ingat si pencerita terbatas, dan juga karena faktor kepentingan penguasa pada masa itu.

    Menurut saya, banyak silsilah pada generasi pertama sampai generasi ke empat To Manurung di Toraja yg salah. Anak kawin dgn ibu, ada bapak kawin dgn anak. Misalnya, orang Toraja meyakini bhw Puang Lakipadada mempunyai istri bernama karaeng Taralolo, padahal I Taralolo adalah Putri ketiga dari Puang Lakipadada.
    Kata Taralolo dalam bahasa Gowa tua, artinya, anak perempuan kedua dari bungsu. Anak bungsu Puang Lakipada dariDatu Manikam atau Datu Manik (Datu Manaek) adalah Petimba Bulaan yg kawin dgn anak Puang Ri Sangalla. Dari beliau lahir 3 orang anak, yaitu:
    1. Petta I La Bentang ( Petta La Bantang) yg ke Bone
    2. Puang Menturino jadi puang Sangalla berikutnya.
    3. Puang I Sarassai yg kemudian menikah dgn anak tertua dari Puang Petta I La Marang (anak tertua Puang Lakipadada), atau I Massalangga Baraya Raja Gowa-2.

    Jika bpk datang dgn cerita ini ke Gowa, orang akan menyambut bpk dgn hormat, ttp jika bpk datang dgn versi cerita Toraja di kampung bpk, maka orang Gowa akan tersenyum dan diam2 meninggalkan bpk :-)

    Sulwan Dase

  56. Terus terang aja cerita mengenai Lakipadada itu saya dapatkan dari mendengarkan cerita seorang Toraja di pasar Rantepao Kab. Toraja Utara sekarang. Waktu itu saya ditraktir bir dan ballo (tuak) beberapa derigen sambil bercerita sampai malam, karena ditraktir saya hanya menjadi pendengar yang baik aja lah pada saat itu. Namun saya sadari dan insyafi kini bahwa cerita sesungguhnya pasti dari tempat asalnya apalagi turunannya langsung. Cerita mengenai Lakipadada yang benar dan dapat dipercaya keakuratannya atau kebenarannya menurut saya dan masyarakat Toraya pada umumnya dan dapat diceritakan kembali kepada anak-cucu kita adalah ceritanya Puang Willem Popang Sombolinggi’ (alm) yang diceritakan pada tahun 1969 di Sangalla dan ditulis disini :

    http://www.batusura.de/kalando.htm

    Tetapi menurut saya pribadi perlu dikoreksi kembali mengenai cerita tersebut yang kayaknya mengandung unsur politis Ker. Sangalla yang berbunyi kira2 begini dalam terjemahannya : “tetapi wilayah yang dialokasikan kepadanya (Patta La Bantan) oleh Lakipadada tidak sama dengan wilayah Tator jaman sekarang/modern, yang mencakup wilayah utara mulai Mappolo Lambang (mungkin maksudnya Mappolo Lembang) sampai sejauh lingkar/lengkok-Tomini”
    Jadi seolah-olah Lakipadada menghibahkan “tanahnya atau warisannya” mulai dari Sangalla s/d Teluk Tomini kepada Patta La Bantan alias Puang Palodang I. Inilah yang menurut saya menjadi penyebab/penyulut perang saudara antara Bone-Toraja dan SangallaBone-Luwu-Pantilang’ yang mengorbankan puluhan bahkan mungkin ratusan ribu jiwa tidak berdosa.

    Terima kasih kepada yth bpk Sulwan Dase atas tanggapannya. Keterangan bpk membuat saya dan mungkin juga banyak orang Toraja dan daerah sekitarnya menjadi maklum adanya atas kesalahpahaman antara beberapa suku namun masih satu rumpun besar jika dikaitkan dengan beberapa nama leluhurnya yang kebetulan sama walaupun ceritanya kemudian terjadi kontradiksi bila dilihat urutan silsilahnya.
    Perkawinan incest (sedarah) antara ibu-puteranya atau ayah-puterinya atau kakak-adik tentulah sangat ditabukan oleh adat masing2 daerah. Kasus ini juga pernah terjadi di wil. Enrekang sekarang, yang dikenal masyarakat Toraja dengan legenda Londong di Rura dan Sapakdigaleto (klu tdk salah) yang mengawinkan anak2 kandungnya sendiri. Namun mendapatkan pertentangan dari saudaranya sendiri yaitu Londong di Langi’ dan leluhurnya yaitu Puang Matua. Akibat pemaksaan pelaksanaan perkawinan ini turun api dari langit yang menghanguskan daerah Rura-Enrekang tsb dan membuatnya gersang/tandus hingga saat ini. Adapun kita mempercayai bahwa Londong di Rura dan Londong di Langi’ hidup jauh (diatas 5 generasi) dgn masanya Lakipadada. Jadi dimasa Lakipadada hidup tentunya beliau sangat menyadari pemali2 yang tidak boleh dilanggar olehnya.

    Pak Sulwan Dase berkata begini :

    Masyarakat Gowa sangat percaya pada apa yg di tuturkanlangsung oleh para leluhur melalui seseorang (lontara berjalan) yg telah dinubuatkan beberapa wkt lalu bhw “pada suatu masa,akan datang seorang karaeng asli yg menceritakan cerita sebenarnya, sehingga yg palsu akan malu sendiri”. Hal ini sdh terbukti dan sedang berjalan hingga saat ini.
    Apakah Puang Laso Rinding (alm) atau Puang Willem Popang Sombolinggi’ (alm) yang dimaksudkan generasi Bate Salapang modern yang menanti-nantikan ‘tomanurun’ atau ‘mesias’ atau ‘imam mahdi’ berikutnya. Ini coba lihat fotonya http://www.batusura.de/puang.jpg . Jika kita tatap foto tersebut maka akan terpancar wajah Patta La Bantan yang menurut bpk Sulwan Dase juga mampir di Bone

  57. lalu namanya/gelarannya menjadi To ManurungE ri Mattajang atau Mata Silompoe. Jadi kira2 ciri2nya seperti apa menurut Bate Salapang modern mengenai ‘imam mahdi’ atau ‘juruselamat’ Ker. Gowa apakah seperti gambaran Petta La Merang alias I Massalangga Baraya Raja Gowa-2 putera mahkota dari pasangan Raja Gowa-1 Karaeng Bayo dengan isterinya Tu Manurunga Ri Tamalate ? atau Lakipadada dengan Tumanurung Baineya ?

    Tetapi saya sendiri mah lebih tertarik melihat foto (klik di bawah) yang katanya merupakan transformasi tubuh Puang Pindakati (Dewi Pelindung) yang pada saat itu sudah meninggal dunia (to mate) lalu dinikahi Puang Sawerigading begitu ceritanya.

    http://www.batusura.de/kandora600.jpg

    yang menurut saya mengandung makna sensual erotis abad pertengahan jika ditatap agak lama ! Yang akan membangkitkan suatu gairah dan makna yang dalam. Aneh Tapi Nyata !

  58. Ada yang bisa men-translated teks di bawah ini :

    The adventures of Lakipadada as told by Puang Willem Popang Sombolinggi’ (Sangalla 1969)

    Puang Lakipadada is the founder of the princely ramages in puang-regions (Tallulembangna) in Tana Toraja, and of the rulers of the Buginese kingdom of Luwu’ and the Makassarese kingdom of Goa.

    Lakipadada, contemplating the problems of death, conceived the plan of going in search of immortality. In the company of his faithful dog, he set out. The dog remained by him as far as the edge of the ocean, close to heaven, and then could not accompany him further. Here at this place Lakipadada met a pure white water buffalo, Bulan Panarring, who spoke to him: “If I beat you over the ocean, you will agree not to eat of my flesh, not of the flesh of my descendants. The white buffaloes which will be born in your country will be blind”. Lakipadada accepted the proposition. The buffalo, however, could not complete the passage. He drowned. Puang Lakipadada saved himself, climbing onto a limestone rock. He had been perching there a long time when a giant sea crab accosted him, offering to carry him to heaven. When Lakipadada finally arrived there, Puang Matua granted him eternal life on the condition that he would not sleep for seven days and seven nights. For six days Lakipadada remained awake, but on the seventh he fell into a deep slumber. Puang Matua then removed something from Lakipadada’s sword as proof that sleep had overcome him. The god then told him of his failure, but allowed him to live for six generations.

    Throughout his long life, Puang Lakipadada made many journeys, bringing back home a small number of remarkable swords, the la’bo’ penai. These swords were the Sudan, originating from the Sudan, Africa, and now in the possession of the princes of Goa; the Maniang and the Doso, now the property of the puang of Ma’kale; and the Bunga aru, or Bunga waru, owned by the datu (prince) of Luwu’.

    On one of his voyages, Lakipadada was shipwrecked but could rescue himself on a rock. Gradually he was covered over completely with seaweed. Happily he could sustain life by eating mangga-fruits, for a mangga-tree was growing from the rock. For seven years he fed from this tree. One day a certain sea eagle or garuda, Langkang Muga, alighted on the rock. After eating from the mangga-fruit the bird fell asleep and Lakipadada then grabbed hold of one of the bird’s spurs. On his person Lakipadada stowed away a pit of a mangga. The eagle flew on high with Lakipadada clinging fast to its spur. Above Goa, the bird began to descend. Lakipadada loosened his hold and fell onto a forked branch. The garuda, flying on, disappeared from sight. Lakipadada, draped in seaweed, looked more like a strange beast than a man. People who came to draw water, saw Lakipadada. First a slave (kaunan) of the raja tried to drag Lakipadada from the tree, but the slave died. Then a to makaka came. He, too, tried to dislodge Lakipadada from the tree but he too, perished. Then the Raja of Goa himself came, and only then Lakipadada could descend from his lofty perch. The raja ordered Lakipadada to be cleaned. Initially, the seaweed refused to come off. Then a bird cried, “Wash him with an extract of lemo laa’ (citrus fruit); he then will regain the colour of a danga-danga (species of gladiola)”. The advice was followed, whereupon the seaweed peeled away. Lakipadada now received food from plates presented in succession by a number of people belonging to different classes. None of these were of noble blood, and they all died. Finally, the raja offered him food from his own dish. Since the raja did not die, it was evident that this unseeming and extraordinary stranger must be a person of princely blood. In the meantime drums were beaten without cessation. Lakipadada asked what this meant. He was told that the raja’s wife was on the point of delivering a baby. Up to that time women in Goa could not give birth except by means of an operation. Lakipadada inquired what his reward would be if he helped the wife of the raja bear her child without the use of any artificial aids, and he added, “Actually, I don’t really want any reward. I only want your child if she happens to be a girl.” All the time the raja had realized that Lakipadada was not an ordinary person. He agreed, Lakipadada assisted at the delivery and all went well. Later he married the princess who, by his help, had seen the light of day. From their marriage three sons were born: Patala Bunga, Patala Bantan, and Patala Merang.

    Before he died, Lakipadada climbed a peak of the Latimojon and divided his realm into three parts. Patala Merang acquired Goa and the title of Samba ti Goa; Patala Bunga received Palopo, i.e. the region north of Bone Puto and east of Buntu Puang. He acquired the title of Datu i Waraë and Payung ti Luwu’. Patala Bantan received the area now known as Tana Toraja (but the territory alotted to him by Lakipadada is not the same as contemporary Tator; it encompassed the region north of the Mappolo Lambang as far as the Tomini-bend). This son was endowed with the title Puang Matasak ti Toraja.

    The ruler of Goa inherited the sword Sudan and the doi’ i manuk (literally: money with a bird, ‘fighting cock farthing’, a coin minted by the English). The datu of Luwu’ was given the sword Bunga Waru. The son who reigned over Tana Toraja received the Bate Manurun, a flag descended from heaven, a red cloth carrying the image of a garuda. The flag may be exhibited only when a pig is sacrificed. It is on display at mortuary rituals, or solemn state occasions, and on official visits by high dignitaries. This same royal son was presented with V.O.C. (Dutch East Indian Company) coins as pusaka (!) together with a kandaure, an ornament of beads, named Pattara. According to Nobele he also received two ancient textiles: Indo’ Lebo and Arang to Buang. The sword Maniang also remained in Tana Toraja, in Makale itself.

    dikutip dari:

    http://www.batusura.de/kalando.htm

  59. Intermezzo !

    tabe kepada yth moderator, bapak2, ibu2, pemuda pemudi masyarakat toraya,

    pada hari jum’at malam ada famili saya yang datang kerumah, dia meminta referensi nama famili, kerabat, teman di dapil sulsel 3 untuk meminta bantuan dukungan bagi dirinya sebagai caleg DPR RI.katanya wil pemilihannya ada di dapil sulsel 3. saya berusaha mencari namanya di sini http://caleg-pemilu2009.info tapi tidak ada tuh ! Namanya : DINA ROMBE dari caleg no.1 PPDI no.urut partai: 19 . belakangan sih saya dengar ada masalah di dalam tubuh PPDI. katanya sempat terjadi perebutan kekuasaan sebagai Ketua Umum sehingga caleg juga terancam digantikan atau dicoret. yah mungkin namanya nanti pada saat Pemilu berlangsung benar-benar ada semoga aja lah biar nggak malu2 in ! Orangnya sih cukup berbobot seorang wanita karir, usia sudah matang, belum menikah kaya raya, tinggal di apartement permata hijau jaksel wah pokoknya asetnya banyak dah ada di Tangerang, Bekasi, Makassar, Papua dll begitu katanya !, tapi kalau dia ikutan kontes Landorundun pasti kalah deh karena rambutnya pendek. udah begitu aja dulu yah . pada hari sabtu kemarin dia naik pesawat ke makassar lalu katanya lanjut ke toraja. barangkali hari ini masih disana. Bagi bapak pendeta tolong berkati anak tuhan ini agar dijauhi dari segala macam cobaan yang berat jika melewati “negerinya abunawas” dan tolong doanya agar dijauhkan dari la tando-la tando yang buruk rupanya. terima kasih.

    salam sejahtera

  60. Pak Lourent yang saya hormati.

    Terima kasih bpk bersedia berdiskusi dalam semangat persaudaraan dgn saya. Saya mencoba mencermati kata demi kata apa yg bpk tulis. Kesimpulan saya adalah:
    1. bapak mengakui bhw hampir sebagian besar
    kisah2 yg bpk tulis selama ini bersumber dari
    tulisan beberapa org tertentu.
    2. bpk pun mengatakan bhw sebagian bpk dengar
    dari penuturan orang2 yg bpk temui.

    Pada hakekatnya bpk sdh memiliki dasar pengetahuan umum ttg keberadaan Puang Lakipadada. Mudah2an ini menjadi dasar keyakinan bagi bpk bhw keberadaan leluhur kita ini bukanlah hanya dongeng atau mitos semata ttp mereka memang pernah ada.

    Jujur saya ingin katakan bhw kekacauan penulisan kisah mereka selama ini terjadi pada saat Belanda mulai masuk ke Gowa. Di Gowa, kekacauan penulisan silsilah banyak dikacaukan oleh kelompok yg Pro-Belanda. Di Toraja pun bgt. Waktu La Tenri Tata atau Arung Palakka masuk ke Toraja, dia mencopot jabatan beberapa pemimpin masyarakat spt: Puang Ri Nonongan, Puang Ri Kesu, Puang Ri Buntao. Jabatan tertinggi hanya Parenge’ yg saat itu setingkat dgn Menteri. Kenapa Sangalla masih bertahan menggunakan gelar Puang??? Saya yakin bpk tahu jawabannya :-)

    Sbg tambahan, semua petinggi kerajaan di Sulsel mengakui bhw mereka pasti terkena Titisan darah Puang Lakipadada. Knp bisa bgt??

    Puang Lakipadada mempunyai 9 orang anak. Dari ke-9 orang inilah yg menyebar ke: Gowa-Luwu-Bone-Pammana (Wajo)-Rongkong-Pitu Ulunna Salu dan Mamasa. Penyebaran berikutnya, ada yg sampai ke Sulawesi Tengah bahkan sampai ke Kab. Tana Karo-Sumatera Utara. Mereka berdomisili di kampung yg namanya Siboulangit. Mereka disebut turunan Si Singa Maharaja. Mereka umumnya tdk punya marga. beberapa diantaranya menikah dgn org2 batak, seperti Raja Kita Sembiring.

    Coba bpk bayangkan, betapa banyaknya hal yg tidak terceritakan selama ini bukan??

    Umumnya orang Toraja tdk mau terbuka secara jujur bercerita mengenai silsilah, sebab dilatar belakangi oleh beberap sebab yaitu:
    1. Kuatir lahan yg mereka kuasai selama ini
    dituntut oleh mereka yg lebih berhak.
    2. Tdk ingin kehilangan hegemoni kebesaran
    nama keluarga mereka, khususnya yg pernah jadi antek2 orang Bone dan Belanda.

    Tapi bpk sbg putra Toraja, patutlah berbangga
    bhw ternyata dari Toraja lah lahir para To Manurung Di Langi, dan ini diakui semua orang. Jika ada orang2 Luwu-Bone atau Gowa tdk mengakui hal ini, pasti disebabkan oleh:
    1. Dia tdk tahu kisah sebenarnya.
    2. Kuatir bhw jejak leluhurnya diketahui pernah
    berkolaborasi dgn Belanda. Ini sangat
    memalukan di lingkungan Bugis-Makassar.
    3. Punya motif ekonomi atau politik tertentu.

    Pernah terjadi di Galesong, ada orang yg mengaku turunan Karaeng Galesong. Akibatnya dia memperoleh manfaat politis dan adat dilingkungan tsb. Ketika DPRD Takalar ingin mengurus agar Karaeng Galesong dianugrahi sbg Pahlawan nasiona, turunan palsu tsb tdk mau menandatangani prosposal yg diajukan oelh DPRD. Kedok beliau baru terungkap ketika 2 bulan lalu, kami mencari jejak turunan yg sesungguhnya dan terungkapalh bhw silsilah yg dia miliki ternyata DIPINJAM dari seorang turunan asli. Ketika hal ini disampaikan kepada si pemilik asli, mereka marah bukan main, dan malulah semua turunan dari si Palsu tadi. Untungnya, si palsu tsb sdh mati, shg masalah jadi terhenti dgn sendirinya.

    Hal sama ketika, Putra Mahkota Raja Gowa yang tidak pernah dilantik selama 20 tahun tsb, di usir keluar dari istana Gowa bulan Nov 2008 lalu,semua turunan Karaeng Loe Ri Se’ro (Tallo) dan 7 klp turunan Karaeng Loe lainnya yg tersebar sampai ke Sinjai bertepuk tangan sambil mencibir :-)

    Nah, dalam benak saya begini:

    Sudah saatnya, hak Puang Ri Nonongan, Puang Ri Kesu dan Puang Ri Buntao serta lainnya di pulihkan kembali. Saya bukannya ingin membangun kembali sistem feodalisme di Toraja, ttp ini menyangkut sejarah suatu bangsa besar spt Toraja. Ini masalah budaya.

    Bagaimana menurut pendapat Pak Lourent mengenai hal ini?? Setujukah bpk jika kita lakukan pelurusan sejarah Toraja kembali?

    Saya menunggu tanggapan konstruktif dari Bapak. Semoga Tuhan selalu memberkati bpk sekeluarga, Amin.

    Sulwan Dase

    • bagus juga pak sulwan…………..
      harus di pulihkan 3 hak diatas… tapi apakah betul puang sanggalla dikalahkan oleh arung palakka dan di tahan, kemudian di selamatkan oleh to pada tindo to misa’ pangimpi…. dan dimanakah perang itu berlangsung, maaf pak saya cuma mau tau karena saya keturunan bitti’ Bone( borong, nonongan) dan pong boro Tua di lion, maruang dan dari langda…

  61. Ada yg terlupa:

    Pak Lourent menanyakan hal berikut ini:

    “Gowa apakah seperti gambaran Petta La Merang alias I Massalangga Baraya Raja Gowa-2 putera mahkota dari pasangan Raja Gowa-1 Karaeng Bayo dengan isterinya Tu Manurunga Ri Tamalate ? atau Lakipadada dengan Tumanurung Baineya ?”

    Pak Lourent yg baik….

    Perlu bpk ketahui bhw nama I Massalangga Baraya adalah nama kecil dari Puang Petta I La Ma’rang. Nama kedua diberikan setelah beliau sdh sepuh. Ma’rang dalam bahasa Makassar tua sama artinya dengan “berdehem”. atau dalam bhs Toraja “messa’da”.
    Jadi Petta I La Ma’rang artinya “seorang yang dituakan dan disegani yg walau hanya berdehem saja orang menjadi tunduk dan hormat”.

    Petta I La Marang adalah anak tertua dari Puang Lakipadada. Ibunya bernama Datu Manik atau Datu Manaek. Petta I La Marang menikah dgn Putri Karaeng Bajo (Raja Gowa I). Istri Karaeng Bajo sering disebut saja Tumanurung Baineya. Nama Putri Raja Gowa I tersebut, sampai saat ini belum diketahui secara pasti.

    Mudah2an tulisan ini menjawab pertanyaan bpk.

    Sulwan Dase

  62. Yang saya tahu para tokoh2 di Tana Toraja setelah Untulak Buntuna Bone dan setelah Pemberontakan Kahar Mudzakar dan setelah Peristiwa Andi Sose telah bersepakat untuk mengembalikan seperti dulu kepemimpinan di dalam daerah masing2 di Tana Toraja seperti wilayah kapuangan pemuka adatnya bergelar Puang, wilayah kadatuan pemuka adatnya bergelar Datu, wilayah kaopuan ya pemuka adatnya bergelar Opu, dan seterusnya kaparengesan, karatuan, kaarroan kemudian berkembang ke wilayah-wilayah sulawesi yang lain seperti kakaraengan, kaarrungan, kaandian, kadaengan, dan beberapa daerah lain memiliki kekhususan seperti gelar Somba ri Gowa dan Payung ri Luwuq. Tidak lepas kemungkinan di daerah-daerah lain semisal di Jawa ada keraton (gelar adatnya Ratu/Raja), kedaton, gelar Dato atau Datuk di wilayah Sumatera, Kalimantan dan Malaysia sekarang dll juga merupakan pengembangan dari jabatan struktural adat di wilayah Sulsel atau sebaliknya ??? Namun dengan berkembangnya agama Islam dan semakin banyaknya penganut agama tsb di daerahnya maka gelarannya kadang dibumbui gelar Sultan dengan demikian wilayah tersebut bisa juga disebut kesultanan. http://karodalnet.blogspot.com/2008/11/9-raja-malaysia-ternyata-berasal-dari.html

    Leluhur bangsawan Tana Toraja menurut ossoran diluar Manurun di Langi’ dan Tamboro Langi’ adalah Puang Tangdilino menikah dgn Puang Buen Manik yang tinggal (torro) di Tongkonan Banua Puan ( Tongkonan asal muasal gelaran Puang / kapuangan – The House of Puang – ) pernikahan mereka membuahkan 8 anak diantaranya: 1) Puang Pabane menuju Kesu’ menikah dengan Ambun di Kesu anak dari Puang ri Kesu anak dari Manurun di Langi’, 2) Puang Parange menuju Buntao’, 3) Puang Pasontik ke Pantilang, 4) Puang Pote’Malla ke Rongkong, 5) Puang Bobolangi menuju Pitu Ulunna Salu Karua Ba’bana Minanga (Mamasa), 6) Puang Bue ke daerah Duri, 7) Puang Bangkudu Ma’dandan ke Bala (Mengkendek), 8) Puang Sirrang ke Dangle (Makale). Adapun gelaran Puang tidak dipakai lagi didaerah tujuan mereka itu merupakan urusan mereka sendiri. Dan tradisi yang dipakai oleh turunan mereka di wilayah masing2 tentunya telah dan terus berasimilasi mengikuti tradisi yang terus berkembang di wilayah setempat.

    Tetapi ada beberapa orang Toraya yang mengklaim bahwa Manurun di Langi’ dan Tamboro Langi’ merupakan orangtua atau leluhur Tangdilino, menurut saya pernyataan itu bisa menyesatkan ! Yang jelas ke-8 anak2 Tangdilino tidak ada sangkut pautnya atau tidak ada hubungan langsung dengan Manurun di Langi’ (pengemban Aluk sanda pitunna) maupun Tamboro Langi’ (pembawa aluk sanda saratu’na). Dan barulah turunan yang kemudian (anak-cucu-cicitnya) dari para Tomanurun kawin silang dengan keturunan anak2 Puang Tangdilino sehingga melahirkan generasi Puang Lakipadada, Datu Manaek dll. Leluhur Puang Tandilino diantaranya Puang Matua konon hidup di rumah yang ada di kahyangan, dan orang Toraja mempercayai bahwa para leluhur Tangdilino bisa naik-turun kahyangan dan pada akhirnya mereka naik semua atau kembali ke asalnya.

    Semoga bapak Sulwan Dase puas dengan jawaban saya. Pada dasarnya saya setuju saja dengan niatan yang sangat mulia dari Bpk Sulwan Dase yang ingin meluruskan sejarah Toraja tetapi pelurusan yang seperti apa? Banyak sisi negatif sesuatu kebudayaan yang tidak akan dapat diterima lagi oleh masyarakat kontemporer. Misalnya poligami, poligami dijaman dulu kan sah-sah aja tidak melihat agama manapun jika adat mendukung siapapun bisa melakukannya. Tetapi di tengah berkembangnya pendidikan serta akhlak yang diajarkan agama dan pengaruh tekanan budaya asing yang jauh lebih maju dan modern maka masyarakat dengan sendirinya menjauhi poligami itu, kecuali masyarakat pedalaman misal Irian yang saya dengar kepala sukunya yang sudah Katolik memiliki istri 30 orang ! Yang bisa dijadikan contoh untuk seorang pimpinan pelaku monogami yang dinilai baik oleh masyarakat modern mungkin mantan presiden Bpk Soeharto dengan istrinya Ibu Tien yang mampu memimpin bangsa ini selama 32 tahun (1966-1998) tidak seperti pendahulunya yaitu Pres. Soekarno yang pelaku poligami dengan 9 istri yang menjabat selama 21 tahun (1945-1966). Pelurusan sejarah manapun di jaman sekarang ini di bumi Indonesia tentunya harus sejalan dengan nilai-nilai luhur Pancasila & UUD 1945 dan HAM. Contoh suramnya sejarah suatu bangsa dapat dibaca disini : http://majalah.tempointeraktif.com/id/cetak/2002/04/08/IQR/mbm.20020408.IQR78481.id.html dan ini http://melayuonline.com/article/?a=bW1OL3FMZVZBUkU4Ng%3D%3D=&l=paradoks-bissu-bugis-mencari-identitas-sekaligus-kehilangan-identitas
    Sepertinya banyak juga orang Toraja yang mampu berbahasa Toraja Tinggi dan ada tingkatan2nya seperti bahasa Torilangi’ yang dipercaya oleh para ahli sebagai bahasa Proto Melayu bahasa induk suku2 di Sulsel.
    Menurut saya contoh peradaban yang tinggi dijamannya dapat dilihat di sini (klik zoom): http://www.art.com/products/p13087548-sa-i1454301/joan-blaeu-world-map.htm?sorig=cat&sorigid=0&dimvals=0&ui=faf84a5e8c0841c7acd50599ebd14955
    tapi bacaannya disini http://buginese.blogspot.com/2006/08/bumi-langit-karaeng-pattingalloang.html

  63. Pak Lourent menulis spt ini:

    “Leluhur bangsawan Tana Toraja menurut ossoran diluar Manurun di Langi’ dan Tamboro Langi’ adalah Puang Tangdilino menikah dgn Puang Buen Manik yang tinggal (torro) di Tongkonan Banua Puan”.

    Terima kasih sdh mau berbagi cerita. Saya belum paham darimana bpk memperoleh semua cerita spt ini. Sebab sepertinya saling bertentangan satu sama lain.

    >Bpk mengatakan bhw puang Tamboro Tangi dan Puang Tangdilino (nama sebernarnya dalah Tanduk Lino) bukan turunan To Manurung Dilangi?

    Jawab saya:

    Puang Tamboro Langi dan Puang Tanduk Lino Ri Banua Puan adalah ampo uttu Puang Lakipadada.
    Puang Tamboro Langi adalah anak dari Petta I La Didi dan ayah dari Puang Tanduk Lino.
    Cerita inilah yg kacau selama ini, shg sulit menyambung pertaliamn darah dgn Gowa-Bone-Pammana dan Lumu. Puang Tamboro Langi sepupu satu kalai dgn To Manurung Ri Mattajang Bone. Beliau sepupu satu kali jg dgn Raja Gowa-3.

    >Selanjutnya bpk mengatakan bhw Puang Tangdilino menikah dgn Buean Manik?

    Jawab saya:

    Buean Manik adalah kakak perempuan dari kakek Puang Tanduk Lino (Tangdilino=Tandilino). Jadi Buean Manik adalah kakak perempuan dari Petta I La Didi. Anak Puang Buen Manik lah yg pergi dgn perasaan sedih ke suatu tempat, shg tempat itu disebut Mamase dan berubah bunyi menjadi Mamasa sekarang ini. Istri beliau bernama Ma’dekko Bulaan. Mak’dekko kemudian berubah bunyi menjadi Ma’dikka dan kahirnya menjadi Ma’dika, yaitu gelar pemimpin adat di Toraja bagian barat termasuk mamasa saat ini.

    Jadi bila merujuk ke cerita bpk, maka cucu (Puang Tangdilino) menikah dgn neneknya (Buean Manik) :-))

    Sebagai rujukan buat bpk, semua turunan raja2 di Bone selalu mengaku bhw nenek moyang mereka berasal dari Sangalla. Pendapat itu benar adanya, hanya sayang sekali, baik orang Bone maupun Sangalla tdk bisa menjelaskan pertalian darah tersebut sebab orang Sangalla terlanjur percaya pada cerita simpang siur yg salama ini beredar di masyarakat. Bila saya ceritakan yg sebenarnya, mereka tdk percaya….hehehehe
    Maka jadilah orang Toraja yg bingung dgn dirinya sendiri hahahaha.

    Baik Gowa-Luwu-Bone-Mamasa mengklaim bhw mereka turunan dari Toraja, dan orang Toraja hanya manggut2 pura2 tahu ttp ketika diminta mereka menceritakan urutan sejarahnya, minimal silsilahnya, semua pada melongoh atau membuat cerita hebat yg ujung2nya menuju ke diri “Si Pencerita” dan lupa menjelaskan kaitan antara ceritanya dgn Gowa-Luwu dan Bone hahahaha.

    Maka semakin bingunglah orang Gowa-Luwu_Bone-Pammana- Mamasa….dan orang Toraja larut dalm kebanggaan semua nya :-)

    Sulwan Dase

    Sulwan Dase

  64. Pak Lourent menulis seperti ini:

    “etapi ada beberapa orang Toraya yang mengklaim bahwa Manurun di Langi’ dan Tamboro Langi’ merupakan orangtua atau leluhur Tangdilino, menurut saya pernyataan itu bisa menyesatkan !”

    Menurut saya yang menyesatkan adalah tulisan pak Lourent sendiri yang berbunyi sbb:

    “Yang jelas ke-8 anak2 Tangdilino tidak ada sangkut pautnya atau tidak ada hubungan langsung dengan Manurun di Langi’ (pengemban Aluk sanda pitunna) maupun Tamboro Langi’ (pembawa aluk sanda saratu’na). Dan barulah turunan yang kemudian (anak-cucu-cicitnya) dari para Tomanurun kawin silang dengan keturunan anak2 Puang Tangdilino sehingga melahirkan generasi Puang Lakipadada, Datu Manaek dll. Leluhur Puang Tandilino diantaranya Puang Matua konon hidup di rumah yang ada di kahyangan, dan orang Toraja mempercayai bahwa para leluhur Tangdilino bisa naik-turun kahyangan dan pada akhirnya mereka naik semua atau kembali ke asalnya.”

    Bapak sebagai orang Kristen atau Katolik begitu mantap mengatakan bhw leluhur Puang Tangdilino adalah PUANG MATUA??
    Apa bpk tdk salah????

    Coba bpk baca kitab suci yg bapak pegang, adakah hal ini tercantum disana?

    waduh, makin tdk rasional saja diskusi kita ini pak heheheh.

    Mudah2an bpk hanya salah tulis saja :-)

  65. Yth To Sang Torayaan, Bpk Christian Tanduk
    Yth Bpk Sulwan Dase,

    Saya, dan mungkin orang toraya lainnya tidak bermaksud membuat bingung siapapun. Dan saya boleh mengucapkan syukur kepada tradisi nenek moyang toraya yang tidak mewariskan budaya tulisan kepada anak cucunya. Dan saya terlebih bersyukur lagi kepada keyakinan yang saya yakini sekarang warisan orang tua saya yaitu Kristen Katolik yang tidak mengajarkan pemaksaan pendapat. Suku2 bangsa lain boleh berbangga dengan tradisi penulisan dllnya. Tetapi apakah tradisi penulisan semata-mata bisa 100% dipegang kebenarannya atau malah bisa dijadikan alat untuk kepentingan lain yang mementingkan diri sendiri, keluarganya, persekutuan adatnya, bahkan ras suatu bangsa, agama tertentu atau malah penjajah ?

    Bapak Sulwan Dase sudah tahu sendiri dari ceritanya Nirwan Ahmad Arsuka yang sudah pernah saya baca sebelumnya pada koran Kompas Edisi Khusus tanggal 1 Januari 2000 yang saya beli 3000 perak saat itu bahwa ker. Gowa di tahun 1651 saja sudah dipenuhi dengan Bugis, Malaka, Jawa, Campa, Johor, Minang, Patani, India, Cina, Portugis, Spanyol, Denmark, Perancis dan Inggeris. Apakah tidak ada kemungkinannya bangsawan2 ker. Gowa pada saat itu melirik wanita2 cantik dan menggoda dari Melayu (Malaka), India, Cina, Portugis, dll. Sehingga melahirkan generasi ras campuran berbagai kombinasi Gowa-Bugis-Melayu-Cina-Perancis-Spanyol-Minang dan lain-lain dan lain-lain seperti artis Sophia Latjuba, Andi Soraya dll.

    Saya juga pernah membaca riwayat seorang bangsawan wanita yang terkenal karena menulis ulang Sureg Galigo dan juga silsilah2 di tahun 1800-an ternyata dia berdarah Gowa-Bone-Melayu dan pada saat hidupnya ia sempat pisah ranjang dgn suaminya krn sering bertengkar dan dia mendapatkan penghidupan dari gaji yang diberikan pihak penjajah Belanda sebesar 20 Gulden per bulannya untuk pekerjaannya menulis tersebut. Nah bpk bisa membayangkan sendiri kepentingan mana yang harus ia utamakan dalam penulisan ulang atau pelurusan sejarah kebesaran Luwuq yg pernah menjajah negerinya, kepentingan Gowakah? atau Bone atau Melayu yang berkecamuk didalam dirinya atau Belanda (dgn politik adu dombanya) yang menggajinya ?

    ambil contoh di alam yang lain :

    Baginda Nabi Muhammad SAW dipahami oleh orang Islam kebanyakan atau umum sebagai orang yang buta huruf dan tidak berpendidikan tetapi saya menemukan bukti baru (pernah dimuat koran Republika) yang katanya surat itu ditulis dan diberi meterai oleh nabi Muhammad sendiri, bisa dilihat disini :

    http://hasanalsaggaf.files.wordpress.com/2008/06/surat-nabi-untuk-al-najasyi.jpg

  66. Saya sebelumnya tidak tertarik sama sekali dgn Islamophobia tetapi oleh karena banyaknya teror disana sini di tanah air maka mau nggak mau suka nggak suka saya juga belajar/mencari tahu apa sesungguhnya agama islam tanpa perlu pindah agama dan saya mempelajarinya dari para murtadin / pembelot yang semua orang bisa membacanya disini :

  67. Nah dari situs itu kita dpt menemukan bagaimana gambaran / konsep surga yang ditulis Alquran. Sebagai perbandingan kita bisa membaca ulasan seorang Muslim (bukan Murtadin) disini :

    alamat tdk bisa disertakan

    Berikut penjelasan surga islami berdasarkan Quran dan hadis sahih;

    “Suatu kali Rasulullah pernah ditanya sahabat tentang hal ini. “Apakah penghuni surga melakukan persetubuhan?” Beliau menjawab, “Ya, dengan penyemburan yang keras, dengan kemaluan yang tidak lemas dan dengan syahwat yang tidak terputus, tetapi tidak keluar air mani sedikitpun, baik dari lelaki atau perempuan. Apabila selesai, perempuan kembali bersih dan kembali perawan.” (HR. Ibnu Hibban).

    Di bawah ini adalah hal2 yang lebih menakjubkan lagi yang akan menunggu muslim mukmin di surga islam menurut buku dari Imam Ghazzali yang berjudul Ihya Uloom Ed-Din. Buku ini dianggap paling penting setelah Quran oleh orang Islam Sunni.

    Volume 4, Halaman-4.430

    “Menurut Nabi Muhammad (SAW) bidadari-bidadari di surga adalah wanita-wanita murni – bebas dari menstruasi, kencing, berak, batuk dan anak-anak. Bidadari-bidadari ini akan menyanyi di surga tentang kemurnian Ilahi dan memuja – kamilah bidadari-bidadari tercantik dan kami disediakan untuk suami-suami terhormat. Muhammad berkata bahwa penghuni surga akan mempunyai kekuatan seksual 70 lelaki. Dia berkata, “Seorang penghuni surga akan punya 500 bidadari, 4,000 wanita lajang dan 8,000 janda. Setiap dari mereka akan terus memeluk dia sepanjang hidupnya di dunia.”

    Nah yang paling cocok masuk kriteria bidadari yang bebas dari menstruasi, batuk dan beranak-pinak adalah para bissu waria. Maka mengertilah saya mengapa kaum bangsawan wanita di daerah bugis (Bone) yang mati-matian membela dan menyelamatkan para bissu yang masih tersisa dan berusaha melestarikannya karena mereka tidak rela suami-suaminya akan menikmati bidadari2 wanita sungguhan kelak di surga.
    Dan menurut saya hal inilah juga yang menyebabkan Karaeng Pattingaloang membeli teleskop dari Eropa dan semata-mata bukan hanya ingin mengamati keberadaan Tumanurunga ri Tamalate seperti yang diimaginasikan Nirwan Ahmad Arsuka, tapi juga bidadari-bidadari yang dijanjikan Baginda Nabi Muhammad SAW.

    Dan siapakah yang mengislamkan Bumi Karaeng dan akhirnya menyebar ke wilayah jajahan Ker. Gowa jawabannya Trio Dato dari Minangkabau (menang adu kerbau -kerbau menyusui Minang vs kerbau besar jantan Majapahit-Jawa Timur-).

  68. Bpk Sulwan Dase bertanya: Bapak sebagai orang Kristen atau Katolik begitu mantap mengatakan bhw leluhur Puang Tangdilino adalah PUANG MATUA??
    Apa bpk tdk salah????

    Di dalam cerita orang Toraja turun temurun diriwayatkan bahwa Puang Matua memiliki istri bernama Puang Arrang di Batu dan istri lainnya yang bernama Indo’ Ongon-ongon. Lalu Puang Matua dan Arrang di Batu menciptakan beberapa ciptaan (mahluk hidup) mereka diantanya nenek moyang manusia di dunia bernama Datu Laukku’ yang katanya terbuat dari bahan emas murni. Nah turunan Datu Laukku’ inilah yang akhirnya menyebar ke seluruh bumi. Orang Toraja modernlah yang mengasumsikan Datu Laukku’ sebagai anak (buah hasil pernikahan Puang Matua (di langit) dan Arrang di Batu (di bumi).

    Nah kemungkinan alasan Bapak Frans Bareluallo Palebangan yang tidak setuju Puang Matua dijadikan nama lain Tuhan Pencipta atau Tuhan YME (monoteisme) di dalam Kekristenan atau Alkitab -buku suci iman Kristen- adalah karena Puang Matua memiliki 2 istri dan masih ada Dewa yang lebih tinggi lagi dari Puang Matua.

    Tetapi sayapun dan orang Toraja modern kebanyakan belum paham apakah hubungan PUANG MATUA (di langit) dengan Arrang di Batu (di bumi) setara dengan hubungan ELOHIM YAHWE/YEHOVA/YHWH (TUHAN YME dalam mitologi Yahudi maupun Hanif agamanya Nabi Abraham / Ibrahim) dengan Bunda Maria yang akhirnya melahirkan Yesus Kristus Sang Juruselamat Dunia yang dilakukan tanpa pernikahan atau hubungan intim melainkan hanya dengan sabda / firman yang keluar dari mulut ELOHIM. Tentu saja cendikiawan Toraja Kristen harus berhati2 karena nanti bisa menuai kemarahan bangsa Israel yang telah membuktikan kehebatannya dalam perang dgn Palestina dan perang 6 hari dengan 4 negara besar Liga Arab. Jangan sampai bangsa Israel murka karena nama Tuhannya ELOHIM YAHWEH/YEHOVA/YHWH dirubah menjadi PUANG MATUA DO TANDUNG SIULLU’NA LANGI’. Bisa2 rudal-rudal Israel beserta seluruh satelit-satelitnya diangkasa diarahkan ke BUMI SANG TORAYAAN dan Sulsel.

    Dan saya juga belum paham mengapa jabatan tertinggi bissu dalam mitologi Luwuq purba diberi gelar Puang Matoa/Matowa apakah ini tertulis di dalam Sureq Galigo (yang katanya paling asli) yang ada di perpustakaan Universitas Leiden, Belanda atau hanya karangan orang2 Bugis kontemporer/modern ?

    Ini ada silsilah Ker. Gowa dari versi Inggris (mungkin orang Inggris sudah mencatatnya semenjak menginjakkan kakinya di Makassar) , dan ditulis Forum Award Clasical Studies, Britannica Internet Guide Award http://my.raex.com/~obsidian/seasiaisl.html

    First Dynasty :

    # Batara Guru I
    # Batara Lettu
    # Saweri Gading………………………………..fl. c. 1000 ?
    # Letta Pareppa
    # Simpuru Siyang
    # Anekaji
    # Punyangkuli
    # La Malolo

    Second Dynasty :

    # Ratu Sapu Marantaiya………………………….fl. c. 1100 ?
    # Karaeng Katangka I
    # Ka-Karaeng-an Bate Salapang :
    1. Karaeng Garassi
    2. Karaeng Katengang
    3. Karaeng Parigi
    4. Karaeng Siang………………………………..fl. c. 1200 ?
    5. Karaeng Sidangraye
    6. Karaeng Lebangan
    7. Karaeng Panaikang
    8. Karaeng Madulo
    9. Karaeng Jampaga

    Third Dynasty :

    * I-Taru’ballanga Karaeng Bayo To’ Manurunga Somba-ri-Gowa….fl. c. 1300
    * Karaeng Tumassalangga
    * I-Puwang LomoE Lembang
    * I-Tuniyataban-ri
    * Karaeng Puwanga
    * Tunitangkalopi………………………………. ? -1405
    * Batara Gowa Tuniawanga-ri Parang Lakenna……….1405-1425
    * ?
    * Tunyachoka-ri Langkaje……………………….. ? -1511
    * TuMapa’risi’ Kallonna………………………..1511-1546
    * Tunipalangga-Ulaweng…………………………1547-1565
    * Karaeng Tunibatta………………………………..1565
    * Tunijallo…………………………………..1565-1590
    * Parabung, later Tunipassulu…………………..1590-1593
    * Aladdin Tumenanga-ri Gaukama (1st sultan 1605)….1593-1639
    * Muhammad Malik us-Said Tumenanga-ri Papambatuna…1639-1653
    * Muhammad Bakr Hasan ud-din Makassarnya Tumenanga-ri Balla Pangkana…1653-1669

    * Subordinate to the Netherlands………………..1669-1942

    o Amir Hamzah Tumammalianga-ri Allu…………1669-1674
    o Muhammad ‘Ali Tumenanga-ri Jakattara………1674-1677
    o Fakhr ud-din Abdul Jalil Tumenanga-ri Lakiung…1677-1695
    o ?
    o Shahab ud-din Ismail Tumamenanga-ri Sompaopu.1709-1712
    o Siraj ud-din……………………………1712-1739
    o Abdul Khair al-Mansur Shah……………….1739-1742
    o Abdul Kudus Tumamenanga-ri Kala’birana…….1742-1753
    o Usman Fakhr ud-din Tumamenanga-ri Silung…..1753-1767
    o Muhammad Imad ud-din Tumenanga-ri Tompo’balang…1767-1769
    o Zain ud-din Tumamenanga-ri Matawangang…….1769-1777
    o Sankilang (usurper)……………………..1777-1781
    o Abdul Hadi Tumamenanga-ri Lambusuna……….1781-1810
    o Karaeng Pangkajena Paduka Sri Sultan Abdul Khalik…1810-1814
    o Tumenanga-ri-Katangka……………………1816-1825
    o Abdul Rahman Tumenanga-ri-Suangga……………..1825
    o Abdul Kadir Muhammad Aidid Tumenanga-ri-Kakoasangna…1825-1893
    o Muhammad Idris Tumananga-ri Kalabbirannja….1893-1895
    o Husain Tumenanga-ri Bunduna………………1895-1906
    o Interregnum…………………………….1906-1936
    o Muhammad Tahir Muhib ud-din Tumenanga-ri Sungguminasa…1936-1946

    * To Japan……………………………………1942-1945

    o Muhammad Abdul Kadir Aid ud-din…………..1946-1950 d. 1978

    * In the Dutch-sponsored state of Indonesia Timur…1945-1949

    * To Indonesia………………………………..1949-

    o Andi Kumala Karaeng Sila, 1978-

    Dinasti pertama dan kedua dalam sejarah lisan Gowa merupakan masa kegelapan (boleh dibilang masa jahilliyah) dimana manusia seperti ikan dan yang lainnya buaya. Pada dinasti ke-3 lah masa kejayaan Kerajaan Gowa. Selanjutnya dibawah pengawasan Pemerintah Hindia Belanda – Jepang – RIS/NIT – RI.

    Waduh saya sudah 2 bulan nganggur bos ! saya harus mencari nafkah dulu nih, bisa berantakan nih keluarga saya. Jadi saya akhiri dululah komentar saya.

    Pesan saya : coba amati tokoh siapa gerangan yang gambarnya dimuat di Atlas Map of the World ciptaan Joan Blaeu itu. Sesosok Dewa Laki2 (Puang Muane) yang ada ditengah2 gambar sebelah atas, yang bertelanjang dada tetapi bagian bawah ditutupi kain yang dilipat (namanya cawat apa bukan ya???) dan memegang pedang / kelewang ? bandingkan dengan patung yang ada di Tongkonan Toraja Taman Mini Indonesia Indah Jakarta; seorang Bangsawan Toraja yang menunggangi seekor kerbau dan disisinya ada ketiga anaknya, 2 laki2 1 perempuan. Kesimpulan : berarti cendikiawan Eropa di tahun 1600-an pun sudah tahu jenis kelamin tomanurun yang melegenda di Kerajaan Gowa dan Sulsel. Coba bandingkan lagi dgn catatan-catatan yang menulis silsilah Ker. Gowa dari Malaka, Jawa, Campa, Johor, Minang, Patani, India, Cina, Portugis, Spanyol, Denmark, Perancis

    Sekian dan Terima Kasih

  69. Pak Lourent….

    membaca tulisan bpk yg berbunyi:
    “Apakah tidak ada kemungkinannya bangsawan2 ker. Gowa pada saat itu melirik wanita2 cantik dan menggoda dari Melayu (Malaka), India, Cina, Portugis, dll. Sehingga melahirkan generasi ras campuran berbagai kombinasi Gowa-Bugis-Melayu-Cina-Perancis-Spanyol-Minang dan lain-lain dan lain-lain seperti artis Sophia Latjuba, Andi Soraya dll”

    Saya jadi bingung sendiri dgn tulisan ini. Koq pembahasannya menyimpang ke sini? Apa hal ini tdk akan membuat tersinggung saudara2 kita orang Gowa? Saya harap bpk tdk sampai sejauh itu berpikir :-(

    Pada bagian lain tulisan bapak terlihat juga bahwa ada ketidak konsistenan dalam pembahasan permasalahan yg sedang kita diskusikan.

    Pada bagian lain bpk menulis begini:

    “Kesimpulan : berarti cendikiawan Eropa di tahun 1600-an pun sudah tahu jenis kelamin tomanurun…..”

    Sepertinya bpk sendiri menganggap bhw To manurun ini bukan manusia atau sejenis mahluk yg tdk jelas jenis kelaminnya?

    Jujur saya harus katakan bhw ini semakin memperlihatkan bhw bpk tidak bisa menjaga sistimatika dan konsistensi pada pokok permasalahan yang sedang kita bahas…
    Kesannya…bpk ngelantur…..maaf kalau saya terpaksa mengatakan hal ini ke bpk.

  70. Sangsiuluran Sang-Toraya yth,
    Lulun meloi tuampa’mu so’e, lu’pi’ maya-mayai, latangla sulera’ka sae kee sumpumi pandakaranku.

    Londe ini adalah londe para remaja yang sedang mabuk cinta tetapi kles atau salah paham karena cintanya yang mengebuh-gebuh kurang diperhatikan oleh lawan pencitana. Ibaratnya sebagian besar para komentator dalam milis ini sudah kehabisan bahan sehingga harus mundur teratur.

    Sy memang lama tidak muncul di ruang milis ini karena kesibukan, apalagi sedang bersama kawan-kawan lain memperiapkan conference on Toraja akhir Juli 2009 di Heritage Hotel di Rura Rantepao, Tana Toraja. Konferensi ini merupakan konferensi pertama kali untuk budaya Toraja yang berskala internasional. Peserta dan pemakalahnya 87% dari pakar dunia dari berbagai mantan peneliti budaya Toraja dari bebagai perguruan tinggi ternama seperti NUS dari Singapure, Loyola University dari Chicago, Tokyio University dari Jepang, Notingen University, dll. Mudah-mudah tidak terkendala oleh apa pun, sehingga generasi muda kita dapat menikmati karya-karya baru nantinya dari hasil konferensi ini. Hal yang sudah pasti bahwa Atma Jaya Jakarta akan merupakan centra perfiliman dan peekaman peristiwa budaya masa lalu, sekarang, dan yad bagi Tondok Toraya, Tondok dikamali’ sola nasang. Buku Aluk, Adat, dan Adat-Istiadat Toraja akan menjadi sebuah kipraan baru di masa datang. Inilah salah sat aspek dari “Creative Economy by using the creative industries to develop our life now and next”.

    Sangsiuluran Sang-Toraya yth,
    Izinkan sy mengomentari beberapa hal yang rasanya harus ditanggapi dari sejumlah hal yang telah terangkat di atas ini tanpa ada maksud untuk mengambil porsi yang terlalu besar atau mengurangi ketenaran, keakaran, atau kehebatan siapa pun. Sekali lagi sy bukanlah seorang sosiolog, antropolog, sejarawan, budayawan, arkeolog, politikus, teologis, ataukah pakar hukum adat Toraja (Tarian Pitu).

    Pertama-tama sy ucapkan terima kasih banyak kepada sdr. Sulwan Dase yang telah memberi gelar baru kepada sy dengan menulis seperti ini,” ——-semakin tiba saya pada satu kesimpulan bhw saudara merasa diri orang paling tahu,
    saudara bukan parner diskusi yg baik, sebab terlalu merasa lbh tau”. Oleh sebab itu koreksi sy akan sy gunakan kata “sok-tahu”.

    Sangsiuluran Sang-Toraya yth,
    1). Kesoktahuan sy yang pertama adalah tanggapan atas pernyataan sdr. Sulwan Dase demikian,
    “Kalau hanya sekedar memberi gizi, kenapa hrs semahal itu, dengan unag Rp 100rb, kita sdh bisa makan Coto Makassar selama 2 minggu berturut turut, dan tdk perlu mengeluarkan biasa banyak”.

    Ternyata Sdr bukan orang Toraja. Makna pantuan di atas bumi Tana Toraja tidak sama dengan makan coto Makassar sepanjang masa.
    Sebelum dekade 1980-an, maknanya lain sekali. Orang mantunu tedong sola bai karena pesan Alukna Aluk To Dolo di dalam Mammaran Mata atau Rampanan Kapa’, misalnya. Ketika itu daging dibagi-bagikan kepada masyarakat sekitar. Bahkan bagian pantunuanna (pangalukan) jika sampai di rumah harus dibagi lagi kepada tetangga sebagai Taa Bakba. Jadi yang melakukan, hampir-hampir tidak kebagian sebab memang pesta itu adalah pesta untuk rakyat banyak. Kerbau dan babi tidak dibagi hidup-hidup. Jadi anggota masyarakat yang bukan pelaku bisa saja ma’dendeng atau mangrarang tanpa menyiapkan uang sesen pun.

    Tetapi Sdr. Sulwan Dase mungkin bermaksud menyoroti pelaksanaannya dewasa ini. Kebau dan babi dipotong hanya istilahnya dipotong. Dibagi hidup-hidup, lalu yang dipotong dagingnya diperjual belikan di pasar untuk pesta yang lain atau untuk kepentingan lain lagi. Jadi jumlah daging yang dibagikan kepada masyarakat memang makin berkurang. Sudah lepas dari makna aslinya.

    Sangsiuluran Sang-Toraya yth,
    2). Kesoktahuan sy yang kedua adalah tentang kuburan Lakipadada.
    Dalam pernyataan sy di atas sy memang menggunakan bahasa passamben-samben. Nakua kadanna Toraya tae’ naa denma’din untossok matanna bale ketae’ naditandai melo tu tau ba’turaka tu mentu’na apa.
    Sampai hari ini tidak adayang dapat memastikan kuburan itu ada di mana. Tetapi tahun 1977-1978 ketika sy baru keluar dari sebuah asrama siswa-siswa di Makasar, sy banyak berpetualangan ke daerah Sungguminasa, Gowa. Hampir setiap kali sy ke sana pasti mampir Di Balla’ Lompoa, termasuk di kuburan kerajaan Gowa. Ketika itu masyarakat Gowa selalu memberi petua, kalau bertanya seperti itu jangan langsung de’. Kata orang di sini, yang anda cari itu ada sekitar 250 M dari sini. tetapi harus mampu menyimpan rahasia (kalau di Indonesiakan). Di sana anda boleh berkunjung pada awal puasa dan menjelang lebaran jika mau menyaksikan dari dekat. Banyak masyarakat Gowa dan Maros mengunjunginya.
    Sdr. Sulwan Dase jika cerita singkat di atas disimak baik-baik mungkin boleh dicoba. Tetapi sekali lagi ingat pesannya. Memang kuburan itu tidak berada di dalam kawasan. Oleh sebab itu, waktu seminar di LIPI baru-baru ini, salah seorang yang sy tahu persis masih menguasai sebagian cerita tentang kerajaan Gowa dan hal-hal lain yang boleh diketahui umum kami undang. Sayangnya baru berduka, sehingga tidak dibolehkan hadir, sesuai pesan turun-temurun kerajaan Gowa.
    Mungkin ada baiknya Sdr. Sulwan Dase membaca silsilah Lakipadada menurut versi Bulukumba, Bantaeng, dan Selayar. Menarik untuk mempertemukan idea dasar apakah Lakipadada identik deng karaeng Bayo (Bayo = lumut).

    Sangsiuluran Sang-Toraya yth,
    3). Kesoktahuan sy yang ketiga menyangkut pertanyaan Sdr. Sulwan Dase tentang Nonongan.
    Sy tentu boleh balik bertanya demikian :
    > apakah sy akan jawab pertanyaan sdr. berdasarkan versi masyarakat Solo, Jawa Tengah, karena di tengah kota Solo ada kampung Nonongan seluas kurang lebih 12 Ha ? Ada kaitannya tentu.
    > Apakah sy akan jawab menurut versi orang Kandundung karena di sebelah Utara Tongkonan Siguntu’ ada kampung Nonongan bersama SD Nonongan ?
    > Apakah sy akan jawab sesuai dengan keberadaan Tongkonan Layuk Nonongan di kampung Kanuruan ?

    Agar makin bingung, maka kata nonongan itu terdiri dari dua kata, yakni Nono’ dan Ongan. Nono’ berarti makluk (hidup) dan Ongan berarti tempat bernaung. Jangan salah menginterpretasi arti nono’ dengan membuka tanda kurung.

    Sangsiuluran Sang-Toraya yth,
    4). Kesoktahuan sy yang keempat seperti sdr. Sulwan Dase menulis begini,” . . . Tetapi sayapun dan orang Toraja modern kebanyakan belum paham apakah hubungan PUANG MATUA (di langit) dengan Arrang di Batu (di bumi) setara dengan hubungan ELOHIM YAHWE/YEHOVA/YHWH (TUHAN YME dalam mitologi Yahudi maupun Hanif agamanya Nabi Abraham / Ibrahim) dengan Bunda Maria yang akhirnya melahirkan Yesus Kristus Sang Juruselamat Dunia yang dilakukan tanpa pernikahan atau hubungan intim melainkan hanya dengan sabda / firman yang keluar dari mulut ELOHIM”.

    Kalau boleh sy usul cerita seperti ini jangan terurai detail di sini. Sy yakin jika hal itu tebahas rapi di ruang milis ini bukannya bangsa Israel yang membordir bumi Toraja tetapi para pengikut Jesus, terutama yang berada dalam payung Gereja Toraja akan merasa tertipu sehingga kembali ke Aluk To Dolo atau aliran lain.
    Ingat peristiwa Pong Masangka’ membunuh penginjil pertama di Toraja hanya karena Pong Masangka’ lebih cerdas, cerdik, paham, dan lebih pintar dibanding kita-kita ini yang hanya mau menerima apa adanya (maaf seribu maaf bagi masyarakat Gereja Toraja). Jadi perang saudara seperti dulu karena memperebutkan mitos (mitologi) yang tidak ada habisnya.

    Sangsiuluran Sang-Toraya yth,
    4). Kesoktahuan sy yang kelima sdr. Sulwan Dase adalah apakah sdr percaya bahwa hasil pergumulan injil di Toraja dan dalam etnis Toraya telah melahirkan tiga kubuh yang akan saling mematikan, yakni kubuh modernitas, kubuh tradisional, dan kubuh yang berhasil memadukan keduanya.
    > Kubuh pertama menggunakan keberhasilan modernitas dengan berpegang pada ajaran injil karena sebagian mereka berasal dari bukan turunan bangsawan, parengnge’, atau Sia Ambe’/Puang, lalu melakukan dobrakan sosial untuk mengganti secara total Lesoan Alukna Aluk To Dolo agar status sosialnya naik. Ironinya para pendeta, bahkan sebagiana pastor sibuk mempelajari Aluk To Dolo untuk mennyandang gelar S1, S2, bahkan S3.
    > Kubuh kedua adalah mereka yang bersikukuh dengan alukna Aluk To Dolo dengan berpijak pada kebangsawanan, kapuangan, kaparengngesan, dst untuk melakukan penolakan terhadap cita-cita mereka yang berada dalam gaum modernitas.
    > Kubuh keduanya adalah sebagian besar masyarakat kita saat ini telah sadar bahwa yang benar adalah saling menghargai, saling mendukung, dan saling mau menerima satu sama lain. Jadi hari ini boleh mantunu sesuai kesanggupan, besok boleh ramai-ramai ke gereja , dan lusa mari kita menghadiri upacara ma’ nenek atau laolako tomatua di tongkonan keluarga.

    Dampaknya masyarakat Toraja terdiri dari tiga kelompok besar, yakni ada yang tidak percaya adanya Tuhan secara diam-diam, ada yang kadang percaya dan kadang tidak percaya tetapi rajin berbuak baik kepada sesamanya, dan ada sangat percaya sehingga tahut kepada Tuhan.

    Akhirnya, sdr. Sulwan Dase dan sdr. Laurent_m yang sangat aktif berdiskusi tentang silsilah di Sulsel sy ajak untuk sesekali berguyonan berdasarkan ketiga kelompok di atas seperti di bawah ini.

    a. Saking tidak percayanya, maka ia bebas berbuat apa saja di bumi ini. Katika ia meninggal ada dua kemungkinan yang harus dihadapainya secara serius. Pertama Tuhan memang tidak ada, jadi ia untung besar. Kedua, ternyata Tuhan ada, maka neraka menjadi ganjarannya. Sayangnya ia tidak boleh menempu mati suri.
    b. Antara ada dan tidak ada sehingga ketika ia meninggal juga ada kemungkinan yang tidak boleh ditawarnya. Ternyata Tuhan ada, maka ia selamat karena dosanya diampuni. Jadi masuk surga. Tetapi kalau Tuhan tidak ada, ia pun tidak rugi karena namanya terukir dengan baik dalam benak manusia yang masih hidup di bumi.
    c. Sangat percaya adanya Tuhan sehingga ketika ia meninggal harus menghadapi dua kemungkinan, yakni Tuhan benar-benar ada sehingga ia boleh selamat. Tetapi jangan lupa apa yang tertulis dalam Injil tentang talenta-talenta. Seandainya Tuhan tidak bernar ada, maka penyesalannya tidak terukur sehingga ia harus hilang ingatan seperti halnya para caled pada umumnya saat ini.

    Menarik, bukan ?
    Yang sy mau katakan sebenarnya adalah biarkanlah keluarga sendiri bersilsilah tentang ossoran-nya, bukan kita yang menceritakannya. Pada setiap wilayah atau keluarga besar, apalagi turunan bangsawan, sudah pasti ada tertulis dengan rapi tentang silsilah mereka. Kesu’ ada, Tallulembangna ada, Saluara’ ada, Balusu ada, Tanah Luwu’ ada, Enrekang ada, Mandar ada, dst … dst. Tugas kita adalah hubungannya ada di mana ? Apalagi mengatakan yang salah, tentu mereka bisa tersinggung tujuh keliling. Jadi berabeee, bukan ?

    Sangsiuluran Sang-Toraya yang budiman,
    Jika milis ini harus diisi terus isilah yang sifatnya positif, sifatnya membangun, dan bukan membangun benih-benih yang dapat membuat orang/pihak lain tersinggung. Lebih gampang membangun perang daripada menciptakan perdamaian. Oleh sebab itu, nakua tu Toraya,”
    Pela’pela’ komi ambe’ andi mititodo, mambelapa tuu lalanmi”.

    gannamo to dolo siulu’

  71. Pak Frans yth…

    terima kasih atas responsnya. ditulisan Sdr Frans tertulis begini:
    “Oleh sebab itu, waktu seminar di LIPI baru-baru ini, salah seorang yang sy tahu persis masih menguasai sebagian cerita tentang kerajaan Gowa dan hal-hal lain yang boleh diketahui umum kami undang. Sayangnya baru berduka, sehingga tidak dibolehkan hadir, sesuai pesan turun-temurun kerajaan Gowa”.

    ………….
    Jika boleh tau, siapakah nama orang yg Sdr. Frans maksudkan?

    Trims

  72. selamat pagi/siang/sore/malam semuanya. Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan sebagai anak makassar tercinta:
    1. dimana Ratu Tomanurung pertama kali turun tolong kasih detailnya, karena saya suka objek2 sejarah (saya pernah lihat gambar batu pijakan kaki pertamanya tetapi tidak tahu persis dimana)

    2. Dimana Karaeng Bajo dikuburkan juga?

    3.dimana Ratu Tumanurung dikuburkna? tq mohon dibalas ya

  73. Assalamualaikum Wr. Wb. & Salam Sejahtera.
    Maaf saya menyela sedikit.
    Perkenalkan nama saya Dian Cahyadi, terlahir dari Ayah Liu/Pammana (Wajo’) dan Ibu To’Barana/Buntu Lobo (Toraya)

    Apa ada yang tahu kisah Lalong Parapa’, Lillingan “Ne’Bolong” ?
    Periodenya sebelum atau sesudah kisah Sawerigading ataupun Lakipadada?

    Atau Kisah tujuh bayi kembar dari Tongkonan Mendoa yang dihanyutkan lalu di Andekan / Mengkendekan?

    Kisah Penyerangan ke Banggai hingga ke To Belo ?
    Kisah Para leluhur Kutai yang berasal dari Galumpang?

    Diskusi yang menarik…………..
    Kurre Sumanga’

  74. Saudara Dian yth…

    Saya sangat bersyukur bhw ada turunan dari Pammana yang masuk ke forum diskusi ini.
    Pernahkah orang tua atau nenek leluhur anda menceritakan bhw Pammana sangat erat kaitannya dengan Toraya?
    Salah satu anak laki-laki Puang Lakipadada bernama Petta I La Didi menikah dengan anak Arung Toa ri Pammana kemudian memboyongnya ke Toraya dan melahirkan para puang dan parenge di Toraya?
    Pernahkah anda mendengar pula bahwa salah satu anak Perempuan Puang Lakipadada yang bernama I Taralolo pergi ke Pammana dan bermukim selamanya di Pammana?
    Mungkin melalui anda saya minta tolong agar anda menanyakan atau mencari tau hal ini di para pemangku adat di Pammana. Saya berharap kelak dikemudian hari kita bisa melakukan Rekonstruksi sejarah sebagaimana yang sebenar-benarnya, jujur dan adil.

    Terima kasih sebelumnya

    Sulwan Dase

  75. Yth, bapak atau kakak Sulwan Dase yang saya hormati.. saya sering sekali menemukan nama anda di forum-forum yang ada di dunia maya, khususnya yang membahas mengenai sulawesi selatan dan sekitarya, dan saya cukup “intrested”

    baiklah sebagai penggemar sejarah dan saya sudah cukup JENUH dengan segala sejarah yang simpang siur, saya ingin bertanya:

    1. tumanurung baineya yang adalah isteri dari karaeng bayo, dikatakan bersama suaminya pernah berkunjung ke Mandar(atau sekitarnya), apakah itu benar dan tepatnya dimanakah mereka berkunjung?

    2. Dalam legenda lakipadada yang saya baca dikatakan bahwa anaknya (Petta I La Merang) menjadi raja di gowa dan dari sanalah berasal raja-raja gowa. Bukankah ini rancu karena dari Tumanurung Baineya lah terpancar turunan raja-raja?

    3. Apa yang saudara ketahui mengenai ammana pattolawali? bisakah saudara/kakak/bapak sulwan dase membeberkan lebih?

    **sebelumnya saya beritahu, bahwa pertanyaan saya yang pertama sudah saya tahu jawabannya, karena mereka semua terangkat ke langit

  76. Yth. Om Sulwan

    Maaf sebelmnya karena pengetahuan saya tentang sejarah masih dangkal, sebatas dari cerita-cerita orang tua yang secara ilmiah belum dapat diterima sebagai tolok ukur.
    Dari beberapa cerita-cerita yang saya dapatkan, menyebutkan bahwa bapak saya adalah keturunan dari Petta Lato’, nama aslinya saya tidak tahu, ada yang mengatakan namanya Lapoleo To Polipo (Petta Lato) yg hidup sekira tahun 1400-an, yang memiliki istri sekitar 44 org. Kebenaran ceritanya saya tidak mengetahui dengan jelas. Versi lainnnya, yakni ne’ I Kamboja Petta Nora (Gilireng)mengatakan bahwa Petta Lato’ hidup sebelum konfederasi Wajo terbentuk hingga kerajaan Bone dan Gowa. Artinya merunut kisah perjalanan Lakipadada boleh jadi yang merujukkan bahwa Petta Lato itu sebagai La Poleo To Polipo menjadikan saya ragu. Sekaligs mengingat kisah We Taddampali putri Datu Luwu yang diklaim sebagai asal-usul keturunan To Wajo menjadi gugur pula, bukankah Putra La kipa’dada yang mendirikan Kerajaan Luwu? (Saya masih menyangsikan kisah ini, mengingat penggunaan nama perangkat adat Pettala (bangsawan muda) hanya ada di wilayah utara (aluk Sanda Pitu;tabe klo salah, mohon diluruskan) setelah punya anak menggunakan gelaran ‘Pong’, dan Puang jika dipilih dan diangkat oleh rakyat melalui para Parenge dan Pangulu kada), mengingat pula lu’u (baca; Luwu) memiliki klo nda salah tiga fase ke-dinasti-an. Megaitkan dengan keberadaan So’ Ri Gading (Baca;Sawerigading) dan La Kipa’dada sangat berbeda (meski banyak pula awam menggabungkan bahwa La Kipa’dada = Sawerigading). Kembali ke Leluhur saya Petta Lato’ tadi. Berdasarkan cerita yang saya dapat dari Tongkonan Tanete di Balusu (Toraja;bukan Balusu Barru) mengatakan bahwa dahulu seorang anak bangsawan dari Tongkonan Tanete telah beranjak dewasa dan berpamitan untuk memulai hidup baru, maka berangkatlah ia menuju dataran bawah, tidak jelas kemana arah tujuannya, menyusul kemudian berita bahwa ia telah mendirikan kampung (pa’lilipu), maka cerita ini sy kaitkan dengan To Polipu.

    Terkait pertanyaan kedua mengenai anak I Tanra Lolo, saya tidak tahu sama sekali.

    Mudah-mudahan saya ada waktu, akan saya cari tahu.

    Satu yang saya akui bahwa, Wajo tua sangat terkait erat dengan asal-usul mereka dari Toraja wilayah utara. Saya menulusuri dari istilah penyebutan Pung yang berasal dari Pong, yakni sebutan bagi bangsawan-bangsawan Toraja mapun Wajo. Bagi To Wajo Pung adalah bukan Puang (sangat tinggi), begitu pula di Toraja bagian utara (Puang) tidaklah secara serampangan melekat di pundak seorang bangsawan tinggi sekalipun.

    Saya ingin berkisah tentang kisah terbentuknya kedatuan Lu’u. Dahlu kala wilayah dataran rendah wilayah timur adalah wilayah kekuasaan konfederasi Tongkonan-Tongkonan di Toraja bagian utara, dibawah manajemen Konfederasi Tongkonan Sa’dan-Balusu. Sat wakt datanglah pendatang menggunakan perahu yang jumlahnya sangat banyak. Mereka sangat garang, membantai dan membumi-hanguskan banyak kampung. Maka, bermufakatlah para pemuka kampung untuk memohon bala bantuan perlindungan dari konfederasi tongkonan. maka diutuslah seorang bernama Lilingan atau yang dikenal dengan nama ne’bolong. Maka, berperanglah kedua belah pihak dengan sengitnya hingga Sang Pemimpin Perompak tadi menantang duel adu ilmu gaib untuk membelah sebuah batu. Akhirnya kalahlah adu ilmu gaib Sang Pemimpin perompak dan tidak menerima hasil aduan, maka mrkalah Lillingan dengan membinaskan segenap pasukan dan Pemimpin perompak tanpa ampun dan menumpuk mayatnya hingga membentuk sebah bukit, sekarang dapat dilihat diwilayah Bosso’ (hancur).
    Maka, bermohonlah para ketua kampung untuk dipimpin oleh Lillingan dan dijawab, agar kalian tidak mudah dibinasakan maka bersatulah kalian (Siulu’uran) artinya kira-kira bergandengan tangan. Maka, merekapun bermohon untuk ditunjukkan seorang pemimpin yang merpakan keturunan To Langi’ (sa’dan) maka Lalong Parapa’ pun diutus untuk memimpin ke-datu-an Lu’u Tua dengan gelar To manurung Langi’ dengan simbol sebuah tombak bermata dua, lalu menyatakan wilayah kekuasaannya sejauh ia melemparkan tombaknya (kira-kira) Baliase (Kepatongkonan Masamba). Hingga keturunannya, mempertaruhkan simbol tersebut berikut rakyat Lu’u dalam pertaruhan adu ayam dengan seorang saudagar/pedagang kopi yang berasal dari Barat (melayu). Maka bermulalah dinasti ketiga yang penuh dengan intrik ke-datu-an.

    Kira-kira itulah salah satu kisah yang pernah saya dengarkan dari alm. ibunda Marga Taufik (Ne’ Mama Nani saya menyebutnya).
    Jika salah mohon diluruskan, jika krang mohon ditambahkan.

    Kurre Sumanga’
    Hormat saya di forum ini,

    Pattala Rura’ Dian C.N. Bulo-Pong Labba

  77. oh yaa saya lupa untuk bertanya kepada bapak Frans Bararuallo.

    Saya ingin memanfaatkan mencari tahu silsilah keluarga saya dari Toraja.
    Saya adalah anak dari H.M. Natsir Petta Achmad (Wajo) dan Agnes Taha (Toraja).
    Ibu saya anak dari H.A.Taha (Amparita/To Lotang) dan Margaretha Dani Bulo-Pong Labba.
    Nenek saya anak dari ayahnya Ne’ Waku “Puang Mangura” Pong Labba dari Tongkonan To’Barana dan ibunya Ne Eli Bulo dari Tongkonan Pambalan (anak dari Puang Bulo Tongkonan Buntu Lobo’).

    Semoga saya dapat menelsri silsilah lengkap saya dari forum ini.

    Atas perhatian dan bantuannya saya ucapkan Kurre Sumanga’.

    Wassalam
    Dian C.N. Bulo-Pong Labba.

  78. Pak Edwar yth…

    Terima kasih atas responsnya. Pertama-tama saya ingin menjelaskan bhw sejauh ini saya berusaha memberikan penjelasan yg serasional mungkin.

    menjawab pertanyaan anda:

    (a) Saya kebetulan belum pernah mendengar cerita yang anda tanyakan shg tidak dapat saya jawab.

    (b) Apa yg anda katakan mengenai legenda, sepertinya perlu anda perbaiki sebab kisah hidup Karaeng/ Puang Lakipadada bukanlah sebuah Legenda tetapi adalah kisah nyata. Anak tertua Karaeng Lakipadada yang ke Gowa kemudian menikah dgn putri Somba Gowa I atau anak dari Karaeng Bajo-Tumanurung Baine. Kata “Tumanurung” tidak mengandung arti ada orang yg turun dari langit tetapi personifikasi dari watak mulia dalam diri sang tokoh. Istilahnya: mereka spt “manusia ilahi”. Dari pernikahan antara I Tumassalangga Baraya (Petta I La Ma’rang) dgn putri Somba Gowa I lahirlah 2 orang putra. Salah satu putra beliau yg bernama Puang Loe Lembang kemudian diangkat menjadi Somba Gowa III. Anak Somba Gowa III adalah seorang perempuan dan terkena suatu penyakit tertentu shg yg menjadi Somba Gowa IV adalah sepupu satu kalinya yang bernama Tuniatarianri. Sedang putri Somba Gowa yg sakit berangkat ke Toraya (Toraja) kerumah kakek beliau. Setelah berobat, akhirnya beliau sembuh. Karaeng Baine menikah dgn sepupu dua kalinya di Toraya. salah anak beliau kembali ke Gowa. Dari turunan yg kembali melahirkan Raja Gowa berikutnya.

    (c) Mengenai ammana pattolawali saya tdk tau sama sekali. jika anda mengetahuinya, coba anda jelaskna agar sayapun bertambah pengetahuannya.

    NB: mengenai ada orang yg terangkat kelangit, saya tdk mendengar sama sekali karena itu urusan Tuhan.

  79. terima kasih atas respons bpk.Sulwan Dase (krn ternyata anda sudah 30an ternyata.ha3 maaf sebelumnya memanggil anda kakak)

    untuk pertanyaan (b): maaf salah penulisan, memang bukan legenda tapi saya percaya itu NYATA.

    (c) Mengenai Ammana Pattolawali yang saya baca di internet dan saya dengar ialah dia adalah seorang pejuang di Mandar yang melawan Belanda, dikabarkan dia dibunuh dengan cara diremukkan tulangnya karena tidak dapat mati dengan cara yang biasa (Hidup sekitar 1600an), yang saya ingin tahu apa kaitan beliau dengan Tumanurung Baineya& Krg.Bayo krn orang mengatakan Ammana Pattolawali mengambil/mempelajari ilmunya dari T.Baine dan Krg.Bayo

    untuk jawaban NB: saya peroleh cerita tersebut dari penjaga makam Sultan Hasanudin

  80. Yth. To Manurung
    Boleh minta tolong mencarikan silsilah kami?
    Berdasarkan Stambom (karena sudah dimakan rayap,jadi hurup sudah tidak jelas, itupun saya temukan disebuah peti berukir (repousse) besi tua).
    Silsilah dari bapak saya Drs. H. M. Natsir bin Ahmad, Yang dapat saya baca jelas huruf yang menuliskan La Nyala (Petta Lato’) arung Liu (istri 44 org)…….La Abdullah (Petta Tedde’), mundur dari dunia akkarungeng kemudian membuat kampung Salo Tengnga dan Tancung Purai, kemudian kawin I Rabiah, dari perkawinan tersebut lahirlah kakek saya Petta Ahmad yang kawin dengan I Pandang anak dari La Paleppang Dg. Pallureng, dari perkawinan itu lahirlah salah satu anaknya bapak saya.
    Sementara silsilah dari ibu saya. Dari bapaknya A. Taha dan ibunya Margaretha Dani Bulo-Pong Labba.
    Dari bapaknya kakek ibu saya bernama La Baco dari Allakuang – sidrap. Dari Ibu saya (nenek) naka dari perkawinan Puang Waku (Puang Mangura) Lillingan Pong Labba keturunan dari To Manurung Lang’ Parapa’ (dari Tongkonan To’Barana Sa’dan Malimbong) dan ibunya anak dari Puang Bulo dari Tongkonan Buntu Lobo keturunan dari To Manurung Lalong Parapa’ (dari Sa’dan Balusu/ Lu U’; baca Luwu’).
    Mohon bantuannya untuk memberikan informasi untuk menguak tabir masa lalu keluarga saya, karena selama ini orang tua saya tidak terlalu menggubris ataupun mengindahkan hal ini.
    Berikut saya add. Tulisan yang terbaca tersebut.
    Data Tambahan
    Silsilah Haji Abdullah La Tedde dan Hajja Rabiah ( Nene Rabiah)
    Sumber Wa Hati

    Manyoro (Mayor) La Mammi Daeng Patippe + I Pacorai (Pammana)
    ………………………………………………………………………………

    1. La Mangangku (Pammana) + I Meja (anak Sullewatang Leworeng)
    ————————————————————————–
    1. Pondo
    2. Paddai
    3. I Rabiah + La Massalengke anak Sullewatan Kawerang
    I Rabiah + La Tedde
    2. I Temmaugu
    3. La Temmalewa
    4. I Temmalewa + La Suno Daeng Mabbara (Liu)
    …………………………………………………….
    1. La Eco Daeng Pawakkang (La Cengke Manciji Wajo,)
    2. La Paboto Daeng Pabeta (La Tengko Arung Belawa Alau, juga sebagai Manciji Wajo,) + We Soji Datu Madello ( anak La Onro (anak We Panangareng (anak La Rumpang Megga Dulung Ajangale Datu Lamuru dan Mario Riwawo )+ La Patongai Datu ri Pattiro) + We Cecu Arung Ganra – arung Belawa (anak dari To Lempeng Arung Singkang yang juga sebagai Datu Soppeng MatinroE ri Larompong))
    3. La Jajja Daenmg Mattengnga (La Jollo Datu Patila,)
    4. La Paggama Daeng Siwoja (La Mamu Petta Yugi,),
    5. I Makkajelli (La Come,)
    6. I Tinggi (We Gallo Arung Liu),+ La Mangkona To Rao PajumpungaE, ? ( Anak Petta Ruttung Betteng Pola (tidak ada anak))

    I Tassakka + La Muhadi (Toddang Solo’ Soppeng) ananna Arungnge La Dennuang
    ………………………………………………………………………………………………
    1. La Kati + I Tasi’ Daeng Monang ( Nene Cebbang )
    Anak La Demma Daeng Siwoja Batubatu + I Tanrere
    2. I Massuanna + Daeng Sioja ( Wijanna Petta Padali, Lahir La Bintang + Haji Ceppa, Wijanna Nene Pawo
    3. I Halija + La Mkkuaseng (Liu)
    …………………………………
    1. I Sabbang + La Melleng
    2. La Ume

    1. La Nyala Petta Lato (Arung Liu) + ?
    ………………………………………..
    La Sunu’ Daeng Mabbara

    2. La Sempennena, Arung (La Sampenne Petta La Battowa CakkuridiE ri Wajo anak dari (La Mampulana Arung Ugi dengan isterinya yang bernama We Bakke Datu Kawerang).+ We Banrigau Arung Tajong
    1. We Sawe Arung Liu,
    2. La Olli Maddanreng Bone
    3. We Sikati Andi Ecce (Besse Dalaketeng ?) + La Sampo Arung Ugi yang juga sebagai Arung Belawa.
    1. We Busa Petta WaluE Arung Belawa,
    2. La Rappe Arung Liu Arung Ugi yang juga Maddanreng di Bone dan Sule Ranreng Tuwa
    3. La Maggalatung Daeng PaliE Arung Palippu.

    1. We Busa Petta WaluE Arung Belawa + La Tompi Arung Bettempola MatinroE ri Wajo. Anak dari (La Sengngeng Arung Bettempola MatinroE ri Salawana dengan isterinya We Mappangideng Arung Macanang.)

    1. We Kalaru Arung Bettempola,
    2. La Paramata atau La Tatta Raja Dewa Arung Bettempola,
    3. La Tune Mangkau atau La Tune Sangiang Arung Bettempola MatinroE ri Tancung.

    ……………………………………….

    Atas bantuannya terima kasih.

  81. Pak Edward yth….

    andai sejak semula anda menceriterakan kisah Ammana Pattolawali spt skrg ini, mungkin saya bisa memberi sedikit info sesuai yg saya tahu.

    Begini….

    Masa dimana Tumanrung Baine-Karaeng Bajo hidup adalah sekitar abad XII. sedang yg anda ceritakan sekitar abad XVI-XVII. suatu rentang masa yg sangat jauh berbeda.
    Dahulu kala, UUD kerajaan Gowa, diperkenal oleh utusan khusus kerajaan Gowa. mungkin sekitar bbrp masa stlh itu, datanglah utusan khusus lainnya bernama Karaeng Manggabarani. beliau inilah yg berkunjung kesana Mandar dan membangun tali persaudaraan melalui perkawinan politik. sebelum ke mandar, beliau juga melakukan menikah di daerah bacukiki di pare2 dan ini lah yg kelak menjadi nenek leluhur Datu Suppa di pare. beliau kemudian terus ke Pammana Wajo dna kawin disana lagi. maka lahirlah kawan leluhur kawan saya di pammana yg memakai nama Fam Manggabarani.

    Sejak mandar memiliki UUD, maka mandar resmi berdiri menjadi semacam kerajaan yg dipimpin pertama kali oleh seorang Datu.

    nah kira2 itu saja yg bisa saya sampaikan. secara mendetail bisa anda tanyakan ke keluarga Baharuddin Lopa. sebab wkt pa Baharuddin meninggal, di haruan Fajar, silsilah beliau ditulis begitu lengkap.

    NB: Jangan terlalu dipercaya cerita itu :-)
    itu wilayah kekuasaan Tuhan…..

  82. sory….ada kalimat2 yg sepertinya membingungkan.

    “..beliau kemudian terus ke Pammana Wajo dna kawin disana lagi. maka lahirlah kawan leluhur kawan saya di pammana yg memakai nama Fam”

    Maksud saya, Manggabarani kemudian terus ke Pammana-wajo dan kawin disana. maka lahirlah nenek leluhur fam Manggabarani di Pammana. kebetulan ada kawan saya asal Pammana yg menggunakan nama Fam itu.

  83. wah, impresif pak sulwan dase.. pengetahuan anda luar biasa. Saya sangat senang bisa menjadi rekan diskusi anda. Kalau bisa di milis ini, para peserta bisa mmbahas lebih dalam lagi mengenai seluk-beluk gowa dan sekitarnya..

  84. Bung/Pak Dian Yth…

    Sebenarnya sejarah keluarga anda sangat unik. sepertinya pernikahan keluarganya yg dari Toraya ke Pammana adalah sebuah peristiwa Reuni saja.
    Sebuah pernikahan yg pernah terjadi dijaman To Manurun generasi kedua. Salah satu anak laki2 dari Puang/ Karaeng I Lakipadada yg bernama Petta I La Didi’ menikah dgn Putri Arung Toa Ri Pammana.
    Beberapa waktu kemudian, saudara perempuan beliau yg bernama I Taralolo pergi ke Pammmana. Ini suatu bukti bhw ada kedekatan antara orang Toraya-Pammana-Gowa.
    Nama Bulo’, adalah salah satu nama keluarga besar dari daerah Sa’dan. Hanya perlu difahami bhw sebagian besar keluarga tongkonan di Toraya tdk memiliki silsilah yg lengkap akibat pada masa lalu orang Toraya blm mengenal tulisan. akibatnya, banyak silsilah yg kadang2 saling bertentangan satu sam lain.
    Sbg misal: dulu pernah ada kita dengar istilah “Appa Ka Sulappa’”, yaitu:
    1. Somba Ri Gowa
    2. Payung Ri Luwu
    3. Gaukang Ri Bone
    4. Matasak Ri Toraya.

    Sejauh ini orang berpikir bhw itu hanya istilah atau jargon politik saja. Padahal istilah ini muncul pada generasi ke 5 To Manurun. Istilah ini menggambarkan pertalian saudara antara keempat wilayah tsb. Tapi sayang, tdk ada satupun kelompok 4 wil ini yg benar2 serius utk membangun tali silaturahmi itu lagi.
    Lebih parah lagi, Pammana seolah hilang dalam cerita ini???

    Jadi menyangkut silsilah keluarga anda, minimal anda bisa menguasai 7 generasi diatas anda. sebab diatas generasi itu, banyak keluarga yg hilang akibat Invasi Bone dibawah pimpinan La Tenri Tata (Arung Palakka).

    Mungkin hanya itu yg bisa saya sampaikan. Kalau ada coba datanglah ke Sa’dan dan bertanya ke keluarga Bulo’ disana.

  85. Mengingat diskusi ini semakin jelas arah tujuannya, maka saya sarankan, agar pada diskusi selanjutnya, tiap peserta diskusi konsisten utk tdk mencampur adukkan antara Legenda-Mitos-agama-Aluk dgn Sejarah dan Silsilah.

    Bila kesemua ini dicampus aduk, maka kita akan masuk ke sebuah hutan lebat yg tdk jelas ‘pintu’ keluarnya.

    Hal yg perlu kita pahami bhw, tulisan yg bersumber dari orang2 Belanda selalu sarat dgn kepentingan Politik Kolonial jaman itu. Oleh karena itu, janganlah terlalu cepat mempercayai apa yg tertulis di berbagai lontara yg disimpan di Belanda, sebab pada masa itu, Belanda bisa saja memerintahkan orang2 tertentu dari penduduk lokal untuk membuat versi Belanda dgn imbalan beberapa keping uang perak.

    Belajar dari kenyataan itu, maka orang2 Gowa tdk percaya begitu saja dgn lontara yg tertulis sebelum mengecek kebenarannya. atas dasar itu pula, para ‘turunan’ di Gowa lbh percaya pada apa yg mereka sebut dgn “Lontara Berjalan”.

    Tulisan2 yg dilakukan para peliti pun, sumbernya dari orang2 yg hidup dimasa sekarang. Di beberapa daerah, termasuk di Tana Toraja, banyak terjadi perubahan struktur sosial dan berbagai pemahaman baru setelah peristiwa Invasi Bone.

    Saya kan berikan gambaran real spt ini:

    1. Setelah invasi Bone, hanya beberapa wilayah dan kelompok masyarakat Toraya saja yg masih menggunakan gelar Puang, sedang pemimpin lainnya hanya boleh Parenge saja spt Gelar Puang ri Pantilang dicopot menjadi Parenge. menyusul Buntao, Nonongan, Kesu dan daerah lainnya.

    2. Pertanyaannya adalah, kenapa hanya satu dua wilayah saja yg masih masih bisa bertahan dgn gelarnya sedang wilayah lainnya dicopot? Apakah ada kolaborasi antara Arung Palakka dgn pemimpin di wilayah itu utk menaklukkan wilayah lainnya? Pertanyaan besar ini harus dijawab jika kita benar2 ingin meluruskan sejarah.

    3. Di Gowa kejadian sama telah terjadi. Sejak Sultan Hasanuddin di bunuh, yg memerintah di Gowa yaitu Somba Gowa XX – XXVI sdh bukan asli Gowa lagi. Makanya ketika putra mahkota diusir keluar dari Balla Lompoa bulan November lalu, tdk ada orang Gowa yg keberatan. Lebih parah lagi stlh itu, sejarah Gowa dibuat sesuai versi Belanda dgn para konco2nya.

    4. Intinya: haruslah kita sensitif dan meneliti secara cermat semua tulisan yg ada. Jangan sampai kita meyakini tulisan belanda padahal tulisan itu menyesatkan. Kita perlu melakukan cross-check kesumber2 asli yaitu masyarakat dan kemudian disusun sesuai dgn akal sehat.

  86. Salama’ Sola Nasang…

    Menyimak berbagai komentar yang berawal dari tanggapan atas tulisan Sdr. Ch. Tanduk, dengan lugunya saya sbg orang Toraya yang masih awam mengomentari bahwa semua komentar yang terlontar selalu didasari atas tujuan dan kepentingan pemberi komentar, yang pada akhirnya tidak akan menemukan satu titik temu dan mencapai satu kesepakatan.

    Untuk mendapatkan satu kebenaran yang hakiki tentang satu tinjauan, maka seyogyanya yang terlibat dalam diskusi tersebut meninggalkan segala atribut-atributnya saat membahas satu pokok permasalahan agar tidak mengaburkan inti pokok masalah yang sebenarnya.

    Kusangan Padamoto.

  87. Pak Yulius yth,

    mungkin jauh lebih baik jika bapak memberi komentar agar “kebenaran hakiki” yg anda maksud itu bisa tercapai. setiap orang bisa saja memberi saran, tapi itu tdk akan menyelesaikan masalah. kenapa?

    Karena sangat mudah memberi nasihat dari pada melakukannya…:-)

  88. Salama’ Sola Nasang…

    Sadar atau tidak, bilamana kita masih menjadi bagian dari Budaya Toraja ( Keturunan, lahir dan dibesarkan, atau berdomisili ), maka pada dasarnya kita sudah menjadi pelaku dari apa yang menjadi rentetan budaya Toraja, dari awal hingga akhir.

    Melakukan pengkajian terhadap kebudayaan Toraja sangat rumit, namun dengan kerumitan tersebut janganlah menjadi hambatan dan membuat kita ciut melakukan pengkajian dari waktu ke waktu, karena makna yang kita cari dan masih samar tersebut tidak akan pernah terungkap.

    Mengkaji Budaya Toraja pada prinsipnya bisa dan mungkin ditinjau dari berbagai sisi dan sudut pandang yang berbeda, namun hasil akhirnya jangan dipaksakan untuk bisa diyakini kebenarannya dari sisi dan sudut pandang lain, maksudnya adalah kalau budaya dikaji dan ditinjau dari sisi ekonomi, mungkin saja Budaya Toraja merupakan pemborosan, atau mungkin budaya ditinjau dari sisi dan pandangan Agama Kristen, maka budaya Toraja sebagaian besar ritual-ritualnya akan sangat bertentangan dengan Ajaran Kristen.

    Makna yang hakiki tentang Budaya Toraja, mungkin akan ditrmukan manakala budaya itu tetap dikaji dari sudut pandang Budaya itu sendiri tanpa mengikut sertakan unsur tinjauan lain.

    Aku….mewakili pribadi sendiri, salah satu Generasi Toraja, salut dan angkat Topi terhadap semua Uraian rentetan budaya Toraja yang sudah terpaparkan panjang di milis ini. Namun menurutku kebenaran pemaparan-pemaparan tersebut hanya dibenarkan dari sudut pandang dan tinjauan masing-masing. Belum ditemukan satu kebenaran pemaparan yang benar-benar bisa menjadi representasi makna Budaya Toraja itu sendiri.

    Agiopa to…

  89. Representasi

    Representasi adalah konsep yang mempunyai beberapa pengertian. Ia adalah proses sosial dari ‘representing’. Ia juga produk dari proses sosial ‘representing’. Representasi menunjuk baik pada proses maupun produk dari pemaknaan suatu tanda. Representasi juga bisa berarti proses perubahan konsep-konsep ideologi yang abstrak dalam bentuk-bentuk yang kongkret. Jadi, pandangan-pandangan hidup kita tentang perempuan, anak-anak, atau laki-laki misalnya, akan dengan mudah terlihat dari cara kita memberi hadiah ulang tahun kepada teman-teman kita yang laki-laki, perempuan dan anak-anak. Begitu juga dengan pandangan-pandangan hidup kita terhadap cinta, perang, dal lain-lain akan tampak dari hal-hal yang praktis juga. Representasi adalah konsep yang digunakan dalam proses sosial pemaknaan melalui sistem penandaan yang tersedia: dialog, tulisan, video, film, fotografi, dsb. Secara ringkas, representasi adalah produksi makna melalui bahasa.

    Menurut Stuart Hall (1997), representasi adalah salah satu praktek penting yang memproduksi kebudayaan. Kebudayaan merupakan konsep yang sangat luas, kebudayaan menyangkut ‘pengalaman berbagi’. Seseorang dikatakan berasal dari kebudayaan yang sama jika manusia-manusia yang ada disitu membagi pengalaman yang sama, membagi kode-kode kebudayaan yang sama, berbicara dalam ‘bahasa’ yang sama, dan saling berbagi konsep-konsep yang sama.

    Bahasa adalah medium yang menjadi perantara kita dalam memaknai sesuatu, memproduksi dan mengubah makna. Bahasa mempu melakukan semua ini karena ia beroperasi sebagai sistem representasi. Lewat bahasa (simbol-simbol dan tanda tertulis, lisan, atau gambar) kita mengung-kapkan pikiran, konsep, dan ide-ide kita tentang sesuatu. Makna sesuatu hal sangat tergantung dari cara kita ‘merepresentasikannya’. Dengan mengamati kata-kata yang kita gunakan dan imej-imej yang kita gunakan dalam merepresenta-sikan se-suatu bisa terlihat jelas nilai-nilai yang kita berikan pada se-suatu tersebut.

    Untuk menjelaskan bagaimana representasi makna lewat bahasa bekerja, kita bisa memakai tiga teori representasi yang dipakai sebagai usaha untuk menjawab pertanyaan: darimana suatu makna berasal? Atau bagaimana kita membedakan antara makna yang sebenarnya dari sesuatu atau suatu imej dari sesuatu? Yang pertama adalah pendekatan reflektif. Di sini bahasa berfungsi sebagai cermin, yang merefleksikan makna yang sebenarnya dari segala sesuatu yang ada di dunia. Kedua adalah pendekatan intensional, dimana kita menggunakan bahasa untuk mengkomunikasikan sesuatu sesuai dengan cara pandang kita terhadap sesuatu. Sedangkan yang ketiga adalah pendekatan konstruksionis. Dalam pendekatan ini kita percaya bahwa kita mengkonstruksi makna lewat bahasa yang kita pakai.

    Bagaimana Representasi Menghubungkan Makna dan Bahasa dalam Kebudayaan?

    Menurut Stuart Hall, ada dua proses representasi. Pertama, representasi mental. Yaitu konsep tentang ‘sesuatu’ yang ada di kepala kita masing-masing (peta konseptual). Representasi mental ini masih berbentuk sesuatu yang abstrak. Kedua, ‘bahasa’, yang berperan penting dalam proses konstruksi makna. Konsep abstrak yang ada dalam kepala kita harus diterjemahkan dalam ‘bahasa’ yang lazim, supaya kita dapat menghubungkan konsep dan ide-ide kita tentang sesuatu dengan tanda dan simbol-simbol tertentu.

    Proses pertama memungkinkan kita untuk memaknai dunia dengan mengkonstruksi seperangkat rantai korespondensi antara sesuatu dengan sistem ‘peta konseptual’ kita. Dalam proses kedua, kita mengkonstruksi seperangkat rantai korespondensi antara ‘peta konseptual’ dengan bahasa atau simbol yang berfungsi merepresentasikan konsep-konsep kita tentang sesuatu. Relasi antara ‘sesuatu’, ‘peta konseptual’, dan ‘bahasa/simbol’ adalah jantung dari produksi makna lewat bahasa. Proses yang menghubungkan ketiga elemen ini secara bersama-sama itulah yang kita namakan: representasi.

    Konsep representasi bisa berubah-ubah. Selalu ada pemaknaan baru dan pandangan baru dalam konsep representasi yang sudah pernah ada. Karena makna sendiri juga tidak pernah tetap, ia selalu berada dalam proses negosiasi dan disesuaikan dengan situasi yang baru. Intinya adalah: makna tidak inheren dalam sesuatu di dunia ini, ia selalu dikonstruksikan, diproduksi, lewat proses representasi. Ia adalah hasil dari praktek penandaan. Praktek yang membuat sesuatu hal bermakna sesuatu.

  90. fakta2 dapat kita amati bahwa tiap wilayah tongkonan memiliki budaya yg rekatif spesifik. terdapat perbedaan satu dgn lainya namun secara garis besar, terdapat kesamaan filosofi hidup.
    yang menjadi pemikiran selama ini adalah bhw Toraja tdk memiliki sejarah yg jelas. Menurut defenisi, Sejarah adalah “Segala catatan peristiwa yang terjadi dimasa lalu dalam suatu periode waktu tertentu oleh para pelaku/ tokoh tertentu”.
    Nah….
    Toraja tdk memiliki ini, kecuali pada sekitar abad XVI ketika terjadi peristiwa “Un Tulak Buntunna Bone”, (Perang melawan invasi Bone).

    Mestinya kita fokus membahas hal ini, sebab bila kita membahas masalah budaya, aluk atau adat, kita akan terjebak dalam labirin yg tidak jelas ujung pangkalnya.

  91. Upaya mengadakan kajian terhadap satu kebudayaan, janganlah dipersempit dengan hanya melihat dari satu pandangan bahwa sejarah hanya bisa dengan jelas ditinjau dari tulisan-tulisan atau catatan-catatan peristiwa dalam satu masa atau periode tertentu. Kajian secara Antropologis sangat lebar memberi ruang untuk itu ; bisa dikaji dari peninggalan benda-benda, bahasa, dan sampai pada kebiasaan-kebiasaan dalam komunitas budaya yang sedang dikaji.

    Akan lebih spesifik lagi manakala kita mengadakan kajian budaya dengan menggunakan metode pengkajian sosiologis, dimana budaya atau satu peradaban akan diungkapkan tanpa memberi makna dan nilai. Studi sosiologis adalah satu bidang ilmu yang bebas nilai. Yang akan memberi nilai pada satu hasil kajian tentang satu kasus adalah tergantung dari sudut mana kita melihat hasil kajian tersebut ; contoh kasus pandangan agama akan memberi makna salah atau benar terhadap satu kenyataan budaya.

    Kajian satu kebudayaan akan semakin jelas pula manakala budaya yang menjadi objek, dikaji dengan mengawali tinjauan kasus dari sisi falsafah hidup komunitas budaya itu. Falsafah hidup orang Toraja, sangat jelas yakni mencapai kesempurnaan hidup di dunia dan Puya ; Sundun pangngalukanna tonna tibussan tama lino, sundun pangngalukanna tonna tama rampanan kapa’, sundun pangngalukanna tonna undadian bati’, sia dipasundun pangngalukanna tonna malemo untampe lino.

    Berbicara mengenai aluk Toraya, adalah merupakan tahapan-tahapan yang seharusnya dilalui oleh orang Toraya dari lahir hingga mati. Dan tahapan-tahapan aluk tersebut sudah jelas pula diatur dalam Parandangan Ada’ ( bisa diartikan sebagai Garis-garis Besar Haluan Budaya Toraya).

    kajian seperti inilah yang saya rasa tepat digunakan untuk mengkaji budaya toraja, agar makna yang hakiki tentang budaya Toraya itu sendiri bisa terungkap dan tidak menjadi samar lagi.

    Ko kusanga Pada opa to…….

  92. menurut saya, pembahasan harus dilakukan secara bertahap dan fokus pada point per point.
    maksud saya:

    1. jika hendak membahas sejarah…ya sejarah lah
    2. kalau ingin mwembahas silsilah ya silsilah lah
    3. kalau ingin menbahas adat…ya adat lah
    4. kalau mau bahas budaya ya budayalah
    5. kalau bahas aluk ya aluk lah.

    artinya:
    1. kita harus memahami dulu defenisi masih
    topik bahasan. Tae na di pasikalonak bang.
    2. jangan membahas adat dengan sejarah…
    3. d s t…..

    ko pada mo to

  93. Salama’ Sola Nasang…

    Aku setuju Bro……..
    Masalah awal dari diskusi ini kan diawali dari tanggapan atas tulisan Ch. Tanduk, yang mana membahas “Ketegangan Budaya Nenek Moyang dan Agama dalam Masyarakat Toraja”…nah kan jelas bahwa yang dibahas adalah masalah Budaya Toraja.

    Tinjauan yang digunakan penulis pun Jelas mengarah ke Tinjauan sosiologis, dimana penulis hanya memaparkan kondisi masyarakat Toraja dalam melaksanakan Budayanya sebagai warisan Nenek Moyang serta Mengikuti dan melaksanakan perintah Agama sebagai keyakinan, tanpa memberi Makna Salah atau Benar.

    Perkembangan tanggapan atas tulisan Sdr. Ch. Tanduk, selanjutnya yang melebar hingga pembahasan keluar dari bahasan yang sedang dibahas. Keragaman tanggapan dengan pendekatan masing-masing yang mereka gunakan akhirnya memunculkan perbedaan persepsi yang menurutku tidak perlu terjadi.

    Ada kesan yang saya cermati bahwa masing-masing penaggap merasa benar, dan itu fakta karena merekapun mengkajinya dari pendekatan yang berbeda, sampai -sampai ada pihak yang mengklaim bahwa hanya agama tertentu yang berhasil dan sanggup mentransformasi nilai-nilai asli budaya Toraja ke dalam ajaran dasarnya. Hal ini benar menurut pemahamannya karena diajuga tidak memahami ajaran dasar agama lain selain yang diyakininya.

    Saya memberi Apresiasi kepada Sdr. Ch. Tanduk yang dalam tulisannya dengan lugas memaparkan fenomena Budaya Toraja ini, tanpa berusaha memasukkan Tinjauan Agama yang dia yakini. Hal ini mungkin dilakukan Penulis, karena penulis sadar betul bahwa upaya membedah misteri budaya akan benar-benar memperoleh hasil apabila diungkapkan penulis tanpa intervensi pandangan-pandangan lain.

    Sumbangan pemikiran penulis Sdr. Ch. Tanduk dalam tulisannya akan menjadi Pekerjaan Rumah bagi Tokoh-Tokoh Gereja untuk dapat memila-milah Budaya Toraja yang dapat ditransformasi ke nilai-nilai dan ajaran dasar Gereja. Perlu kita pahami bersama bahwa Budaya tercipta dari hasil pemikiran akal Manusia, yang sekaligus dipahami Gereja sebagai Anugerah yang diberikan kepada Umat manusia, hasil karya dari akal tersebut ( Budaya ) juga mesti dipahami sebagai Anugerah Tuhan kepada manusia yang perlu dipertahankan dan ditumbuhkembangkan.

    Pada opa To

  94. Para pembaca dan komentator yth,
    Maaf seribu maaf, karena sy baru menilik kembali cerita oanjang ini setelah ada sms dari 7 (tujuh) orang yang sy tidak kenal tetapi mengetahui nomor HP kerahasiaan sy. Pasti ada tangan-tangan yang tidak kelihatan yang bekerja dengan super aktif sehingga mampu menemukan sinyal kerahasiaan itu.

    Begitu panjang dan campur aduknya materi yang dibahas dalam milis ini sehingga tidak tersedia waktu yang banyak untuk mengurainya dan mencari kaitannya dengan materi awal mulanya.

    Setelah berbudaya, beragama, bersejarah, bersilsilah, bersosiologi, dan mulai lagi menyerempet materi bahasa, dst-dstnya maka agak sulit menemukan apa yang seharusnya dan yang mau dirumuskan bersama. Ibaratnya, kita berada sebuah pasar tradisional, katakanlah Ps. Terong Makassar, di mana suara-sura lepas banyak berkeliaran tetai tetap harus menyambar pendengar kita.

    Bukan main-main memang hausnya generasi etnis Toraya mencari popularitas diri dan identitas diri. Luar biasa.

    Sebagai manusia biasa tentu kesemua itu harus boleh disyukuri bahwa kesemua itu menandai kita masih hidup dan masih mau hidup lagi.

    Pertanyaan sy, secara umum, kepada semua pembaca dan semua komentator budiman setujukah jika :

    a. Aluk (agama) etnis Toraya kita pilah menjadi tiga tingkatan, yakni Aluk To Dolo, Alukta, dan Aluk To Temo ???

    b. Memungkinkankah kalau para komentator menentukan topik yang akan didiskusikn secara intensif dibatasi waktunya ?? > Misalkan hanya tiga bulan berturut-turut. Setelah itu, masuk ke topik lain.

    c. Sy pribadi memang tidak pernah memakai tulisan atau konsep apapun di dalam diskusi ini. Hanya yang masih tersimpan di bawah otak sadar sy yang sy angkat. Jika para pengirim sms kepada sy menanyakan “buku referensinya” tidak ada. Oleh sebab itu, setujuhkah kalau dibentuk forum diskusi yang intensif tetapi temporer (kontras) untuk menguak kembali sissa-sisa kepakaran lisan orang-orang Toraya tertentu (oral experts) sehingga para sejarawan, sosiologis, antropolis, dan pakar-pakar lainnya dapat menuliskan kesemua itu kembali dengan teratur dan benar ???

    d. Terus terang sy pribadi kurang meyakini para pakar sejarah, sosiologis, antropolis dan pakar lisan ke-Toraya-an sekarang ini. Mereka berupaya mencari popularitas diri, ketenaran diri, kultus pribadi dengan melakukan modifikasi yang tidak tanggung-tanggung tentang kebudayaan Toraya. Kenapa para turis asing tidak lagi menjadikan Toraya sebagai obyek penelitian mereka ?? Karena modifikasi yang berlebihan.

    -=HAL INI HARUS DISADARI BERSAMA=-

    Mari kita membiarkan perkembangan Aluk To Dolo, Alukta, atau Aluk To Temo berkembang secara berdampingan, bukan saling mematikan karena alasan tertentu. Apalagi pengambil alihan lesoan alukna untuk dimodifikasi tanpa tujuan tertentu.

    Kurre sumanga’ buda lako to menaa (moderator) lante kombonganta sola nasang,

    Pasa’ Kalambe’pa tasitammu sule sang mane,

  95. jikalau ingin terjebak lagi dalam labirin diskusi, maka bahaslah aluk….tapi siapa yg akan menentukan kebenaran bahasan ini?

    jika kita bicara sejarah, tentu lbh pasti krn berkaitan dgn nama tokoh-(rentang) waktu kejadian dan dimana hal itu terjadi. dari awal diskusi daya selalu menghindari membahas aluk sebab membahas masalah keyakinan, pembahasannya selalu kontroversial. apalgi aluk di toraya, tdk pernah sama antar satu tp dgn t4 lainnya.

  96. Salama’ Sola Nasang…

    Tabe’,,,,,Agar diskusi lebih terarah, saya sangat setuju dengan adanya pembatasan Masalah. Membahas Aluk tidak masalah asal sebelumnya yang terlibat diskusi ada kesepahaman mengenai definisi Aluk. Secara umum Aluk mencakup atau meliputi ; Lolo Tananan, Lolo Patuan, dan Lolo Tau.

    Pada dasarnya yang menyebabkan adanya perbedaan pelaksanaan Aluk di setiap tempat di Toraya hanyalah sebatas bagaimana orang yang melakukan Aluk mengekpresikan aluk sebagai ritual yang dilakoni agar bermakna bagi komunitasnya, jadi menurutku gak perlu menghindari pembahasan Aluk.

    Anda lahir dan besar hingga sekarang dalam perjalanannya oleh keluarga anda dan anda sendiri telah melaksanakan riatual Aluk, Anda dan keluarga serta kelompok dimana anda berada adalah pelaku Aluk itu sendiri, dan yang perlu kita pahami adalah bahwa Anda dan keluarga dalam perjalanan hingga anda dewasa tidak melakoni Aluk yang sama persis dengan yang saya dan keluarga saya lakoni, kenapa karena tempat, waktu serta pemaknaan akan ritual Aluk yang dilakukan berbeda, kedalaman pemahaman anda dan keluarga anda mungkin lebih dalam dibanding saya dan keluarga memaknai Aluk tersebut. Hal inilah yang seolah-olah membedakan antara Aluk di satu tempat dengan tempat yang lain.

    Saya berharap diskusi akan lebih hidup, saling memberi masukan, saling koreksi tentunya dengan mewacanakan kesepahaman tentang pokok bahasan itu sendiri. Sangat elegan kalau masukan diberikan dengan cara santun, kepala dingin, tidak memaksakan kehendak, sama-sama mau memahami antara pihak yang terlibat dalam diskusi.

    Mudah-mudahan harapan kita bersama untuk mencapai satu kesepahaman tentang topik yang akan dibahas nantinya, hasilnya bisa membawa dampak baik bagi upaya menumbuhkembangkan Budaya Toraya yang sama-sama kita cintai.

    Padamoto dolo.

  97. Para pembaca dan komentator yth,
    Sulwan Dase dan Yulius Riang sahabat sejati di ruanh milis ini.

    1. Pertama-tama sy mohon kita memperkenalkan nama kita yang sesungguhnya. Jangan nama samaran. Nama itu mengandung suatu arti yang luar biasa dalam ossoran dan keluarga besar sang Torayaan. Itu juga sejarah yang sangat panjang alurnya. Saya setuju dengan catatan tidak ada yang harus merasa minder atau low profile karena namanya bernama kandillo atau bete-bete ataukah lendong. Kita sama-sama sudah berada pada jaman modern. Walaupun nanti akan ada yang menggerutu dengan kasus atau hubungan darah daging tertentu.

    2. Sy sangat setujuh pada komentar Bp. Julius Riang. Aluk itu memiliki sejarah panjang dan tidak pernah sama dari waktu ke waktu, tidak pernah persis sama pada setiap wilayah adat, dan tidak akan pernah berakhir pada suatu rumusan dan lessoan yang sama untuk semua wilayah adat. Luar biasa dari segi dan aspek multikulturalisme (sy bukan orangnya, pasti). Tetapi harus diingat, khususnya bagi sejarawan, sosiolog, antropolog, dan hukum adat, bahwa semua ini memiliki segi-segi positif yang dapat menunjang dan mendukung hidup kita ini lebih baik di masa mendatang. Maaf, istilah saya,”berotak sosial tetapi bersaku kapitalisme”. Bagaimana caranya ? Kita kalah dengan Italia, Thayland, Jepang, Mesir, dll padahal daerah kita jauh lebih unggul dari aspek budaya dunia.

    3. Jika sejarah dikatakan lebih konkret, maka yang bersejarah dan yang punya bukti lebih autentik lagi adalah orang atau keluarga yang memelihara aluk yang terpelihara rapi. Di sinilah sy tidak pernah pas dengan idea Bp. Sulwan Dase. Semisal, Bp. Sulwan Dase mengatakan “siapa bilang Landorundun pernah menjadi raja Bone?” Jika tidak percaya silakan buktikan via Prof. Dr. C. Salombe’ (masih hidup), Prof. Dr. Mr. Andi Zainal Abidin, SH (wafat tgl 7 Sept. 2007 tetapi ada dokumennya), dan masih banyak pakar lainnya. tetapi kalau aluk apalagi lesoan aluk diamati dan ditelusuri bisa jadi otak sosial kita ketimbun dengan setumpuk uang setiap saat hanya dari hak-hak tertentu yang mampu diciptakan sendiri.

    4. Sekali lagi sy tetap akan ikut menyumbang saran di dalam milis ini jika ditentukan topiknya. Bukan loncat sana sini. Tetapi kalau sy tidak tahu menahu atau hanya sedikit tahu, maka sy akan pilih diam seribu satu kata. Prinsip sy “lebih baik tahu banyak dari sedikit daripada tahu sedikit dari yang banyak”. Prinsip sy ini sudah tercatat resmi di Leiden dan Tokyo University. Jadi hak patentnya sudah ada.

    5. Bp. Yulius Riang, jika hanya dibatasi pada tiga kategori aluk di atas, maka ada jenis aluk lain (tempo dulu) yang belum terangkat sehingga pasti mendapat protes habis-habisan dari pihak tertentu. Ternyata ada aluk lain.
    Tetapi tidak usah risau. Pasti Bp. jemput istilah itu dari sebaran Gereja Toraja yang dikembangkan bersama kepemimpinan Tallusilolok.

    Akhirnya, tetapi bukan yang terakhir, selamat menentukan topok dan memeriahkan forum ini sehingga saudara kita yang lain dapat serpian ilmu baru.

    Saya, frans bararuallo,

    Padamoto’o, anna demoran sitammu daa Ps Karau’, kurre buda.

  98. Pak Frans….apakah bpk tdk membaca nama saya tertulis jelas di setiap postingan saya? menurut pendapat saya, hampir semua yg menulis disini menggunakan nama asli?

    Bapak mengatakan bhw Landorundun pernah jadi raja Bone? saya punya silsilah raja bone dari yg pertama sampai yg terakhir. Bisakah bpk beritahu saya, raja bone keberapakah beliau?

    menyangkut topik diskusi….
    saya kurang paham mengenai aluk sola pemali. apa yg saya baca dari buku2 terbitan toko sulo maupun yg saya dengar dari berbagai pihak, menyimpulkan bhw:
    1. pemahaman orang ttg aluk sola pemali beragam, tergantung pada daerah dimana masyarakat itu hidup.
    2. saya memahami arti kata aluk sbg sebuah tatanan hidup yg mungkin dapat diartikan sama spt sebuah keyakinan atau agama menurut versi orang Toraya jaman lalu.

    nah karena saya tdk paham benar, serta terlalu banyaknya pemahaman, maka saya tdk begitu tertarik utk membahasnya.

    jadi jikalau pak frans senang diskusi ttg ini, silahkan saja dgn teman2 lainnya. hanya saya minta jangan di campur aduk satu sama lain agar memiliki nilai ilmiah.

    ko pada mo to tu apa lan tangnga’ku.

  99. Yth Pak Frans….

    mohon info pak, apakah rencana melaksanakan konferensi internasional di Rantepao bulan Juli ini jadi dilaksanakan?

    Trus, pelaksananya siapa pak?

    Sulwan Dase – 085242093268

  100. Yth Pak Frans….

    mohon info pak, apakah rencana melaksanakan konferensi internasional di Rantepao bulan Juli ini jadi dilaksanakan?

    Trus, pelaksananya siapa pak?

    Sulwan Dase -

  101. Mohon maaf Pak Sulwan Dase, sy agak terlambat karena berada di daerah sana mengurusi konferensi yang dimaksud.

    Pelaksanaan International Conference On Toraja dilaksanakan bukan bulan Juni tetapi bulan Juli tahun ini, yakni tgl 26 – 30 Juli 2009. Pembukaan tgl 26 Juli di Heritage Hotel dan penutupan tgl 30-Juli sore di Misliana Hotel. Tanggal 31 disambung dengan acara Meraok di Buntao’.

    Pelaksananya adalah LEMBAGA PUTRA TOPITU Jakarta dan UNIVERSITAS KRISTEN TORAYA (UKIT). Tujuannya adalah (a.l) mengukuhkan TORAJALOGY (Keilmuan Toraja) di UKIT Makale sekaligus membentuk ASOSIASI PENELITI TORAJA.

    Peserta, bukan undangan, biayanya pendaftaran Rp. 1.500.000 (di luar akomodasi). Peserta dan presentir dari luar negeri biaya sendiri. Universitas luar yang telah terdaftar pesertanya ada 15 (lima belas). Di luar peneliti tetap seperti Prof. Dr. Waterson dari NUS dan Prof Dr. Katlheen Adams, Loyola University, Chicago, dan wakil Tokyo University (ada tiga orang), dll. Ada 20 (dua puluh) kusri sudah dipesan khusus oleh Pemda dan UKIT Makale.

    Kapasitas ruang seminar hanya 80 (delapan puluh) orang untuk sistem table setting and phone-notes. Lainnya sistem kursi duduk (single set). Kesiapannya, semuanya tanggungan Heritage Hotel and Misliana Hotel.

    Bahasa yang digunakan adalah bahasa Inggris, namun dalam keadaan tertentu, boleh bahasa sendiri (Indonesia).

    “Konferensi ini murni bernapaskan ilmiah dan tidak bermuatan politik”

    Info selanjutnya, sabar dan boleh bertanya langsung via email ini.

    Kurre,
    frans bararuallo

  102. Mohon maaf Pak Sulwan Dase, sy agak terlambat karena berada di daerah sana mengurusi konferensi yang dimaksud.

    Pelaksanaan International Conference On Toraja dilaksanakan bukan bulan Juni tetapi bulan Juli tahun ini, yakni tgl 26 – 30 Juli 2009. Pembukaan tgl 26 Juli di Heritage Hotel dan penutupan tgl 30-Juli sore di Misliana Hotel. Tanggal 31 disambung dengan acara Meraok di Buntao’.

    Pelaksananya adalah LEMBAGA PUTRA TOPITU Jakarta dan UNIVERSITAS KRISTEN TORAYA (UKIT). Tujuannya adalah (a.l) mengukuhkan TORAJALOGY (Keilmuan Toraja) di UKIT Makale sekaligus membentuk ASOSIASI PENELITI TORAJA.

    Peserta, bukan undangan, biayanya pendaftaran Rp. 1.500.000 (di luar akomodasi). Peserta dan presentir dari luar negeri biaya sendiri. Universitas luar yang telah terdaftar pesertanya ada 15 (lima belas). Di luar peneliti tetap seperti Prof. Dr. Waterson dari NUS dan Prof Dr. Katlheen Adams, Loyola University, Chicago, dan wakil Tokyo University (ada tiga orang), dll. Ada 20 (dua puluh) kusri sudah dipesan khusus oleh Pemda dan UKIT Makale.

    Kapasitas ruang seminar hanya 80 (delapan puluh) orang untuk sistem table setting and phone-notes. Lainnya sistem kursi duduk (single set). Kesiapannya, semuanya tanggungan Heritage Hotel and Misliana Hotel.

    Bahasa yang digunakan adalah bahasa Inggris, namun dalam keadaan tertentu, boleh bahasa sendiri (Indonesia).

    “Konferensi ini murni bernapaskan ilmiah dan tidak bermuatan politik”

    Info selanjutnya, sabar dan boleh bertanya langsung via milis ini.

    Kurre,
    frans bararuallo

  103. Terima kasih info nya Pak Frans…

    Tuhan berkati selalu

    Sulwan Dase – Makassar

  104. Tabe’ lako to di Poindok sia di poambekna sia mintu tu keluarga sangTorayan

    Perkenankan saya untuk memperkenalkan diri : Nama saya Chairuddin Tandipayuk Tempat lahir: Batualu.

    Maaf sebelumnya karena pengetahuan saya tentang Budaya dan sejarah masih awam, hanya sebatas dari cerita-cerita orang tua yang secara ilmiah belum dapat diterima sebagai tolok ukur.
    Dari beberapa cerita keluarga yang saya dapatkan, menyebutkan bahwa bapak saya adalah: Keturunan dari pihak Kakek berasal dari Sombolinggi di to’ Katapi, dan dari nenek Bapak saya dari Marrung di Biang Palipu’ (Kandora). Dari Ibu (Kakek) Ibu Saya Turunan dari Tandipayuk dari Sangalla dan Nenek Turunan Belo dari Tabi.
    saya kurang paham mengenai aluk Todolo. apa yg saya baca dari buku2 maupun yg saya dengar dari berbagai pihak, menyimpulkan bhw:
    .A. Pemahaman orang ttg aluk Todolo beragam, tergantung pada daerah dimana masyarakat itu hidup.
    B. Saya memahami makna kata aluk sbg sebuah tatanan hidup yg mungkin dapat diartikan sama seperti sebuah keyakinan atau agama menurut versi orang Toraja jaman dulu.

    Saya mengharap kepada seluruh pihak baik itu lembaga pormal atau inpormal jika mau menggali Budaya dan Sejarah Toraja agar benar2 independen tanpa dicampuri atau keinginan menonjolkan, agama, golongan atau kelompok adat tertentu untuk melestarikan budaya dan sejarah Toraja yang sebenarnya. Demi exisnya Budaya dan Sejarah Toraja di kanca Nasional maupun Internasional.

    Saya bangga dilahirkan dari suku Toraja.

    Saya ucapkan terimakasih kepada penyelenggara Milis ini semoga Tuhan memberkati.

    Den upa’ tapada salama’ jio liu padangna tau

    Kurre sumanga lako mintu to sang Torayan

  105. saya bukan orang kristen atau katolik, saya juga bukan orang toraja. ketika saya membaca tulisan ini beserta komentar-komntarnya, wawasan saya tentang toraja sedikit banyak menjadi lebih bertambah.
    dari yang saya baca disini, gejala-gejala seperti yang terjadi di toraja seperti yang tertulis di atas merupakan hal yang umum, agama datang berbenturan dengan tradisi, di tambah lagi dengan arus modernisasi seperti contoh di jawa, sumatera dsb. saya kira tidak hanya dalam dunia adat, di dalam agama pun terjadi perubahan seiring waktu dan jaman, agama apapun itu.

    • itu adalah konsekuensi dalam menghadapi perubahan zaman dan berbagai efeknya, seperti budaya baru. Agama pun demikian, jika memang kita meyakini kebenarannya sebagai nilai yang universal, maka salah satu bukti keuniversalannya itu adalah dengan fleksibilitas yang dimilikinya. Terima kasih.

  106. Pak Sulwan Dase dan Sang Torayaan yth,
    Sy merasa komentar kedua rekan baru di atas ini perlu ditempatkan pada ruang yang pas sehingga kita harus mau menyadai bahwa :

    a. Agama (aluk) di Toraja sudah bergeser secara evolusioner tanpa disadari pada awlany. Jadi guyonan sy tentang ada”aluk To Dolo, ada Alukta, dan ada Aluk Totemo” harus kita berani mengakui kebenarannya.

    b. Sejarah yang ada, yang nota bene, adalah simpang siur informasinya juga harus mengalami pengakuan. Sentilan sy di dalam milis ini,” … sy tidak begitu percaya pada sejarawan muda (mohon maaf)” kaena masih bersikukuh dengan alur lama tanpa menyadari apa yang telah berubah dengan sendirinya. Kita bicara tentang kebangsawan tempo dulu itu boleh-boleh saja. Namun anak muda sekarang dan generasi yang belum lahir tidak bakal mau dipaksa menerima kebangsawanan seperti itu. Apalagi, kata orang, Lakipadada adalah sebuah legenda. Bahkan ada yang mencurigai Lakipadada adalah anggota Kerajaan Majapahit (abad-13) yang mengembara lalu terdampar di Sulsel (baca silsilah wilayah selatan Gowa).

    3. Perubahan memang harus terjadi. Tantangan ini harus mau dihadapi dengan kepala dingin. Ketika seminar Krisis Budaya Toraja diselenggarakan di Atmajaya Jakarta, banyak yang menuding sy sebagai profokator krisis tersebut, yakni antara tradisi dan modenitas. Namun sy tetap bersikukuh bahwa hal itu ada dan terjadi. Dobrakan kedua yang sy lakukan dengan sesama dosen Atmajaya dan kawan yang lain adalah International Conference On Toraja yang melibatkan dunia internasional. Program yang ketiga adalah melaksanakan seminar rangkuman dari kedua event di atas (Pa’panattak).

    4. Sesama Toraya dan sebangsa Indonesia yth,
    Memang kesalahan yang kita pelihara selama ini adalah mengaggap agam itu adalah ukuran pas. Tidak boleh ada yang dibolehkan berubah. Padahal ada faktoe lain yang ikut menentukan pola pandang kita. Misalnya kemajuan ilmu dan tehnologi. Akhirnya kita mau mencoba dan bahkan seriua mengatakan bahwa agamakulah yang paling benar dan terberkati. Aduhai, semoga semua bisa terjadi dan berjalan sebagaimana mestinya.

    Terima kasih, wasslaman.

    frsn bararuallo

  107. Pak Frans yth…

    sebenarnya yg terjadi di diskusi ini adalah ketidak konsistenan. bapak terlalu sering mencampur aduk antara sejarah dgn aluk, kemudian lompat ke pandangan filosofi atau theologi keagamaan menurut keyakinan bpk.

    Yg menggelikan hati saya ketika pada suatu wkt pak frans mengatakan bhw Nonongan itu berasal dari kata Nono’ dan Ongan. Nono’ artinya serangga dan Ongan adalah semacam pohon. Jadi bapak yg mengaku sebagai orang Nonongan dapat diartikan bhw pak frans adalah semacam “Serangga diatas pohon” hahahaha…

    saya pernah mengusulkan begini:
    1. jika topik diskusi mengenai Aluk (agama/keyakinan), maka konsistenlah membahas dalam koridor itu.
    2. Jika yg kita cerita adalah sejarah, maka konsistenlah bicara sejarah. jangan dicampur aduk.

    Selain itu, memahami sejarah di sulsel, harus dilihat dari: filsafat hidup tiap kelompok masyarakat di sulsel serta Pandangan hidup mereka. Filsafat hidup ini selalu berubah dari waktu ke waktu sesuai dgn situasi yg terjadi di masa lalu.

    Sebagai contoh:

    Sejak Goa jatuh ke Belanda dan sekutunya, banyak tokoh2 kerajaan langsung “menyamarkan” nama dan latar belakang mereka demi alasan keamanan keluarga. dalam situasi spt ini, tata nilai yg berkembang dalam keluarga mereka tentu akan berubah.

    Hal2 ini tentu saja tdk diamati para peneliti barat yg bukunya pak frans selalu kutip. Coba pendapat [ara sarjana barat ini di konfrontir dgn budaya2 lokal di sulsel,pasti orang sulsel bingun, kecuali orang nonongan mungkin meng-iyakan saja?

    Jujur saya katakan bhw saya sbg orang Toraja yg berasal dari Tallu Lembang na merasa aneh dgn semua penjelasan pak frans, sebab tdk pernah ada hal2 spt yg dijelaskna. kawan2 saya dari nonongan spt pak Arny Lande, Pak Genggong Lebang pak Daniel Tulak dll tdk pernah menjelaskan masalah aluk spt yg pak frans kemukakan. makanya saya dari awal selalu tdk mengubris jika yg dicerita adalah masalah aluk sebab, tiap daerah memiliki aluk berbeda pula.

  108. Salama’

    Buat Sdr. Sulwan Dase, Tongkonan Nonongan itu letaknya di desa Kanuruan tepatnya di kaki Gunung Sopai, kalau kampung nonongan kampung teman-teman Pak Sulwan ; disitu ada 3 tongkonan yaitu Tongkonan Tere, Tongkonan Rura dan Tongkonan Siguntu’,,,,hal ini saya bisa jelaskan karena sayapun tahu dan kakek buyut saya ada yang berasal dari salah satu tongkonan tersebut…

    Kurre Sumanga’

  109. Pak Sulwan Dase,
    Sy tidak pernah mengatakan begini, .. Nono’ artinya serangga dan Ongan adalah semacam pohon”. Yang sy katakan adalah, “… nonok = makluk (hidup) dan ongan = tempat barnaung”. Lalu sy sarankan tanda kurung pada kata hidup jangan dibuka, ternyata sdr membukanya. Maka artinya pun anda salah kaprahkan.

    Pak Sulwan Dase, terjadinya loncatan penaksiran di dalam milis ini karena dari awalnya anda belokkan ke sejarah sehingga “bubur ide” itu makin lama makin terbaur sehingga sulit ditangkap maksudnya. Ketika anda asyik berdiskusi dengan sdr. laurent_m tidak banyak yang berkomentar. Tetapi ‘ ‘ ‘ awalnya memang aluk, dalam arti kebudayaan, yang diangkat oleh sdr Tanduk. Bukan sejarah. Dan ternyata mulai kerasa anda kehabisan bahan, walaupun bahan tentang sejarah Sulsel masih menunggu untuk disempurnakan.

    Sdr. Yulis Riang,
    Tongkonan Nonongan itu tidak berada di bawah kaki Gunung Sopai. Masih dibatasi oleh Kampung/Dusun Irri.

    Pertanyaan sy kepada seluruh peserta forum diskusi ini, terutama kepada sdr Sulwan Dase :

    a. Kenapa kita, terutama orang Toraja, selalu menganggap nenek moyang kita itu turun di Rura Bamba Puang dari atas dunia gaib (konsep tomanurun)? Bukankah itu menandai kedatangan manusia perahu yang nota bene sebagai manusia newtromalayu ? Lalu nenek moyang asli orang Toraja siapa ? apakah itu yang disebut negrito atau turunan astronesia yang menurut para pakar sejarah, antropolog, dan arkeolog asalnya dari Taiwan ?

    b. Mengapa di forum ini tidak terjadi interaksi aktif yang menjurus ke pembenahan masa depan orang Toraja ?

    c. Pak Sulwan Dase, apakah sdr percaya adanya Tomanurun Tamboro Langi’ ? Dan seperti pengakuan anda, orang Tallulembangna, apa arti basse kakanna, basse tangngana, dan basse adinna ? Kata Tallulembangna beradal dari mana pada awal mulanya ? Selanjutnya, apa arti basten ? Kenapa harus demikian ? Ini semua adalah murni sejarah Tallulembangna. Mungkin ada baiknya diperjelas agar masyarakat Toraja mengerti apa arti Tana Toraja dan arti Toraya.

    d. Pak Sulwan Dase, anda begitu cinta pada sejaah, apalagi sejarah Gowa padahal anda mengaku orang Tallulembangna. Mungkin boleh dijelaskan kepada kami arti sesungguhnya dari “tallupotcoE, appa’ pada-pada”. Biarlah masyarakat Sulsel memahami makna sejarahnya.

    e. Kalau masalah aluk yang dipersoalkan Pak Pak Sulwan Dase rumusan=rumusan yang sy angkat di sini ketika sy masih kecil sy peroleh dari tomenaa Ne’ Silamba’, Ne’ Banne Borong, Ne’ Gandang Palo’lian, Ne’ Mika, Ne’ Karre, Puang Laso’ Gau’ Lembang, dan Ne’ Renda Sarungallo. Pastikan bahwa kawan-kawanmu di atas mengenal baik nama-nama ini.

    Mari kita ramaikan diskusi ini agar generasi muda dapat mengetahui ossorannya (ossoran = silsilah).

    Buntu Kandora, Marinding
    frs

  110. Yth. Keluarga serumpun (SangTorayan)
    saya sangat berterimakasih dengan adanya forum ini karena dapat menambah wawasan tentang sejarah dan budaya Toraja.
    saya mengharap para sejarawan dan budayawan untuk dapat menggali sejarah dan budaya Toraja ini dengan sejur-jujurnya dan disertai dengan keikhlasan baru bisa didapatkan sejarah dan budaya yang diterima oleh orang banyak.
    Kenapa saya katakan demikian karena kapan kita memaparkan sejarah dan budaya itu dengan dilandasi oleh golongan , etnis dan agama saya yakin kita tidak akan pernah menemukan sejarah dan budaya yang otentik.
    Haparapan saya kedepan ada seorang sejarawan yang muncul dengan karyanya yang dapat diterima baik di Toraja khususnya dan Sulawesi Selatan pada umumnya.
    Terimakasih kepada penyelenggara forum debat di milis ini untuk mencari kebenaran bukan untuk pembenaran.
    Saya mohon maaf kepada yang membaca tulisan saya ini ada kata2 yang kurang bekenan atau menyinggung perasaan saudara sekali lagi saya mohon maaf.

    Kurre sumanga’

  111. Salama’ Solanasang

    Bahasa-bahasan yang sangat beragam serta tidak fokus pada satu pokok bahasan yang tanpa batasan-batasan pada akhirnya akan menghasilkan kesimpulan yang tidak jelas.

    Upaya yang saya tawarkan untuk mengarahkan agar diskusi kita fokus membahas satu topik budaya atau aluk Toraya dengan batasan Manusia dan Sumberdaya Alam.
    Dalam berhubungan dengan sumberdaya alam (oto’na katuoan), manusia Toraya dalam bermasyarakat dibekali aturan yang dinamakan Aluk Tallu Lolona. Filosofi Tallu Lolona, menggambarkan bahwa di bumi terdapat tiga unsur kehidupan yang tumbuh dan berkembang, dan saling menghidupi. Ketiga unsur tersebut adalah:
    1. Lolo Tau (manusia),
    2. Lolo Patuoan (hewan) dan
    3. Lolo Tananan (tumbuhan)
    Ketiga unsur kehidupan yang saling berinteraksi ini akan dilihat keterkaitannya satu dengan yang lain, manakala kita memfokuskan diskusi hanya pada tiga unsur ini.

    Tawaran bahasan ini saya coba ungkapkan, dengan harapan kita mungkin lebih baik membahas aluk dan kebudayaan Toraya ; yang membahas bagaimana orang Toraya kedepannya bisa hidup berdampingan dengan suku-suku lain, bagaimana orang Toraya bisa dikenal orang lain dari keunikan Aluk dan Budayanya, serta bagaimana orang Toraya memahami dan memaknai Aluk dan Budayanya sehingga bisa bertahan dan tidak habis tergusur oleh budaya-budaya Moderen.

    Padamo dolo to, lako sangsiulurangku ko pada patamaimi ke pa’tangngaranmi .

    Kurre

  112. Oh . . . umbai melomo kema’dokko meloki’ anda ma’tangga’ kalando sola nasang. Apa den misa’ kada pa’pakilalanna kayu kalandona tondok Toraya tunakua,” … andik lalo ammi lelleng kayu tu tuo dio la’pekna sola pollo’na banua, saba’ nasongkai manii tu banua sola barung bai”.

    Tabe’ lako sang siuluran sang Torayaan,

    ** la’pek banuanna Toraya ada dua, sebelah Timur dan sebelah Barat. Sisi sebelah Timur menandai kelahiran seorang pria dan tempat untuk menyelenggarakan ritual aluk rampe matallo, sedang sisi sebelah Barat menandai kelahiran seorang perempuan dan tempat menyelenggarakan ritual aluk rampe matampu’. Keduanya boleh dikata dijalani seimbang oleh setiap umat manusia.

    ** Bk. Yulius Riang
    ** Kayu yang tumbuh di pollo’ banua menandai tempat pa’nasuanna bai. Ada indikasi (aluk to dolo) tempat para hamba (tomatira’na tondok) ma’dokko.

    ** Lalu bagian Utara menandai apa ? Sang Torayaan yang sy hormati. Secara umum, di bagian Utara Banuanna Toraya mengandung banyak sekali hal-hal yang sekarang ini sudah tidak dapat kita urai secara benar dan tepat. Di sanalah para tetua, tomenaa, dan ambe’-ambe’ tondok berperan mengurai dan menularkan sejarah/ossoran, aluk, dan kebiasaan-kebiasaan yang terpelihara dengan rapi (kebudayaan).

    ** Bp. Yulius Riang dan Tandipayuk yth,
    Seang sekali membaca ide anda berdua. Tepat dan terfokus dengan situasi yang sedang dialami masyarakat kita di Toraja saat ini. International Conference On Toraja in the-end of July 2009 mencanangkan salah satu fokus bahasannya dengan sistem ekonomi tongkonan pada usul Bp. Yulius Riang. Namun hal itu baru pada tingkat awal pembahasan. Belum menditail. Hanya saja untuk :
    a. Lolo Tau (manusia) atau sdm, sangat memprihatinkan. Tidak banyak para pakar Toraja, bahkan putera daerah sendiri yang mau berbicara tentang kualitas orang Toraja saat ini. Untuk itu Prof. Dr. T. R. Andilolo (satu jam) akan menutup konfrensi tsb dengan sebuah usulan ilmiah untuk membentuk asosiasi peneliti Toraja. Sy setujuh banget ini karena dalam forum itulah akan terbaca kepakaran seseorang (expert) dan wawasannya.
    Bp. Yulius Riang, aduhai … tamatan anak didik Toraja saat ini. Sangat memprihatinkan kualitasnya. Sy pribadi tidak mampu mengatakan apapun tentang mereka. Sebuah hasil modernitas yang konyol (kalau boleh sy sebut demikian). Murid SD dibekali HP, murid SMP/SMA berpacu mamulle bai, gurunya tamatan dari mana ya …. ??? Jadi Lolo Tau : tidak terbentuk, dalam arti manusia muda yang boleh diunggulkan. Sy selalu ingat bagaimna kakek sy bercerita tentan SMEP Rantepao tempo dulu (1950-1960-an), bagaimana SMA Katolik Makale tahun 1970-an, bagaimana putra-putri Toraja di UNHAS , GAMA, UI dan uniersitas lain pada pengujung 1970-an dan awal 1980-an. Saat ini mereka jagoa-jagonya nasional, bahkan internasional.
    Mari kita rumuskan kembali Lolo Tau ini dengan membenahi sistem dan kurikulum sekolah-sekolah di Toraja. Tetapi … jangan lupa guru-gurunya, ahahaaa…. !!!
    Jangan dipacu menjadi PNS tetapi wirausahawan. Setuju ???

    b. Bp. Yulius Riang dan sesama orang Toraja yth,
    Berbicara tentang Lolo Tananan (tumbuhan), sy juga ikut prihatin. Bagaimana tidak sayur yang dijual di pasar-pasar Toraja adalah sayur dari Kalosi dan sekitarnya. Ikan-ikanan pun sama halnya. Kalau bukan dari Palopo ya dari Pindrang dan Pare-Pare. Jadi mendrekmi jo Patta ri Pindrang dan Wajo ma’parenta di Tondok Lepongan Bulan (soory). Kayu-kayu bahan bangunan rumah didatangkan dari Palopo, Kalimantan, dan bahkan Irian. Petung (pattung) dan bambu (tallang), parrin, aok, bulo dst …dst mati dengan sendirinya karena semua atap bagunan dari atap seng yang tidak dicat. Jadi sangat berpotensi memantulkan sinar matahari untuk menerobos lapisan oson. Hati-hati O3 dan Tana Toraja menjadi wilayah yang panas.
    Jadi uang kiriman dari tempat lain hanya numpang lewat. Yang menikmatinya adalah sdr kita dari Palopo, dari Kalimantan, dari Irian dll. Lalu Toraja jadi apa ??? Beras habis … minta ke Mangkutna/Palopo atau Pindrang. Hebaaat sekali kampun kite ini … !
    Siap menjadi masyarakat yang tidak mampu berbuat apa-apa. Quo Vadis SDM kita ???

    c. Lolo Patuan, ya benar patuan, ya benar tedong-bai-manuk-dll.
    Kalu butuh tedong beli di Kendari, Wera (Sumbawa), Kalimantan, dst … dst. Apa-apaan ini ? Mahal dong ? Ya memang mahal,”mungkinkah ini bisa dirubah secepatnya”? Siapa yang harus merubahnya, ya Pak Yulius Riang dan saya dan kita semua. Kapan boleh dimulai ????
    sekarang butuh bai, beli ke alosi. Ini hal yang aneh. Kebnyak orang kali itu muslim, tetapi bertetangga dengan orang Toraja. Mereka lebih cerdas, so pasti. Business minded mereka terbentuk dari bawah. Mereka tidak suka berpolitik dan menjadi PNS. Mereka lebih suka berwiraswasta. “Ali bae’ku mane”, . . . . ini dia sebuah contoh konkret.

    Bp Yulius dan Tandipayuk yang baik.
    Sy memang sudah lama melakukan penelitian tentang (1985-2003) aliran uang masuk (cash inflows) dan aliran uang keluar (cash outflows) di Tana Moyang kita tercinta, Tana Toraja dan hubungannye dengan gengsi dan implementasi aluk di atas muka bumi Tana Toraja.
    Hasilnya sangat menyedihkan. Uang hanya numpang lewat. Wujud akhirnya, hanya bayar utang kayu, hutang babi, hutang tedong untuk aluk to dolo dalam bentuk rampanan kapak, kamatean, dan mangrara banua. Korelasinya di atas 60% pada taraf nyata 5% dan taraf nyata kurang dari 5% untuk N adalah 125 (events) untuk 2-tailled.
    Tingkat kemalasan orang Toraja sudah berada di atas 80% dengan andalan uang kiriman dari anak atau siulu’ yang merantau. Malas bertani, malas beternak, malas menanam kayu, bahkan menginginkan memasak dengan “gas”. Setiap minggu menjelang tanggal gajian rata-rata 3x sehari menghubungi anak atau siulu’ meminta bantuan tunai. Dan masih banyak ….. hal-hal lain yang dapat dilihat dari petunjuk hasil penelitian ini.

    Akhirnya, sy berkesimpulan sementara, bahwa harus ada keberanian mengembalikan tampuk kepemimpinan ke pangkuan Tomakaka seperti tempo dulu. Tongkonan menjadi pusat sistem aluk dan sistem pemerintahan. Artinya kepemimpinan berbasis “Tallusilolok” untuk mendukung usulan Bp. Yulius Riang. Namun, … aluk dan adat harus ditata kembali sehingga orang baru mati langsung membentang kain merah di depan rumah tanpa menelusuri basse-bassena Toraya. Ini ada konsekuansi aluk dan adatnya.

    tetapi … ini ‘kan jaman moden. Hampir tidak ada lagi manusia Toraja yang mau memahami hal itu.

    Lalu … “hal itu sy tidak tahu atau sy tidak mau tahu. Kami juga ‘kan manusia seperti anda. Kami sudah lebih kaya daripada Puang, Parengnge’, atau Tomakaka. Kami sudah sarani. Ini jaman modern”. Ucapan semacam ini menjadi tangkalannya.

    Menurut sy, semua itu boleh dibenarkan. Tetapi sistem jangan dirusak. Dampak negatifnya berkepanjangan untuk berpuluh-puluh generasi. Cobalah tanya kepada para pendahulu kita. Sehak 1947, rambu solo’ mulai berubah versinya, yakni ketika istri Puang Maramba’ dipestakan. Perubahan kedua terjadi ketika peranan Gereja Sending mulai menonjol. Menentang pantunuan dan pa’pesungan. Giliran pasar Pasa’) dirubah. Tidak boleh ada hari pasar pada hari minggu. Cilaka benar-benaarrrrrrr. Padahal pasa’ merupakan sebuah ukuran sukaran alukna Toraya.

    Setelah para pendeta sadar, mulai nama sending dirubah menjadi Gereja Toraja. Lalu … ya telanur merusak tatanan masyarakat dan sistem kekeluargaan, sistem kekerabatan, sistem pendidikan. Hasilnya, hambruk seperti sekarang ini.

    Gereja Katolik bagaimana ? “Wait and see”, dasar para pastornya belajar filsafat minimal 14 (empat belas) tahun. Itu pasti karena ajaran. tetapi … juga merusak ajaran inti gereja. Dekade 1970-an praktis gereja Katolik merangkul pantunuan. Boleh mantunu tetapi dibatasi kurbannya. Apa yang terjadi, masyarakat Toraja mulai mengintip ajaran ini, terutama para bangsawan. Wah, … curang dong. Tidak, hanya penyesuaian, katanya.

    Lalu aluk to dolo bagaimana sekarang ? Kelihatannya mulai menyatu dengan semua ajaran yang datang belakangan. Gereja Toraja, gereja Katolik, Ajaran Islam, dan ajaran lainnya mulai membaurkan diri. Tetapi kesan lama tetap membara.

    Siapa yang salah ? Kita semua, pasti.

    Jadi mari ramai-ramai mengakui kesalahan dan bukan dosa (doa Bapa Kami) dengan ikut mengambil peran sekecil apa pun untuk sistem ekonomi tallu lolona dan kepemimpinan tallu silolok. Silakan ….. sang siuluran, sang Torayaan.

    Umbai padamo too dolo, bulan karuapa tamale sitambu sule. Podo anta pada masakke sola nasang.

    frans bararuallo

  113. Yth. Bpk Frans Bararuallo.
    Saya sangat sependapat dengan uraian Bpk di atas. Bahwa sekarang ini budaya Toraja udah mulai terkikis dengan budaya modernisasi bahkan bisa dibilang sudah hampir punah maaf. Kalau aluk todolo yang saya dengan cerita dari almarhum Bapak saya baik dan bisa dilang sempurna pengamalannya seperti sisipak ia to todolota, sikarongkok,sikamalik, siangkaran dll. Juga org tua dulu takut melanggar adat ( pemali ) kalau kita sekarang yang dibilang sudah modern notabennya sudah beragama baik Katholik, Protestan, Islam dll. Coba bandingkan dengan perilaku orang tua dulu dengan perilaku kita sekarang ini yang sudah katanya modern dan beragama mana yang lebih baik tatanan perilaku dan bermasyarakatnya jujur kita harus mengakui bahwa perilaku orang tua kita dahulu jauh lebih baik dibanding sekarang. Jadi kalau mau kembali ke jatidiri budaya toraja itu sendiri harus dipisahkan antara budaya baik itu aluk todolo dengan agama. karena kalau agama dibawa ke rana budaya dan aluk todolo hasilnya inilah yang kita alami sekarang. Menurut pribadi saya bahwa agama (keyakinan ) adalah hak individu. Jadi saya harap kepada para ahli sejarah dan budayawan Toraja untuk mengkaji kembali sejarah dan budaya kita ini agar bisa kembali ke aslinya demi exisnya budaya Toraja di kanca Nasiaonal maupun Internasional.. Untuk bisa terealisali harapan Pak Frans Bararuallo dan harapan semua Orang Toraja, Saya mengusulkan kepada Bpk.Bupati Toraja dan Bupati Toraja Utara berwawasan kedepan, dalam hal ini merekrut anak Toraja yang begitu banyak ahli dalam segala bidang keilmuan untuk kembali membangun Toraja. Saya masih optimis Toraja akan exis jika Pejabat dan Tokoh2 masyarakat baik yang berdomisili di Toraja maupun yang ada di rantaun untuk berkumpul bermusyawarah dan bermupakat demi mencari solusi jalan keluar yang terbaik untuk Toraja yang akan datang.
    Wadah sudah dibentuk tahun lalu yakni Toraja Mamalik Saya teringat ada kata2 bijak yang sering disampaikan orang tua kita. Apa nakua tu tomatuanta, e pia massikolah tongan kumi denna’ upa’ mimanarang ammi sule umpemeloi kampongta.
    Mohon maaf jika dalam tulisan saya ini kurang baik susunan kata2nya harap maklum saya ini bukan seorang penulis.

    Kurre

  114. Salama’ Solanasang,

    Sangsiuluranku lan milis indete, kita perlu pahami bersama bahwa Ada’ sola Aluk Toraya selama manusia Toraya dan masyarakatnya masih ada tidak akan pernah berhenti membesarkan dan menumbuhkan Budaya Toraya, jadi bisa diartikan bahwa Budaya tidak Statis.

    Dari dulu hingga sekarang kalau kita mau mencermati Budaya Toraya, yakinlah bahwa Budata To Dolo dan Budaya Tetemo seperti ungkapan Bp. Frans, adalah merupakan rentetan budaya yang dilakoni satu generasi hingga generasi Toraya sekarang, makna atau pemaknaan budaya di tiap kurun waktu tersebut pasti berbeda, dan perbedaak memaknai budaya itulah yang merupakan satu dari sekian banyak bukti bahwa Ada’ sola Aluk tidak bernah berhenti untuk tumbuh dan berkembang mengikuti masa dimana komunitas yang melakoninya hidup.

    Sangsiuluranku, tidak ada salahnya kalau kita menempatkan dua orientasi pandangan yang turut andil dalam berubahnya banyak makna dalam Ada’ sola Aluk Toraya dari satu masa hingga masa sekarang. Orientasi pandangan yang dimaksud adalah :

    a. Orentasi Pandangan Individual ( Ego )
    b. Orientasi pandangan Sosial.

    Bilamana kita menilik pelakonan Ada’ sola Aluk Toraya yang dilakoni todolo ( nenek moyang kita ), mereka dalam melakoni ada’ sola Aluk ; dalam kaitannya dengan Lolo Tau, Lolo Patuan, dan Lolo Tananan, cenderung dan selalu menekankan dari sisi orientasi pandangan sosial.

    Sebagai contoh dilihat dari Aluk Lolo Tau ; To dolo menggambarkan kehidupan Manusia Toraya dalam masyarakatnya mengenal sistem kemasyarakatan ; To Parengge’, To Makaka, To Buda, sia To Matira’na Tondok. Tatanan kemasyarakatan ini tentunya saling mendukung satu dengan yang lainnya, karena mereka mempunyai tugas dan tanggungjawab yang berbeda.

    Contoh dari Aluk Lolo Tatanan ; To Dolo dalam memperlakukan dan memfungsikan Tumbuh-tumbuhan untuk mendukung kehidupannya, cenderung dan selalu menekankan dari sisi kepentingan To Buda ( Sosial ). Dalam hal kepemilikan misalnya dikenal Pattung, Tallang Tongkonan dan sebagainya.

    Contoh dari Aluk Lolo Patuan ; To Dolo dalam memperlakukan Mahluk peliharaan pun cenderung dan selalu menitikberatkan dari sisi sosial. Dahulu masih dikenal satu kerbau yang dimiliki lebih dari satu pemilik ( Tedong passese ).

    Demikian inilah pelakonan Ada’ sola Aluk yang dilakoni dengan menekankan dari sisi orientasi pandangan Sosial ; yang pada akhirnya memperlihatkan makna Budaya pada saat itu atau pada masanya.

    Makna dan Pemaknaan Ada’ sola Aluk pun akan mengalami perubahan manakala kita melakoni satu budaya dengan menekankan orientasi pandangan Individual tentunya dalam kaitannya dengan Alok Tallu Lolona. Orientasi pandangan Individualis akan mampu merubah tatanan kehidupan kemasyarakatan soaialistik menjadi satu tatanan masyarakat yang Individualistik.

    Sanngat jelas bahwa dia orientasi pandangan inilah yang memegang andil besar terjadinya perubahan makna dan pemaknaan terhadap pelakonan Ada’ sola Aluk Toraya, yang pada akhirnya akan berakibat Naik atau Turunnya kualitas Lolo Tau, Lolo Tananan dan Lolo Patuan yang menjadi dasar dari kehidupan di Bumi.

    Padamoto dolo.

  115. Sangsiuluran dan sangtorayaan yth,

    Bp Tadipayuk dan Bp. Yulius Riang yang baik. aafkan sy jika komentar sy ini sy lakukan dari sebuah kota kecil di sebuah pulau terpencil karena sedang asyik mansing ikan-ikan laut yang tidak pakai paspor, tidak ada ktp-nya, dan tidak punya akte kelahiran. Salurannya pun pakai speady, jadi jangan kurang enak perasaan jika ada huruf yang kurang atau lebih. Speady memang spead tetapi kadang tidak akurat.

    Bp. Tandipayuk yth,
    Sy sangat setuju dengan komentar Bapak di atas. Cuma tolong diingatkan kedua penguasa kite di atas itu,” … mereka tidak ada rencana apa pun dan tidak ada tindakan nyata ke depan”. Cobalah lihat apa yang dikerjakan setiap hari. Seorang Bupati hanya duduk diam, ada tommate – ya tongkon, ada to kawin – ya siapkan amplop, tetapi kalau ada seminar atau lokakarya dihindari.
    Sy sangat setuju kalau alukatau agama, dan adat tetap dipisahkan tetapi jangan saling membunuh atau mengikis kehadirannya. Biarkan saja mereka berkeliaran atau berkembang menurut versinya masing-masing. Kalau dulu itu ya sudah lewat, ada masa transisi, dan sekarang adanya begitu. Boleh ajalah.

    Usulnya kami sudah coba untuk beberapa kali ketemu dalam bentuk seminar. Kini sudah diambang pintu konferensi yang berskala internasional. Mudah-mudahan tidak ada kendala sehingga langka pertama ini menjadi dian bagi para pemimpin kita di sana. Torajalogi sudah terbentuk di UKIT Makale dan Media Zart sudah ada di FIA Atmajaya Jakarta.

    Kini kita sedang kedatangan tamu dari Notingen University Jerman untuk bidang perfiliman, Mrs. Beat H. Apa yang kurang kalau kita mau berkeja sama. Sebentar lagi, jika penelitian awal ini berhasil akan ada sanggar budaya berskala internasional, yakni Notingen-Atmajya-UKIT. Tolong usulannya apa ???

    Bapak Yulius Riang yth,
    Sy sangat setuju dengan strategi pembangunan Toraja yang didasarkan pada sistem ekonomi tallu lolona. Tetapi … harus dipantau dengan sistem kepemimpinan tallu silolok agar operasional.

    Mungkin ada baiknya mulai sekarang pada setiap wilayah adat/tongkonan dilakukan intensifikasi pertanian karena perluasan sawah tidak memungkinkan. Atau pada wilayah yang sama dikumandangkan ekonomi kreatif sehingga sifat malas pelan-pelan berubah menjadi manusia rajin yang mandiri (masyarakat madani).

    Bapak Tandipayuk dan Yulius Riang yth,

    Kita semua sudah berada pada awal abad-21. Masakan kita masih menganut prinsip tahun 1946 ke bawah. Mari kita kuatkan disiplin pendidikan seperti kata Bp. Tadilayuk di atas sehingga apa yang dicita-citakan Bp. Yulius Riang dapat meriangkan kita semua sekali kelak.

    Sy mungkin hanya bisa menulis buku atau artikel dalam jurnal internasional tentang Sang-Torayaan. Sy sudah berjanji pada diri sendiri bahwa tidak akan pernah mau menjadi pejabat di Toraja. Dosa sy pasti makin banyak dan pegampunannya berarti makin mustahil (sorry).
    Pola pandang ini jangan diikuti.

    Akhirnya, salam sy buat semua Sang-Torayaan, sy sedang memancing ikan tidak jelas jenisnya ini. Berarti dalam keadaan malan dan sontoloyo (mohon maaf).

    O-ya padamo to ya sangmane sia sang baine,

    Pasa apa mora tee allo dao Toraya ???

    frs

  116. Saudara Frans….

    anda menulis spt ini:
    “…Dan ternyata mulai kerasa anda kehabisan bahan, walaupun bahan tentang sejarah Sulsel masih menunggu untuk disempurnakan….”

    Sepertinya anda senang meremehkan org lain. ini yg membuat saya gerah berdiskusi dgn org spt anda. jujur saja, kata2 anda sangat angkuh dan tdk menyenangkan utk dibaca. itu yg membuat saya malas menulis lagi.

    Ya silahkan lah diskusi ttg aluk, sesuka hati anda, malas saya menghadapi manusia spt anda ini. Terlalu mendikte dan sok tau benar. Kadang2 saya berpikir, apakah manusia spt anda ini tipe manusia yg tdk mengenal “rasa bersalah?”

    Nah spy media ini menjadi ajang anda memperlihatkan keahlian anda, maka saya cukup saya sbg penonton saja….hati saya benar2 geram membaca kalimat demi kalimat yg anda tulis….

    maaf jika sayapun jadi kasar menulis disini, ttp saya pikir mungkin begini cara yg lebih tepat menghadapi manusia spt anda pak frans…!!

  117. Saudara Frans….

    anda menulis spt ini:
    “…Dan ternyata mulai kerasa anda kehabisan bahan, walaupun bahan tentang sejarah Sulsel masih menunggu untuk disempurnakan….”

    Sepertinya anda senang meremehkan org lain. ini yg membuat saya gerah berdiskusi dgn org spt anda. jujur saja, kata2 anda sangat angkuh dan tdk menyenangkan utk dibaca. itu yg membuat saya malas menulis lagi.

    Anda juga menulis spt ini:
    “Pak Sulwan Dase, apakah sdr percaya adanya Tomanurun Tamboro Langi’ ? Dan seperti pengakuan anda, orang Tallulembangna, apa arti basse kakanna, basse tangngana, dan basse adinna ? Kata Tallulembangna beradal dari mana pada awal mulanya ? Selanjutnya, apa arti basten ? Kenapa harus demikian ? Ini semua adalah murni sejarah Tallulembangna. Mungkin ada baiknya diperjelas agar masyarakat Toraja mengerti apa arti Tana Toraja dan arti Toraya”.

    Saya agak gerah mau menjawab pertanyaan anda sdr Frans….
    Saya tahu jawabannya, tp saya merasa enggan utk menduskusikan hal ini dgn anda. Saya menganggap bhw anda ini menganggap semua ini cerita pengantar tidur bagi anak2 saja. Sangat tdk santun membicarakan masalah ini di forum spt ini.

    Mengenai nama Toraya, kita2 kan sdh sering bertemu berkali-kali pada berbagai situs internet dan anda bisa membaca penjelasannya.

    Saudara Yulius yg terhormat…
    Saya sdh pernah ke Tongkonan Nonongan yg dipuncak bukit. Istri saya org Nonongan, beliau dari Tongkonan Lande’. Nonongan bukan hal asing bagi saya. Demikian pula bagi sebagian org2 dalam di Goa, mrk pun tdk asing dn nama itu, walau mungkin mrk blm pernah datang kesana. Di Goa, ada kebiasaan utk menceritakan sesuai yg sangat rahasia kepada anak2 mereka, agar kelak tiap anak menyimpan cerita itu utk generasi berikutnya.

    Sekedar utk membuka wacana dgn anda….
    Saya ingin memberitahu sesuatu yg tersembunyi ratusan tahun mengenai Nonongan, yg mungkin org Nonongan sendiri belum tentu tau krn suatu sebab dimasa lalu, yaitu Sejarah Berdirinya Kerajaan Tallo.

    Sebelum Kerajaan Tallo berdiri, terlebih dahulu berdiri Kasombaan Ri Tallo. Kondisinya masih sangat premature, benar2 blm bisa disebut Kerajaan, namun org2 Goa-Tallo tahu hal itu. Tokoh Pendiri Kasombaan Ri Tallo, ayahnya berasal dari Nonongan dan ibunya adalah Putri Sulung Raja Goa III. Sering disebut saja Karaeng Baine. Mengenai nama mereka yg sebenarnya…maaf…sementara wkt saya blm mau menjelaskannya disini, sampai suatu wkt nanti. Dan sbg tambahan yg mungkin Pak Yulius pun tdk menyangkah bhw pendiri Banua Puan Ri Marinding adalah adik kandung dari suami Karaeng Baine.

    Siapa namanya?
    Hmmm…maaf, saya berjanji akan menyampaikan secara utuh kisahnya kepada pak Yulius. Utupun jika pak Yulius tertarik…:-)
    Anggaplah hal ini sbg ungkapan terima kasih saya ke Pak Yulius atas keramahannya di milis ini.

    Ko Kure Sumanga, pada mo to.

    (Anak Pakkamabi’ Tedong Lo’mai Su’pi Mengekendek. Na kana serebattangku battu ri Goa:” Ana’ pakkambi’ tedong battu raya ri pammumbanna alloa).

  118. Salama’ Solanasang,

    Syaloom In Christoo,

    Sangsiuluranku, karakter dasar seseorang, dapat kita pelajari dari cara berfikir, cara bertutur kata, dan terlebih bertingkah laku. Pribadi seseorang yang terbentuk dari lahir hingga dewasa, sangat dipengaruhi oleh lingkungannya, baik itu masyarakatnya, budayanya dan terlebih keluarga kecilnya ( Ayah dan Ibu serta saudara-saudara kandungnya ).

    Siulu’ku Sulwan Dase, gak perlu naik darah menanggapi gaya bahasa Bp. Frans, karena itulah karakter Bp. Frans, karakter yang terbangun dan terbentuk dari hasil bersosialisasi dengan dunianya ( Masyakat dan Budayanya serta keluarga kecilnya ) serta yang berhasil diadaptasi dari lingkungannya dari kecil hingga dewasa.

    Saya hanya berharap, manakala kita memberi statement apalagi dalam milis ini, perlu dengan sikap yang arif dan bijak, karena milis ini dibaca oleh segala umur, seorang pendidik akan mampu memberi tauladan bagi Siswanya. Dalam hal hikmah yang secara pribadi saya dapatkan dari karakter setiap pemberi komen dalam milis ini, akan saya jadikan tolok ukur kearifan generasi-generasi baru Toraya yang masih perlu dibenahi dari sisi Etika.

    Tabe’ sangsiuluranku, keyakinan yang kita yakinipun apabila kita masih tergolong penganut yang taat, tentu akan banyak mewarnai cara berfikir kita, bertutur kata kita, terlebih tindakan kita. Siulu’ku Sulwan Dase, sikapilah segalanya dengan bijak dan arif, nakua kada to masokan yana leba’ki’ tau batu, ma’pasalaki’, sia damu bala’i. Padamo dolo to siulu’.

  119. Tabe’ lako mintu siuluk sia sangtorayaan

    Tabe’ duka lako siuluk Bp. Salwan Dase sola Bp. Frans. sia mintu to sumbangkan kada sang bukunna lan te’ Milis.

    Sebelumnya saya mohon maaf jika ada kata2 saya kurang berkenan atau menyinggung perasaan Bpk2 yang ikutan di milis ini

    Marilah kita menyampaikan pendapat kita dengan cara yang elegan dan menghargai pendapat orang lain.
    Karena mungkin hanya sayalah yang tidak berpendidikan dalam peserta milis ini, olehnya iru dengan melalui milis ini saya banyak mendapatkan wawasan idan lmu di bidang budaya khususnya.
    Tabe’ dikka’ saya tidak bermaksud mengajari tapi hanya sekedar mengingatkan.
    Apa nakua to tomatua e!!! pia andimi sigundun-gundun kada ke jio ko muliu pandangna tau. Ia kedenni to mo popakdi andimu palaan penawai. Sia ke jio ko muliu padangna tau andmi alloi bangngi tu siammi. Si kamali’ kumi le!!!

    Saya kira apa yang menjadi cita2 oleh yang menyediakan sarana ini kalau tidak salah adalah siapa tahu putra2 Toraja ada yang ingin menyumbangkan Ilmu dan pikirannya demi untuk memperbaiki, membangun jatidiri Toraja dengan harapan tercipta masyarakat yang adil, makmur dan damai. Dan ini jualah cita2 leluhur kita yang diamanatkan kepada semua putra/ri Toraja.

    Padamo dolo mudah2an ta pada salama’

    Kurre

  120. Pak Yulius dan Pak Tandipayuk yg saya hormati dan cintai dalam Kristus…..

    Betapa sejuk kata2 bapak berdua….
    Betapa indah santun tutur kata bpk berdua…
    Tutur kata yg seharusnya “mewarnai” forum milist ini. Apa yg bpk berdua utarakan sangat saya hargai. Nakua tau lo’lu tondo’ki”
    “Iya ri tu kada sia penggaukan tu na tiro tau”.

    Saya sdh pernah menyampaikan hal ini berkali-kali ke pak Frans, ttp rupanya tabiat lamanya selalu muncul. selalu terkesan meremehkan dan merendahkan org lain. Itu yg membuat hati saya berontak. Saya berprinsip:”hadapi setiap orang sesuai karakternya”. Jika dia kasar, hadapilah dgn kasar, sebab mungkin dia tdk mengerti kalau kita sampaikan secara halus.

    Alangkah indahnya jika kita menggunakan forum ini sbg wadah saling berbagi cerita, saling bertukar pengetahuan, saling mengenal adat kebiasan di lingkungan kita masing2 dll. Bukan ajang mendikte dan merendahkan org lain.

    Ya..demi utk menjaga kebersamaan, saya akan menahan diri dan jika perlu mengurangi komentar di forum ini. sepertinya forum ini adalah forum yg relatif “Homogen” :-)

    Kemungkinan, saya tdk “di inginkan” oleh org tertentu utk urun rembuk di forum “homogen” ini.

    Salam sola nasang lako kita sangsiuluran.
    Den upa anta sitammu pole’
    ….pada mo to, kurre sumanga’.

  121. Maaf Pak Sulwan Dase atas kekeliruan saya menulis nama Bapak tertulis Salwan Dase.

    Yth. Bapak Frans Bararuallo
    Yang saya maksud bukan untuk kembali menetap di Toraja, tapi harapan kita semua kalau mau para ahli putra Toraja di rantau untuk meluangkan waktu liburannya kembali membina masyarakat Toraja menjadi petani yang bertani, berkebun, beternak dengan system technologi moderen,
    agar masyarakat Toraja bisa meningkatkan tarap hidupnya yang lebih baik.
    dan yang paling penting jika ada niat para tokoh tokoh politikus, pengusaha, cendikiawan pulang menggandeng inpestor untuk membuka usaha di Toraja.

    Salama’ sola nasang lako kita sangsiuluran.
    Den no upa anta malembek sunga’ anta sitammu pole’ lan te’ milis
    ….pada mo to, kurre sumanga’.

  122. Salama’ sola nasang.

    Ma’loko-loko bangna’ sangapa-apa ma’du’dun sambil bergelung sarung mendengar (membaca) para ambe’ (maksudnya ambe’na lai’ sia laso’/batto’) bertukar pikiran. Saya sering senyum sendiri ketika ada yang mencak-mencak, sembunyi di balik banga dio pollo’ alang kalau ada yang naik darah. Mengernyitkan kening kalau ada yang ngelantur dan mengangguk sambil senyum karena banyk tambahan informasi. Jadi gaya diskusi di forum ini, memang agak mirip dengan to ma’kombongan. Bedanya, kombongan memutuskan sesuatu, forum ini tidak. Tapi yang paling pokok bagi saya, kita sedang membicarakan tondokta.

    Jadi, Bung Sulwan, da’ri ma’bekku’ panggawa. Sisumo ia to. MAri kita terus berfikir dan berbicara tu la napomelona tondokta. Apalagi perlu kita tau bahwa Artikel pemancing diskusi/debat ini diposting di maulanusantara bukan oleh orang Toraja (saya duga), tapi oleh mereka yang suka berfikir tentang budaya di negeri atau dijagad ini. Sebab Aslinya, Artikel tsb di posting di forumteologi.com.
    Jadi, sebagai penulis artikel dan atas nama yang bergabung dalam page ini, saya mengucapkan TERIMA KASIH KEPADA MAULANUSANTARA.

    Tabe’ lako kita sola nasang, patarru’-tarru’mi dolo tu tuna’mi, dennopi alla’na ku mentama.

  123. Umbai melo ke patamu dukai tu pa’tangngaran mi, anna den upa ta manarang sola nasang. setidaknya tdk hanya pasif dan hanya sekedar menilai sikap dan watak para penulis milis ini…ttp pro-aktif lah.

    Apa iya ke la kamma nasang bang ki, ko ku male aku mamma, dari pada mareko ki….tae bangsia gai’na….

    Kurre Sumanga’

  124. Umbai melo ke patama duka komi pa’tangngaran mi, anna den upa ta manarang sola nasang.

    setidaknya tdk hanya pasif dan hanya sekedar menilai sikap dan watak para penulis milis ini…ttp pro-aktif lah.

    Apa iya ke la kamma nasang bang ki, ko ku male mo aku mamma, dari pada mareko ki….tae bangsia gai’na….

    Kurre Sumanga’

  125. Salama sola nasang lan te’ allo mala’bi

    Tabe’ ta Parapa’ rapa’ri tu nokkoranta mai lante’ kasirampunanta denno upa’ namamase tu Pong Matua umbungkaranki’ paktangngaran bulaan lante’ katongkonan ta solanasang.

    Anna apa tu mintu paktangngaranta solanasang di pamisa lan kasiturusan sola penaa masallo lan umpemeloi kampong Tuhan memberkati amin.

    kurre

  126. Sangtorayaan yth,
    Mohon maaf karena sangat terlambat menanggapai komentar di milis ini yang kelihatannya kurang mengenakan pihak tertentu.

    Sy tidak pernah bermaksud untuk menyinggung siapapun dalam milis ini. Memang sy harus akui bahwa milis ini banyak di baca di luar negeri, terutama para pengamat, peneliti, dan para pemerhai budaya Toraja. Hasil pengamatan mereka banyak di-replyai kepada sy dengan komentar yang bukan-bukan. Itulah sebabnya sy terkadang “meredam” hal-hal seperti di atas dengan memilih gaya barat. Contohnya seperti di bawah ini.

    Komentar sy mulai serius ketika sdr Sulwan Dase berkomentar demikian,” … sebenarnya yg terjadi di diskusi ini adalah ketidak konsistenan. bapak terlalu sering mencampur aduk antara sejarah dgn aluk, kemudian lompat ke pandangan filosofi atau theologi keagamaan menurut keyakinan bpk.

    Berikutnya ……

    Yg menggelikan hati saya ketika pada suatu wkt pak frans mengatakan bhw Nonongan itu berasal dari kata Nono’ dan Ongan. Nono’ artinya serangga dan Ongan adalah semacam pohon. Jadi bapak yg mengaku sebagai orang Nonongan dapat diartikan bhw pak frans adalah semacam “Serangga diatas pohon” hahaha”

    Lalu …..

    Apa yang harus dinikmati jika terjadi pernyataan balik yang mengatakan bahwa “Nono’ artinya serangga dan Ongan adalah semacam pohon? Sy tidak pernah menulis seperti ini bung !!!!

    Komentar pihak luar :

    Seorang peneliti dari NUS dan Loyola University langung berkomentar ,”some one has put his comment, … and it seems he does’t know anything about the Nonongan”.

    Apakah ini yang kita inginkan ????

    Jadi mohon jangan dibuat-buat komentar atau menyusun rumusan sendiri. Banyak pihak akan tersinggung dan para peserta diskusi milis ini akan menganggap kita anak kecil yang tidak mengerti apa-apa tetapi mau juga urun rembuk.

    Para peserta disksi yth,
    Sy sangat gembira membaca komentar Bp. Yulius Riang dan Tandipayuk di atas. Pikiran positif seperti inilah yang seharusnya dibangun di dalam milis ini. Bagaimana menyusun srategi pembangunan di Toraja saat ini.

    Konsep apa yang harus kita utamakan untuk meraut strategi pembenahan dan pembangunan di bumi Toraja saat ini dan yang akan datang ?

    International conference on Toraja yang akan datang sudah diminta pemerintah Jepang dilaksanakan di Tokyo University.

    Apa sikap dan komentar kita ? Kita pasti kehilangan banyak pemasukan uang di Toraja. Pemasukan hotel, transportasi, restoran, dan industri lain bergeser ke tempat dan negara lain.

    Maukah kita, sebagai putra daerah, menerima tawaran ini ? Ini pasti ada yang kurang beres, terutama infrastruktur dan fasilitas hotel.

    Hotel, biro perjalanan, pemilik transportasi, dan fasilitas lain hanya menikmati sendiri pemasukannya. Tidak ada sumbangan nyata untuk pembinaan dan perbaikan fasilitas setempat. Suatu sikap yang memaksa pihak luar mengalihbinakan pengembangan budaya Toraja ke negara lain.

    Jika Jerman berhasil melkukan tawar-tawaran dengan Jepang, maka besar kemungkinan dilaksanakan di Jerman. tetapi Jepang mana mau kalah strategi dalam menata bisnis dan industri mereka. bagi mereka “money is king”.

    Cobalah salurkan komentar dan pendapat Bpk/Ibu/Sdra-i melalui milis ini. Syaratnya harus bersifat membangun, membenahi, dan mampu melakukan value creation.

    Kami Putra Topitu siap menunggunya untuk dijadikan bahan pertimbangan.

    Kurre sumanga’, podo anta pada salma’,

    frs

  127. Yth. Siuluk Sang Torayaan.

    Harapan saya, harapan tokoh2 masyarakat,cendikiawan, budayawan, politikus, pemuda-pemudi dan masyarakat toraja semua menginginkan Toraja maju, sejahtera, damai dan makmur.

    Olehnya itu marilah kita mulai satukan langkah, satu kata, satukan pemikiran, dan satu perbuatan untuk membangun Toraja dalam segala bidang yaitu Sosial Budaya, pendidikan, ekonomi, infra struktur dan pariwisata. Saya yakin ini akan terwujud jika seluruh Orang Toraja dimanapun berada di muka bumi ini turut ikut ambil bagian dalam menyumbang apapun itu sesuai dengan kemampuan masing2 tentunya dengan keikhlasan.

    Kalau apa yang tersbut di atas ingin terwujud? Tentu marilah kita saling bergandeng tangan dan berbesar hati menerima pendapat saudara kita dan menghargai pendapat orang lain, singkirkan ego kita. seperti pepatah mengatakan mesak kata dipotuo pantan kada dipomate.
    Maaf saya tidak bermaksud mengajari atau apapun bentuknya tapi saya hanya sekeder menghimbau atau mengingatkan. Mari kita sama2 peduli demi majunya Toraja yang kita cintai ini.

    Dari pinggiran Jakarta saya mengucapkan selamat kepada seluruh masyarakat toraja dimanapun berada.

    Kurre

  128. Salama’ sola nasang.

    Sangsiuluranku,,,,,,,,
    Kita mungkin tidak pernah tahu hasil dari usaha-usaha yang kita lakukan, tetapi jika kita tidak melakukan sesuatu, kita tidak mungkin mendapatkan hasil… “You may never know what results come of your action, but if you do nothing there will be no result.” – (Mahatma Gandhi)

    Jika kita mengamati lebih dekat pada kepompong, maka dia adalah contoh sederhana yang paling baik untuk kita mengambil pelajaran. Kepompong untuk menjadi kupu yang indah, dia berdiam diri selama sekian hari untuk selanjutnya menjadi hal yang disenangi oleh alam, termasuk kita.

    Diamnya kepompong bukan suatu yang statis yang tanpa hasil, tapi adalah contoh kesibukan seekor ulat yang mendambakan sesuatu keindahan dengan kepasrahan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam diamnya mengakui segala kelemahannya.

    Apa yang terjadi kemudian? Tuhan memberikan hasil yang sangat menakjubkan. Ulat yang tadinya menggelikan itu berubah total menjadi kupu nan indah dan diidamkan kedatangannya oleh bunga, pohon dan dahan-dahan hutan yang merindukan lentik-lentik kaki dan ciuman sang kupu.

    Tuhan Yang Maha Kasih memberikan pelajaran yang cukup menarik. Ulat telah melakukan sesuatu untuk mendapatkan hasil. Namun, kita seringkali meragukan usaha kita dan prematur memikirkan hasil atas usaha kita.

    Mari kita melakukan apapun yang kita yakini kebaikannya, JUST DO IT dan YOU WILL SEE THE AMAZING RESULTS. Secara khusus berilah masukan yang kita yakini akan memberi kebaikan bagi pelestarian dan bertumbuhkembangnya Ada’ sola luk Toraya, siapa kah itu ? tentunya kita semua generasi muda Toraya tanpa kecuali.

    Padamoto le,,,,

  129. Awal dari sebuah persatuan adalah saling menghargai satu sama lain. Tae na den tau la ma’kada misa’ bang. Tae’ na den tau la sanga kumua ia manda mo tongan.

    Kuncinya adalah saling mengormati dalam kata dan perbuatan. Tidak saling merendahkan atau menghina. Gunakan kalimat atau kata yg menggambarkan kerendahan hati….

    Jika ini bisa dipenuhi….maka jalan untuk menyatukan langkah menuju kemajuan bersama telah terbuka lebar.

  130. Sang Torayaan yth,

    Mohon maaf sy selalu terlambat muncu di milis ini. Namun sy memiliki sebuah hasil survei dua hari di Toraja setelah selesai mengikuti International Conference on Toraja.

    Ceritanya seperti berikut,
    1. Sy dan para pendiri Putra Topitu menemui PJS Bupati Toraja Utara sangat gampang. Diskusi cukup alot tentang bagaimana TORUT dirancang bangun 10 tahun ke depan. Cukup taktis dan strategis arahnya. Namun kurang fokus.

    2. Ketika sampai di Makale, Basse Kakanna, hal yang sama kami lakukan. Bupati tidak ada di tempat. Kami pun memutuskan untuk tidak bertemu siapa-siapa. Walaupun ruang sudah disiapkan.

    Kami tidak bermaksud berpolitik atau pun mencalonkan diri menjadi bupati periode yad.

    Kami juga tidak membawa resep pembangunan apa-apa. Kami hanya membawa sejumlah pakar dari Jepang yang pernah meneliti bertahun-tahun di Toraja. Kini mereka siap membantu apa yang perlu dibantu. Misalnya perbaikan rumah adat (tongkonan) atau menelusuri garis-garis strategi pembenahan daerah.

    3. Karena terdesak waktu, maka akhirnya sy putuskan untuk meninjau langsung lokasi. Diawali dari Minanga, Mengkendek, Tumika, Nonongan, Siguntuk, Kaero, dan Bara’ba (Buntao).
    Kesimpulan mereka : kondisi lebih buruk dibanding 40 tahun lalu. Sy tentu sangat kecewa. Memang sy tinggalkan Toraja 1970, tetapi bahwa Toraja seperti itu memang sesuatu yang harus kita pikirkan, susunkan program, dan dan tindaklanjuti secara nyata.

    Torajalogi (keilmuan Toraja) telah resmi berdiri di Universitas Kristen Indonesia Toraja. Langkah selanjutnya adalah kita semua di tunggu ikut menyumbangkan apa yang kita sanggup sumbangkan. Misalnya penerbitan buku, jurnal, atau program KKN pada kecamatan tertentu untuk aplikasi program Pemda tertentu.

    Sang Torayaan yth,

    Sebagai putra daerah, kalau boleh, lewat forum ini sy usulkan :

    a. Di TORUT mari kita rencanakan dan laksanakan pendirin Universitas Pong Tiku untuk melaksanakan program Pemda, yakni Kabupaten Pendidikan. Untuk itu ada baiknya pada setiap kecamatan didirikan SMU yang didukung paling tidak dua SMP dan empat SD. Sistemnya boleh sama dengan sistem perseroan terbatas (PT) atau sistem kerjasama orang Toraja perantauan supaya cepat memacu kualitas anak didiknya.

    b. Mari usahakan agar bupati terpilih nanti bukan dari PNS atau boleh PNS yang memang mau menandatangani kontrak politik untuk tidak korup dan tidak dijajah istri tercinta dalam melaksanakan tugasnya (maaf karena ada contoh nyata).
    Jika boleh setiap fungsionaris daerah sedapat mungkin diuji kompetensinya agar mau bekerja yang benar sesuai program daerah.

    c. Calon bupati yad sedapat mungkin dari putra daerah yang telah lama menelusuri dan cukup menguasai masalah wilayahnya. Memang ini agak sulit dilaksanakan karena banyaknya calon dari luar yang besar kemungkinan tidak memahami masalah pokok daerah.

    d. Program yang perlu diprioritaskan adalah infrastruktur, kemudian pertanian secara intensif, lalu peningkatan kualitas anak didik yang siap pakai dan siap memakai, dan perubahan kurikulum yang berorientasi pasar. Jangan dipacu ke kurikulum yang berorientasi politik atau terarah ke sasaran menjadi PNS. Ini berabe.

    Ada sebuah cerita singkat yang benar-benar terjadi dan sy saksikan sendiri pada tgl 25 pagi di Rantepao. Ketika itu sy memakai celana pendek dengan baju kaos oblong warna putih. Sy bersama dengan seorang guru besar dari Jerma di bidang perfiliman. Dengan santainya sy menanyai beberapa anak muda yang sedang berdiri di sebuah toko alat-alat kebudayaan. Sy tentu tidak ada beban apa-apa. Kondisinya memang sy ciptakan sedemikian rupa.

    tiba-tiba sang guru besar bertanya kepada kelompok pemuda di depan sy (dalam bahasa Ingris tersendat-sendat dan sy coba menerjemahkannya). Kamu mahasiswa ? Ya, kami semua mahasiswa dari Makassar, putra Toraja. Semester berapa ? Rata-rata semester enam. Salah satu pemuda di depan sy menggerutuh, “bicara apa itu miner ?” Reaksi guru besarpun berubah 100%. It is no used to company you. Let’s go, she said.

    Sebagai putra daerah sy merasa pemuda-pemudi orang Toraja tidak perlu jauh-jauh ke Makassar kuliah. Cukup di Toraja saja. Mungkin hasilnya lebih baik.

    Putra Topitu akan bekerjasama dengan UKI Toraja di Makale dan STIKPAR Rantepao untuk melatih anak-anak muda yang mau dan berbakat untuk dunia perfilman sebagai langkah awal. Pdt Lebang telah memberikan buku-buku cerita rakyat yang dapat dimodifikasi menjadi produk film pendidikan sederhana versi Toraja.

    Jika ada program lain yang Bapak/Ibu?saudara-i miliki, silakan informasikan untuk kita jadikan program kerja bersama di Toraja (maaf sy selalu menggunakan kata Toraja karena pengertian Tana Toraja makin sempit). Kami tunggu jika ada via milis ini. Semoga tidak terkendala oleh suhu politik daerah dan negara kita.

    Umbai padamo dolo to ya sangsiuluran,

    Salama’
    frs

  131. Sang Siuluran yth,

    Pasar sebagai barometer pertumbuhan ekonomi Rakyat.

    Kondisi pasar tradisional di wilayah Tana Toraja sekarang ini cukup memprihatinkan. Pasar Rantepao, misalnya, walaupun pada momen-momen hari raya keagamaan, dimana masyarakat cenderung membelanjakan uang lebih banyak dari biasanya, namun sebagian pedagang mengatakan omzetnya turun. Bahkan dibeberapa pasar tradisional pada hari H keagamaan banyak pedagang yang tidak berjualan.

    Padahal biasanya seminggu menjelang hari H keagamaan, semestinya pasar tradisional dibanjiri para pembeli. Tidak aneh bila dulu, memasuki Natal, Lebaran selalu disambut suka cita oleh para pedagang. Karena apapun dagangan yang dijajakannya pasti selalu laku terjual dengan keuntungan yang berlipat.

    Namun dalam dua tahun terakhir ini, kondisinya berbalik drastis. Mengapa hampir sebagian besar pasar tradisional di Tana Toraja menjadi sepi ? Benarkah pasar tradisional di Toraja kehilangan daya pikat ? Faktor sepinya pembeli pasar tradisional memang banyak.

    Diantaranya karena kondisi perekonomian nasional secara makro memang lagi lesu. Menyebabkan lemahnya daya beli masyarakat. Tetapi menurut pengamatan penulis penyebab utama sepinya pasar tradisional karena menjamurnya pasar modern yang saat ini marak di daerah perkotaan.

    Dampak keberadaan pasar modern akan menumbuh suburkan budaya konsumtif dan hedonisme di kalangan masyarakat. Tetapi dampak yang lebih besar, keberadaan pasar modern, bila tidak diatur dan dikendalikan akan mengancam keberlangsungan sektor informal dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Ribuan pedagang pasar, pedangan kelontong, buruh gendong, tukang becak, tukang parkir yang note bene mereka adalah wong cilik akan kehilangan pekerjaan.

    Salah satu langkah untuk mengatasi hal itu, Pemda dirasa perlu melakukan marger atau penggabungan beberapa pasar yang sudah tidak aktif untuk dijadikan satu pasar dalam satu lokasi. Serta melakukan renovasi terhadap pasar-pasar tradisional yang masih hidup.

    Pendekatan pragmatis dan penanganan masalah secara parsial harus ditinggalkan. Pemda seyogyanya memiliki visi dan kebijakan yang jelas dan tegas terhadap pembangunan dan pengembangan pasar tradisional dan pasar modern. Kebijakan yang disusun hendaknya mendukung visi Daerah, yaitu mewujudkan Toraja sebagai wilayah budaya yang bertumpu pada aspek perdagangan dan jasa.

    Seluruh pelaku dunia usaha, mulai dari tingkat informal dan formal bila perlu dilibatkan dan diberi kesempatan yang sama untuk merumuskan konsep dan kebijakan. Jangan sampai muncul komentar pilih kasih. Bila ada keberpihakan, sudah selayaknya bila keperbihakan itu justru diberikan untuk kepentingan rakyat kecil.

    Bila ini terwujud, saya memiliki kenyakinan pamor pasar tradisional di Tana Toraja akan kembali mencorong. Menjadi salah satu andalan untuk menarik wisatawan domestik maupun wisatawan luar negeri. Dengan sendirinya dikotomi pasar tradisional dan pasar modern, tidak akan terjadi lagi. Keduanya bisa hidup berdampingan. Saling menopang dan saling mengisi. Bagaimana pendapat Anda ?

  132. tidak ada yang salah dengan adat istiadat toraja….bangga dong..
    g usah sok harus mengatur bahkan menyinggung adat istiadat toraja….yang harus dilakukan adalah mempertahankan budaya ini…….tidak usah disangkutpautkan dengan teori…

  133. Sang Torayaan yth,

    Sy tertarik pada dua komentator terakhir di atas. putra toraja Yulius Riang. dan Tentunya, kita masih harus boleh bersyukur bahwa masih ada putra toraja yang masih menaruh perhatian besar pada tanah leluhurnya, Toraja.

    1. Putra Toraja

    Orang bijak memiliki nasehat seperti ini,”tidak ada praktek yang berhasil baik tanpa teori yang baik”. Berpijak pada argumen semacam itu, boleh dong kita menganalisis kekurang dan kekuatan Toraja berdasarkan teori yang ada ?

    Contohnya dan sekaligus sebagai pencerahan bagi Bp. Yulius Riang.
    Jika pasar tradisional di wilayah Toraja saat ini sepi, menurut sy, itu ada beberapa sebab utama, a. l :
    a. Apa yang biasa dijual di pasar tradisional di Toraja tidak lagi diproduksi oleh orang Toraja yang memilih Toraja sebagai tempat kediamannya. Misalnya sayur-sayuran dan umbi-umbian ataukah buah-buahan. Sy tidak pernah menyaksikan buah tomat kecil dan cabe’ rawit asli Toraja dijual di pasar produksi dari Riu dan Lempo dan bagian selatan Makale.

    b. Masyarakat yang ada di kota sebagai pihak yang berdiri di sisi calon pembeli sudah masyarakat instan semu. Siap pakai dan siap memakan. Bukan siap mengolah untuk menambah nilai tambah produk lokal, Toraja.

    c. Sistem kemasyarakatan Toraja sudah mulai meniru sistem perkotaan, yakni stok bahan secara bulanan. Jadi apa yang mau dubeli di pasar atau mau dijual sudah menyusut dengan sendirinya. Akibatnya pasar tidak menarik untuk dikunjungi.

    d. Dahulu, atau beberapa tahun terakhir, uang masih dikirim anak atau keluarga dalam bentuk kiriman langsung. Jadi harus diambil di kota Rpao sambil berbelanja. Sekarang sudah buka tabungan dan diisi diisi di irian, Kalimantan, atau di Jakarta. Ambilnya tidak usalah hari pasar Rpao. Hari biasa saja. Transportasi sudah lancar, bukan ?

    e. Khusus untuk jual-beli kerbau dan babi siap setiap saat di Bolu. Kalau dibutuhkan cukup saling sms atau tilpon lewat HP. Jadi praktis pasar tidak menarik dikunjungi.

    f. Dari segi macro-economy, memang dunia sedang ketimpah malah petaka akibat transaksi fiktif dan strategi saling sabet. Akibatnya income perantauan orang Toraja juga keimbas. Jadi kiriman uang ke Toraja menurun. Jumlah pembelanjaan orang Toraja pun menurun. Lalu … panjang buntutnya Mas Yulius.

    2. Tentang budaya toraja

    Mungkin satu-satunya manusia yang pernah lahir dan sangat pendek waktunya dibesaerkan di Toraja selalu dan akan selalu mengatakan bahwa Kebudayaan Toraja jangan sekali-kali diokulasi atau dipreteli. Biarkan dia maju meniti jalurnya sama dengan kebudayaan lainnya. Toh suatu ketika nanti turunan kita akan sibuk setengah mati untuk mengenalinya. Untuk itu sy mengusulkan dengan segala hormat dan sembah sujud tanpa akhir kepada :

    a. Para pendeta dan para modernitas.

    Silakan berpendeta dengan baik dan silakan bermodernitas dengan sesungguhnya. tetapi jangan merusak Sukaran Alukna Aluk To Dolo di Toraja. Para leluhurmu akan marah ketika anda berjumpa di surga, di neraka, ataukah di puyo nanti.

    b. Jika para modernitas dan kamu-kamu yang sukses dalam perekonomian sekarang ini, namun bukan turunan puang, ambe/indo’, atau bangsawan silakan proklamsikan diri anda menjadi puang baru, ambe’/indo’ baru, atau bangsawan baru tetapi jangan merusak susunan tana’ di Toraja. Kasihan dunia pariwisata dan pendidikan di Toraja akan rusak total karena modifikasi dan justifikasi yang anda lakukan. Wisatawan asing dan domestik sangat menurun tajam gara-gara anda memangkas habis aturan dan ketentuan adat Toraja. Jadi penerimaan daerah dan uang masuk menurun tajam. Akibatnya di Toraja terjadi tight money. Uang sulit sekali diperoleh oleh orang kampung.

    c. akhirnya, sy tentu boleh dicacimaki dan ditampat dengan kata-kata ataupun cara lain, tetapi mari kita tunggu lima s.d. sepuluh tahun ke depan, seperti apa perekonomian Toraja jika tidak ada kebangkitan untuk menatanya secepat mungkin. Di dalam konteks inilah calon bupati kedua kabupaten harus datang dari para pencinta Toraja. Bukan dari para pencinta uang orang Toraja yang hanya siap berebut kekuasaan.

    Sang Torayaan yth,
    Maaf seribu maaf tetapi kondisi yang ada sekarang di Toraja tidak bisa dan tidak boleh dibarkan berjalan seperti itu berlama-lama. Mari kita bangkit bersama memberikan apa yang bisa kita sumbangkan demi kemajuan Toraja di masa yad.

    Kurre sumanga’,

    Salama’

  134. Sang Siuluran yth,

    Saya bersedia ke Toraja untuk membina masyarakat dalam hal budidaya belut untuk membantu tarap hidup masyarakat. Karena daerah toraja cocok untuk pengembangan budidaya belut. Karena Belut pangsa pasar export sangat besar seperti Jepang, Taiwan, Korea, China, Singapura, Malaysia dan Ke Eropa. Jika ada yang bisa membantu untuk menembus pasar tersebut di atas, maka mari kita sama-sama untuk membantu masyarakat Toraja. sebab budidaya belut tidak perlu lahan yang luas, bisa di pekarangan rumah yang penting air cukup.

    Ini peluang besar untuk bisa meningkatkan penghasilan masyarakat jika dikelola secara propesional.

    Kurre

  135. Salama’ sola nasang.

    Lama tidak bersua. Ta kurre sumanga’ tu passakkena Puang belanna ma’din sia piki’ ma’temme’temme’ komputer. Simpati dan duka mendalam untuk saudara-saudara di Garut dan sekitarnya yang jangankan komputer, jari pun sudah tidak punya.

    Saya tertarik dengan pernyataan Pak Frans kepada para Pendeta bahwa “Silakan berpendeta dengan baik dan silakan bermodernitas dengan sesungguhnya. tetapi jangan merusak Sukaran Alukna Aluk To Dolo di Toraja. Para leluhurmu akan marah ketika anda berjumpa di surga, di neraka, ataukah di puyo nanti”.

    Saya punya masalah dengan hal itu. Pertama pernyataan itu memaksa langgengnya dikotomi worldview orang Toraja. Masalahnya kalau seseorang di Toraja menganut agama X, bukankah yang mewarisi ajaran Aluk To Dolo juga sipenganut agama X itu ? Mungkin ada yang mengatakan, jadikanlah keduanya sebagai dua sisi mata uang. Tapi itu tidak ada bedanya dengan bermuka dua ‘kan.

    Para pemerhati Aluk To Dolo yang saya hormati, sejauh yang saya bisa telusuri, Aluk To Dolo bukanlah suatu aluk yang berasal dari langit (pura dipondokmo dao mai langi’), walaupun orang aToraja meyakini hal itu. Persentuhan dengan agama-agama kuna (bukan kuno) bukan tidak mungkin membentuk worldview orang Toraja jaman dulu lalu mengaktualisasikannya melalui sejumlah mitos-etos dan ritus. Dalam hal ini kita bisa mendengar apa kata Berger mengenai mekanisme externalisasi-objektifikasi dan internalisasi sebagai pola pembentuk lahirnya agama-agama termasuk aluk To Dolo.

    Karena itu, bagi saya secara pribadi, tidak seorangpun bisa melarang saya sebagai orang Toraja untuk menikmati ajaran agama saya melalui worldview ajaran Aluk To Dolo
    yang wariskan bapak saya.

    Contoh kecil, baru-baru ini saya meletakkan batu pertama untuk pondok yang saya buat. Di galian pondasi, saya potong ayam, dan minta injin kepada Tuhan yang empunya segala sesuatu untuk mengubah tatanan milikNya sambil memohon tuntunanNya. Dengan begitu apakah saya merusak budaya Toraja ? Atau mungkin ada yang bilang itu sinkritisme ? Percayalah satu hal bahwa tidak ada sesuatu yang tidak sinkritis.

    Ah kalando maro’ Padaopa to dolo. La malena’ medatu ma’kampa mo tu tau sola bannena la di imbo.

    Christian Tanduk

  136. Info yang menarik… :)

  137. Wah…suatu diskusi yang menarik, meskipun tidak jarang disertai dengan perbeadaan pendapat.

    Salut dengan Bung Chris yang bisa melihat kenyataan dan mencoba mencari solusi akan realita yang saat ini masyarakat toraja hadapi. Saya setuju denga Bung, bahwa diperluak banyak pisau bedah untuk bisa menemukan solusi yang terbaik.

    Buat Om Sulwan, saya sangat menghargai cara berpikir Anda, logis dan deterministik. Impresif di dalam mengemukakan pendapat.

    Buat Om Frans, thanks untuk masukan2 nya yang bisa memperkaya khasanah kita akan budaya Toraja/Toraya. Hanya satu Om, cara penyampaiannya kurang begitu srek bagi saya pribadi yang mebacanya. Jika melihat pada judul dari tulisan ini, spertinya tidak bisa solve dengan apa yang Om tulis di sini.
    Saya sebagai orang muda toraja, menghargai akan budaya toraja sebagai warisan dari nenek moyang kita. Namun ketika budaya itu diperhadapkan dengan dunia luar dan kehidupan moder, dia harus mau dibedah supaya mampu beradaptasi dan lestari.

    Saya konsen dengan apa yang Bung Chris tulis, tentang realita bahwa budaya toraja/orang toraja secara umum tidak cukup mampu untuk mengkritisi modernitas. (Meskipun juga terjadi di t4 lain).

    Kemudian yang berkali2 ditekankan oleh Om Sulwan, bahwa kita harus meluruskan sejarah yang artinya bahwa ada suatu manipulasi atau pembelokan oleh kepentingan tertentu. Kita harus kembali melirik pada keaarifan lokal dan warisan budaya yang ada, bukan apa kata orang Belanda, Jerman dsb.

    Salama;

  138. nunga sahat

  139. Sang-Torayan yth,
    Maaf sy selalu terlambat membuka milis ini. Biasanya sy buka ketika masa santai. Namun terasa makin banyak hal yang memang perlu dirumuskan bersama agar ada kata sepakat. Kesemua itu baik adanya demi kepentingan kita semua.

    Sdr, Christian yth,
    Sy tidak bermaksud untuk” … , jadikanlah keduanya sebagai dua sisi mata uang. Tapi itu tidak ada bedanya dengan bermuka dua ‘kan”.

    Yang sy maksudkan adalah biarkan kesemua berlangsung secara evolusioner. Bukan revolusioner. Kita lakukan pembinaan dan bukan melestarikan. Caranya, semua aluk (agama : aluk to dolo, kristen, katolik, budha, islam, sdt) yang ada di Toraja dibiarkan berkembang (bisa menyatu dapat juga berkonflik secara langgeng) sehingga terjadi seleksi alamiah. Biarlah anggota masyarakatnya yang memilih alurnya sendiri-sendiri. Mana yang paling tepat dan benar buat mereka. Jangan diupayakan pembenaran menurut versi kita.

    Contoh konkret.
    Gereja dan pemerintah melarang keras sabung ayam. Ini kasus luarbiasa dan dapat membinasakan ajaran injil di Toraja.
    Kenyataan sekarang orang tetap bersabung ayam. Hari minggu ya, hari biasa ya biasa saja. Tetap ada sabung ayam umpat-umpatan.
    Siapa yang salah ? Karena ada pemaksaan. Lupa bahwa sabung ayam pernah menjadi sarana pemutus perkara (hukum adat). Hukum adat diganti hukum gereja, misalnya, pasti masyarakatnya tidak akan menerimanya.

    Sy masih ingat tahun 1967, pemuda kristen, jalan malam-malam memberantas pa’kurung di Kanuruan. Di rumah ibu sy semua ayam pa’kurung habis dipenggal kepalanya karena kakak ipar sy melanjutkan ide bapak sy.
    Kejadian itu 37 tahun yang lalu. Ketika itu sabung ayam masih terkoordinir oleh pemerintah setempat. Harus ada izin baru boleh. Tetapi… tetapi sekarang …. aduhai ma’. Luar biasa. koordinasi hilang, gereja peranannya di mana …, pemerintah hanya dengan tindakan menangkap pelakunya. Tindakan ini hebat, tetapi apakah sudah selesai ? Makinm enjamur, malahan.
    Hal semacam inilah yang perlu dicermati ulang. Apakah gereja tidak salah memilih tata cara menginjili masyarakat atau pemerintah hanya melihat dari satu sisi. Sisi-sisi lain tidak ikut dipertimbangkan.

    Sdr. Christian yth,
    Sy juga sering melakukan hal yang sama, yakni ada ritual tertentu dalam event tertentu dalam aluk to dolo di Toraja. Sy hanya melihat di Thailand, Vietnam, dan Jepang semuanya sangat menghargai ritual leluhurnya. Mereka ternyata lebih maju daripada kita yang berkeras menyingkirkan ritual aluk to dolo, sabung ayam misalnya. Bagaimana dan di mana nenek-kakek dan moyang kita yang telah tiada ? apakah mereka juga ada di surga atau di puyo, ataukah semuanya sudah bertengger di neraka (maaf bagi para penginjil dan para karismatik) ? Mereka semua itu senang sabung ayam.

    Kalau sy sih, tetap menghargai mereka karena sy berasal dari kehadiran mereka. Jadi ritual aluk to dolo bagi sy ok-ok-ok saja.

    Sdr. Deeon yth,
    Maaf sy panggil saja sdr sesuai dengan itikad baik pergaulan internasional dan tata krama sosiolisasi keakraban nasional.

    Sy setuju ide anda, tetapi cara yang benar itu bagaimana ? Mungkin bisa dicontohkan di milis ini.

    Sy memang dibesarkan dalam karakter to the point selama enam tahun (SMP dan SMA). Jadi tidak heran kalau sy tidak suka berbahasa basih atau berbahasa melingkar. Kata George J. Aditjondro bahasa sy gampang dimengerti dan berbudaya tinggi (seorang kawan dekat sy).

    Di milis ini anda menulis,”… Jika melihat pada judul dari tulisan ini, spertinya tidak bisa solve dengan apa yang Om tulis di sini”. Komentar di milis ini adalah menganut multikulturalisme bukan monolisme. Orang bijak mengatakan,”orang berbudaya itu adalah orang berilmu dan mencintai seni”. Orang berilmu berarti wawasannya luas dan relasi banyak karena ia pasti banyak penggemarnya. Kalau tidak setuju mari kita tanya pada penggemar milis ini,”apakah tidak boleh menelaah sesutau dari berbagai aspek? Boleh dengan seni tembak langsung atau seni melingkar ?

    Dalam agama ada sejarah, dalam sejarah ada agama, dan dalam budaya ada sejarah, agama, tehnologi, sosiologi, matematika, dan iilmu-ilmu lainnya. Itu menurut sy. Tentunya menurut yang lain beda lagi karena ada perbedaan sudut pandang, pengalaman, keilmuan, latarbelakang, dan aspek-aspek lainnya.

    Anda juga menulis,” … Namun ketika budaya itu diperhadapkan dengan dunia luar dan kehidupan moder, dia harus mau dibedah supaya mampu beradaptasi dan lestari”. Ini benar dan itupun sudah disunggung oleh Sdr. Christian di atas dengan memakai kata “sinkritis”. Tidak ada budaya yang tidak akan berubah. Ia terkontaminasi oleh budaya luar dan pola pandang kemajuan masyarakatnya sendiri. Namun sekali lagi jangan menganut prinsip revolusioner. Sikap ini akan menciptakan stagnasi. Jalan di tempat. Masyarakat sulit diajak berubah. Dan itu yang terjadi di dalam sang Torayaan sampai saat ini.

    Sdr. Deeon dan sang Torayaan yth,
    Setuju budayakan budaya tulis. Putra Topitu dengan UKIT Toraja telah membentuk wadahnya, Torajalogy di Toraja. Silakan menulis yang banyak dan berkualitas nasional dan internasional. Pasti jadi rujukan di mana-mana.

    Akhirnya Sdr Deeon sy undang untuk menulis yang benar dalam lokarya Pa’panatta di Jakarta akhir tahun ini. Moderatornya adalah Bp. Dr. Jonatahan Nonongan dengan pemakalah a.l. Bp. John Pakan, George J. Aditjondro, Bp. Tanete Pong masak, Bp. Stanilaus Sandarupa (belum konfirmasi), Frans Bararuallo (hukum adat Toraja), dll. Di sanalah kita boleh saling isi mengisi yang dimaksud yang benar itu oleh para senior kita. Gaya bahasa akan saling melengkapi dan gaya pedagogi kita akan saling mengikis yang kurang tepat lewat guyonan nasional.

    Tolong nama yang benar dan keilmua dikirim kepada sy untuk sy plot sebagai pembicara.

    Sang Toraya yth,
    Mohon maaf, komentar sy sangat panjang. Namun kita baru bisa bertemu lagi di milis ini akhir November yad. Sekali lagi mohon maaf bahasa sy bahasa to the point, bukan bahasa melingkari topik pembicaraan,

    Salama’
    frans bararuallo

  140. Tulisan yang sangat baik.
    Thanks.

  141. Bisa tidak kita awali dengan penelusuran sejarah yang benar sebagai awal langkah berpijak?

    Apalah arti Budaya Toraya yang sangat mengagumkan hingga dekade 70-an sebelum terdegradasi sangat pesat dalam kurun waktu 39 tahun.

    Ini bukanlah langkah romantisme atau itikat klaim ke-’aku’an semata, melainkan itikat murni intens to Torayan Culture.

    Jika saat ini kondisi Toraya dimata saya tengah mengalami apa yang dinamakan ‘Gerakan Dekonstruksi’ terlepas warna-warna post-modernism mengelilingi auranya.

    Terlalu banyak manusia-manusia Toraya saat ini hidup bak ‘kacang lupa akan kulitnya’, secara serta-merta menginjak-injak kehormatan adat atas nama turut serta berperan dalam prosesi per-adat-an.
    Tuah dan pantangan dengan mudah dimentahkan dengan alasan ‘semua To Dolo telah pergi meninggalkan Tondok Lepongan Blan Tana Matari Allo bersama Belanda (penjajah).

    Dengan mudah kita temukan diberbagai situs berbagai peninggalan To Dolo Ta’ dilego atas nama perbaikan nasib, sehingga makna yang terbangun kehilangan nilai.

    Ada beberapa komentar dari mereka yang berdiam di Toraya saat ini seolah-olah tersinggung dan mengatakan bahwa Toraya tidak butuh teori, lantas apa saja yang telah kalian lakukan? Merusak dan menjadi parasit? Apakah kalian bangga? Saya rasa tudingan terhadap mereka sepenuhnya tidak benar dan berdasar, yang mereka alami saat ini adalah sikap pasrah tanpa tahu apa yang hendak mereka perbuat, sehingga pada akhirnya menjadi ketergantungan kepada sanak-famili di perantauan.
    Untuk kondisi seperti ini, kita pula para perantau tidak mungkin melakukan pembiaran terhadap nasib saudara kita di benteng terakhir penegak tonggak Tondok Toraya.

    Lantas apa yang boleh kita perbuat? merombak sistem tatanan adat berdasarkan teori-teori penyesuaian?
    Kita dituntut untuk dapat arif melihat, menimbang, serta memutuskan segala perkara dari berbagai sudut pandang > apa yang menjadi kebutuhan bersifat temporer, sebelum lanjut kepada visi membangun kualitas hidup hajat orang banyak (nafas & jiwa Tongkonan).

    Semoga, diskusi kita ini menemukan jiwa kita yang sejati lalu kitapun melangkah kearah yang lebih baik.
    Mudah terdengar namun susah jika kita terpelihara kepada kekerdilan hati.

    Lebih dan kurangnya mohon dimaafka, karena sejatinya dimlai dengan ketulasan hati pada niat tuk membangun.
    Tabe’ Kurresumanga’

  142. mhn ijin bergabung,sy amping bujasar,anaknya ne’ lummi (DR LT Tangdilintin.alm)

  143. Benar yg kita katakan Pak Dian…

  144. Bapak Amping Bujasar Tangdilintin, sy ada kumpulan hasil wawancara bersama alm. DR LT Tangdilintin sejak tahun 1970-1974 di wilayah adat (kebudayaan) Kesu’. Ketika itu sy masih duduk di SMP (Makassar) dan sering ke rumah ibu sy untuk jalan bersama mengunjungi alm., Ne Gandang Palo’lian, Ne’ Mika, dan sejumlah tokoh adat lainnya di Kanuruan/Nonongan, Tadongkon, Lemo, Kadundung, Langda, dan La’bo’. Rupanya sebelum beliau meninggal, sudah konsep yang disusun untuk menyusun sebuah buku kecil dan sederhana. Jika masih ada yang tersimpan, sy mohon informasi selengkapnya. Terima kasih dan selamat menggabung di forum ini.
    Kareba melo,
    frs

  145. Dian Cahyadi dan Sulwan Dase serta para pemerhati budaya Toraja yth,

    Sy sangat setuju jika sejarah ketorajaan disusun rapi sesuai dengan alur yang sesungguhnya. Pasti sangat menarik asalkan jangan hanya diawali dengan cerita Puang La Londong di Rura Bamba Puang atau berdasarkan Injil Kristiani tetapi mungkin lebih baik dimulai dari pembahasan seperti apa orang Toraja asli itu pada awal mulanya. Sy masih tetap menaruh perhatian pada cerita etnis Negrito seperti halnya Soloisme di Jateng yang sy curigai merupakan cikal bakal penduduk asli Tana Toraja tempo dulu. Jika seandainya kecurigaan sy ini salah, maka anggap saja salah tulis dalam milis ini.

    Adakah alur menuju ke Taiwan, lalu menelusuri pergerakan etnis Negrito ini dengan melewati jaringan kesamaan suku-suku yang ada di Indonesia saat ini ? Katakanlah kesamaan dalam kasta dan tata krama ritual tertentu. Sy memiliki sejumlah data ttg Suku Nias Selatan yang sangat mirip dengan Suku Toraja.

    Mungkin kita bisa membentuk forum khusus untuk itu, seperti Forum Sejarawan Toraja (Fosetor), untuk saling tukar informasi dan duduk secara bersama untuk merumuskan lalu menulis hasil rumusan bersama tersebut dalam sebuah konsep untuk selanjutnya diterbitkan sebagai sebuah buku sejarah Toraja.

    Kerinduan seperti Dian Cahyadi misalnya, bukan satu-satunya orang yang memiliki pemikiran seperti itu. Masih ada banyak Dian Cahyadi lainnya. Semisal, kami di Jakarta telah membentuk sebuah Tim penyusun Buku Tallulembangna dgn judul Aluk, Adat dan Kebudayaan Tallulembangna yang direncanakan akan tebit bulan Januari 2010 yad.

    Mungkinkah dari wilayah adat lainnya akan muncul tindakan nyata seperti itu ? Mari kita mulai dari Kesu’ atau Tikala. Jika setuju, silakan dikoordinir agar segera membagi tugas dan merelakan kantong-kantong informasi Bapak-Ibu mengalir masuk ke dalam Fosetor.

    Sy tunggu informasi dan tindakan nyata dari semua pihak yang mau bekerja sama dan kita jangan kehilangan waktu. Ok !!!

    Sy sedang sibuk menelusuri riwayat kepemimpinan Frans Karangan bersama beberapa orang Toraja yang sempat berada di dalam jejaring kehidupannya. Ada yang mau menggabung, silakan.

    Mohon maaf agak terlambat menggabung kembali karena kesibukan lain dan urusan pernikahan salah seorang anggota keluarga.
    Kurre buda,
    frs

    • tabe’ lako pak frans.

      pada hemat saya menata ulang masyarakat toraja tidak harus kembali kepada aluk todolo. persepsi tentang aluk todolo kalau diletakkan pada para tominaa sangatlah beragam. pada masing-masing tempat persepsinya berbeda-beda. saya pernah mengikuti rangkaian upacara ma’bua’ mulai dari lolai, ke’pe’, todok litak dan sereale pendapat mereka tentang alu’ sanda pitunna sangat beragam. bahkan untuk menjelaskan aja tentang ossoran tempon dao mai langi’ juga bergam. jadi kalau kita mau kembali ke aluk todolo, aluk todolo mana yang harus diikuti. kalau di sekitar tempat yang saya sebutkan aja tadi pemahaman aluk todolo sudah sangat beragam, bisa dibayangkan kalau kita bicara tentang sebuah kabuten dengan persekutuan adat yang begitu banyak. jadi maaf kalau saya mengatakan pak frans terlalu terobsesi dengan romantisme nenek moyang kita dulu.
      Aluk todolo telah menjadi sejarah, yang penting bagi kita sekarang adalah menata kehidupan bermasyarakat ke depan; dan pemerintah dengan segala perangkatnya baik yang lunak maupun yang keras hendaknya kita dorong untuk lebih berperan bekerja sama dengan masyarakat merumuskan langkah-langkah strategis untuk masa depan yag lebih baik.
      Beberapa dari kita merindukan toraja seperti bali, tapi hal itu susah dan hampir mustahil untuk diwujudkan. agama hindu bali hampir tidak ada benturan dengan budaya, bahkan dialah yang membentuk kebudayaan bali
      Kasus toraja agama kristen memiliki resistensi yang cukup besar terhadap aluk todolo yang dipersepsikan sebagai agama, kecuali kalau kita semua ramai-ramai memeluk aluk todolo. tapi itu hal yang mustahil

      padamo to kurre sumanga’

  146. klo mau bahas nenek moyang da adat jangan bawa nama agama…………..biar cepat ok bapak2…….

  147. Sang Torayaan, Bp. Luteq Pong Bila, dan B. Petrus yth,

    Bp. Luteq pong bila yang baik,
    Sy sama sekali tidak teropsesi dengan Aluk To Dolo. Jika ada paper atau tulisan sy yang memuat tentang hal itu, pasti bukan fokus sorotan sy ke sana. Misalnya, dalam buku Toraja Tallulembangna (Sejarah Aluk. Adat, dan Budaya Tallulembangna). Itu bukan kehendak sy, tetapi adalah sebuah pesanan dari Tim penyusun buku tersebut. Sy sendiri tidak setuju judul buku itu (Sejarah Aluk. Adat, dan Budaya Tallulembangna). Sy tetap pada pendirian bahwa buku itu selayaknya merupakan sebuah bunga rampai ttg budaya Tallulembangna di masa lalu. Tepatnya “Sejarah Budaya Tallulembangna”.

    Sy sangat sepaham bahwa setiap lembang (saroan) memiliki budaya atau kebiasaan sendiri-sendiri. Demikian pun implementasi Aluk To Dolo-nya. Hal itu bisa dimaklumi karena oang Toraja sangat kuat dalam budaya lisan. Jadi gampang termodifikasi sesuai dengan perkembangan dan perubahan pola pikir masyarakatnya.

    Ya Pak Petrus boleh dibenarkan, agama tidak boleh diiukutkan sertakan. Sy setuju, namun agama yang mana ? Aluk ‘kan berarti agama. Apakah itu agama kristen, islam, budha, atau kepecayaan lainnya yang dimaksud atau yang mana ? Klo agama kristen dan islam, memang ini rawan. Tetapi yang sy maksudkan adalah tinjauan keagamaan pun boleh asal aktip menjaga keseimbangan kepentingan.

    Pak luteq pong bila,
    Selain Bapak dan masih banyak saudara kita orang Toraja yang lain bahkan termasuk sy, tidak akan pernah setuju jika masyarakat Toraja diajak untuk berpikir seperti model tempo dulu. Sy hanya bermaksud agar kita orang Toraja memiliki (bukan mempraktekkan) juga pola pikir kakek-moyang kita dulu-dulu itu agar mudah merumuskan strategi pembangunan Toraja di masa datang. Pola pikir itu adalah bersatu membentuk kesatuan dan kegotongroyongan membenahi Toraja yang ada saat ini demi untuk kepentingan kita bersama kelak.

    Kita semua boleh berbeda pendapat, tetapi harus ada irisannya (kesamaan); walaupun kecil. Dengan demikian kekecilan itu dapat dibentuk menjadi suatu irisan yang lebih lebar, lebih dalam, dan akhirnya besar. Oleh sebab itu sy mengajak para sejarawan kita untuk membentuk sebuah forum penulisan sejarah Toraja yang dapat diterima secara umum karena mengandung kebenaran yang sesungguhnya.

    Jika Bp. luteq pong bila menyebut Bali, maka sy dapat katakan bahwa Bali dibangun berdasarkan budaya aslinya. Kesuksesannya terletak pada kemampuan masyarakatnya menerima pengaruh dari luar dan kemahiran mereka mempertahankan budaya asli mereka, walaupun terjadi modifikasi di sana sini. Dualisme budaya yang mereka pelihara berjalan sesuai yang mereka inginkan. Sebenarnya budaya Toraja pun dapat diberlakukan sama seperti itu. Namun masyarakat kita sudah “telanjur dimanjakan” oleh anak dan sanak saudaranya yang merantau. Akibatnya, mereka menjadi “pemalas” dan tunggu jadinya saja.

    Akhirnya, kalao boleh, silakan mengajukan program yang dianggap tepat untuk membenahi dan membangun Toraja. Tim sy sangat aktif dan selalu siap memverifikasi hal-hal yang perlu didokumentasikan dari bahan diskusi dalam milis ini.

    Sy, Toraja perantauan, mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang mau mengusulkan sesuatu atau mengajukan program menurut wilayah adat masig-masing di dalam milis ini,
    Toraja tetap bersatu walaupun secara administrasi ada pembatasan wilayah. Siapa menyusul, mari kita tunggu bersama,

    Salam’,
    frs

    • pak frans yang terhormat,

      pola kehidupan masyarakat toraja sekarang tidak terlepas dari pola kehidupan keindonesiaan kini. salah satu ekses dari otonomi daerah berkaitan dengan pilkada langsung adalah rentannya sistem2 sosial yang selama ini telah terbangun karena pengaruh orang2 “berduit”. tingkat kepatuhan kepada lembaga2 adat kita orang toraja semakin menipis seiring dengan lebih menguatnya militansi terhadap figur2 politik. sebuah pragmatisme yang sangat tidak beretika (milis sang torayaan bisa kita jadikan acuan)

      dulu ketika saya masih sekolah di sd tahun 70 an, sangat terkesan dengan jiwa gotong-royong masyarakat toraja. betapa tidak untuk membangun saluran irigasi dan jembatan gantung kita semua dengan hanya memperoleh jatah makan siang dengan ikhlas bekerja seharian demi untuk kelancaran saluran air dan jembatan yang baik sekalipun cuma dari bambu. keadaan yang kontras sekarang adalah sakalipun saluran air sudah kering karena longsor dan belukar memenuhinya tidak ada lagi orang yang mau bergotong royong.

      kondisi yang saya lihat di toraja pada kesempatan pulang kampung adalah masing2 sibuk dengan dunianya sendiri. pemerintah sibuk sendiri dengan urusannya dan hanya melibatkan masyarakat apabila “ada udang dibalik bakwan”, gereja sibuk dengan dunianya sendiri dan hanya mau berurusan dengan sumbangan untuk gereja pada saat ada pesta, masyarakat sibuk dengan dunianya sendiri sekalipun sehari-hari makan seadanya tapi bila tiba waktunya untuk pesta kematian harus wah karena siri’ ta tu toraya sekalipun harus ngutang kiri kanan. parandangan ada’ juga kalau masih bisa disebut demikian sibuk dengan dunianya sendiri, sibuk dengan ossoran nene’ dan ossoran pa’barangan.

      program yang dikehendaki oleh pak frans menurut hemat saya adalah bagaimana kita pada tahap awal bisa mendudukkan bersama pranata-pranata sosial tersebut diatas dan lainnya dalam sebuah kombongan layuk untuk merumuskan program-program yang komprehensif sebelum kita berbicara tentang kegiatan2 praktis. program2 tersebut dapat berupa blue print pembangunan toraja jangka panjang, menengah dan pendek yang terintegrasi di dalamnya fungsi pemerintahan, gereja, parandangan ada’ dan lembang atau saroan. salah satu contoh yang bisa dirumuskan adalah aturan tentang mantunu dan membangun banua dan alang sura: siapa yang boleh mantunu dan berapa yang boleh ditunu, siapa yang boleh membangun banua dan alang sura’ dan tempatnya dimana. ( semoga pak frans dan kawan2 berani )

      pada saat acara toraya mamali digulirkan saya berharap hal ini akan dilaksanakan, tapi ternyata kita sibuk dengan acara seremoni dan kegiatan2 praktis yang sepertinya akan bermanfaat tapi ternyata jauh dari harapan.

      silahkan pak frans menggagas program dasar yang besar ini. kalau kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik maka langkah2 berikutnya untuk mengembalikan kejayaan toraja di bidang pariwisata dan pendidikan pada hemat saya tidak akan terlalu sulit. sampai bertemu pada kegiatan ini

      demikian, trim.s

  148. Pak Luteg Pong Bila, sy lagi bingung nih. Ada sebuah cerita pendek seperti di bawah ini. Sy angkat cerita orang kampung dalam bentuk perilaku matematika yang ingin menyatukan kepentingannya secara matematika. Disuruhlah guru matematika membuktikan dan mencari tahu kebenaran transaksi mereka sbb :

    Ada tiga tomenaa mau membeli seekor ayam betina untuk dipotong (ma’pesung). Mereka lalu mengumpulkan uang masing-masing sebesar Rp 25 ribu. Setelah uang terkumpul Rp 75 ribu, maka dipanggillah tetangganya yang baik hati untuk membeli ayam yang diinginkan di atas dengan anggaran Rp 75 ribu.

    Sesampai di pasar, tetangga mereka yang baik hati mendapatkan ayam yang diinginkan dan langsung membayarnya dengan harga Rp 70 ribu. Berarti sisa uangnya Rp 5 ribu. Tetangga ini langsung pulang membawa serta ayam yang dibelinya bersama uang sisa Rp 5 ribu.

    Sesampai di rumahnya, ayam tersebut diberikan kepada ketiga tomenaa yang sangat mempercayainya. Kepada setiap tomenaa juga dikembalikan masing-masing Rp 1 ribu. Berarti setiap tomenaa hanya menanggung harga ayam sebesar Rp 24 ribu. Atau total pengeluaran ketiga tomenaai adalah Rp 72 ribu.

    Hitung-hitung uang yang dikumpul Rp 75 ribu, total pengeluaran Rp 72 ribu, dan yang ada di tetangga baiknya Rp 2 ribu. Kalau Rp 75 ribu – Rp 72 ribu = Rp 3 ribu, sedang bukti konkretnya yang ada di tetangga para tomenaa Rp 2 ribu. Kemana uang kekurangan Rp 1 ribu itu ????

    Silakan ditelusuri hitung-hitungan di atas, Pak. Sekadar selingan, biar kita semua bisa keluaran dari masalah, dan dapat merumuskan blue print pembanguan Toraja yang sesungguhnya. Jangan tersinggung Pak, sy hanya berkeinginan untuk mempertajam kadar analisis kita berdua dan kawan-kawan pemerhati Toraja lainnya.
    Salama’,
    frans b

    • maaf pak frans saya tidak terlalu tertarik dengan hitung2an karena sejak dulu matematikanya merah terus. hanya dua kata untuk pak frans das sein dan das solen. trim,s

  149. sy new comer… skripsi sy tentang pemaknaan adat rambu solo bagi mahasiswa toraja. saya tentunya mengali dari sudut psikologisnya karna sy jursn psikologi:), seperti pemahaman, pengalaman, penilaian serta relevansinya. apakah ada masukan yang terbersit dr sdra terkait topik saya? saya juga sangat brtrimakasih jika ada referensi buku. saya saat ini stay d jogja.
    kurre

  150. Sdri Ita yang baik.
    Saya ada di Toraja, dan mempunyai beberapa data atau sumber, baik yang hidup maupun buku-buku. Hubungi saya di christian.tanduk@mail2web.com.

    Untuk semua yang sedang berdiskusi, selamat memikirkan yang terbaik untuk Toraja. Kapan-kapan saya nimbrung lagi. Sekarang lagi menemani 35 calon Pendeta yang sedang mempersiapkan diri masuk jemaat.

    Salama’

  151. Pak Luteq Pong Bila yang baik,

    Mohon maaf karena sy sangat terlambat membuka milis ini.

    Ya memang kita boleh bermimpi indah, tetapi hal yang baik jika mimpi indah itu mampu kita wujudkan. Kegiatan-kegiatan praktis dan program yang Bapak angkat di sini (klo boleh) merupakan tujuan kita bersama. Namun yang satu ini, “….. siapa yang boleh mantunu dan berapa yang boleh ditunu, siapa yang boleh membangun banua dan alang sura’ dan tempatnya dimana…”, bukan dan tidak termasuk dalam hal yang dibolehkan.

    Pak Luteq Pong Bila dan sesama orang Toraja yth,
    Komentar Pak Luteq di atas tentu mengundang keprihatinan mendalam kita semua. Apalagi klo dihubungkan dengan kedua kata ini,” das sein dan das solen”. Kondisi masyarakat Toraja saat ini (das sein) kelihatan sudah sangat sulit ditata dengan baik dan benar. Lalu …, bagaimana ke depan (das solen) ? Buku tentang tradisional dan modernitas dari Lembaga Putera Topitu Jakarta tentang hal ini nampaknya akan segera terbit
    (semoga). Namun pertanyaan yang samapi detik ini sy tidak dapat memberi jawaban yang dapat memuaskan semua pihak adalah,” klo keadaan sekarang begitu, bagaimana di masa mendatang, dan seperti apa sebelum sekarang ? Jadi masa lalu – keadaan sekarang – dan bagaimana kemudian !!!!!!!!!!!!!!!!.

    Masih perlu atau tidak ada Bupati ? Jika tidak, lalu orang Toraja membutuhkan kepala pemerintahan seperti apa ? Jika ya, masih butuh, Bupati seperti apa visi dan misi konkretnya ? Apa program yang mampu diwujudkan untuk kepentingan masyrakat Toraja ???????????????

    Ayo mari kita bidik bersama visi dan misi para kandidat Bupati yad. USUL SAYA : Sistem kampanye mereka kita kendalikan jarak jauh. Via SMS mari kita tanamkan pengaruh kepada keluarga yang boleh memilih di Toraja. Jangan bantu mereka jika berubah haluan.
    Contoh konkret.
    Jika sy dari Pao, misalnya, maka yang akan sy stir dan percaya adalah para Parengnge’ dan sesepu orang Pao. Jika ada anggota masyarakat yang kurang taat pada haluan yang benar, maka dia boleh memilih calon lain dan jangan pernah macam-macam kepada masyarakat Pao. Jika kehendak baik sy ini diikuti, maka semua jalan, sumur, dan jaringan listrik di kampung Pao sy akan perbaiki sesuai kebutuhan mereka. Dengan catatan sy bukan calon Bupati Toraja Utara tetapi sy adalah salah seorang pemerhati yang berhaluan baik untuk membangun kampung Pao.

    Demikianpun, jika ketentuan di atas diikuti oleh masyarakat di kampung Kanuruan (Nonongan), karena salah seorang orangtua sy dari sana, sy akan bantu asal memilih calon yang sy tunjuk.

    Hal yang sama juga sy akan lakukan jika masyarakat Langda mau memilih calon yang sy kehendaki, misalnya.

    CATATAN : SAYA BUKAN DIKTATOR DAN BUKAN PENGUASA BARU, TETAPI SAYA MAU BERKOLABORASI MASYARAKAT SETEMPAT UNTUK MEMBANGUN MASYARAKAT MADANI VERSI TORAJA

    Apakah jalan pikiran sederhana sy ini boleh dibenarkan/dikikuti ? Hal ini sudah terjadi pada pemilihan yang lalu dan ternyata …. hasilnya cukup memuaskan.

    Sekarang bandingkan patok ukur para kandidat para kandidat Bupati nanti jika mereka berkampnye. Buat/susun “KONTRAK POLITIK” saja. Jika ia berbohong maka harus mampu mengundurkan diri.

    Apakah Bapak/Ibu setuju ???????????????

    Selamat memikirkan nasib masyarakat kita di Toraja,
    Salama’
    frs

  152. baru2 ini sy berkunjung ke Sangalla dan Tongkonan Karuaya Buntao. misi kami adalah menyampaikan sejarah Karuaya Buntao. Sungguh luar biasa bhw mereka di sana tdk mengetahui secara pasti sejarah Tongkonan mereka. Kamipun bersama kerabat dari Gowa secara perlahan memaparkan sejarah tongkonan tsb, dan betapa kagetnya mereka ketika mereka diberitahu bhw pendiri pertama Tongkonan Karuaya adalah Sepupu 1x Somba Ri Gowa VI dan Puang Ri Nonongan V….:-)

  153. Pak Frans Bararuallo, calonkan diri saja jadi Bupati TORUT. Mudah2an terpilih. Bukan lagi saatnya orang banyak bicara, buttiri mappanassa.

    • usul yang menarik tuh

    • ini usul yang menarik, kayaknya semua yang komen bersedia jadi tim suksesnya nich ;)

  154. Terima kasih atas keberanian para peserta dialog dalam milis ini,
    Sang Torayaan yth,
    Izinkan sy memberi sumbangan pemikiran dan menjawab usulan para aktivis milis ini.
    1). Pak Sulwan Dase.
    Sy mempunyai sepotong catatan tua (1967) yang mungkin benar dan dapat juga tidak tepat tentang ” … pendiri pertama Tongkonan Karuaya adalah Sepupu 1x Somba Ri Gowa VI dan Puang Ri Nonongan V….”. Mudah-mudahan bisa nyambung. Cerita singkatnya begini :
    Patta La Bantan menikah dengan Puang Petimba Bulaan. Puang Petimba Bulaan adalah cucu Puang (Datu) Manaek (mohon gelarnya diluruskan) dari Tongkonan Nonongan. Ia anak dari Puang Malulun Sanda dengan Puang Lolon Datu.
    Hasil pernihannya lahirlah Puang (Pong) Pataang Langi’ dan Puang (Pong) Menturino. Pong Menturino menikah dengan Rangga Bulaan. Lahirlah Puang Panggalo’galo’ (menetap di Nonongan) dan Puang Timban Boro.
    Puang Timban Boro-lah yang ke Makale dan kemudian terus ke Tongkonan Puang Mambio’ Langi di Kairo Sangalla. Ia membawa seluruh kebesaran Patta La Bantan dari Tongkonan Nonongan ke Kairo Sangalla.
    Apakah Puang Timban Boro sama dengan pendiri yang dimaksud di atas ???? Mohon konfirmai.

    2). Pak Sampe, balad kuring, dan maulanusantara.
    Benar Pak Sampe bahwa kita harus “in-action” bukan jaman “talk-only and no-action” .
    Maaf saja, sampai detik ini sy belum pernah berpikir dan mudah-mudahan tidak pernah terjadi untuk mencalonkan diri menjadi Bupati, khususnya di TORUT.
    Kenapa demikian ???????
    Jawabnya sederhana. Seorang calon Bupati harus mencucurkan dana sekian banyak. Bahkan bermiliaran untuk merebut kursi yang satu itu. Jika dikonfirmasi ke gaji seorang Bupati, yang nota bene hanya Rp 7,5 juta, kapan kembalinya dana yang dicucurkan tadi ya ———- ?????? Sampai tiba saatnya lengser tidak bakal kembali.

    Jadi konsekuensinya bagaimana ???????
    Mau tidak mau, suka atau tidak, senang atau tidak, maka untuk mengembalikan dana cucuran yang mmmbaannyyaak itu, “harus berani korupsi”. Uang siapa yang dikorupsi ?????
    Uangnya saudara sendiri, om dan tante, dan dst…dst. Halal sekali sikap demikian bukan ????

    Jika dihitung-hitung, misalnya biaya kampanye untuk merebut kursi Bupati TORUT adalah Rp 5,7 miliar, maka setelah empat haun uang tsb disimpan di Bank jumlahnya menjadi > Rp 5.7 miliar (1 + 0,25) pangkat empat (masa jabatan bupati). Hasilnya berapa ———???? Belum lagi dimasukkan kerugian yang diderita karena meninggalkan pendapatan yang lebih baik untuk masuk ke dalam kelompok yang memiliki pola konsumsi yang kurang teratur dengan pengeluaran yang besar.

    Jadi menurut sy, orang yang memiliki pendapatan dan pola hidup yang sudah baik jangan mencalonkan diri menjadi bupati. Biarlah jabatan itu diperebutkan oleh mereka yang memang senang menjadi bupati dan kurang kerjaan. Sy sudah senang berada dan berinterasik di dalam dunia sy.

    Sangtorayaan yth,
    Mohon maaf atas usulan sdra-sdra kita di atas. Namun harus dicermati bahwa di balik usulan itu semua ada sisi negatif lain dan maksud tertentu yang berpeluang merusak citra baik seseorang yang mudah teropsesi. Sy bukan orangnya.
    Terima kasih atas semua perhatian dan usulan baik anda semua,

    Salama’
    frs

  155. Bapak Frans, dari sisi itu Bapak benar. Jangan ikut korupsi. Tapi yang satu ini, kalau bapak sudah Bupati, pergi ke pesta orang mati, banga iring sudah siap disandari. Pulang minimal sangsepak kaki kerbau juga sudah dijamin. Panggang dagingnya di Rujab + Ballok 5 liter + lada katokkon + duduk messoro = Nikmat tak terkira. Kalau nikmat itu dinilai dengan uang, maka langsung Break Even dengan pengeluaran saat Pilkada. Itu barang, tdk ada di Hotel Ritz Carlton atau di JW Marriott pak.

  156. Jika prinsipnya seperti ini :
    “Panggang dagingnya di Rujab + Ballok 5 liter + lada katokkon + duduk messoro = Nikmat tak terkira”, maka itu berarti mansuia hidup untuk makan. Itu sama saja kalau ditanya apakah benar 22 kali 0 = Break Even .

    Sy lebih teropsesi dengan masa depan anak-anak sy yang masih membutuhkan bimbingan daripada hanya duduk, perintah, dan makan.

    Kalau Pak Sape mau silakan mencalonkan diri. Anda butuh suara berapa dan mampu bayar berapa ???? Sy siapkan.

    Terima kasih rayuannya, frs

  157. Pak Sampe, maulanusantara, dan sangtorayaan yth,

    Untuk membangnun dan membenahi TORUT tidak harus duduk manis sebagai Bupati. Masih ada banyak cara lain. Sy sebagai putera daerah mengusulkan tiga hal yang sangat mendesak untuk diperhatikan dan dilaksanakan dengan penuh kesungguhan, yakni :

    a). Siapa pun yang terpilih nanti itulah Bupati resmi di TORUT. Namun tolong laksanakan visi, misi, rencana nyata anda sesuai kebutuhan rakyat dengan baik. Caranya memerintahlah berdasakan sistem yang telah terpelihara dari dulu hingga sekarang, yakni didasarkan pada “Lembaga Adat”. Benahi dan hidupkan kembali Basse Kombongan Lepongan Bulaan, Kombongan Ada’, Lembang, Bua’, sampai kepada Tepo Padang, dst. Di dalam sisten berantai itu ada tokoh-tokoh terkuat yang dapat menjadi partner anda yang sejati. Kalau sistem ini diterapkan, maka yakinlah anda akan sukses dengan baik karena di dalam sistem itu ada saling sanjung dan saling hormat-menghormati dengan tulus iklas.

    b). Susunlah peraturan daerah (PERDA) yang benar dan mampu anda laksanakan dengan penuh kekonsekuenan. Misalnya, touris asing harus ada izin masuk ke wilayah adat TORUT, apalagi ke obyek-obyek wisata. Jangan leluasa. Apalagi mengambil film atau melakukan penelitian tertentu. Masa depan daerah terancam. Ingat copy-rights budaya anda akan menjadi milik mereka nantinya. Daerah dapat apa ???Bayarlah sehingga ada sumber PAD yang jelas.
    Contoh lain, mengambil gambar pada upacara / ritual tertentu. Harus ada izin dan bayar.

    c). Jika mau sukses dan menambah sumber PAD ikuti usulan saya ini. DPRD DT II TORUT dan Bupati terpilih harus berjiwa bisnis. Caranya, ubah sikap, paradigma, dan susunlah mind-set baru. Toleransi, benarkan dan izinkan “sabung ayam = paramisi”. Adakan dua/tiga kali dalam setahun di lapangan Bakti Rpao atau disebar ke seluruh kecamatan secara bergilir. Program ini mutiplier-effect-nya panjang. Bisa mengangkat macam-macam jenis bisnis yang terkait di dalamnya. Misalnya transportasi, restoran/putu’, penginapan, dan bisnis lainnya. Jadi tinggal pungut retribusi (sassung) dan torok manuk. Sabung ayam (Bulangan Londong = Sembangan Suke Baratu) sangat sopan dan tulus iklas. Ia merupakan salah satu dari tujuh Hukum Adat asli etnis Toraja (Ra’ Pitu). Syaratnya perketat penjagaannya dan libatkan tokoh-tokoh adat setempat.
    Catatan Utama
    Ingat sabung ayam dalam mythos asal-usul nenek moyang manusia Toraja dari dunia gaib selalu berisikan dengan “sabung ayam”. Mythos yang sama juga terjadi di Luwu’ dan Bugis. Sabung ayam merupakan permainan yang umum di Asia Tenggara seperti Vietnam, Thailand, Filipina, dan Indonesia. Siapapun yang melarngnya perlu belajar baik-baik tentang budaya Sulsel, utamanya budaya Toraja. Selama ini hanya karena tidak “terorganisir” baik sehingga dampak negatifnya banyak.

    Bung Sampe, maulanusantara, dan sangtorayaan yth,

    Rasanya tidaklah berlebihan jika TORUT dibangun dengan permainan Sembangan Suke Baratu. Pengunjung lokal banyak dan penerimaaan retribusi/pajak daerah pasti meningkat. Tunggu apalagi !!!!!!!!!!!!!!

    Hormat saya kepada sangtorayaan,
    frans bararuallo (frans.bararuallo@atmajaya.ac.id)

    Kurre-sumanga’

  158. Kok masih ada sih orang yg membuat asal-usul nenek moyang suku toraja jadi simpang siur nggak karuan sprti disini :

    http://wegymantung.multiply.com/journal/item/3/Asal_usul_Suku_Toraja.

    jadi asal usul suku toraja menurut mereka itu dr kahyangan turun di pulau lebukan lalu mampir di danau tempe sampai beberapa generasi lalu salah satunya ke gunung kandora , dia inilah yg bakalan jadi nenek moyang orang toraja termasuk anda2 semua yg mengaku berdarah toraja di blog ini !

    padahal tempe tiap hari dimakan sama to jawa

    Kepada para ahli / pakar sejarah toraja tolong jawab pertanyaan saya ini apa hubungannya Puang Tamboro Langi’ dengan gunung Tambora / Tamboro di wilayah NTB sekarang ini yg konon ketika meletus beberapa ratus tahun yg lampu, debunya menutupi wilayah Eropa keseluruhan ?
    Saya yakin sekali pasti ada hubungannya antara Gunung Tambora/Tamboro dgn Puang Tamboro Langi’ . Tolong beri kesempatan lebih dahulu buat ahli/pakar Sulsel Bapak Sulwan Dase. Karena disekitar kepulauan dimana Gunung Tambora/Tamboro tsb berada banyak sekali keturunan bangsawan Gowa yg beranakpinak disana sebelum Gunung tsb meletus . Dan pertanyaan kedua apakah arti Sumbawa itu sama dengan Sombaya ???

    sebagai referensi coba baca aja ini :

    http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Tambora

    http://www.inilah.com/news/read/teknologi/2010/04/25/486651/letusan-gunung-tambora-belum-terkalahkan-1/

    Semoga bukan Gunung Tambora/Tamboro langsung yg memberikan jawaban nanti kita semua bisa cilaka !

  159. Bapak Frans Bararuallo, terima kasih bapak bersedia jadi sponsor suara dan sponsor dana kalau saya jadi Calon Bupati TORUT. Dengan rendah hati, saya nyatakan tidak bersedia. Mammi’ ya tu dadi tobiasa-biasa. Pulang ke rumah, anak bungsu saya sudah menunggu di pintu minta digendong. Masuk rumah dia dengan kakaknya berebut buka sepatu saya. Makan malam, si bungsu senangnya makan satu piring dengan papa. Belanna mamasena Puang, sebulan bisa pulang ke rumah dengan upah setara gaji 30 orang PNS Gol. III. Kalau saya mencalonkan diri, itu semua bisa jadi hilang.
    Sejalan dengan pikiran Bapak, soal Tondokta Toraya, kalau mau maju, hukumnya satu – Bupatinya harus berjiwa enterprising. Hilangkan karakter birokrat, dimana pikiran, jiwa, semangat, penampilan yaaa.. birokrat, sampai habis lagi periode. Hal sembangan suke baratu (paramisi) atau Tempat Kasino dan semacamnya, bisa kita buat di Puncak Gunung Sesean seperti di Genting Highland – Malaysia. Coba bayangkan, kalau dari Toraja, muncul Las Vegasnya- Indonesia. Lengkapi dengan Mall, Hotel, Rumah Sakit dengan orientasi skala internasional. Khusus arah ke ruang Kasino – Hall Paramisi, jangan lupa ditulis “Umat Kristiani dilarang Masuk”.
    Dari Gunung Sesean kita buat kereta gantung (Skyway) sampai ke Rantepao. Kalau kereta gantung di Malaysia mengandalkan panorama tumbuhan, kita kalahkan dengan tambahan panorama sawah dan rumah adat sepanjang jalur kereta gantung. Belum lagi, cuma di Toraja (Sesean) yang suhunya sama dengan suhu Eropa, dan kolaborasi itu tidak bisa kita jumpai di tempat lain di Indonesia. Coba bayangkan PAD Toraja, kalau yang datang berwisata adalah orang-orang boros dan pembayar-pembayar pajak termahal di dunia.
    Kalau hal ini didiskusi dengan gaya birokrat, jawabannya sederhana, dana tidak ada, persoalan sosiologi masyarakat, susah dapat investor dan hukum agama melarang. Kalau ini ditanya sama pribadi enterprising, akan muncul jawaban ya – dengan solusi-solusi yang kita belum tahu.
    Hal lain, soal cara mensejahterakan pegawai. Kalau bupati birokrat, pasti hanya berharap alokasi dana dari pemerintah. Tapi kalau Bupati yang berjiwa enterprising, pasti bisa, kalau pegawai di daerah lain bisa sejahtera karena simulasi PAD, kenapa pegawai di kampung kita tidak bisa. Dan masih banyak hal lagi.
    Buat Bp Laurent M, alangkah baiknya kalau kita berdoa baik untuk orang-orang sekampung kita. Soal beda pendapat dalam diskusi tentang asal usul nenek moyang atau soal nama gunung, itu normal. Kita rindu hidup damai dan bahagia, tanpa ke-cilakaan.
    Salama’ solanasang.

    • wah, inang mammi’ tu dadi to biasa, apa la’bi mammi’ kamu, saba’ 30 kali lipat PNS tu saro bo’yo’mi. Tae’ raka dikka’ ku undi ula’komi Om ?

  160. Pak Laurent Yth….

    Sebagai kata pembuka, ingin saya ucapkan terima kasih atas apresiasi bpk ke sy. namun harus sy katakan bhw kebetulan saya bukan ahli sejarah atau ahli sulse hehehe.

    Menurut apa yang saya dengar dari seorang kawan saya turunan kesultanan Bima, bhw nama gunung itu dahulu bernama Gunung Tamboro. Bila di ucapkan dlm bahasa Makassar bunyinya: Tamboro’, atau dalam bahasa Indonesia lama = Tambur. Kerajaan Bima dahulu hidup dalam gaya hidup mirip orang Toraya dengan menganut paham seperti Aluk Todolo di Toraja. Namun pada masa kakak Sultan Hasanuddin, terjadi perkawinan antara salah satu kakek Sultan Hasanuddin yg sdh beragama Islam dengan Putri Raja Bima. awalnya perkawinan ini merupakan perkawinan politik, yg menyebabkan kerajaan Bima di bawah perlindungan Kerajaan Gowa. Demikian seterysnya sering terjadi pernikahan antara kerabat kerajaan Gowa dengan Bima, shg pada masa seangkatan dgn Sultan Hasanuddin, kerajaan Bima berubah menjadi Kesultanan Bima. Raja dipimpin oleh Sultan.

    Nah kembali ke nama Tamboro. Nama ini sangat dikenal di Gowa dan bahkan sangat di takui. Beliaulah yg kemudian menjadi cikal bakal adanya gelar Macan Buleng ka Ri Tallo. orang2 jaman sekarang mengucapkannya dengan sebutan Macan Kebo Ka Ri Tallo (Macan Putih Dari Tallo).

    Puang Tamboro Langi adalah Sepupu 1x dengan Raja Gowa III. Ayah Puang Tamboro Langi adalah adik dari Raja Gowa II yang bernama Karaengta I Tumassalanangga Baraya atau bergelar juga Petta I La Ma’rang. Orang Toraya menyebutnya Petta La Marang. Ma’rang dalam bahasa Makassar artinya “berdehem” dalam bahasa Indonesia atau “messa’da” dalam bhs Toraya.

  161. Pak Laurent Yth….

    Sebagai kata pembuka, ingin saya ucapkan terima kasih atas apresiasi bpk ke sy. namun harus sy katakan bhw kebetulan saya bukan ahli sejarah atau ahli sulse hehehe.

    Menurut apa yang saya dengar dari seorang kawan saya turunan kesultanan Bima, bhw nama gunung itu dahulu bernama Gunung Tamboro. Bila di ucapkan dlm bahasa Makassar bunyinya: Tamboro’, atau dalam bahasa Indonesia lama = Tambur. Kerajaan Bima dahulu hidup dalam gaya hidup mirip orang Toraya dengan menganut paham seperti Aluk Todolo di Toraja. Namun pada masa kakek Sultan Hasanuddin, terjadi perkawinan antara salah satu kakek Sultan Hasanuddin yg sdh beragama Islam dengan Putri Raja Bima. awalnya perkawinan ini merupakan perkawinan politik, yg menyebabkan kerajaan Bima di bawah perlindungan Kerajaan Gowa. Demikian seterysnya sering terjadi pernikahan antara kerabat kerajaan Gowa dengan Bima, shg pada masa seangkatan dgn Sultan Hasanuddin, kerajaan Bima berubah menjadi Kesultanan Bima. Raja dipimpin oleh Sultan.

    Nah kembali ke nama Tamboro. Nama ini sangat dikenal di Gowa dan bahkan sangat di takui. Beliaulah yg kemudian menjadi cikal bakal adanya gelar Macan Buleng ka Ri Tallo. orang2 jaman sekarang mengucapkannya dengan sebutan Macan Kebo Ka Ri Tallo (Macan Putih Dari Tallo).

    Puang Tamboro Langi adalah Sepupu 1x dengan Raja Gowa III. Ayah Puang Tamboro Langi adalah adik dari Raja Gowa II yang bernama Karaengta I Tumassalanangga Baraya atau bergelar juga Petta I La Ma’rang. Orang Toraya menyebutnya Petta La Marang. Ma’rang dalam bahasa Makassar artinya “berdehem” dalam bahasa Indonesia atau “messa’da” dalam bhs Toraya.

    Jadi bila merujuk pada cerita kawan saya turunan Gowa-Bima, ada kemungkinan Nama Gunung Tambora (dahuklu Tamboro) diberikan ke gunung yg indah itu sebagai upaya utk mengenang atau menghargai Leluhur mereka dari Toraya

  162. Sang Torayaan Yth,
    Ada banyak cerita, dogeng, dan upaya memitoskan kesamaan/kemiripan kata dari berbagai daerah di senatero nusantara ini menjadi suatu kebenaran atau makin menjauhi kebenaran untuk mencari popularitas tertentu.

    Bahkan ada banyak kebenaran yang diupayakan lamur karena tekanan pihak/kelompok tertentu sehingga cenderung menjadi soge dan akhirnya menjadi legenda semata.

    Contoh konkret.
    Apakah sangtorayaan mau percaya kalau seandainya sy menyatakan bahwa cerita manusia perahu atau lembang di Toraja sy angkat dari Pak Lembang ? Pak Lembang sy poles pengucapannya menjadi Palembang. Wah…, ini pasti banyak pihak yang menggugat sy. Di sanalah pasti ada kesibukan mencari-cari apa sesungguhnya arti dan maksud dari ontology, epistemology, dan axiology.

    Contoh lain,
    Kalau sy membuat pernyataan bahwa nenek moyang asli orang Toraja itu ada, tetapi karena tidak ada catatan yang dapat diyakini sebagai bukti autentik, maka para sosiolog dan antropolog hanya menyatakan bahwa itu adalah hasil alkulturasi antara etnis negrito dengan pendatang kemudian. Lalu hasil nikah-menikahi ini disebut sebagai penduduk asli.
    Tetapi ada pendatang yang lebih kemudian yang memiliki budaya yang lebih maju lalu disebut tomanurun. Karena hubungan dan komunikasi belum lancar dan canggih seperti saat ini, maka diasumsikan mereka dari dari dunia gaib (langi’) dan datang dari dunia bawah (togenggong) atau bu’tui ri wai.

    Contoh lainnya lagi,
    Tempo dulu sering Tongkonan Nonongan di Kanuruan disebut-sebut tomenaa sebagai togkonan tertua. Lalu di kota Solo (Jateng) ada kampung Nonongan. Kalau sy membuat pernyataan bahwa manusia yang disebut Lakipadada adalah manusia petualangan dari salah satu kerajaan tertua di Jawa dan menikahi Petimbabulaan sehingga cucunya membangun Tongkongan Kaero di Sangalla’, maka sy pasti dicari-cari masyarakat Sangalla’ untuk dihukum gantung.
    Demikianpun sebaliknya, jika pernyataan di atas sy balik, maka patilah para antropolog dan sosiolog yang kepakarannya tentang budaya Jateng, khususnya soloisme, akan murkah kepada sy. Lalu sy mengahadpi mereka dan menyatakan bahwa anjing, dalam bahasa Toraja asu, adalah bukti konkret untuk itu.

    Contoh lain yang bisa lebih seru dan dapat juga membuat etnis Batak marah besar kepada sy.

    Kata TOBA, kalau sy panjangkan menjadi Toraja- Batak yang berkonotasi orang Toraja itu ada lebih dahulu dibanding etnis Batak, maka sy akan dicati-maki dan diupayakan membunuh sy. Lalu sy membelah diri dengan menyatakan bukankah Minagkabau itu berasal dari menang karena kerbau ?? Hal ini sy lakukan karena di Toraja ada cerita rakyat tentang aduh kerbau jantan terbesar, terkuat dengan anak kerbau yang masih menyusu pada induknya.

    Jadi marilah kita meluruskan dan membuat sejarah yang benar sehingga anak-cucu memiliki warisan yang benar pula.
    Harus dapat dibedakan mana tindakan berseloroh, mana guyonan (barruga) dan mana yang sesungguhnya terjadi. Bagi sy pribadi, asal-usul orang Toraja tidak perlu diperdebatankan secara berkepanjangan. Hal terpenting sekarang didiskusikan intensif adalah bagaimana membangun Toraja yang hasilnya mampu menunjukkan ke-toraja-an yang sesungguhnya. Kualitas sdm-nya mantap, daerah produktif, sistem dan perekonomiannya menjadi rujian bagi daerah tetangganya, dan menjadi salah satu daerah pariwisata dunia yang berkelanjutan.

    Selamat berdiskuisi dengan benar dan terkaji secara empirik, semoga lebih matang dan lebih berdayaguna.

    frans b

  163. Pak Frans dan kawan2

    Saya setuju dengan analogi pak Frans. Tidak menghubung-hubungkan sesuatu seperti rumus seorang dukun. Dicocok-cocokkan, kalau enak ya ambil, kalau tidak nyaman ya dilewat.

    Nama saya SAMPE, nama yang mirip bahasa Jawa, sampean…., berasal dari Keraton mana ya saya di Pulau Jawa.

    Tidak bisa dibuktikan secara emirik, jadi pak Frans benar.

  164. Toraja dan Ketorajaan seperti apa?
    Marilah kita menelusuri tapak jejak leluhur mencoba membuktikan antara Ossoran dan fakta yang ada misalnya kedatangan Tangdilino di banua puan Mengkendek dari Rura. Tamborolangi setelah kawin berdiam di Ullin, kemudian Lakipadada yang lahir di Batu Bolong dalam pengembaraannya pernah dibakar di buyung Peuso. Selanjutnya Aluk Sanda Pitunna dan Aluk Sanda Saratu, dan seterusnya

  165. Ucu’ dan sangtorayaan yth,

    Jika ossoran, tepatnya asal muasal orang Toraja, dibahas kembali tidak akan ada titik temu.

    Masyarakat Toraja di bagian utara punya terita sendiri tentang asal usul nenek-moyangnya. Ada bukti konkret yang tersimpan rapi. Istilah Wara dan Toraa misalnya dari Luwu’.

    Jika Aluk 7777 ditelusuri “ceritanya”, maka kelihatan bahwa Tangdilino’ kurang paham tentang Aluk-7777 sehingga memanggil Pong Sulo Ara’ dari Sesean untuk merumuskannya kembali. Pong Sulo Ara’ bukan keluarga Tangdilino’. Dia punya silsilah sendiri. Dan begitu ada ritual tertentu, sampai sekarang, pemangku adat dari Sesean (Sa’dan – Balusu) selalu mendiskusikan ritualnya terlebih dahulu dengan pemangku adat dari Kesu’. Tidak pernah ada kedengaran ke Banua Puan.

    Banua Puan yang dipolulerkan sebagai tongkonan pertama di Toraja (dari banua Ramba Titodo), juga tidak bisa diterima begitu saja oleh masyarakat Toraja Utara (Torut) karena ada istilah Pantanakan Lolo, sebagai gelar utama bagi Kesu’ dari dulu sampai sekarang. Berarti di bagian utara Toraja ada tongkonan tertua juga, dan bahkan para pakar dari luar menduga lebih tua daripada Banua Puan.

    Bagaimana dengan Aluk 7777, Aluk 100, dan kul 888 Ucu’ ???? Tolong lebih banyak berdiskusi dan lebih banyak bertanya kepada para tetua kita di Toraja. Kalau ada kesempatan berkunjunglah ke Leiden atau ke Tokyo University.

    Ada kesan sementara “direkayasa” untuk membentuk opini baru sehingga sampai pada kesan bahwa itu satu-satunya. Mungkin bisa dilihat pada nama-nama Topada tindo tomisa’ pangimpin (1690). Kesatuan rasa, kesatuan hati, dan rasa kesatuan sang-torayaan meliputi wilayah adat mana saja ?

    Ucu dan sangtorayaan yth,
    Mungkinkah terjadi alkulturasi (saling menikahi) jika hanya satu pihak saja yang mau menikah ? Pasti ada pihak lain (lawan jenis) sehingga yang lain (mungkin penduduk asli) disebut bu’tui ri liku, dst … dst. Mungkin saya salah satu manusia Toraja yang tidak akan pernah percaya pada cerita rakyat seperti itu. Itu pasti ada rekayasanya untuk mengunggulkan turunan sendiri. Tindakan ini kurang terpuji dan tidak bagus.

    Adalah sangat salah dan terlalu pagi jika tindakan semacam itu disebut mythos, soge, atau legenda. Tetapi yang pasti tidak boleh mendapat pujian dari siapa pun.

    Baiklah semuanya itu sehingga kita masih mau berbincang ria tentang kandungan budaya daerah kita. Selamat berdiskusi, frans b

  166. Salam Kenal sy Asdar
    Sy sependapat….. kita jangan buru2 berpendapat bahwa Toraja penuh dengan Legenda n mitos….. masih banyak pada budaya kita yang perlu kita ketahui..

  167. Sangtorayaan yth,

    ……… tahun 1967, karena sy masih kecil jadi ingatan samar-asamar, ada om sy dan beberapa teman dekatnya, bercerita ria di atas sebuah lumbung (alang) di sebuah rumah adat di Kanuruan. Isi inti cerita mereka adalah Kerajaan Kutai itu adalah hadiah (pemberian) dari kerajaan tertua di Toraja (maaf jika saya salah).

    Setelah membaca komentar Pak Sampe dan AsdarPHK di milis ini, maka sy teringat kembali cerita itu, walaupun dalam keadaan setengah lupa. Dengan meng-e-ja kata KU-TA-I (bahasa Toraja), yang berarti ku-be-ri, maka ada dugaan kuat cerita di atas benar (maaf bagi para tetua dan sahabat kental kita dari Kaltim).

    Adakah di antara para pemerhati milis ini yang memiliki informasi serupa ????
    Jika ada tolong diangkat di milis ini sehingga makin ada kejelasan.
    Atas semua bantuan dan kerja samanya, sy berterima kasih.

    frans b, tks

  168. Frans B yang baik, maaf mungkin tulisan saya kurang mengenah sehingga terjadi analisa yang kurang tepat dan menarik, namun saran saya sebaiknya Frans B memahami lebih banyak lagi tentang budaya Toraya, trima kasih.

  169. Uco’ … Uco’, kalau sy mau belajar “memahami lebih banyak lagi tentang budaya Toraya” pada anda sy kawatir sy bukannya makin memahami, tetapi malahan makin lamur dan tidak tahu apa-apa.
    Sy tidak berkonsentrasi pada bidang budaya Toraja Uco’, bidang sy lain. Anda akan bingung bila melihat latar belakang sy. Justru anda akan bertanya kenapa harus begitu ??? Ada setan ke-Toraja-an apa di dalam diri sy sehingga bisa begitu !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    Terima kasih sarannya Uco’, semoga makin Ucu’an di masa mendatang
    frs

    • Sa’bara’ki’ Puang Ucu’ ke berubai sanga panggilanta

      Salama’ lako Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Sulawesi Selatan. Tabe’

  170. panjang banget tulisanya…
    puas banget bacanya

  171. Demikian halnya keberadaan manusia dari lahir sampai mati, aturan-aturan etis dan ritus serta simbol-simbol yang berhubungan dengan kesakralan itu selalu mengiringi keberadaan manusia Toraja. Aturan-aturan etis dan ritus serta simbol-simbol itu menghubungkan manusia secara khas dengan dengan tatanan faktual, baik dengan yang ilahi, maupun dengan sesama manusia dan alam

  172. apa yang sudah diberikan untuk kinallo tomate pasti akan kembali berlipat ganda….si mati akan membali puang dan memberikan dalle’ jadi mantunu bukan pemborosan!

  173. Aduh….. senang sekali membaca tulisan dari Bapak-bapak semua dari daerah Toraja, saya bukan orang toraja, tapi membaca tulisan, diskusi yang tertera milis ini bertambah deh wawasanku terhadap sistim sosial budaya masyarakat tanah toraja. Namun, jika berkenan untuk memberikan usul, bolehkah para pakar toraja duduk bersama untuk menulis buku tentang toraja dimana didalamnya sudah merupakan hasil kesepahaman bersama seluruh pakar toraja, sehingga masyarakat luar yang mau mendalami toraja mendapat pemahaman yang utuh terntang toraja. Dan yang lebih penting lagi generasi muda toraja memiliki referensi yang tepat untuk kelestarian budaya masyarakat toraja yang sangat fenomenal ini. Terima kasih

  174. jujur sj Kekristenen d toraja mmg sangat memprihatinkan……..?
    dimana Tulisan diatas membuka sedikit keadaan msy Toraja………..
    in kslhn kita d pr hamba2 Tuhan krn belum adax org2 yg mau benar2 mlyani Tuhan dgn sungguh2,…………ttp lebih cenderung melyni diri mereka sendiri

    Bukti kl keadaan d toraja memprihatinkan adalah adat d nomor satukan dan Firman Tuhan d nomor dua kn………

    adakh yg px hati m mlyni dgn sunguh2…………..?

  175. santari (STTAFI-I JAKARTA) dan Kanisius K.Guntur yang baik,

    1). Khusus untuk Kanisius K.Guntur, boleh datang ke Jl. Jend. Sudirman No 51 Jaksel untuk membeli buku yang berjudul “KEBUDAYAAN TORAJA” jika mau mengenali secara bertahap tentang masyarakat dan kebudayaan masyarakat Toraja.

    2). Buat santari (STTAFI-I JAKARTA) yang teologis. Mengulas hal-hal seperti di atas tidak hanya dari satu sisi. Bisa dari berbagai sisi atau aspek kehidupan manusia. Mungkin saja secara, kebetulan santari (STTAFI-I JAKARTA), adalah seorang pendeta atau senangnya membaca pasal-pasal dan ayat Kitab Suci. Jadi membahas asal-muasal manusia dan bagaimana hubungannya dengan Tuhan penciptanya.

    Misalnya proses penciptaan manusia menurut Kitab Suci bisa dipertemukan dengan Passomba Tedong dari Toraja. Luar biasa banyaknya hal yang dapat dinikmati dari dua Kitab ini (kalau boleh disebut demikian).

    Jadi harus menyadari bahwa Bumi ini sudah sampai ke tatanan dan alam multikulturalisme. Bukan lagi seperti teologia masa silam (hubungan asimetris) tetapi teologia yang berke-Tuhan-an dan berke-Manusia-an di mana terjadi hubungan simeteris namun tidak setara.

    Oleh karena itu kita harus membuka hati, pikiran, dan membuka mata untuk dapat membaca tanda-tanda kebenaran adanya Tuhan dan bukan Tuhan yang serba teka-teki. Istilah “siporannu sipopa’dik” dalam bahasa Toraja tinggi sangat teologis dan mengandung logika/filsata yang sangat tinggi dalam masyarakat Toraja. Hanya saja harus memahami strata sosial dan kemajemukan adat-istiadat Toraja untuk memahaminya.

    Oke, sekian.
    frs

  176. Saya tidak menentang atau memihak artikel yang sudah dimuat, saya hanya mau komentar bahwa sejak dulu juga orang Toraja sudah mengenal yang Maha Kuasa, dalam arti bahwa hidup manusia toraja juga mengenal adanya penguasa tunggal alam semesta, yang nantinya kita semua akan kembali ke sana sang pencipta kita. Jadi persoalan agama dan adat tidak perlu dipertentangkan, harusnya disinkronkan. Soal pengorbanan dalam agama juga ada kurban bakaran dsb. Lalu apanya yang bertentangan. Pesta dan segala macamnya adalah bagian dari bagaimana org Toraja memuliakan sang Pencipta dengan cara mengantarkan roh orang tua secara baik-baik kepangkuanNya, apapun modelnya. Trims

  177. Shalom, saya minta informasi buku2 yang bapak sampaikan untuk ibu novi bisa dicari dimana pak???terima kasih atas bantuannya…GB..

    Selmita Paranoan..

  178. senang bisa membaca berbagai gagasan, informasi dari teman2 pemerhati budaya Tana Toraja. Intinya apapun yang kita kemukakan tentang budaya Toraja adalah wajar & manusiawi selama tidak ada yang dirugikan dan tentunya itu dijamin oleh hukum negara kita.
    Kalau menurut saya untuk mengetaui siapa yang benar, tongkonan paling tua, silsilah yang paling tepat untuk sekarang ini memang sangat sulit untuk dibuktikan karena masing2 memiliki bukti yang nyata dan menurut mereka bisa dipertanggungjawabkan.
    Aluk to dolo adalah suatu warisan kebudayaan dari nenek moyang kita dan tentunya wajib kita lestarikan. Lestarikan yang saya maksud bukan berarti kita mesti harus masuk kedalam aluk to dolo, kita tetap boleh memilih keyakinan yang kita yakini kebenarannya untuk sekarang.

  179. Aluk to dolo adalah pedoman lisan kehidupan masyarakat Toraja yang disampaikan secara turun temurun dari generasi kegenerasi sehinga menjadi suatu tradisi dan kebudayaan. Kebudayaan Toraja bisa dikatakan sama dengan aluk walaupun pada kenyataannya sedikit demisedikit mulai ada pergeseran dikarenakan waktu dan zaman, contohnya: dulu dalam satu keluarga bangsawan pastilah memiliki hamba dan tugas dari si hamba adalah mengerjakan segala sesuatu yg diperintahkan oleh sang majikan, mulai dari urusan ladang, dapur hingga ritual adat. Sekarang semuanya sd berubah masing2 orang bertanggung jawab untuk diri dan keluarganya tak ada lagi perhambaan, ritual2 yg berhubungan dg aluk perlahan2 mulai hilang walaupun tidak semuanya.
    Kebudayaan manusia terus berkembang dan sangat dipengaruhi oleh zaman dan teknologi yang berkembang saat ini tentunya aluk to dolopun demikian, perlahan tapi pasti akan ada perubahan dan tak ada seorangpun yang bisa menghentikan itu. Oleh karena itu masih perlukah kita memperdebatkan itu?

  180. Luaaarrr.. biasa… debatnya 2 tahun dan saya bacanya full 2 hari…
    Saya hanya bisa bilang terima kasih sudah membuka cakrawala pemikiran saya tentang tondokta, toraya….

    Kurre sumanga’, na yake bisa mi patarru’ tarru’ pa sidi’ te disdusimmi…

  181. Selmita Paranoan yth,
    Jika ingin mendapatkan sebagian dari buku-buku mengenai tondok
    Toraya; kami persilakan berkunjung ke Unika Atmajaya Jakarta d/a University Press & Bookstore. Di sini tersedia banyak buku karangan putera daerah yang cukup bermutu menurut banyak pakar dari luar.

    frans b

  182. Sang Torayaan yth,
    Kami baru menemukan, suatu hasil penelitian, bahwa awalnya implementasi Rambu Solo’ dalam masyarakat Toraja tidak menggunakan pondokan (lantang). Hanya alang (lumbung) dan beberapa kelompok ongan (daun ijuk yang ditancapkan ke dalam tanah) untuk tempat bernaung dari sengaan matahari atau hujan.

    Pondokan itu baru dimulai ketika istri Pong Maramba’ meninggal (1940-an) lalu diupacarakan di Rantepao. Penciptaan situasi makin diminati bayak keluarga yang berduka sehingga berlanjut hingga mencapai puncaknya pada dekade 1970-an. Belakangan ini mengalami banyak modifikasi hingga pada tahap pembangunan pondokan mirip dengan rumah tinggal. Pada saat ini sedang mengalami degradasi sehingga pondokan dibangun hanya untuk satu dua hari saja. Orang pergi melayat (tongkon) hanya beberapa jam, setelah itu pulang dan pondokan kosong.
    Kecenderungan selanjutnya adalah mengurangi jumlah pondokan dan dibangun lebih sederhana. Akhirnya kembali seperti semula agar lebih efisien.

    Salam sang Torayaan,
    frs

  183. Waddduuuuuuuuhhhh, diskusinya menarik, walau kadang kala ada juga keras, duh dodong hatiku, maau belajar sejarah, adat, budaya dan aluk, tapi yang adem adem aja bapak bapakku yang terhormat.

    NB :
    1. sabar sabar sabar dalam diskusi,
    2. Sa’bara’ki Pg.Ucu’ ke berubai tu sanga panggilanmi lan te diskusi

    Tabe’

  184. Pak Frans yang baik,
    1. bisakah dijelaskan letak perbedaan mendasar antara Aluk Sanda Pitunna dan Aluk Sanda 100 ?
    2. Saya baca komen bapak, dulu pernah bertanya ke daerah Lemo, siapa disitu Pak yang jadi teman diskusinya ?

    NB : sa’bara’ komi Pak Ucu’ ke berubai jadi Uco’ tu sangammi, salama’ lako Aliansi Masyarakat Adat Sulsel.

    Lembang

  185. setujuna’ to’o om frans….kita ini harusnya merujuk pada adat istiadat masa lalu yang telah diberikan nenek moyang kita…cenderung totemo pestanya jadi ajang memperlihatkan siapa saya…tabe’ ke salahna’…kurre

  186. Diskusi yg sangat menarik…
    semuanya hebat… bangga memiliki saudara2 yg konsen pada Budaya Toraja.

  187. Sang Torayaan dan para pembaca yth,

    Ada baiknya kita menganalisis arti kata u-c-o yang diangkat oleh Lembang di milis ini. Maaf, apakah Lembang ini wanita, laki, ataukah sebuah alat angkut tanah di sawah ???? Sekali lagi maaf, istri saya juga namanya Lembang dengan marga Tangkelembang.

    Dalam masyarakat Batak U-C-O berarti anak laki; sedang dalam masyarakat Sunda sama dengan U-j-a-n-g; tetapi di dalam masyarakat Betawi itu sama dengan B-o-c-a.

    Dalam masyarakat Toraja, panggilan seorang ayah disesuaikan dengan anak pertamanya. Misalnya anak pertama Lembang (jika laki) adalah Daeng; maka kalau Lembang adalah orang Toraja anda akan dipanggil Papa Daeng. Artinya Bapaknya Daeng. tetapi kalau lembang adalah seorang wanita, maka anda akan dipanggil Mama Daeng atau Indo Daeng (dalam bahasa Makassar Mmakna Daeng). Artinya Ibunya Daeng. Namun sayang anak pertama sy bukan laki tetapi seorang wanita (perempuan). Jadi kurang tepat dipanggil Pak Uco.

    Jika Lembang adalah berdawah Toraya dan serius menamai sy demikian, maka bagi orang Toraja itu pemaknaannya adalah sangat negatif. Sy pikir Lembang bukan orang Toraja asli, sudah hasil akulturasi dengan etnis lain. Kalau itu adalah bersifat bonga-bonga (nakanai Mangkasa’) maka itu tidak menjadi masalah.

    Sy mengaktifkan diri dalam diskusi ini karena ada banyak hal yang bisa didapatkan. Misalnya, peserta diskusi rata-rata memiliki tempramental tergolong tinggi. Habisnya cara’deki ngandre coto Mangkasara’ jadi gisi dan kolesterolnya tinggi. Nampatenaja.
    Memang latarbelakang pendidikan sy bukan kebudayaan, bukan sosiologi, bukan antropologi, dan bukan sastra atau hukum. Sy orang ekonomi : akuntansi dan keuangan.
    hal lain Budaya Toraja secara tertulis sehingga sy menulis buku Toraja pertama dgn judul : Aluk-Adat-dan Adat-Istiadat Toraja (2007) dan Kebudayaan Toraja (2010). Kini sedang meneliti sistem ekonomi masyarakat Toraja.

    Sekali lagi mohon maaf, hanya sebagai informasi tambahan Papa’ Daeng atau Mama’ Daeng.

  188. Papa’ Daeng (Mmakna Daeng) yang berbudi luhur,

    Jika Aluk Sanda Saratu’na (Aluk-100) ditanyakan kepada sy, maka jawaban singkat sy : silakan baca buku dengan judul Kebudayaan Toraja yang dicetak oleh Pohon Cahaya Jogya bulan Desember 2010. Buku ini dicetak terbatas dan bisa dibeli di TB Gramedia.

    Jika Papa’ Daeng (atau Mmakna Daeng) tinggal di Makassar, maka silakan berkunjung ke Pst Perpustakaan Unhas di Talamanrea, Km. 10; tetapi kalau tinggal di Singapura, maka silakan berkunjung ke Pst Perpustakaan National University of Singapore (NUS), kalau tinggal di Jerman silakan berkunjung ke Sosiology Departement di Rotingen University, jika tinggal di Jepang maka silakan berkunjung ke Pst Perpustkaan Tokyo University, dan seandainya tinggal di Jakarta silakan berkunjung ke University Press and Bookstore di Unika Atmajaya; atau kalau butuh banyak (kalau masih ada di Gramedia) silakan hubungi sy di Lt-6 Gedung-B FE Unika Atmajaya Jakarta.

    Hal yang pasti bahwa Aluk Sanda Saratu’na, menurut cerita rakyat di Tallulembangna Toraja, dibawa turun oleh Tomanurun Tamboro Langi di Buntu Kandora Menkendek; sedang Aluk Sanda Pintunna adalah Aluk asli nenek moyang orang Toraja, … dst … dst.

    Jika sahabat diskusi sy dari Rantelemo (Lemo) ditanyakan, namanya adalah Ne’ Mika (semoga masih hdup). Tetangganya biasanya memanggil dia Poi’ Mika (di buku Kebudayaan Toraja ada nama dan komentarnya sedang fotonya menyusul pada edisi revisi). Sy biasanya memanggil dia Om Mika karena menurutnya, sy adalah keponakannya jika silsila dari Tongkonan Tumika dan Gorang di Lemo ditelusuri. Sama-sama moyang kami bernama Patakdungan dari Tongkonan Tumika di Lemo, Rantelemo. Demikian Papa’ Daeng.

    Maaf Papa’ Daeng, kata daeng dalam bahasa Mandar adalah gelar bangsawan sedang dalam masyarakat Makassar sama dengan tukang beca. Sy dulu, ketika masih tinggal di Makassar, selalu berguru bahasa Makassar kepada para tukang beca dan kepada para nelyan di Barombong dan Limbong (wil. Kerjaan Gowa tempo dulu).

    Salam hormat sy kepada masyarakat Aliansi Sulawesi Selatan, semoga Sul-Sel tetap utuh budaya, visi, misi, dan pari’sanganna. Matcai Mangkasara’, Mekkaduai Papa’ Daeng.

    Selamat berlibur,
    frs

    • Frans, Assalamualaikum tabe’ di’ DAENG dalam masyarakat mandar adalah sapaan buat keturunan bangsawan tinggi (anaq ceraq/pattola) lebih tinggi dari puang/petta dan tiada bisa disamakan dengan tukannnn becak dan saya kira di dalam masyarakat bugis makassar juga begitu (cuma dalam bugis makassar daeng bukan gelar bangsawan tinggi) mengingat banyak raja2 di sulselbar memakai gelar daeng seperti La tenritatta daeng serang (arung palakka), I mallombassi daeng mattawang (s.hasanuddin), We kambo daeng risompa (pajung luwu), Daeng rioso (arajang balanipa) jadi buat orang2 yg selalu mengidentikkan kata DAENG dengan tukannn becak, saya rasa perlu belajar sejarah dulu…tabe di saya bukan ahli sejarah saya cuma anak tukannn becak nan penggemar berat coto mangkasaraji kasi’ juga saya sebenarnya tidak suka membahas masalah masalah derajat, tingkat kebangsawanan, matasak atau apalah itu, sudah bukang mi jamannya bela…semua manusia samaji di matan tuhan…semata-mata cuma mau meluruskang apa yan salah…dan sekedar menghormati luluhurta saja.

      Tabe, muhammad jafar muris

      naiyya ana’ tommuane, ana passambo siri’, passombo siri’na lita mandar.

  189. Papa’ Daeng yang baik,

    Agar lebih informatif informasinya ttg Aluk-777 dan Aluk-100, silakan baca buku yang berjudul Kebudayaan Toraja tahuin 2010.

    Teman diskusi sy dari Lemo, Ranteemo, adalah Ne’ Mika (semoga masih hidup). Masyarakat Lemo memanggilnya Poi’ Mika. Sy memanggilnya Om Mika, karena menurut dia sy adalah keponakannya menurut silsila/turunan Pata’dungan dari Tongkonan Tumikla dan Tongkonan Gorang di Lemo.

    Buku ini bisa dibaca di Perpustkaan Pusat Unhas, NUS, dan beberapa orang Toraja/Makassar sudah membelinya. Stoknya sudah diborong Granedia sejak Oktober 2011.

    Semoga informasi ini memuaskan,
    frs

  190. Selamat menyongsong Natal Pak Frans
    Wahhh mantap tuh kalau buku budaya torajanya udah keluar.
    Saya tidak meragukan isinya, karena pasti memiliki sumber langsung dari Toraja, sama seperti buku2 para peneliti dari luar macam tulisan peneliti dari Prancis, Belanda, Jepang dll.
    Apakah buku ini hanya menyangkut budaya Toraja atau juga mengandung Sejarah Toraja Pak ?

    Salam

    • Test

  191. Kpd. Bpk Frans YTh..
    Nama saya Sarche, saya anak Toraja yang lahir di luar daerah Tana Toraja. saya tertarik penjelasaan bpk mengenai budaya Toraja, terutama mengenai “aluk pare, aluk tedong, dll” krn saya ingin mengetahui budaya kita lebih dalam lagi..
    Apakah buku yang bapak tulis menjelaskan juga hal2 tsb? dan apakah buku masi diterbitkan? saya ingin memiliki buku2 tersebut… Informasi mengenai budaya Toraja ini sangat berharga bagi saya.

    Kurre sumanga..

  192. Kpd Yth. bpk. Frans
    saya senang bisa membaca forum debat diatas, dan sangt penasaran untuk mengenal lebuh dalam budaya Toraja. Saya anak Toraja yg lahir di luar Tana Toraja dan tidak banyak hal2 ttg Toraja yg saya ketahui.. Saya penasaran dengan buku2 yg bapk tulis. apakah masih dipublikasikan? Jika iya, bisa di dapatkan di mana ya? Dan temtang “alukna pare” dll apakah dibahas dalam buku bpk juga.?
    saya sdng mencari data2 tsbut dalam rangka menyusun laporan ttg perbandingan budaya dan salah satunya adalah Toraja.
    Atas bantuan bpk saya ucapakn banyak terima kasih..

  193. kpd yth. bpk Christian T..
    saya sangat kagum dengan keberanian bapa dalam mengangkat ketegangan yang ada dalam masyarakat Toraja…
    oya… apakah masih ada buku2 yg berisi ttg kehidupan masyarakat Toraja?
    terima kasih..

  194. Saya sangat sependapat…dsinilah titik-titik yg menjadi poin bg pemuka agama dan tokoh adat masyarakat kita orang Toraja untk bisa disikapi dan ditindaklanjuti secara serius…
    Sebab hal tersebut telah brlangsung sejak lama dan sangat cepat merambat serta berakar dlm khidupan sosial kita sbagai masyarakat Toraja yang telah mengikis nilai2 budaya serta agama yg benar.. Lebih parahx mayoritas hal terjadi bermula dari pemuka agama dan tokoh adat itu sendiri, bahkan tdk sedikit tokoh agama entah disadari atau tdk disadari termakan oleh dualisme gaya hdp trsebut..sungguh sangat-sangat disayangkan..
    Dikesempatan ini sbagai salahsatu pemuda toraja perantau…
    Hal yg terbaik yg harus d lakukan adalah mulailah memperbaiki dr dalam diri kita sendiri dan keluarga…tp tentux dukungan mempublikasikan dan mengexpos hal tersebut sangat diperlukan..dlm hal ini sosialisasi dberbagai media massa..
    TRIMAKASIH..
    Syalom…
    Salam hangat kami Toraja perantau Nabire…GBU.

  195. Budaya bersifat dinamis, akan berubah terus sesuai dengan perkembangan jaman. Kalau karya-karya etnografi dicermati dengan baik, maka dapat diketahui bahwa Aluk To Dolo pun mengalami perubahan dari masa ke masa.

  196. Sekedar meluruskan apa yg i tulis oleh pak Frans soal kata Daeng.
    Dalam bahasa makassar, Daeng artinya kakak atau yg di tua kan. Jika kata Daeng di letakkan dinatara dua nama, misalnya Aco Daeng Ngewa, maka pemakai nama tersebut adalah dari kalangan kaum bangsawan makassar. Terkait dgn pernyataan bhw kata Daeng di gunakan utk menyebut tukang beca di makassar, adalah keliru besar. Bagi masyarakat umum, mereka di larang menggunakan nama Daeng di nama mereka. Sebagai gantinya merek amenggunakan nama Deng. Jadi panggilan ke para tukang beca di makassar, bukan Daeng Beca tetapi Deng Beca. Para pendatang tdk bisa membedakan ini shg tukang becak pun di panggil daeng becak, padahak itu salah menurut tradisi makassar.

  197. Agar jelas isinya Bp. dipersilakan berhubungan dengan Toko Buku Doa di Rpao atau Gramedia di Jakarta. Gramedialah pemasar utama sekarang karena ada kerjasama dengan Perpustakaan Nasional. Terima kasih, frs

  198. salam kenal semuanya ya,
    meskipun toraja saya sepotong dan tidak besar dan jarang ke Toraja namun saya sangat bangga akan darah Toraja saya. Postingan-postingan diatas sangat membantu saya untuk lebih memahami kebudayaan Toraja. Memang ada perdebatan di sana sini namun itu bukan “persoalan” bagi saya. Karena pikiran memang terkadang “menipu”. Saya hanya ingin belajar kearifan lokal budaya Toraja dan Ingin masuk lebih jauh kedalamnya. Saya ingin berafiliasi kedalamnya.
    Makasih ya untuk semua postingan diatas

  199. Yth, Bpk Nico, Pak Frans, Pak Christian, dan semua pembaca,

    Maaf, saya tidak membaca semua komentar Anda kecuali 2-3 komentar Bapak bertiga di awal diskusi ini. Saya tidak serta-merta masukkan komntar di soini sebelum memahani topik diskusi dan tentunya posisi argumentasi saya yang bisa menunjang diskusi ini. Takutnya tidak nyambung aja.
    Yang mau saya katakan, sekedar koreksi kulitnya saja, soal peristilahan.

    1. Saya tidak mengenal dokumen apapun di Gereja atolik yang namanya Gaudemus et Spes. Kalau yang dimaksud adalah dokumen Konsili Vatikan II: tentang Kegembiraan dan Harapan, maka mestinya GAUDIUM ET SPES (bhs Latin). Saya kuatir bapak2 berbicara tentang apa yang bpak2 tidak kuasai…Maaf.
    2. Ada yang mendasarkan pendapatnya seakan2 mewaklili pendapat/pandangan Gereja tertentu. Saya masih ragu akan pendapat dan klaim itu, khususnya bapak2 yang bicara tentang dogma dan ajaran Katolik. Mohon bertanya/mengutip pada referensi asli dan otentik.
    3. Mengenai artikel Pak Christian yang memaknai dinamika budaya Toraja dalam perjumpaannya dengan Injil/kristianitas dan modernitas dalam segi-tiga makna, saya mengapresiasi sebagai suatu upaya dan buah karya, walaupun ide/gagasan ini bukan yang pertama saya baca. Bapak menyebut dsesrtasi yang dibimbing oleh Prof Singgih dan Rm Banawiratma, mereka pernah menjadi guru saya, dan mengenal mereka, walaupun selain mereka banyak juga guru besar hebat lain yang tidak sepaham dengan itu. Tapi sebagai karya tulis harus kita apresiasi.

    Selamat berdiskusi, suatu saat yang tepat mungkin saya ikut meramaikan.

    Salama’.

  200. Bapak Frans B. yang saya hormati, saya orang toraja yang lahit dan hidup di perantauan tetapi adat dan budaya Toraja sering saya pelajari meskipun hanya sebagai referensi. saya sangat berharap bila ada orang toraja yang isa membukukan adat dan budaya tersebut secara benar dan lengkap. saya belum mendapatkan buku bapak ttg budaya Toraja. sebagai bahan referensi Bapak coba bapak bertemu dengan Bapak J. Kila’ mantan anggota DPR dari utusan golongan yang hidup di jalan Frans Karangan Malanggo-Rantepao beliau adalah murid Tominaa Ne’Tandindatu Alm dan Tominaa Ne’ Sonda’,

  201. untuk apa kita mengurus perkara dunia sia2 ini atau mengikut dongeng2 nenek tua yg tak ada artix (1Tim4:7-9).
    Lulako ku po ambe’na sia lulako siulu’ ku tumbasai te
    situs/blog, laku pokada pako tantu di tandai mo sola nasang kumua yatu kasalamaran lanmanna ia Pong Yesu’ (Yoh 14:6).

    Kita tidak bisa diselamatkan oleh usaha2 kita sendiri & kita tidak bisa diselamtkan adat kita yg konon katax almarhum masuk surga klo ada kerbau yg kita potong atau melakukan pestapora, sy rasa ini ajaran yg sama sekali tidak mengenal Tuhan.
    Justru alkitab melarang dengan sangat untuk melakukan PESTAPORA dan memang betul itu hanya membuat miskin saja terlebih dikatakan dalam alkitab bahwa orang yg melakukan pestapora tidak akan mendapat bagian dalam kerajaan surga.
    Itu adalah tipuan iblis sebagai bagian dari penyembahan berhala.
    Dan sy sangat yakin didalam semuax itu trdapat unsur berhala krn meng_Agung2kan mayat dan Tuhan sangat benci berhala (Ingat pristiwa bangsa Israel di padang gurun).
    Serta di dalam smuax itu terdapat roh kesombongan/pamer2an yg Tuhan benci.
    Inti tulisan sy,
    “klo adat istiadat kita menjauhkan kita dari Tuhan bahkan menolak keselamatan untuk apa kita ikut2 adat istiadat kita yg hanya akan membinasakan nantix.
    Apa salahnya klo kita tinggalkan..!
    “Maaf sy bukan pedeta atau majelis yg tidak memaksa saudara untuk percaya tp sy hanya menyampaikan kebenaran saja, pilihan masing2 pada diri anda sendiri..!
    Tuhan memberkati kita smua.

  202. Pak Frans Bararuallo,
    Setelah membaca dan menyimak uraian diatas, saya melihat tulisan Bapak saat memberikan komentar kepada Pak Christian Tanduk pada tanggal 4 April 2008 bahwa Bapak sedang membukukan Silsilah (Ossoran di Kesu’, Luwu’ dan Tallulembangna) dan sudah siap cetak. Mohon info bagaimana caranya untuk bisa mendapatkan buku tersebut dan dimana bisa mendapatkannya. Kurre sumanga’. GBU.

  203. Makna utama atau inti dari seluruh aluk todolo untuk rambu solo adalah untuk keselamatan yang sdh meninggal……sangat bertentangan dgn Iman Kristen…..

    Sedangkan makna utama dari aluk todolo rambu tuka’ adalah ritual untuk mendapatkan berkat atau restu dari Pong Matua dan tdk diganggu oleh dewata……

    Aluk2 ini adalah buatan nenek moyang yg katanya mendapat wahyu dari Pong Matua….sesuatu yang sama sekali tdk bisa ditelusuri kebenarannya….karena semua berdasarkan katanya….pesan lisan turun temurun….bagi saya ini adalah karangan semata….agar hidup nenek moyang lebih teratur….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 102 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: